Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Hargai Proses Hukum, Stop Main Hakim Sendiri

363
×

Hargai Proses Hukum, Stop Main Hakim Sendiri

Sebarkan artikel ini

Sebuah video yang beredar di media sosial menampilkan seo­rang pria duduk bersan­dar pada pohon kela­pa, diduga ter­li­bat dalam aksi pem­be­galan di kawasan Jalan Ban­gau, Men­cir­im. Dalam video terse­but, narasi menye­butkan bah­wa seo­rang sopir trans­portasi online men­ja­di kor­ban per­am­pasan den­gan modus pelaku meme­san layanan melalui aplikasi. Sete­lah tiba di lokasi tujuan, sopir terse­but diduga dis­erang oleh pelaku, Ming­gu (10/08/2025).

Berdasarkan keteran­gan yang beredar, insi­d­en bermu­la saat sopir mener­i­ma pesanan dari akun pelang­gan yang tidak dike­nal­nya. Keti­ka sam­pai di lokasi yang sepi, pelaku lang­sung memukul sopir, mem­bu­at kor­ban kehi­lan­gan kendali dan mem­bant­i­ng setir. Keja­di­an itu kemu­di­an dike­tahui oleh war­ga sek­i­tar yang lang­sung men­datan­gi lokasi. Dise­butkan bah­wa pelaku berjum­lah dua orang, namun hanya satu yang berhasil dia­mankan war­ga, semen­tara satu lain­nya melarikan diri.

Video terse­but tidak hanya memanc­ing rasa penasaran pub­lik, tetapi juga meny­oroti fenom­e­na yang ker­ap ter­ja­di di masyarakat: main hakim sendiri.

  Pohon Tumbang di Jalan Surapati Tutup Akses Menuju Gasibu, Evakuasi Masih Berlangsung

Dalam reka­man, ter­li­hat pelaku dia­mankan war­ga sebelum pihak kepolisian datang. Peri­s­ti­wa seper­ti ini ser­ing kali beru­jung pada kek­erasan ter­hadap ter­duga pelaku, bahkan sebelum pros­es hukum dim­u­lai.

Main hakim sendiri mungkin lahir dari rasa marah, takut, atau jengkel aki­bat aksi krim­i­nal yang mere­sahkan. Namun, pent­ing untuk diin­gat bah­wa tin­dakan terse­but dap­at menim­bulkan masalah baru. Selain melang­gar hukum, kek­erasan mas­sa juga berpoten­si salah sasaran meny­erang orang yang sebe­narnya tidak bersalah kare­na ter­bawa emosi sesaat.

Undang-Undang di Indone­sia mene­gaskan bah­wa pene­gakan hukum meru­pakan tugas aparat yang berwe­nang, yakni kepolisian, kejak­saan, dan lem­ba­ga peradi­lan.

Masyarakat memang memi­li­ki hak untuk melakukan penangka­pan ter­hadap sese­o­rang yang ter­tangkap tan­gan melakukan tin­dak pidana (sesuai Pasal 111 KUHAP), tetapi kewa­jiban selan­jut­nya adalah meny­er­ahkan pelaku kepa­da pihak kepolisian, bukan mem­berikan huku­man sendiri.

Kapol­ri, dalam berba­gai kesem­patan, selalu mengin­gatkan bah­wa masyarakat dim­inta bek­er­ja sama den­gan aparat untuk menekan angka keja­hatan. Salah sat­un­ya adalah den­gan mela­porkan peri­s­ti­wa krim­i­nal secepat mungkin dan meny­er­ahkan barang buk­ti agar pros­es hukum ber­jalan secara pro­fe­sion­al.

Tidak dap­at dipungkiri bah­wa kor­ban keja­hatan men­gala­mi keru­gian, trau­ma, bahkan luka fisik. Namun, pelaku keja­hatan pun tetap manu­sia yang memi­li­ki hak untuk dipros­es secara hukum. Prin­sip ini men­ja­di dasar sis­tem peradi­lan mod­ern yang mengede­pankan asas praduga tak bersalah.

  Bayi Dalam Kardus, Tega Seorang Ibu di Magelang Buang Bayinya yang Baru Dilahirkan 

Banyak kasus menun­jukkan bah­wa main hakim sendiri ser­ing beru­jung pada penye­salan. Ada keja­di­an di mana orang yang dis­erang terny­a­ta bukan pelaku sebe­narnya. Kesala­han seper­ti ini bisa meng­han­curkan kehidu­pan sese­o­rang secara per­ma­nen. Oleh kare­na itu, kesabaran dan peny­er­a­han kasus kepa­da pihak berwe­nang adalah langkah bijak.

Peri­s­ti­wa di Jalan Ban­gau, Men­cir­im, seharus­nya men­ja­di pela­jaran pent­ing bagi kita semua. Mence­gah keja­hatan memang pent­ing, tetapi melin­dun­gi nilai kemanu­si­aan juga tidak kalah pent­ing.

Beber­a­pa hal yang bisa dilakukan masyarakat untuk mence­gah tin­dak krim­i­nal sekali­gus menghin­dari main hakim sendiri antara lain:

1. Segera Laporkan ke Aparat
Jika men­e­mukan aksi krim­i­nal, gunakan nomor daru­rat kepolisian 110 atau kon­tak Polsek ter­dekat. Semakin cepat lapo­ran dibu­at, semakin besar pelu­ang pelaku ditangkap tan­pa kek­erasan.

2. Doku­men­tasikan den­gan Aman
Gunakan kam­era pon­sel atau CCTV untuk merekam keja­di­an seba­gai buk­ti, tetapi hin­dari pro­vokasi yang bisa memicu mas­sa melakukan kek­erasan.

3. Lin­dun­gi Kor­ban dan Sak­si
Fokus uta­ma sete­lah keja­di­an adalah memas­tikan kor­ban sela­mat dan men­da­p­atkan per­to­lon­gan medis. Sak­si juga per­lu dilin­dun­gi agar bisa mem­berikan keteran­gan yang jujur.

4. Ikut Ser­ta dalam Pro­gram Kea­manan Lingkun­gan, Bergabung den­gan ron­da malam, sis­tem kea­manan lingkun­gan, atau forum komu­nikasi war­ga. Upaya pre­ven­tif ini ter­buk­ti men­gu­ran­gi angka keja­hatan.

  Jadi Catatan Buruk, Kematian Bayi di Puskesmas Tirtajaya Kerawang

5. Ingat Asas Kemanu­si­aan
Seber­at apa pun kesala­han sese­o­rang, seti­ap indi­vidu berhak dipros­es melalui jalur hukum yang adil.

Kepolisian setem­pat mengim­bau war­ga untuk tetap was­pa­da ter­hadap modus-modus baru yang digu­nakan pelaku keja­hatan, seper­ti berpu­ra-pura meme­san layanan trans­portasi online. Masyarakat juga dim­inta tidak ter­panc­ing emosi keti­ka berhasil menangkap ter­duga pelaku.

“Ser­ahkan pelaku kepa­da kami, biar dipros­es sesuai hukum yang berlaku. Jan­gan main hakim sendiri kare­na itu juga melang­gar hukum dan bisa berdampak pidana bagi yang melakukan­nya,” ujar seo­rang per­wira kepolisian.

Kasus pem­be­galan di Jalan Ban­gau, Men­cir­im, men­ja­di pengin­gat bah­wa keja­hatan bisa ter­ja­di kapan saja, bahkan di ten­gah aktiv­i­tas sehari-hari seper­ti menge­mu­di untuk men­cari nafkah. Namun, cara kita mere­spons keja­hatan menen­tukan apakah kita turut men­ja­ga hukum atau jus­tru melang­gar­nya.

Hukum dicip­takan untuk melin­dun­gi semua pihak kor­ban, sak­si, bahkan pelaku agar kead­i­lan benar-benar dite­gakkan. Keti­ka masyarakat memil­ih untuk meny­er­ahkan pelaku kepa­da aparat, itu bukan berar­ti kita mem­bela pelaku, melainkan mem­bela sis­tem yang men­jamin kead­i­lan.

Mari kita tanamkan dalam diri bah­wa meng­har­gai pros­es hukum bukan hanya soal mematuhi atu­ran, tetapi juga soal men­ja­ga kemanu­si­aan. Kare­na pada akhirnya, manu­sia teta­plah manu­sia, mes­ki telah berbu­at salah.

Edi­tor; (Tim Red)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *