Berita Daerah

Pisang Dibuang ke Laut: Suara Nestapa dari Enggano

559
×

Pisang Dibuang ke Laut: Suara Nestapa dari Enggano

Sebarkan artikel ini

Jakarta, SniperNew.id – Pagi itu cerah di pelabuhan Enggano, namun hati para petani dan sopir truk justru mendung. Dalam sebuah unggahan yang menyita perhatian publik di Threads, akun bernama budisk19 menyampaikan keluhan pedih tentang nasib para petani pisang di pulau Enggano, Bengkulu, Minggu (03/08/25).

Sebuah video yang memperlihatkan kapal ferry tengah bersandar di dermaga tampak biasa saja bagi banyak orang. Tapi tidak bagi warga Enggano. Di balik kapal berwarna kuning itu, tersembunyi cerita klasik tentang keterbatasan, ketidaksetaraan, dan keputusasaan. Dalam keterangannya, budisk19 mengungkap bahwa kapal ferry yang datang hanya mampu mengangkut 8 truk, sementara ada 10 truk yang siap diberangkatkan.

Apa akibatnya? Dua truk sisanya yang penuh dengan pisang siap jual tak bisa ikut. Tak sanggup menahan beban logistik dan ketidaktentuan waktu keberangkatan berikutnya, masyarakat terpaksa membuang pisang-pisang itu ke laut.

  Macet Parah di TB Simatupang, Netizen Sebut Jakarta Jalur Tengkorak

Di sinilah ironi menyakitkan mulai terasa. Di negeri agraris, dengan segudang pidato tentang ketahanan pangan dan ekonomi desa, hasil panen petani justru berakhir menjadi limbah laut. Tak hanya merugi secara ekonomi, masyarakat juga merasa dipermainkan oleh janji-janji pembangunan yang tak kunjung nyata.

Pertanyaan tajam pun dilontarkan budisk19. “Bagaimana kabarnya Inpres Percepatan Pembangunan Enggano ya?”

Ini bukan sekadar sindiran. Ini adalah seruan. Enggano telah lama berada di tepian pembangunan nasional. Meski disebut-sebut dalam Instruksi Presiden sebagai kawasan strategis yang perlu dipercepat pembangunannya, fakta di lapangan menunjukkan sebaliknya.

  Pamit Haru di Tanah Sawit, Manager Estate Pandran Dilepas dengan Air Mata

Ketika infrastruktur transportasi tak mampu menjawab kebutuhan dasar logistik, maka yang lahir adalah tragedi. Setiap pisang yang dibuang ke laut bukan hanya simbol kerugian materi, tapi juga keretakan antara harapan rakyat dan kebijakan pusat. Pisang-pisang itu seperti suara rakyat yang tidak pernah sampai ke telinga kekuasaan.

Di media sosial, unggahan ini mendapat banyak perhatian. Banyak netizen mengungkapkan keprihatinan, beberapa menyalahkan sistem, sementara yang lain menuntut aksi nyata dari pemerintah pusat dan daerah.

Fakta ini memaksa kita untuk bertanya ulang: Di mana posisi pulau-pulau terluar seperti Enggano dalam peta pembangunan Indonesia?

  Pemuda Madura Raih Gelar Guru, Kampung Rayakan

Mengapa kapal pengangkut tidak ditambah jika kebutuhan meningkat setiap musim panen?

Sampai kapan hasil jerih payah petani harus menjadi korban dari infrastruktur yang mandek?

Peristiwa ini bukan hanya tentang pisang. Ini adalah potret luka dari Indonesia pinggiran. Sebuah suara lirih yang berteriak dari pelabuhan kecil nan sepi, berharap didengar oleh mereka yang memegang kendali pembangunan negeri.

Catatan: Tulisan ini adalah pengembangan naratif dari unggahan di media sosial, dengan harapan mampu menarik perhatian pembaca agar memahami realitas di balik satu video pendek. Peristiwa ini nyata dan terjadi di salah satu wilayah yang masih membutuhkan perhatian serius dari pemerintah pusat.

Editor: (Ahmad).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *