Berita Investigasi

Pembangunan Bronjong Desa Teluk Jaya Diduga Asal-Asalan, Warga Khawatir Ancam Keselamatan

1398
×

Pembangunan Bronjong Desa Teluk Jaya Diduga Asal-Asalan, Warga Khawatir Ancam Keselamatan

Sebarkan artikel ini

Muara Enim, Snipernew.id – Pem­ban­gu­nan bron­jong di Desa Teluk Jaya, Keca­matan Kelekar, Kabu­pat­en Muara Enim, men­u­ai sorotan tajam dari masyarakat. Alih-alih meng­hadirkan rasa aman, proyek yang dik­er­jakan oleh CV Air Bom itu jus­tru memu­nculkan kekhawati­ran serius akan kese­la­matan peng­gu­na jalan dan masyarakat sek­i­tar, Sab­tu (13/09/2025).

Bron­jong, yang seharus­nya men­ja­di dind­ing pena­han tanah untuk mence­gah long­sor ser­ta pen­gen­dali erosi, kini men­ja­di perbin­can­gan hangat. Pasal­nya, masyarakat men­duga proyek terse­but dik­er­jakan secara asal-asalan, mulai dari pemil­i­han mate­r­i­al batu, kawat bron­jong, hing­ga vol­ume peker­jaan yang diang­gap tidak sesuai spe­si­fikasi.

Bron­jong meru­pakan kon­struk­si pent­ing dalam infra­struk­tur, teruta­ma di daer­ah rawan long­sor dan tepi sun­gai. Struk­tur ini ter­bu­at dari anya­man kawat baja berben­tuk kotak yang diisi den­gan batu beruku­ran ter­ten­tu. Fungsinya adalah mena­han tanah agar tidak long­sor, mem­perku­at tebing, melin­dun­gi tang­gul dari erosi, dan bahkan mem­perindah lan­skap.

Dalam peker­jaan kon­struk­si, pemil­i­han mate­r­i­al dan pemasan­gan harus dilakukan sesuai stan­dar tek­nis. Batu yang dipakai harus beruku­ran ser­agam, tidak mudah pec­ah, dan dipa­datkan den­gan baik agar bron­jong kokoh. Semen­tara kawat bron­jong harus berba­han gal­va­nis agar tahan karat dan mam­pu berta­han dalam jang­ka pan­jang.

  Proyek Jalan Dipertanyakan, DPRD Pringsewu Sidak Jalan Rusak di Way Ngison

Namun, yang ter­ja­di di Desa Teluk Jaya jus­tru seba­liknya. Hasil peman­tauan awak media di lokasi menun­jukkan adanya dugaan keti­dak­sesua­ian dalam beber­a­pa aspek tek­nis, sehing­ga memicu kere­sa­han masyarakat.

AD, salah satu war­ga Desa Teluk Jaya, men­gungkap­kan keke­ce­waan­nya saat dite­mui awak media Pewarta Gelum­bang Raya (PGR) di lokasi pada Sab­tu (13/9/2025).

“Bisa dil­i­hat dari mate­r­i­al batu yang digu­nakan. Saya goyang sedik­it saja sudah bergeser. Ini jelas berba­haya, kare­na kalau roboh bisa mem­ba­hayakan pen­gen­dara yang melin­tas di atas jem­bat­an,” tegas AD.

Ia juga meni­lai vol­ume peker­jaan patut diper­tanyakan. Menu­rut­nya, dugaan keku­ran­gan vol­ume bisa men­gu­ran­gi keku­atan kon­struk­si secara keselu­ruhan.

“Per­lu diper­tanyakan juga vol­u­menya. Dugaan kami itu kurang dari yang seharus­nya. Kalau memang benar, berar­ti ada poten­si peker­jaan ini tidak sesuai spe­si­fikasi,” lan­jut­nya.

Selain batu, AD juga meny­oroti kual­i­tas kawat yang digu­nakan. Dalam stan­dar umum kon­struk­si, kawat bron­jong harus meng­gu­nakan jenis gal­va­nis agar tahan ter­hadap korosi dan dap­at berta­han lama. Namun, war­ga men­e­mukan indikasi kawat yang digu­nakan jus­tru mudah berkarat.

“Biasanya kawat untuk bron­jong itu gal­va­nis, tetapi ini kok sudah karatan pada­hal peker­jaan baru ber­jalan. Ini jelas menim­bulkan tan­da tanya soal kual­i­tas mate­r­i­al yang dipakai,” ungkap AD den­gan nada her­an.

Bagi masyarakat, isu ini bukan hanya soal kual­i­tas proyek, tetapi juga menyangkut kese­la­matan jiwa. Jalan yang dilin­dun­gi bron­jong terse­but meru­pakan akses pent­ing bagi masyarakat sek­i­tar. Jika kon­struk­si ambruk, bukan hanya meng­gang­gu trans­portasi, tetapi juga berpoten­si menim­bulkan kor­ban jiwa.

  Jalan Rusak Tak Kunjung Tuntas, Warga Sukoharjo–Pringsewu Minta Pemerintah Turun Lapangan, Bukan Sekadar Terima Laporan

“Kare­na ini sudah menyangkut kea­manan, sebaiknya pihak berwe­nang segera turun tan­gan sebelum ada keja­di­an yang tidak diinginkan,” pungkas AD.

Berdasarkan hasil peman­tauan awak media Pewarta Gelum­bang Raya (PGR), bron­jong memang ter­li­hat meng­gu­nakan batu beruku­ran kecil yang tidak ser­agam. Saat dis­en­tuh, beber­a­pa bagian terasa goyang dan tidak rap­at.

Selain itu, pada beber­a­pa titik ter­li­hat kawat yang sudah berkarat meskipun proyek masih relatif baru. Kon­disi ini memicu dugaan bah­wa mate­r­i­al yang digu­nakan tidak memenuhi stan­dar kual­i­tas yang diten­tukan dalam kon­trak ker­ja.

Masyarakat mem­inta agar Dinas Peker­jaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabu­pat­en Muara Enim maupun Aparat Pene­gak Hukum (APH) turun lang­sung menin­jau lokasi. Inves­ti­gasi mende­tail diper­lukan untuk memas­tikan apakah proyek ini sesuai den­gan doku­men peren­canaan dan kon­trak ker­ja.

Keter­li­batan lem­ba­ga pen­gawas diang­gap pent­ing agar tidak ada penyalah­gu­naan anggaran dan masyarakat men­da­p­atkan jam­i­nan kese­la­matan. Proyek bron­jong yang seharus­nya men­ja­di solusi jus­tru bisa men­ja­di sum­ber masalah jika dik­er­jakan tan­pa pen­gawasan yang ketat.

CV Air Bom seba­gai pelak­sana proyek dihara­p­kan segera mem­berikan klar­i­fikasi. Masyarakat berhak menge­tahui apakah mate­r­i­al dan metode yang digu­nakan telah sesuai spe­si­fikasi. Transparan­si dalam proyek pemer­in­tah men­ja­di salah satu ben­tuk per­tang­gung­jawa­ban kepa­da pub­lik.

Selain itu, pihak kon­sul­tan pen­gawas juga per­lu dis­orot. Pen­gawasan ketat dari kon­sul­tan meru­pakan kewa­jiban agar hasil peker­jaan sesuai stan­dar mutu dan dap­at berfungsi opti­mal sesuai umur ren­cana.

  Camat Ambarawa Tegaskan Bendera Robek Akibat Kurang Kontrol

Pence­ga­han kerusakan sedi­ni mungkin jauh lebih baik dari­pa­da menung­gu hing­ga ter­ja­di kerun­tuhan yang berpoten­si memakan kor­ban. Kerusakan bron­jong tidak hanya berdampak pada keru­gian mate­r­i­al, tetapi juga dap­at men­gak­i­batkan kece­lakaan lalu lin­tas, teruta­ma bagi pen­gen­dara roda dua yang melin­tas di area terse­but.

Den­gan kon­disi geografis Desa Teluk Jaya yang rawan erosi, keber­adaan bron­jong meru­pakan infra­struk­tur vital. Apa­bi­la kual­i­tas­nya diragukan, maka fungsinya seba­gai pelin­dung tebing men­ja­di tidak efek­tif.

Masyarakat berharap Pemer­in­tah Kabu­pat­en Muara Enim segera menin­dak­lan­ju­ti lapo­ran war­ga. Pen­in­jauan lapan­gan, eval­u­asi tek­nis, dan pengam­bi­lan sam­pel mate­r­i­al per­lu dilakukan. Jika dite­mukan peny­im­pan­gan, langkah tegas harus diam­bil agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang pada proyek lain di masa men­datang.

Kasus dugaan pem­ban­gu­nan bron­jong asal-asalan di Desa Teluk Jaya ini men­ja­di alarm pent­ing bagi pemer­in­tah dan kon­trak­tor. Infra­struk­tur bukan sekadar proyek fisik, tetapi menyangkut kese­la­matan dan kese­jahter­aan masyarakat.

Pen­gawasan ketat, peng­gu­naan mate­r­i­al sesuai spe­si­fikasi, dan transparan­si anggaran adalah kun­ci agar proyek pemer­in­tah benar-benar berman­faat. Masyarakat pun berhak men­da­p­atkan jam­i­nan bah­wa uang raky­at digu­nakan den­gan benar dan hasil­nya tidak mem­ba­hayakan kese­la­matan pub­lik.

Sorotan tajam ter­hadap proyek ini men­ja­di pela­jaran pent­ing agar semua pihak terkait lebih berhati-hati, menguta­makan kual­i­tas, dan bertang­gung jawab atas hasil peker­jaan. Sebab, jika proyek gagal, yang pal­ing dirugikan adalah masyarakat seba­gai peng­gu­na fasil­i­tas.

Lapo­ran: (teguh) / Edi­tor: (Tim Redak­si)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *