Jakarta, SniperNew.id – Seorang pengguna media sosial dengan nama akun yusron393 di platform Threads membagikan kisah menyentuh tentang perjalanan pemulihannya dari kondisi sakit parah hingga kembali sehat dan bahkan mampu berlari. Dalam unggahan tersebut, ia menceritakan bagaimana selama enam bulan harus mengandalkan obat anti-nyeri, hingga akhirnya mencoba terapi tradisional yang disebut-sebut membuatnya pulih lebih cepat, Sabtu (13/09/2025).
Cerita ini viral karena menyentuh banyak pembaca, sekaligus menjadi motivasi bahwa semangat dan keyakinan dapat mendukung proses kesembuhan.
Unggahan tersebut dilengkapi dengan sebuah video pendek yang diberi keterangan “sebelum terapi”. Video menampilkan beberapa orang yang sedang berada di sebuah ruangan sederhana beralaskan karpet merah bermotif, tampak ada beberapa pasien yang duduk dan berbaring, sementara seorang terapis berbaju hijau muda membantu salah satu pasien.
Tokoh utama dalam cerita ini adalah seorang pengguna media sosial bernama yusron393. Ia membagikan pengalaman pribadinya tanpa menyebutkan identitas lebih lanjut seperti nama lengkap atau lokasi detail. Dalam unggahan itu, Yusron menjelaskan bahwa ia sebelumnya tidak bisa duduk lama, sulit tidur karena harus bolak-balik mencari posisi nyaman, dan bahkan harus diturunkan dari ambulans dengan cara digendong. Selama enam bulan, ia mengandalkan obat anti-nyeri hanya untuk meredakan rasa sakit sesaat.
Selain Yusron, ada pula sosok terapis tradisional yang tidak disebutkan namanya dalam unggahan itu. Terapis inilah yang membantu Yusron menjalani satu kali sesi terapi hingga ia merasa ada perubahan signifikan.
Unggahan ini bercerita tentang perjalanan penyembuhan Yusron dari kondisi fisik yang sangat terbatas hingga kembali bugar. Setelah enam bulan bergantung pada obat pereda nyeri, ia mencoba terapi tradisional. Setelah satu kali sesi terapi, Yusron mengaku bisa tidur tanpa rasa sakit, berjalan dengan nyaman, dan bahkan langsung mampu berlari.
Isi unggahan yang ia tulis adalah sebagai berikut. “Turun dari ambulan dgn cara di gendong, minum obat anti nyeri skitr 6 bulanan, tp cuma sesaat aja reaksi nya. Klo sholat kadang duduk kadang tidur, karena gk tahan duduk, bolak-balik saat tiduran harus extra hati² biar terasa nyaman. Bismillah, waQodarulloh stelah trapi 1x di coba tidur bolak-balik udh terasa gak sakit lgi, di coba jalan, alhamdulillah udh nyaman, malah langsung bisa lari. Sungguh Allah yang Maha menyembuhkan. Shollu ‘alan nabii. Ayooo sehat alami tanpa obat.”
Video yang menyertainya diberi keterangan “sebelum terapi”, yang menunjukkan kondisi pasien dan lingkungan terapi tersebut.
Dalam tangkapan layar unggahan Threads itu tertulis “1 jam” sejak dipublikasikan, meski tanggal pasti unggahan tidak tercantum. Namun, berdasarkan data tangkapan layar, unggahan itu kemungkinan dibagikan pada pagi hari (pukul 07.36) sesuai waktu yang tertera di bagian atas. Yusron juga menyebut bahwa ia menjalani pengobatan anti-nyeri selama sekitar enam bulan sebelum mencoba terapi tradisional.
Lokasi persis kejadian tidak disebutkan oleh Yusron. Namun, video menunjukkan ruangan sederhana dengan dinding biru dan beberapa poster yang biasanya ditemui di ruang kesehatan atau terapi tradisional. Karpet merah bermotif digunakan sebagai alas, sementara beberapa pasien lain tampak menunggu giliran. Mengingat bahasa dan ekspresi yang digunakan, besar kemungkinan peristiwa ini terjadi di Indonesia.
Alasan Yusron memilih terapi tradisional adalah karena penggunaan obat anti-nyeri selama enam bulan hanya memberikan efek sesaat. Ia mencari cara lain untuk benar-benar mengurangi rasa sakitnya. Dengan keyakinan religius dan semangat untuk pulih, ia mencoba terapi alternatif. Setelah sekali terapi, ia mengaku merasakan perubahan drastis dan memuji kebesaran Tuhan atas kesembuhannya.
Selain alasan pribadi Yusron, unggahan ini juga dimaksudkan untuk memotivasi orang lain. Dengan kalimat “Ayooo sehat alami tanpa obat”, ia mendorong warganet untuk mempertimbangkan pendekatan alami, meski tidak secara langsung menolak pengobatan medis.
Yusron menceritakan detail pengalamannya:
1. Kondisi Awal: Ia harus digendong untuk turun dari ambulans karena tidak mampu berjalan. Selama enam bulan, ia mengonsumsi obat anti-nyeri, tetapi efeknya hanya sebentar. Dalam beribadah, ia kadang duduk, kadang harus sholat sambil tidur karena tidak tahan duduk. Saat tidur, ia harus sering bolak-balik mencari posisi nyaman.
2. Proses Terapi: Setelah memutuskan mencoba terapi tradisional, ia mengikuti satu sesi. Ia tidak menjelaskan metode detail terapi tersebut, tetapi berdasarkan video, terlihat interaksi langsung antara terapis dan pasien dalam ruangan berkarpet.
3. Hasil Setelah Terapi: Setelah terapi pertama, ia mencoba tidur bolak-balik dan merasakan tidak ada lagi rasa sakit. Ia kemudian mencoba berjalan, merasa nyaman, dan bahkan langsung bisa berlari. Ia menyebutkan ini sebagai anugerah Allah dan mengajak orang lain untuk menjaga kesehatan secara alami.
Indonesia memiliki tradisi panjang dalam pengobatan alternatif dan terapi alami, termasuk pijat tradisional, bekam, dan metode penyembuhan berbasis keyakinan. Banyak masyarakat percaya bahwa terapi tradisional dapat menjadi pelengkap pengobatan medis. Namun, para ahli kesehatan selalu mengingatkan bahwa terapi alternatif sebaiknya dilakukan dengan pertimbangan matang dan tidak menggantikan perawatan medis profesional, terutama untuk kondisi serius.
Kasus seperti yang dialami Yusron menunjukkan bahwa terapi tradisional bisa memberikan efek positif bagi beberapa orang, tetapi setiap kasus kesehatan unik. Respons tubuh terhadap metode pengobatan bisa berbeda-beda, sehingga penting untuk tetap berkonsultasi dengan tenaga medis.
Unggahan Yusron menuai respons positif di kalangan warganet. Banyak yang merasa terinspirasi oleh keberanian dan keyakinannya. Namun, dalam memberitakan kisah ini, penting untuk menekankan bahwa cerita tersebut adalah pengalaman pribadi, bukan klaim medis yang teruji secara ilmiah.
Sebagai bagian dari kode etik jurnalistik, berita ini menyajikan informasi secara berimbang tanpa mempromosikan terapi tertentu sebagai pengganti pengobatan medis profesional. Pembaca diingatkan untuk mempertimbangkan nasihat tenaga kesehatan sebelum mencoba metode serupa.
Yusron menyelipkan pernyataan religius seperti “Bismillah”, “Wa Qodarulloh”, “Sungguh Allah yang Maha menyembuhkan”, dan “Shollu ‘alan nabii”. Ungkapan ini menunjukkan keyakinan spiritualnya bahwa kesembuhan adalah anugerah Tuhan. Dalam konteks budaya Indonesia, keimanan sering kali menjadi bagian penting dari proses penyembuhan.
Cerita Yusron bukan hanya tentang terapi alternatif, tetapi juga tentang harapan. Bagi sebagian orang yang menghadapi sakit berkepanjangan, kisah ini menjadi dorongan moral bahwa selalu ada jalan untuk pulih. Namun, penting juga untuk mengingatkan pembaca agar tidak meninggalkan pengobatan medis tanpa saran profesional.
Bagi kalangan praktisi kesehatan, kisah seperti ini dapat menjadi bahan refleksi tentang pentingnya pendekatan holistik memperhatikan aspek fisik, psikologis, dan spiritual pasien.
Kisah pemulihan Yusron393 memperlihatkan bahwa semangat, doa, dan upaya mencari alternatif penyembuhan bisa memberikan hasil luar biasa. Dari kondisi harus digendong keluar ambulans hingga bisa berlari kembali, pengalaman ini menjadi pengingat bahwa kesembuhan sering kali melibatkan kombinasi antara ikhtiar manusia, keyakinan, dan kebesaran Tuhan.
Meski begitu, para ahli mengimbau agar setiap pengobatan alternatif dilakukan dengan hati-hati dan tidak menggantikan pemeriksaan medis. Cerita ini bukan ajakan meninggalkan pengobatan profesional, melainkan contoh pengalaman pribadi yang menginspirasi banyak orang.
Sebagaimana pesan Yusron: “Ayooo sehat alami tanpa obat” sebuah ajakan untuk menjaga gaya hidup sehat secara alami, sembari tetap menghormati ilmu kedokteran dan upaya medis yang telah terbukti. (Abd/Ahm)













