Kesehatan

Kasus Stunting di Pesawaran: Balita 2,6 Tahun Dirawat di RS Abdul Moeloek, Pengawasan Program Dipertanyakan

1001
×

Kasus Stunting di Pesawaran: Balita 2,6 Tahun Dirawat di RS Abdul Moeloek, Pengawasan Program Dipertanyakan

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id – Kasus stunting kembali menjadi sorotan di Kabupaten Pesawaran, Provinsi Lampung. Seorang balita bernama Muhammad Aepudin bin Sukriyah (2,6 tahun), warga Desa Bayas Jaya, Kecamatan Way Khilau, kini tengah menjalani perawatan intensif di RSUD Abdul Moeloek Bandar Lampung akibat kondisi kurang gizi yang serius. Peristiwa ini mencuat pada Minggu, 14 September 2025, dan memantik perhatian masyarakat serta para pemangku kebijakan terkait efektivitas program pencegahan stunting di daerah tersebut, Senin (15/09).

Informasi yang dihimpun SniperNew.id menyebutkan, Muhammad Aepudin awalnya menunjukkan gejala kurang gizi sejak beberapa bulan terakhir. Orang tuanya, Sukriyah dan istrinya, telah berupaya memberikan perawatan rumah tangga dan mengikuti program Posyandu di desa setempat. Namun, kondisi fisik balita tersebut semakin memburuk hingga akhirnya dibawa ke fasilitas kesehatan tingkat pertama dan kemudian dirujuk ke RS Abdul Moeloek.

Seorang kerabat keluarga yang enggan disebutkan namanya menyampaikan bahwa berat badan Aepudin jauh di bawah standar usia, dan perkembangan fisiknya tidak sesuai dengan indikator pertumbuhan balita normal. “Kami sudah berusaha memberi asupan makanan seadanya. Tapi keadaan ekonomi keluarga juga terbatas. Akhirnya dokter menyarankan dirujuk ke rumah sakit agar mendapatkan perawatan lebih lengkap,” ujarnya.

Menurut sumber medis di RS Abdul Moeloek, pasien mengalami stunting—gangguan pertumbuhan akibat kekurangan gizi kronis. Stunting bukan hanya berdampak pada tinggi badan, tetapi juga pada perkembangan otak dan kesehatan jangka panjang. Perawatan intensif sedang dilakukan, termasuk pemberian asupan gizi tambahan dan pemantauan medis berkala.

Keluarga Muhammad Aepudin kini memohon doa dan dukungan dari masyarakat. Ayahnya, Sukriyah, menyampaikan harapannya agar putranya dapat pulih dan segera kembali ke rumah. “Kami berharap Aepudin bisa sehat kembali. Mohon doa dan dukungan semua pihak. Kami juga berharap pemerintah daerah memperhatikan kondisi anak kami,” katanya.

Dukungan serupa juga datang dari warga Desa Bayas Jaya. Beberapa tetangga dan kerabat turut membantu keluarga, baik secara moral maupun materi, meski kondisi ekonomi mereka juga pas-pasan. Seorang tetangga, Ningsih (30), menuturkan, “Kami semua sedih mendengar Aepudin harus dirawat. Ini bukan hanya masalah keluarga Sukriyah, tetapi juga masalah kita bersama. Semoga pemerintah cepat tanggap.”

Ketua Jajaran Wartawan Indonesia (JWI) Lampung, Rudi Sapari, ikut angkat bicara. Dalam keterangannya kepada SniperNew.id, ia mempertanyakan sejauh mana program pencegahan stunting yang telah digencarkan pemerintah daerah, provinsi, hingga pusat benar-benar berjalan efektif di lapangan.

“Dengan kejadian ini, menjadi pertanyaan besar terkait pengawasan program stunting. Apakah selama ini hanya sebatas laporan tertulis dan seremonial rapat tahunan yang menghabiskan anggaran, sementara faktanya masih ada anak-anak yang mengalami kurang gizi?” ujar Rudi.

Ia menambahkan, kasus seperti Aepudin seharusnya bisa dicegah melalui pemantauan kesehatan balita yang lebih ketat dan pendampingan keluarga miskin secara langsung. “Pemerintah harus hadir bukan hanya dalam bentuk kebijakan di atas kertas, tetapi dalam tindakan nyata. Kami meminta pemerintah desa, kecamatan, dinas kesehatan, dan Pemkab Pesawaran bergerak cepat memberi dukungan,” tegasnya.

Stunting telah lama menjadi masalah serius di berbagai wilayah Indonesia, termasuk Lampung. Data Dinas Kesehatan Provinsi Lampung pada 2024 mencatat, prevalensi stunting di beberapa kabupaten, termasuk Pesawaran, masih di atas rata-rata nasional meski sudah ada program intervensi gizi, edukasi kesehatan, dan bantuan pangan.

Menurut pengamat kesehatan masyarakat lokal, tantangan utama dalam menekan angka stunting di Lampung adalah:

1. Distribusi Bantuan yang Tidak Merata – Beberapa keluarga miskin di pedesaan belum sepenuhnya tersentuh program bantuan gizi.

2. Kurangnya Edukasi Gizi di Tingkat Desa – Pengetahuan keluarga tentang pola makan seimbang dan kesehatan ibu hamil masih terbatas.

3. Pengawasan Lemah – Pengawasan pelaksanaan program stunting sering kali hanya sebatas formalitas tanpa evaluasi menyeluruh.

4. Keterbatasan Tenaga Medis – Di beberapa desa terpencil, akses ke tenaga kesehatan masih minim.

Kondisi ini memperlihatkan bahwa meski program penanganan stunting gencar disosialisasikan, realita di lapangan masih menghadapi hambatan besar.

Menanggapi kritik yang muncul, pejabat Pemkab Pesawaran yang dihubungi SniperNew.id menyatakan bahwa pihaknya akan segera menindaklanjuti kasus Aepudin. “Kami prihatin dan akan memastikan anak tersebut mendapatkan penanganan terbaik. Kami juga akan mengevaluasi program pencegahan stunting di seluruh kecamatan,” kata seorang pejabat Dinas Kesehatan Pesawaran yang enggan disebutkan namanya karena belum mendapatkan izin resmi memberikan pernyataan.

Ia menambahkan bahwa pihak dinas kesehatan telah menginstruksikan puskesmas dan posyandu untuk lebih aktif memantau balita berisiko stunting. Selain itu, bantuan gizi tambahan akan disalurkan untuk keluarga-keluarga yang membutuhkan.

Aktivis kesehatan masyarakat dari LSM Peduli Gizi Lampung, Siti Rahmawati, menilai bahwa kasus ini harus menjadi momentum evaluasi besar-besaran. “Stunting bukan hanya tentang angka statistik. Ini tentang masa depan generasi kita. Ketika satu anak mengalami stunting, dampaknya panjang-dari kesehatan hingga kualitas sumber daya manusia di masa depan,” ujarnya.

Rahmawati mendesak Pemkab Pesawaran untuk melibatkan lebih banyak komunitas lokal dalam program pencegahan. “Jangan hanya mengandalkan rapat koordinasi dan laporan bulanan. Ajak tokoh masyarakat, ibu-ibu PKK, dan organisasi pemuda terlibat langsung mendampingi keluarga yang rentan,” tambahnya.

Sejumlah netizen di media sosial juga ramai membicarakan kasus Aepudin. Banyak yang mengungkapkan keprihatinan sekaligus mempertanyakan kemana alokasi anggaran pencegahan stunting selama ini. Hashtag #StuntingPesawaran bahkan sempat menjadi topik hangat di Lampung pada Minggu malam.

Stunting tidak semata-mata disebabkan oleh kemiskinan, tetapi juga faktor lain seperti kurangnya edukasi gizi, pola asuh yang tidak tepat, sanitasi buruk, serta minimnya akses ke layanan kesehatan berkualitas. Ahli gizi dari Universitas Lampung, Dr. Desi Kartikasari, menjelaskan bahwa stunting bisa dicegah jika intervensi dilakukan sejak dini, bahkan sejak masa kehamilan.

“Pemberian asupan gizi yang baik bagi ibu hamil, pemantauan kesehatan bayi secara rutin, dan penyediaan makanan bergizi seimbang adalah kunci. Pemerintah daerah juga harus memastikan air bersih dan sanitasi memadai di desa-desa,” kata Desi.

Kasus Aepudin menjadi pengingat bahwa stunting masih menjadi tantangan nyata di Lampung. Masyarakat berharap pemerintah daerah dan pusat dapat lebih serius melakukan pengawasan dan menyalurkan bantuan secara tepat sasaran.

Rudi Sapari dari JWI Lampung menutup pernyataannya dengan harapan besar: “Jangan sampai kasus seperti ini terulang. Kami meminta semua pihak untuk bekerja sama demi masa depan generasi Pesawaran. Anak-anak seperti Aepudin berhak mendapatkan kesempatan hidup sehat dan tumbuh cerdas.”

Sementara itu, keluarga Aepudin tetap optimistis. Meski berat, mereka percaya doa dan dukungan masyarakat akan menjadi kekuatan untuk kesembuhan anak mereka. Sukriyah menyampaikan terima kasih kepada semua pihak yang telah menunjukkan empati. “Kami tidak bisa membalas apa-apa, selain doa agar semua yang membantu diberi balasan kebaikan oleh Tuhan,” ujarnya lirih.

Kasus stunting yang menimpa Muhammad Aepudin bin Sukriyah di Pesawaran bukan sekadar masalah individu atau satu keluarga. Ini adalah alarm keras bagi seluruh pemangku kepentingan-dari pemerintah desa hingga pusat-untuk memperkuat langkah pencegahan dan penanganan stunting. Evaluasi menyeluruh, koordinasi lintas sektor, serta keterlibatan aktif masyarakat sangat dibutuhkan agar kejadian serupa tidak lagi menghantui masa depan anak-anak Indonesia.

Penulis: (Sufiyawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *