Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

Relokasi Pedagang Eks Bioskop Panyabungan Tuai Polemik, Aktivis Desak Evaluasi Kadis Perdagangan

572
×

Relokasi Pedagang Eks Bioskop Panyabungan Tuai Polemik, Aktivis Desak Evaluasi Kadis Perdagangan

Sebarkan artikel ini

Penyabun­gan, SniperMew.id – Polemik relokasi peda­gang Pasar Lama Panyabun­gan ke kawasan eks bioskop kem­bali men­cu­at dan men­u­ai kri­tik keras dari kalan­gan aktivis hukum. Kebi­jakan yang diga­gas Dinas Perda­gan­gan Mandail­ing Natal (Mad­i­na) ini dini­lai penuh masalah, mulai dari aspek hukum, lingkun­gan, hing­ga sosial kemasyarakatan, Ming­gu (17/08/2025).

Aktivis hukum sekali­gus penga­mat kebi­jakan pub­lik, Luk­man­ul Hakim, S.H, meni­lai kepu­tu­san peminda­han peda­gang terse­but dilakukan secara terge­sa-gesa tan­pa peren­canaan matang. Menu­rut­nya, kebi­jakan yang seharus­nya men­ja­di solusi jus­tru berpoten­si menim­bulkan masalah baru di ten­gah masyarakat.

Luk­man mene­gaskan, seti­ap kebi­jakan pemer­in­tah daer­ah wajib men­gacu pada atu­ran hukum yang berlaku. Namun, dalam kasus ini, ia meni­lai Kadis Perda­gan­gan Mandail­ing Natal telah gagal mema­ha­mi dan men­jalankan reg­u­lasi seba­gaimana mestinya.

“Seti­ap kebi­jakan pub­lik harus mele­wati kajian yang men­dalam sesuai atu­ran hukum. Fak­tanya, banyak OPD yang jus­tru mengabaikan hal terse­but. Ter­ma­suk Kadis Perda­gan­gan yang seo­lah ter­bu­ru-buru mengam­bil kepu­tu­san tan­pa anal­i­sis reg­u­lasi.” ujarnya.

Ia mengutip UU Nomor 23 Tahun 2014 ten­tang Pemer­in­ta­han Daer­ah Pasal 386, yang mene­gaskan perangkat daer­ah wajib menyusun dan melak­sanakan kebi­jakan sesuai prin­sip akunt­abil­i­tas dan kepatuhan hukum. Menu­rut Luk­man, dalam kasus relokasi peda­gang, prin­sip terse­but jelas dia­baikan.

  Aktivis Pro-Palestina Ditangkap Saat Protes di Kantin Kongres AS

“Jika sejak awal ada kajian hukum yang matang, ten­tu per­masala­han seper­ti ini tidak akan muncul. Yang ada sekarang jus­tru kebi­jakan yang cacat prose­dur,” tam­bah­nya.

Selain dari sisi hukum, aspek lingkun­gan juga dis­orot tajam. Lokasi eks bioskop yang kini dijadikan tem­pat relokasi peda­gang bera­da per­sis di tepi Sun­gai Aek Mata. Kon­disi ini, kata Luk­man, berisiko besar memicu pence­maran sun­gai kare­na berpoten­si dijadikan tem­pat pem­buan­gan sam­pah liar.

Pada­hal, UU Nomor 32 Tahun 2009 ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup Pasal 69 ayat (1) den­gan tegas melarang pem­buan­gan lim­bah dan sam­pah ke media lingkun­gan tan­pa izin.

“Men­em­patkan pasar di kawasan tepi sun­gai sama saja menut­up mata ter­hadap poten­si pence­maran. Alih-alih mena­ta pasar, yang ter­ja­di jus­tru bisa menam­bah masalah lingkun­gan. Ini buk­ti lemah­nya peren­canaan dari Dinas Perda­gan­gan,” tegas­nya.

Tak hanya soal hukum dan lingkun­gan, kebi­jakan relokasi ini juga menim­bulkan masalah sosial. Lokasi pasar baru terse­but berhada­pan lang­sung den­gan ger­bang salah satu Seko­lah Dasar (SD) di Panyabun­gan. Kon­disi ini mem­bu­at aktiv­i­tas bela­jar siswa ter­gang­gu kare­na kebisin­gan ser­ta kera­ma­ian lalu lin­tas peda­gang dan pem­be­li.

“Lingkun­gan pen­didikan harus kon­dusif, aman, dan nya­man bagi anak-anak. Tetapi den­gan adanya pasar di depan seko­lah, suasana men­ja­di tidak men­dukung. Hal ini jelas berten­tan­gan den­gan UU Nomor 20 Tahun 2003 ten­tang Sis­tem Pen­didikan Nasion­al Pasal 3,” ungkap Luk­man.

  Akan Tempuh Jalur Hukum, Diduga Oknum Kakon Sukaagung Barat belum Bayar Sewa Mobil Rental Rp.56.130.000

Menu­rut­nya, kehadi­ran pasar di dekat seko­lah bukan hanya menim­bulkan keti­daknya­manan, tetapi juga berpoten­si men­gan­cam kese­la­matan anak-anak kare­na lalu lin­tas kendaraan yang padat di depan ger­bang seko­lah.

Lebih jauh, Luk­man men­duga ada kepentin­gan tersem­bun­yi di balik kebi­jakan peminda­han peda­gang ke lokasi eks bioskop. Ia mem­per­tanyakan alasan pemer­in­tah memil­ih lokasi terse­but, pada­hal Pasar Baru Panyabun­gan yang diban­gun den­gan fasil­i­tas lebih layak masih memi­li­ki banyak kios kosong.

“Kalau memang tujuan pemer­in­tah adalah mena­ta perda­gan­gan agar lebih tert­ib, kena­pa peda­gang tidak dipin­dahkan ke Pasar Baru Panyabun­gan saja? Di sana kios masih banyak kosong dan jelas lebih rep­re­sen­tatif. Jus­tru peminda­han ke eks bioskop yang bermasalah ini menim­bulkan tan­da tanya besar,” ujarnya.

Luk­man juga meny­ing­gung dampak kebi­jakan ini ter­hadap cit­ra Bupati Mandail­ing Natal, H.M. Saip­ul­lah Nasu­tion. Menu­rut­nya, mes­ki kepu­tu­san ada di tan­gan Dinas Perda­gan­gan, masyarakat tetap akan meni­lai bupati seba­gai orang nomor satu di daer­ah.

“Seti­ap kebi­jakan yang gagal pasti ujung-ujungnya merusak integri­tas bupati di mata masyarakat. Pada­hal akar masalah­nya ada pada keti­dak­mam­puan Kadis Perda­gan­gan dalam menyusun kebi­jakan yang sesuai atu­ran,” ucap­nya.

Ia menam­bahkan, UU Nomor 30 Tahun 2014 ten­tang Admin­is­trasi Pemer­in­ta­han Pasal 17 mene­gaskan seti­ap peja­bat wajib bertin­dak sesuai kewe­nan­gan dan prose­dur hukum. Jika peja­bat jus­tru melak­sanakan kebi­jakan yang cacat prose­dur, maka hal itu secara lang­sung merugikan cit­ra kepala daer­ah.

Den­gan sederet per­soalan terse­but, Luk­man mende­sak Bupati Mandail­ing Natal untuk segera melakukan eval­u­asi ter­hadap kin­er­ja Dinas Perda­gan­gan. Ia meni­lai mem­per­ta­hankan peja­bat yang gagal jus­tru akan mem­per­bu­ruk cit­ra pemer­in­tah daer­ah.

  DPC LAKI Laskar Anti Korupsi Indonesia Ketapang Minta Tipkor Tindak Dugaan  Korupsi Perisa Lelang Proyek Renovasi Terminal Bandar Udara Rahadi Oesman

“Bupati harus berani mengam­bil sikap tegas. Jika memang ter­buk­ti kebi­jakan ini cacat prose­dur dan merugikan masyarakat, maka eval­u­asi ter­hadap peja­bat terkait tidak bisa ditun­da lagi. Pemer­in­tah harus menun­jukkan keber­pi­hakan kepa­da masyarakat, bukan seba­liknya,” tegas Luk­man.

Sejum­lah peda­gang yang ter­dampak relokasi juga menyam­paikan keke­ce­waan­nya. Mere­ka meni­lai lokasi eks bioskop tidak strate­gis, sulit dijangkau pem­be­li, dan tidak nya­man untuk berjualan.

“Kami jadi kehi­lan­gan banyak pelang­gan. Lokasinya sepi, dita­m­bah lagi kon­disi lingkun­gan yang kurang men­dukung. Kami berharap pemer­in­tah bisa mengem­ba­likan kami ke lokasi lama atau memindahkan ke Pasar Baru yang fasil­i­tas­nya lebih lengkap,” kata seo­rang peda­gang yang eng­gan dise­but namanya.

Keluhan seru­pa juga datang dari orang tua murid SD yang merasa khawatir den­gan kese­la­matan anak-anak mere­ka. “Seti­ap pagi jalanan depan seko­lah macet kare­na peda­gang. Anak-anak jadi susah masuk ke seko­lah den­gan aman. Kami minta pemer­in­tah mem­per­tim­bangkan ulang,” ujar salah satu wali murid.

Polemik relokasi peda­gang ini semakin mene­gaskan pent­ingnya peren­canaan matang dalam seti­ap kebi­jakan pub­lik. Tan­pa kajian yang kom­pre­hen­sif, kebi­jakan jus­tru bisa menim­bulkan masalah baru yang merugikan banyak pihak.

Kini, bola panas ada di tan­gan Bupati Mandail­ing Natal. Masyarakat menung­gu langkah tegas apakah akan mem­per­ta­hankan peja­bat yang diang­gap gagal atau melakukan eval­u­asi besar-besaran demi men­ja­ga keper­cayaan pub­lik.

Penulis: (Magri­fat­ul­lah).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *