Berita Ekonomi

Pedagang Pasar Bawah Bukittinggi Hadapi Tantangan Kenaikan Harga dan Ketidakstabilan Penjualan

288
×

Pedagang Pasar Bawah Bukittinggi Hadapi Tantangan Kenaikan Harga dan Ketidakstabilan Penjualan

Sebarkan artikel ini

Bukit­ting­gi, SniperNew.id — Pasar tra­di­sion­al selalu men­ja­di denyut nadi perekono­mi­an raky­at. Bagi para peda­gang kecil dan pelaku usa­ha mikro, kecil, dan menen­gah (UMKM), pasar adalah ruang uta­ma untuk meng­gan­tungkan hidup. Namun, dinami­ka ekono­mi yang tidak menen­tu belakan­gan ini dirasakan cukup berat oleh sejum­lah peda­gang di Pasar Bawah, Kota Bukit­ting­gi, Sumat­era Barat, Rabu (20/08/2025).

Beber­a­pa peda­gang men­gaku meng­hadapi tan­ta­n­gan serius dalam men­ja­ga sta­bil­i­tas usa­ha. Mulai dari naik-turun­nya har­ga bahan pan­gan, berku­rangnya daya beli masyarakat, hing­ga kesuli­tan menen­tukan har­ga yang pas untuk pem­be­li, semuanya men­ja­di keluhan sehari-hari.

Infor­masi ini terungkap dalam ung­ga­han akun res­mi Padang TV di media sosial. Dalam ung­ga­han terse­but, dise­butkan bah­wa para peda­gang di Pasar Bawah merasa resah den­gan kon­disi pasar yang kurang sta­bil. “Mulai dari kenaikan har­ga yang tidak menen­tu mem­bu­at para peda­gang bahan pan­gan di Pasar Bawah gelisah. Mere­ka keluhkan adanya keti­dak­sta­bi­lan pen­jualan sela­ma berda­gang,” demikian bun­yi keteran­gan ung­ga­han.

Selain itu, peda­gang yang menye­di­akan bahan pan­gan juga men­gala­mi kesuli­tan dalam mene­tap­kan har­ga. Har­ga yang ter­lalu ting­gi ser­ing mem­bu­at kon­sumen menun­da mem­be­li, semen­tara har­ga yang ter­lalu ren­dah dap­at meng­gerus keun­tun­gan peda­gang.

Kon­disi ekono­mi glob­al dan nasion­al beber­a­pa wak­tu ter­akhir memang berpen­garuh besar pada har­ga-har­ga kebu­tuhan pokok di tingkat lokal. Inflasi, dis­tribusi logis­tik, biaya trans­portasi, hing­ga cua­ca yang berdampak pada pro­duk­si per­tan­ian, men­ja­di fak­tor yang tidak bisa dihin­dari.

  SnackVideo, Aplikasi Video Pendek yang Kian Mantap dan Ngetren: Ekspresikan Dirimu dan Jadi Beken!

Di Pasar Bawah Bukit­ting­gi, yang men­ja­di salah satu pusat perda­gan­gan tra­di­sion­al terbe­sar di kota itu, para peda­gang seti­ap hari harus menye­suaikan har­ga den­gan kon­disi pasar. Namun, situ­asi naik-turun­nya har­ga yang ter­lalu cepat ser­ingkali mem­bin­gungkan, baik bagi peda­gang maupun pem­be­li.

Seo­rang peda­gang sayu­ran mis­al­nya, men­gaku kesuli­tan men­je­laskan peruba­han har­ga yang drastis kepa­da pelang­gan. “Kadang kemarin har­ga bawang naik, besoknya turun lagi. Susah mene­tap­kan har­ga tetap. Pem­be­li juga ser­ing kom­plain kalau har­ga berubah-ubah,” ujarnya dalam per­caka­pan singkat di pasar.

Fenom­e­na seru­pa juga diala­mi peda­gang komod­i­tas lain, seper­ti ken­tang, wor­tel, cabai, dan bum­bu dapur. Di salah satu ung­ga­han war­ganet di media sosial, tam­pak suasana Pasar Bawah den­gan dere­tan dagan­gan bahan pan­gan seper­ti ken­tang, wor­tel, dan sayu­ran lain­nya. War­na-warni sayu­ran di bawah ten­da biru itu men­ja­di sak­si aktiv­i­tas ekono­mi raky­at yang tetap ber­jalan mes­ki penuh tan­ta­n­gan.

UMKM meru­pakan tulang pung­gung perekono­mi­an Indone­sia. Data Kementer­ian Kop­erasi dan UKM men­catat bah­wa lebih dari 64 juta unit UMKM berkon­tribusi besar ter­hadap peny­er­a­pan tena­ga ker­ja dan per­tum­buhan ekono­mi nasion­al. Namun, sek­tor ini juga pal­ing rentan ter­hadap gejo­lak har­ga dan daya beli masyarakat.

Bagi peda­gang Pasar Bawah Bukit­ting­gi, keti­dak­sta­bi­lan har­ga berar­ti per­putaran modal yang tidak lan­car. Modal yang sudah dikelu­arkan untuk mem­be­li stok barang kadang tidak kem­bali sesuai tar­get, kare­na har­ga jual tidak seband­ing den­gan biaya yang dikelu­arkan.

  Gelombang Bank Run Ancam Stabilitas Ekonomi Nasional

“Kalau har­ga naik men­dadak, kita ter­pak­sa ikut naikkan har­ga jual. Tapi pem­be­li ser­ing men­geluh. Kalau kita turunk­an har­ga, malah rugi. Jadi ser­ba salah,” ungkap seo­rang peda­gang ken­tang yang dagan­gan­nya ter­li­hat dalam video ung­ga­han di media sosial.

Kon­disi ini diper­parah den­gan daya beli masyarakat yang melemah. Tidak sedik­it pem­be­li memil­ih men­gu­ran­gi belan­ja bahan pan­gan ter­ten­tu, atau bahkan men­cari alter­natif yang lebih murah. Hal ini jelas berdampak pada omset har­i­an peda­gang.

Salah satu per­soalan klasik di pasar tra­di­sion­al adalah bagaimana mene­tap­kan har­ga yang adil dan bisa diter­i­ma pem­be­li. Tidak ada stan­dar har­ga baku yang ser­agam, sehing­ga har­ga ser­ing berubah-ubah sesuai kon­disi pasokan dan per­mintaan.

Di Pasar Bawah, peda­gang men­gaku ser­ing kali bin­gung menen­tukan har­ga. Apala­gi keti­ka har­ga di tingkat dis­trib­u­tor berubah den­gan cepat. Mere­ka harus mengam­bil kepu­tu­san cepat agar dagan­gan tetap laku, sekali­gus tidak meru­gi.

Menu­rut salah seo­rang peda­gang bum­bu, komu­nikasi den­gan pelang­gan men­ja­di kun­ci pent­ing. “Kalau har­ga naik, kita harus jelaskan kena­pa. Biasanya pem­be­li bisa menger­ti. Tapi memang tidak semua. Kadang ada juga yang marah-marah,” katanya.

Mes­ki meng­hadapi berba­gai tan­ta­n­gan, peda­gang di Pasar Bawah tetap berusa­ha berta­han. Mere­ka berharap ada langkah nya­ta dari pemer­in­tah daer­ah maupun pusat untuk men­sta­bilkan har­ga bahan pan­gan. Sub­si­di trans­portasi, pen­gawasan dis­tribusi, hing­ga ban­tu­an modal usa­ha men­ja­di beber­a­pa solusi yang diinginkan peda­gang.

“Kalau bisa har­ga lebih sta­bil, kita bisa ten­ang berda­gang. Pem­be­li juga tidak bin­gung. Kalau terus naik-turun, yang susah bukan hanya peda­gang, tapi masyarakat juga,” ujar seo­rang peda­gang sayu­ran.

  Beternak Ayam Kampung yang Baik dan Benar Kunci Sukses Peternak Mandiri

Selain itu, pelati­han man­a­je­men usa­ha bagi peda­gang UMKM juga dini­lai pent­ing. Den­gan keter­ampi­lan men­gelo­la modal dan strate­gi pen­jualan yang lebih baik, peda­gang bisa lebih siap meng­hadapi fluk­tu­asi har­ga.

Di ten­gah perkem­ban­gan perda­gan­gan dig­i­tal yang semakin marak, pasar tra­di­sion­al seper­ti Pasar Bawah Bukit­ting­gi masih memi­li­ki per­an pent­ing. Selain men­ja­di pusat transak­si ekono­mi raky­at, pasar juga meru­pakan ruang sosial tem­pat inter­ak­si masyarakat berlang­sung.

Namun, peda­gang di pasar tra­di­sion­al ditun­tut untuk mulai beradap­tasi. Mis­al­nya den­gan meman­faatkan plat­form dig­i­tal untuk pro­mosi, atau meman­faatkan layanan pesan antar untuk men­jangkau pem­be­li yang lebih luas. Beber­a­pa peda­gang muda di Bukit­ting­gi sudah mulai men­co­ba men­jual dagan­gan lewat media sosial, meskipun jum­lah­nya masih ter­batas.

“Sekarang orang bisa pesan sayur lewat What­sApp. Kalau ada yang pesan, kita bisa siap­kan dan kir­im. Lumayan untuk tam­bah peng­hasi­lan,” kata seo­rang peda­gang muda yang men­co­ba cara baru dalam berda­gang.

Kisah para peda­gang Pasar Bawah Bukit­ting­gi mencer­minkan kon­disi nya­ta yang dihadapi UMKM di banyak daer­ah di Indone­sia. Kenaikan har­ga, keti­dak­sta­bi­lan pen­jualan, dan kesuli­tan menen­tukan har­ga meru­pakan tan­ta­n­gan yang terus meng­han­tui para pelaku usa­ha kecil.

Namun, di balik tan­ta­n­gan itu, seman­gat berta­han para peda­gang patut diapre­si­asi. Den­gan dukun­gan kebi­jakan yang tepat, ino­vasi usa­ha, dan sol­i­dar­i­tas antar pelaku UMKM, pasar tra­di­sion­al diyaki­ni tetap akan men­ja­di denyut nadi perekono­mi­an raky­at.

Edi­tor: (Ahmad)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *