Kesehatan

Satu dari Empat Dewasa Indonesia Alami Obesitas, Usia Produktif Terancam Gangguan Metabolik

437
×

Satu dari Empat Dewasa Indonesia Alami Obesitas, Usia Produktif Terancam Gangguan Metabolik

Sebarkan artikel ini
Foto: _ Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK, Dokter Spesialis Gizi Klinik Subspesialis Penyakit Kronik di Primaya Hospital Kelapa Gading.

JAKARTA, SNIPERNEW.id — Redaksi menerima siaran pers melalui surat elektronik (email) pada Minggu (01/03/2026) terkait meningkatnya angka obesitas pada kelompok usia produktif di Indonesia.

Dalam rilis tersebut disebutkan bahwa obesitas kini tidak lagi sekadar persoalan penampilan, melainkan telah menjadi ancaman kesehatan serius yang berdampak pada risiko gangguan metabolik dan penyakit kronis.

Berdasarkan data Survei Kesehatan Indonesia (SKI) 2023 yang dikutip dalam rilis, prevalensi berat badan lebih di Indonesia mencapai 14,4 persen, sementara obesitas menyentuh angka 23,4 persen. Artinya, hampir satu dari empat orang dewasa Indonesia hidup dengan kondisi obesitas.

Angka tersebut dinilai mengkhawatirkan karena banyak terjadi pada kelompok usia produktif yang seharusnya berada dalam kondisi fisik prima.

Dalam keterangan tertulis itu, Dr. dr. Luciana B. Sutanto, MS, Sp.GK, Subsp.PK, Dokter Spesialis Gizi Klinik di Primaya Hospital Kelapa Gading, menjelaskan bahwa peningkatan obesitas pada usia produktif berkaitan erat dengan perubahan gaya hidup modern.

  Berbagi Berkah Ramadhan, Ketum WLC Turun Langsung Pimpin Baksos di Tiga Titik Bandar Lampung

“Pada usia produktif, seseorang umumnya sudah memiliki penghasilan serta akses makanan yang lebih luas, tetapi aktivitas fisik justru menurun. Pola kerja yang banyak duduk, minim olahraga, dan asupan kalori berlebih membuat obesitas sangat mudah terjadi,” jelasnya dalam rilis tersebut.

Ia menekankan bahwa obesitas tidak dapat dinilai hanya dari angka berat badan atau tampilan fisik semata. Komposisi tubuh dan distribusi lemak, khususnya lemak di area perut, memiliki peran penting dalam menentukan risiko kesehatan seseorang.

“Seseorang bisa terlihat tidak terlalu gemuk, tetapi memiliki massa lemak tinggi dan lingkar pinggang berlebih. Kondisi ini tetap berisiko secara metabolik,” ujarnya.

Rilis tersebut juga menjelaskan bahwa obesitas merupakan pintu masuk berbagai gangguan metabolik. Kondisi ini berkaitan dengan tekanan darah tinggi, kadar gula darah tinggi, profil kolesterol abnormal, serta penumpukan lemak di perut. Kombinasi faktor-faktor tersebut secara signifikan meningkatkan risiko penyakit tidak menular seperti diabetes tipe 2, penyakit jantung, hingga stroke.

Lebih lanjut dijelaskan, dampak obesitas tidak hanya dirasakan dalam jangka panjang, tetapi juga memengaruhi kualitas hidup sehari-hari.

  Sikat Tambang Ilegal, Pemkab Pringsewu Tak Main-Main

“Obesitas dapat menurunkan energi, menyebabkan mudah lelah, sulit fokus, nyeri sendi, hingga gangguan psikologis. Dalam jangka panjang, kualitas hidup menurun dan risiko penyakit kronis fatal meningkat,” kata dr. Luciana.

Faktor pemicu obesitas, menurut rilis tersebut, meliputi pola makan tinggi kalori, konsumsi gula, garam, dan lemak berlebih, serta kurangnya aktivitas fisik. Gaya hidup sedentari atau kurang gerak menjadi salah satu kontributor utama. Selain itu, stres kerja, kurang tidur, serta jam makan yang tidak teratur turut memperburuk kondisi metabolisme tubuh.

Rilis yang diterima redaksi juga menyoroti pentingnya skrining kesehatan secara berkala. Disebutkan bahwa banyak individu baru menyadari adanya gangguan metabolik ketika gejala sudah muncul. Padahal, deteksi dini dinilai lebih efektif untuk mencegah komplikasi.

“Skrining metabolik sebaiknya dimulai sejak usia muda, sekitar 20-an, dan dilakukan lebih rutin seiring bertambahnya usia, terutama di atas 40 tahun. Tujuannya untuk mendeteksi risiko sejak dini, bahkan sebelum muncul gejala,” jelasnya.

Dalam pengelolaan obesitas, pendekatan yang diterapkan disebut tidak dapat diseragamkan untuk setiap individu. Pendekatan nutrisi medis berbasis gizi seimbang dan kondisi metabolik masing-masing pasien menjadi kunci dalam mencapai hasil yang berkelanjutan.

  Gus Ipul Gas Pol DTSESN di Jombang

“Penurunan berat badan yang aman dan berkelanjutan memerlukan pendampingan dokter spesialis gizi klinik. Diet instan justru berisiko menimbulkan kurang gizi dan memperburuk metabolisme,” tegas dr. Luciana dalam rilis tersebut.

Sebagai langkah awal, ia menyarankan kelompok usia produktif untuk menjaga berat badan ideal, memahami kebutuhan gizi harian, serta membangun gaya hidup sehat secara konsisten sejak dini. Perubahan kecil yang dilakukan secara bertahap dinilai lebih efektif dibandingkan upaya instan yang bersifat sementara.

“Perubahan kecil yang dilakukan lebih awal dan berkelanjutan jauh lebih efektif dibandingkan upaya instan yang bersifat musiman. Tujuan utamanya bukan hanya menurunkan berat badan, tetapi melindungi kesehatan metabolik jangka panjang,” tutupnya.

Redaksi menyampaikan bahwa informasi ini bersumber dari siaran pers resmi yang dikirimkan melalui email pada Minggu (01/03/2026).

Untuk mendapatkan gambaran yang lebih komprehensif, masyarakat tetap disarankan berkonsultasi langsung dengan tenaga medis profesional sesuai kondisi kesehatan masing-masing.

Editor: (iskandar)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *