Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Opini

Pustakawan: Pilar Literasi, Penjaga Warisan Bangsa yang Terabaikan

609
×

Pustakawan: Pilar Literasi, Penjaga Warisan Bangsa yang Terabaikan

Sebarkan artikel ini

Opin, SniperNew.id | 7 Juli – Hari Pus­takawan Nasion­alT, Tepat­se­ti­ap tang­gal 7 Juli, Indone­sia mem­peringati Hari Pus­takawan Nasion­al sebuah peng­hor­matan bagi mere­ka yang mendedikasikan hidup­nya untuk men­ja­ga, mer­awat, dan menye­bar­lu­askan ilmu penge­tahuan. Namun iro­nis­nya, peringatan ini ser­ing kali tengge­lam dalam kera­ma­ian agen­da nasion­al lain­nya. Tidak banyak yang menyadari bah­wa di balik kema­juan intelek­tu­al suatu bangsa, ada per­an pus­takawan yang bek­er­ja senyap namun menen­tukan.

Pus­takawan Bukan Sekadar Pen­ja­ga Buku

Di mata seba­gian masyarakat, pus­takawan hanya iden­tik den­gan sese­o­rang yang duduk di balik meja pem­in­ja­man, men­catat kelu­ar-masuk buku. Pada­hal, defin­isi pus­takawan telah berkem­bang seir­ing zaman. Mere­ka adalah arsitek lit­erasi, fasil­i­ta­tor bela­jar, dan nav­i­ga­tor infor­masi. Pus­takawan mod­ern bukan hanya men­gelo­la kolek­si, tetapi juga men­gelo­la penge­tahuan dan mem­ban­gun konek­si antara sum­ber infor­masi dan peng­gu­na.

  Jembatan Oyo Terancam Ambruk, PT. Jakon dan PPK Harus Bertanggung Jawab atas Proyek Gagal Ini!

Dalam dunia pen­didikan, per­an pus­takawan san­gat vital mere­ka mem­ban­tu siswa dan maha­siswa men­e­mukan sum­ber bela­jar yang kred­i­bel, mem­bimb­ing pen­car­i­an ref­er­en­si, hing­ga men­ga­jarkan keter­ampi­lan lit­erasi infor­masi. Di tingkat komu­ni­tas, pus­takawan men­ja­di agen lit­erasi dig­i­tal, mem­ban­tu masyarakat mema­ha­mi dan men­yaring infor­masi dari inter­net yang semakin liar dan penuh dis­in­for­masi.

Di Antara Sun­yi, Mere­ka Berta­han

Mes­ki per­an­nya begi­tu pent­ing, nasib pus­takawan di Indone­sia belum sepenuh­nya men­da­p­atkan per­ha­t­ian layak. Min­im­nya reg­u­lasi yang men­dukung pro­fe­si, kurangnya fasil­i­tas, hing­ga ren­dah­nya pen­gakuan sosial dan ekono­mi men­ja­di tan­ta­n­gan yang harus mere­ka hadapi seti­ap hari. Bahkan, di banyak seko­lah dan desa, per­pus­takaan masih diang­gap sekadar pelengkap, bukan kebu­tuhan.

Banyak pus­takawan yang bek­er­ja dalam keter­batasan dari ruang per­pus­takaan yang sem­pit, kolek­si buku yang ter­batas, hing­ga kurangnya pelati­han dan pem­baru­an keil­muan. Namun mere­ka tetap berta­han, beri­no­vasi den­gan apa yang ada, kare­na mere­ka sadar: tugas mere­ka bukan sekadar peker­jaan, melainkan misi per­ad­a­ban.

  Sepak Bola dan Pelajaran Kepemimpinan: Pesan Kebersamaan dari Lapangan Hijau

Per­pus­takaan Masa Depan, Butuh Pus­takawan Hebat

Di era dig­i­tal dan kecer­dasan buatan seper­ti sekarang, kehadi­ran pus­takawan tidak ter­gan­tikan. Jus­tru di ten­gah lau­tan data dan infor­masi yang tidak ter­ver­i­fikasi, kita butuh sosok yang mam­pu men­ja­di penun­juk arah dan pen­yaring kebe­naran. Pus­takawan harus terus bertrans­for­masi men­ja­di informasian—profesional yang mam­pu memadukan penge­tahuan lit­erasi klasik den­gan kemam­puan dig­i­tal dan kecer­dasan infor­masi mod­ern.

Hal ini ten­tu harus diim­ban­gi den­gan dukun­gan konkret dari pemer­in­tah. Revi­tal­isasi per­pus­takaan, penye­di­aan pelati­han berke­lan­ju­tan, pen­ingkatan sta­tus pro­fe­sion­al dan kese­jahter­aan pus­takawan harus men­ja­di pri­or­i­tas dalam kebi­jakan pem­ban­gu­nan sum­ber daya manu­sia.

Kare­na sejarah mem­buk­tikan: bangsa besar selalu diben­tuk oleh budaya lit­erasi yang kuat. Dan di balik budaya lit­erasi itu, berdiri sosok pus­takawan yang men­gar­sitekinya. Keti­ka pus­takawan dia­baikan, maka sesung­guh­nya kita sedang mengabaikan masa depan lit­erasi bangsa itu sendiri.

  Jalan Rigid Beton 2023 Diduga Rusak, Begini Tanggapan Kades Sukajaya

Maka, Hari Pus­takawan Nasion­al bukan hanya ser­e­mo­ni­al. Ini adalah momen­tum untuk mena­ta ulang pri­or­i­tas: bah­wa di antara gedung-gedung pen­cakar lan­git dan infra­struk­tur megah, kita juga butuh pus­takawan yang mumpuni untuk mem­ban­gun bangsa dari dalam—melalui ilmu penge­tahuan, karak­ter, dan kesadaran lit­erasi.

Mari kita beri ruang dan peng­har­gaan yang pan­tas kepa­da para pus­takawan. Mari kita jadikan per­pus­takaan bukan sekadar tem­pat meny­im­pan buku, tapi pusat peng­ger­ak penge­tahuan dan komu­ni­tas. Dan mari kita sadari bersama, bah­wa di balik buku yang kita baca, penge­tahuan yang kita akses, dan wawasan yang kita dap­atkan ada pus­takawan yang ber­jasa.

Sela­mat Hari Pus­takawan Nasion­al, 7 Juli 2025. Ter­i­ma kasih atas dedikasi kalian. Indone­sia butuh kalian lebih dari yang kalian kira.

Penulis; (Dar­mawan)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *