Rembang, SniperNew.id – Suasana mendadak panik menyelimuti SMPN 1 Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah, setelah ratusan siswanya mengalami gejala diduga keracunan massal pada Rabu siang (25/9/2025). Sebanyak 173 siswa mengalami mual, pusing, dan muntah setelah menyantap makanan dalam program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang disediakan sekolah.
Menurut informasi awal yang dihimpun dari unggahan media sosial dan laporan warga, menu yang disajikan berupa mi ayam, tahu rebus, dan buah melon. Tak lama setelah menyantap hidangan itu, sejumlah siswa mulai mengeluh sakit perut hingga akhirnya jatuh sakit secara bersamaan.
Peristiwa bermula setelah jam istirahat siang ketika sekolah membagikan makanan bergizi gratis kepada seluruh siswa. Menu yang tampak sederhana—mi ayam, tahu rebus, dan melon—dikonsumsi lebih dari separuh siswa SMPN 1 Kragan.
Awalnya, beberapa siswa mengeluh pusing dan mual. Namun, jumlah siswa yang mengalami gejala terus bertambah dalam hitungan menit. Guru serta pihak sekolah kemudian segera mengambil langkah darurat dengan melarikan para siswa ke puskesmas terdekat dan sebagian lainnya ke rumah sakit rujukan di Kabupaten Rembang.
Data sementara mencatat, dari 173 siswa yang terdampak, 160 siswa menjalani perawatan rawat jalan, sementara 13 siswa harus diopname karena kondisi mereka dinilai lebih serius.
Korban dalam peristiwa ini adalah para siswa SMPN 1 Kragan, Rembang. Rata-rata mereka berusia 12–15 tahun, duduk di bangku kelas VII hingga IX.
Petugas puskesmas, tim medis, serta relawan turut serta menangani para korban. Orang tua siswa yang khawatir juga berbondong-bondong mendatangi sekolah dan fasilitas kesehatan untuk memastikan kondisi anak-anak mereka.
Selain itu, Wakil Bupati Rembang turun tangan dengan menginstruksikan agar kasus ini ditangani secara serius hingga tuntas. Pemerintah daerah berjanji akan mengusut penyebab pasti dari dugaan keracunan tersebut agar tidak terulang kembali.
Peristiwa ini terjadi di SMPN 1 Kragan, salah satu sekolah menengah pertama negeri yang terletak di Kecamatan Kragan, Kabupaten Rembang, Jawa Tengah.
Kragan sendiri merupakan wilayah pesisir yang berbatasan langsung dengan Laut Jawa. Peristiwa keracunan massal ini pun menjadi sorotan publik, mengingat jumlah korban yang cukup besar dan statusnya sebagai siswa sekolah negeri.
Penyebab pasti dugaan keracunan ini masih dalam tahap penelitian. Pihak puskesmas bersama dinas kesehatan setempat melakukan uji laboratorium terhadap sisa makanan, termasuk mi ayam, tahu rebus, dan buah melon yang dikonsumsi siswa.
Kemungkinan adanya kontaminasi bakteri, kebersihan pengolahan makanan yang tidak memadai, atau kesalahan penyimpanan bahan makanan masih menjadi dugaan sementara. Namun, hingga berita ini ditulis, pihak berwenang belum memberikan kesimpulan resmi.
Begitu laporan keracunan massal masuk, pihak sekolah segera menghubungi puskesmas dan rumah sakit. Mobil ambulans silih berganti menjemput siswa yang jatuh sakit. Di ruang perawatan, terlihat para siswa yang masih mengenakan seragam sekolah terbaring lemah di ranjang maupun di lantai, sementara tenaga medis sibuk memberikan pertolongan.
Video yang beredar di media sosial TikTok memperlihatkan suasana penuh sesak di puskesmas dan rumah sakit. Orang tua, guru, serta masyarakat berdesakan untuk memastikan kondisi anak-anak yang sakit.
Pihak puskesmas melakukan pemeriksaan awal berupa pemberian cairan infus, obat anti-mual, serta observasi ketat. Siswa yang gejalanya ringan diperbolehkan pulang dengan rawat jalan, sementara mereka yang kondisinya berat langsung diopname.
Wakil Bupati Rembang kemudian menegaskan bahwa penanganan kasus ini harus dilakukan secara menyeluruh. Pemerintah daerah juga memastikan seluruh biaya pengobatan ditanggung, sehingga orang tua siswa tidak perlu khawatir.
Dalam unggahan akun media lokal @elshinta_smg, tampak sejumlah siswa berbaring di ruang perawatan dengan kondisi lemah. Seorang tenaga medis terlihat mencatat perkembangan pasien, sementara di sisi lain ada orang tua yang menemani.
Video lain yang diunggah warganet memperlihatkan kepanikan di lobi puskesmas. Ratusan orang berdesakan, beberapa siswa tampak digendong oleh keluarganya, sedangkan yang lain duduk lemas di kursi tunggu. Situasi itu menggambarkan betapa cepat dan masifnya gejala keracunan menyebar di antara para siswa.
Wakil Bupati Rembang yang menerima laporan langsung turun tangan. Ia meminta dinas kesehatan mempercepat investigasi dan menyampaikan hasilnya kepada publik secara transparan.
“Kami tidak ingin kasus ini terulang. Pemerintah akan memastikan penyebab pasti keracunan ini, dan siapa pun yang lalai dalam penyajian makanan harus bertanggung jawab,” ujarnya dalam keterangan resmi.
Kejadian ini tidak hanya menimbulkan kepanikan, tetapi juga trauma bagi sebagian siswa dan orang tua. Program Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharusnya mendukung kesehatan dan gizi siswa justru berubah menjadi peristiwa yang mencemaskan.
Beberapa orang tua mengaku khawatir jika anak-anak mereka harus kembali mengonsumsi makanan dari program tersebut sebelum ada jaminan keamanan.
“Tujuan awalnya bagus, tapi setelah kejadian ini kami takut kalau anak-anak makan di sekolah. Kami berharap ada evaluasi menyeluruh,” ungkap salah satu wali murid.
Kasus di SMPN 1 Kragan membuka wacana tentang pentingnya pengawasan ketat dalam pelaksanaan program pemerintah, khususnya yang berkaitan dengan makanan. Setiap tahap—mulai dari pengadaan bahan, pengolahan, penyajian, hingga distribusi—harus dipastikan higienis dan sesuai standar keamanan pangan.
Ahli kesehatan masyarakat menilai, kejadian keracunan massal biasanya disebabkan oleh kelalaian sederhana, seperti makanan tidak disimpan pada suhu yang tepat, kontaminasi dari alat masak, atau tidak higienisnya air yang digunakan.
Saat ini, sebagian besar siswa sudah mulai membaik meski masih ada yang harus menjalani rawat inap. Pemerintah daerah dan dinas kesehatan tengah menunggu hasil uji laboratorium untuk memastikan sumber keracunan.
Kasus ini diharapkan menjadi pelajaran penting bahwa program yang menyentuh kebutuhan dasar anak-anak, terutama makanan, harus dilaksanakan dengan standar tertinggi. Keselamatan siswa harus menjadi prioritas utama agar tujuan mulia program gizi gratis tidak ternodai oleh insiden serupa. (abd/Ahm).












