Tanah Bumbu, SniperNew.id - Sebuah video yang memperlihatkan penampilan tari Dolalak dengan nuansa joget di atas panggung, dalam acara peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW, ramai diperbincangkan publik. Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun media sosial tanahbumbuinfo di kanal Threads pada Senin (25/9/2025) siang, sekitar empat jam sebelum berita ini ditulis.
Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan narasi bahwa sorotan publik muncul karena penampilan tari Dolalak dianggap tidak tepat apabila ditampilkan dalam acara perayaan hari kelahiran Nabi Muhammad SAW. Unggahan itu berbunyi:
“Sebuah video tengah ramai diperbincangkan setelah menampilkan penari Dolalak yang berjoget di atas panggung. Sorotan publik muncul karena tarian tersebut ditampilkan dalam acara perayaan kelahiran Nabi Muhammad SAW. Hal ini memicu kecaman dan kemarahan, lantaran kegiatan keagamaan dinilai tidak pantas dicampuradukkan dengan hiburan semacam itu. Bagaimana tanggapan buhan pian?”
Unggahan tersebut turut menyertakan sebuah video pendek. Dalam tayangan itu terlihat sejumlah penari Dolalak berpakaian seragam dengan nuansa tradisional Jawa yang berdiri di atas panggung. Beberapa dari mereka tampak berjoget diiringi musik dangdut. Pada bagian lain, tampak pula seorang pria berseragam TNI yang berada di depan panggung, berinteraksi dengan para penari. Latar belakang panggung menunjukkan spanduk bertuliskan acara “Pengajian Akbar dalam Rangka Maulid Nabi Muhammad SAW Tahun 2015 Masehi / 1437 Hijriyah”.
Video viral tersebut menampilkan tari Dolalak dengan nuansa hiburan dangdut di sebuah acara perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW. Tari Dolalak sendiri dikenal sebagai tarian tradisional asal Purworejo, Jawa Tengah, yang biasanya menampilkan gerakan energik menyerupai baris-berbaris, namun dalam perkembangannya kerap dipadukan dengan musik modern dan gerakan joget.
Di dalam video, penampilan tari tersebut tidak hanya berbentuk atraksi budaya, tetapi bercampur dengan suasana hiburan ala panggung dangdut. Hal inilah yang kemudian menuai reaksi publik, khususnya karena acara itu berlabel keagamaan.
Pihak yang terlibat dalam peristiwa ini adalah. Para penari Dolalak – yang tampil dengan busana khas, lengkap dengan gerakan joget mengikuti iringan musik. Penyelenggara acara – yakni panitia peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Hingga kini belum ada keterangan resmi dari pihak panitia terkait tujuan menghadirkan hiburan tersebut.
Masyarakat dan warganet – yang kemudian memberikan berbagai tanggapan, mulai dari kecaman hingga kritik atas pencampuran acara keagamaan dengan hiburan. Akun tanahbumbuinfo, sebagai pihak pertama yang mengunggah video ini di media sosial Threads, hingga viral dan menimbulkan diskursus publik.
Lokasi acara sesuai dengan spanduk pada latar belakang video menunjukkan bahwa peringatan Maulid Nabi tersebut digelar di sebuah wilayah yang tidak disebutkan secara spesifik dalam unggahan. Namun, narasi di media sosial menyebut bahwa video itu beredar dari sebuah acara peringatan keagamaan di Tanah Bumbu, Kalimantan Selatan.
Meskipun belum ada pernyataan resmi, warganet memperkuat dugaan lokasi berdasarkan tanda-tanda visual serta penyebutan akun lokal yang pertama kali mengunggah video tersebut.
Video yang diunggah memperlihatkan panggung dengan spanduk bertuliskan tahun 2015 Masehi / 1437 Hijriyah. Namun, unggahan di media sosial yang membuat video tersebut kembali viral baru terjadi pada 25 September 2025.
Artinya, meskipun rekaman video diambil beberapa tahun silam, penyebaran ulangnya di media sosial memicu perbincangan baru dan kontroversi saat ini.
Kontroversi terjadi karena. Perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW secara umum dipandang sebagai momentum penuh penghormatan, syiar, dan pengingat keteladanan Nabi. Kehadiran hiburan berupa joget dianggap tidak sesuai dengan suasana tersebut.
Sebagian besar masyarakat menilai bahwa acara keagamaan tidak pantas dicampurkan dengan hiburan yang berpotensi mengganggu kekhidmatan.
Campuran antara tarian tradisional, hiburan dangdut, dan acara Maulid menimbulkan kesan tumpang tindih nilai budaya dengan nilai religius. Hal inilah yang menjadi titik sensitif perdebatan.
Reaksi publik terbagi menjadi dua. Banyak warganet mengecam penyelenggara acara karena dianggap tidak bijak menghadirkan hiburan semacam itu di forum keagamaan. Sebagian bahkan menyebut acara itu mencederai kesakralan peringatan Maulid Nabi.
Ada pula yang berpendapat bahwa tari Dolalak merupakan ekspresi budaya daerah, sehingga tidak sepatutnya langsung disalahkan. Namun, mereka tetap menekankan bahwa sebaiknya penyelenggara lebih bijak dalam memilah jenis hiburan sesuai konteks acara.
Akun tanahbumbuinfo sendiri menutup unggahannya dengan mengajak masyarakat berdiskusi melalui pertanyaan singkat: “Bagaimana tanggapan buhan pian?”
Fenomena ini memperlihatkan bagaimana rekaman lama bisa kembali memicu kontroversi ketika disebarkan ulang di era media sosial. Peristiwa ini juga menyingkap persoalan klasik di Indonesia, yakni batas antara pelestarian budaya dan penghormatan pada kegiatan keagamaan.
Selain itu, viralnya video ini menjadi pengingat bagi penyelenggara acara agar selalu memperhatikan konteks, etika, serta sensitivitas audiens dalam memilih hiburan. Di sisi lain, masyarakat pun perlu lebih cermat menanggapi rekaman lama yang beredar ulang, agar tidak menimbulkan kesalahpahaman baru.
Video penampilan tari Dolalak bercampur dangdut di sebuah acara Maulid Nabi Muhammad SAW menjadi viral setelah diunggah akun tanahbumbuinfo. Meskipun rekaman tersebut diduga berasal dari tahun 2015, penyebaran ulangnya memicu kritik publik pada September 2025.
Kontroversi muncul karena tarian joget dianggap tidak pantas disandingkan dengan acara keagamaan. Perdebatan ini menegaskan pentingnya pemilihan hiburan yang sesuai konteks, serta perlunya masyarakat bersikap bijak dalam menanggapi viralnya sebuah video lama.













