Berita Daerah

DPR Usul Dapur MBG Dikelola Sekolah, Warga Ragukan Eksekusi

380
×

DPR Usul Dapur MBG Dikelola Sekolah, Warga Ragukan Eksekusi

Sebarkan artikel ini

Gunungkidul, SniperNew.id - Isu pen­gelo­laan dapur pro­gram Makan Bergizi Gratis (MBG) kem­bali men­ja­di sorotan sete­lah muncul usu­lan agar dapur MBG dis­er­ahkan lang­sung ke pihak seko­lah. Usu­lan ini ramai dibicarakan sete­lah akun media sosial Tre­ands men­gung­gah perny­ataan terkait hal terse­but, lengkap den­gan kri­tik dan respons war­ga, Kamis (25/09).

Dalam ung­ga­han akun fer­ixs, dise­butkan bah­wa DPR RI men­gusulkan agar dapur MBG tidak lagi dipusatkan pada kater­ing besar, melainkan dikelo­la lang­sung oleh seko­lah. Alasan­nya seder­hana: pros­es memasak ribuan por­si sejak malam hing­ga siang hari rawan mem­bu­at makanan cepat basi.

“Kalau dapur di seko­lah: makanan lebih segar, aman, gam­pang diawasi, plus libatkan tena­ga lokal,” tulis akun terse­but.

Selain soal kual­i­tas makanan, isu ker­a­cu­nan mas­sal yang ter­ja­di di beber­a­pa daer­ah juga men­ja­di latar belakang kuat muncul­nya usu­lan ini. Dise­butkan, kasus ker­a­cu­nan makanan dalam pro­gram MBG belum ditang­gung oleh BPJS. Pemer­in­tah Kabu­pat­en bahkan harus menyi­ap­kan dana daru­rat sebe­sar Rp100 juta untuk menang­gu­lan­gi kor­ban.

Ung­ga­han terse­but mene­gaskan bah­wa niat baik pemer­in­tah melalui MBG harus diiku­ti den­gan eksekusi yang tepat.

Usu­lan dapur MBG dikelo­la seko­lah memang ter­den­gar ide­al. Namun, sejum­lah komen­tar war­ganet jus­tru meny­oroti poten­si masalah baru jika seko­lah harus mengam­bil alih.

  Jumat Berkah, Polsek Kualuh Hulu Berbagi Bantuan Sembako 

Akun ernaaa102 menulis, “Kalau dikelo­la seko­lah, yang ada nan­ti­nya guru minta tolong ke orang tua murid untuk piket ban­tu­in masaknya.”

Kekhawati­ran soal beban tam­ba­han bagi guru juga diungkap­kan akun cha­yarah­mad, “Hah? Mau nam­bah-nam­bah lagi ker­jaan dan pemiki­ran guru apa? Duu­uh untuk nge­bagi­in aja jadi tam­bah ker­janya, sekarang dim­inta seko­lah men­gelo­la, cepe deeeh!”

Kri­tik seru­pa datang dari akun parkhahn­sheap yang meni­lai raky­at tidak per­nah benar-benar dili­batkan den­gan layak dalam kebi­jakan pemer­in­tah. “Udah tau kan kalau raky­at itu sebe­narnya tak per­nah diper­lakukan layak oleh semua instan­si pemer­in­tah,” tulis­nya den­gan nada satir.

Mes­ki banyak kri­tik, beber­a­pa war­ganet jus­tru men­dukung usu­lan DPR RI. Menu­rut mere­ka, pen­gelo­laan makanan di lingkun­gan seko­lah bisa lebih aman dan sehat.

Akun nitosz menulis, “Ser­ahkan war­ga yang dekat seko­la­han maka akan lebih aman, masakan lebih sehat. Satu kater­ing ribuan por­si sudah pasti dari malam masaknya. Kecuali kalau nggak usah nata kayak gitu, bisa dadakan. Kalau dita­ta jelas masaknya nggak dadakan.”

Komen­tar ini meny­oroti fak­ta bah­wa kater­ing besar ser­ing kali harus memasak sejak malam hari untuk ribuan por­si, sehing­ga risiko makanan basi lebih ting­gi.

Reak­si pub­lik ter­hadap ung­ga­han ini cukup beragam. Ada yang meny­oroti aspek kese­hatan, ada pula yang meny­ing­gung lemah­nya per­lin­dun­gan kese­hatan bagi kor­ban ker­a­cu­nan.

Akun ryu_resinartmalang menulis, “Gila, nggak di-cov­er!? Berar­ti emang sen­ga­ja apa gimana, parah.”
Akun lain, fix bpjs memang sen­ga­ja, mene­gaskan keke­ce­waan kare­na kasus ker­a­cu­nan tidak masuk dalam caku­pan layanan BPJS.

Bahkan ada komen­tar yang berna­da emo­sion­al seper­ti _yusril1980, “Lama-lama mirip Israel ngin­cer anak-anak buat jadi kor­ban. Sint­ing….”

  Dapur Sekolah Panas, Netizen Ikut Gerah

Semen­tara akun kafinahmad.id singkat menuliskan, “Monyet… jadi sia­pa yang bertang­gung jawab?”

Dalam ung­ga­han fer­ixs juga dise­butkan bah­wa Pemer­in­tah Kabu­pat­en (Pemkab) menyi­ap­kan dana daru­rat sebe­sar Rp100 juta untuk menan­gani kasus ker­a­cu­nan. Dana ini dialokasikan mengin­gat ker­a­cu­nan aki­bat makanan MBG belum masuk dalam tang­gun­gan BPJS.

Hal ini memu­nculkan per­tanyaan pub­lik: sam­pai kapan dana daru­rat akan dian­dalkan, dan apakah ini cukup untuk menang­gu­lan­gi poten­si kasus seru­pa di masa depan?

Per­tanyaan ini men­ja­di titik pent­ing perde­batan. Jika dapur MBG dis­er­ahkan ke seko­lah, maka sia­pa yang harus memikul tang­gung jawab bila ter­ja­di ker­a­cu­nan atau kual­i­tas makanan bermasalah? Apakah seko­lah, pemer­in­tah daer­ah, atau penye­dia bahan makanan?

Beber­a­pa war­ga khawatir, tang­gung jawab jus­tru akan dilimpahkan kepa­da guru dan pihak seko­lah yang sebe­narnya memi­li­ki fungsi uta­ma dalam pen­didikan, bukan seba­gai pen­gelo­la dapur besar.

Ung­ga­han terse­but meny­ing­gung wilayah Gunungkidul seba­gai salah satu daer­ah yang ikut men­jalankan pro­gram MBG. Gunungkidul memang ter­ma­suk lokasi den­gan pen­er­a­pan MBG cukup luas, dan kasus ker­a­cu­nan sem­pat ter­ja­di hing­ga memak­sa pemer­in­tah menyalurkan dana daru­rat.

Polemik ini men­cu­at sete­lah muncul lapo­ran ker­a­cu­nan makanan MBG di beber­a­pa seko­lah dalam dua bulan ter­akhir. Berba­gai media dan akun sosial pub­lik meny­oroti bagaimana man­a­je­men dis­tribusi makanan men­ja­di titik rawan.

Ung­ga­han akun Tre­ands yang kemu­di­an ramai diperbin­cangkan hanya men­ja­di pun­cak gunung es dari kere­sa­han yang sudah lama dirasakan masyarakat.

Jika men­gacu pada usu­lan DPR RI, dapur MBG sebaiknya diban­gun dan dikelo­la di seko­lah. Kon­sep­nya, seko­lah dap­at bek­er­ja sama den­gan war­ga sek­i­tar untuk memasak makanan secara segar seti­ap pagi. Den­gan demikian, makanan yang diter­i­ma siswa lebih sehat, segar, dan aman.

  Massa Mulai Berkumpul di Depan TVRI Menuju Gedung DPR

Selain itu, keter­li­batan tena­ga lokal dihara­p­kan dap­at meng­ger­akkan ekono­mi sek­i­tar seko­lah. Namun, eksekusi tek­nis masih men­ja­di tan­da tanya besar.

Sia­pa yang akan bertang­gung jawab atas perekru­tan tena­ga dapur? Bagaimana stan­dar keber­si­han dan kea­manan pan­gan akan dija­ga? Apakah seko­lah memi­li­ki anggaran tam­ba­han untuk men­gelo­la dapur sendiri? Semua per­tanyaan ini belum ter­jawab secara jelas.

Isu dapur MBG tidak hanya memu­nculkan diskusi tek­nis, tetapi juga reak­si emo­sion­al. Beber­a­pa komen­tar pub­lik bahkan men­gaitkan kebi­jakan ini den­gan keti­dakadi­lan sis­temik dan tuduhan kon­spir­asi.

Ung­ga­han _yusril1980 mis­al­nya, menggam­barkan keke­ce­waan pub­lik den­gan men­gaitkan­nya pada isu glob­al yang sebe­narnya tidak berkai­tan lang­sung. Hal ini menun­jukkan bah­wa isu dapur MBG telah menyen­tuh sen­si­tiv­i­tas sosial masyarakat.

Usu­lan DPR RI agar dapur MBG dikelo­la seko­lah men­u­ai pro dan kon­tra. Di satu sisi, ide ini dini­lai dap­at meng­hadirkan makanan lebih segar, aman, ser­ta mem­ber­dayakan tena­ga lokal. Namun di sisi lain, pub­lik meni­lai usu­lan terse­but berpoten­si menam­bah beban guru, menim­bulkan masalah tek­nis, dan menim­bulkan per­tanyaan soal sia­pa yang bertang­gung jawab.

Kasus ker­a­cu­nan yang belum ditang­gung BPJS semakin mem­per­bu­ruk keper­cayaan masyarakat ter­hadap pen­gelo­laan MBG. Dana daru­rat Rp100 juta yang disi­ap­kan Pemkab Gunungkidul hanya diang­gap solusi semen­tara, bukan penye­le­sa­ian men­dasar.

Sam­pai kini, perde­batan men­ge­nai sia­pa yang seharus­nya men­gelo­la dapur MBG masih terus berlang­sung. Masyarakat menung­gu langkah konkret pemer­in­tah agar pro­gram yang seharus­nya menye­hatkan anak bangsa ini tidak jus­tru menim­bulkan masalah baru. (Ahm/Ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *