Terupdate

DPRD Tolak Berdirinya PKS PT. Pulo Padang Sawit Permai Labuhanbatu

530
×

DPRD Tolak Berdirinya PKS PT. Pulo Padang Sawit Permai Labuhanbatu

Sebarkan artikel ini

Labuhan­batu, SniperNew.id — Menin­dak­lan­ju­ti Surat dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan (AMMPPM) Nomor : 003/MPL&MPPM/V/2024 ter­tang­gal 31 Mei 2024 Per­i­hal Pem­ber­i­tahuan Aksi Unjuk Rasa di depan Kan­tor DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu. Oleh kare­na itu Ket­ua DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu men­gun­dang Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mengiku­ti Rap­at Den­gar Pen­da­p­at (RDP) den­gan Pimp­inan DPRD dan Lin­tas Komisi I, II, III, IV pada hari Senin 10 Juni 2024 Pukul 14.00 Wib bertem­pat diru­ang Rap­at Komisi 1 DPRD Labuhan­batu.

Ada­pun agen­da dalam RDP ini yakni menang­gapi Aspi­rasi dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan.

Kegiatan RDP terse­but dip­impin Lang­sung oleh Ket­ua DPRD Labuhan­batu, Mei­ka Rianti Sire­gar dan didampin­gi oleh Wak­il Ket­ua I, Abdul Karim Hasi­buan, Wak­il Ket­ua II, Burhanud­din Hara­hap, dan beber­a­pa anggota DPRD dari seti­ap Komisi seper­ti Sudin Satia Raja Hara­hap, Fauzi, Saptono, Rudi Sarag­ih, Mat Noor Riton­ga, dan beber­a­pa anggota Dewan lain­nya

Pimp­inan Rap­at lang­sung mem­per­si­lahkan per­wak­i­lan dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mema­parkan Aspi­rasinya di depan selu­ruh peser­ta RDP.

Amos Sihomb­ing, salah satu Kor­di­na­tor Aksi mema­parkan bah­wa kon­flik yang ter­ja­di di Pulo Padang sudah berlang­sung kurang lebih dela­pan Tahun lamanya, awal mula ter­jadinya kon­flik terse­but keti­ka masyarakat menge­tahui bah­wa diKelu­ra­han Pulo Padang, Keca­matan Rantau Utara, Kabu­pat­en Labuhan­batu, akan didirikan Pabrik Kela­pa Saw­it (PKS) PT. Pulo Padang Saw­it Per­mai. Yang sem­u­lanya dari keteran­gan yang diberikan kepa­da masyarakat bah­wa ditem­pat terse­but bukan mau mendirikan PKS melainkan pem­ban­gu­nan pemuki­man Peruma­han Raky­at, akan tetapi hal itu hanyalah siasat jahat agar pros­es pem­ban­gu­nan PKS ber­jalan den­gan lan­car. Dis­i­t­u­lah awal mulanya kon­flikpun ter­ja­di dan masyarakat­pun berbon­dong bon­dong melakukan peno­lakan terkait berdirinya Pabrik Kela­pa Saw­it diarea pemuki­man terse­but.

Menin­dak­lan­ju­ti Surat dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan (AMMPPM) Nomor : 003/MPL&MPPM/V/2024 ter­tang­gal 31 Mei 2024 Per­i­hal Pem­ber­i­tahuan Aksi Unjuk Rasa di depan Kan­tor DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu. Oleh kare­na itu Ket­ua DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu men­gun­dang Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mengiku­ti Rap­at Den­gar Pen­da­p­at (RDP) den­gan Pimp­inan DPRD dan Lin­tas Komisi I, II, III, IV pada hari Senin 10 Juni 2024 Pukul 14.00 Wib bertem­pat diru­ang Rap­at Komisi 1 DPRD Labuhan­batu.

Ada­pun agen­da dalam RDP ini yakni menang­gapi Aspi­rasi dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan.

  Belajar Serius tapi Tetap Kocak di Villa Ivan

Kegiatan RDP terse­but dip­impin Lang­sung oleh Ket­ua DPRD Labuhan­batu, Mei­ka Rianti Sire­gar dan didampin­gi oleh Wak­il Ket­ua I, Abdul Karim Hasi­buan, Wak­il Ket­ua II, Burhanud­din Hara­hap, dan beber­a­pa anggota DPRD dari seti­ap Komisi seper­ti Sudin Satia Raja Hara­hap, Fauzi, Saptono, Rudi Sarag­ih, Mat Noor Riton­ga, dan beber­a­pa anggota Dewan lain­nya

Pimp­inan Rap­at lang­sung mem­per­si­lahkan per­wak­i­lan dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mema­parkan Aspi­rasinya di depan selu­ruh peser­ta RDP.

Amos Sihomb­ing, salah satu Kor­di­na­tor Aksi mema­parkan bah­wa kon­flik yang ter­ja­di di Pulo Padang sudah berlang­sung kurang lebih dela­pan Tahun lamanya, awal mula ter­jadinya kon­flik terse­but keti­ka masyarakat menge­tahui bah­wa diKelu­ra­han Pulo Padang, Keca­matan Rantau Utara, Kabu­pat­en Labuhan­batu, akan didirikan Pabrik Kela­pa Saw­it (PKS) PT. Pulo Padang Saw­it Per­mai. Yang sem­u­lanya dari keteran­gan yang diberikan kepa­da masyarakat bah­wa ditem­pat terse­but bukan mau mendirikan PKS melainkan pem­ban­gu­nan pemuki­man Peruma­han Raky­at, akan tetapi hal itu hanyalah siasat jahat agar pros­es pem­ban­gu­nan PKS ber­jalan den­gan lan­car. Dis­i­t­u­lah awal mulanya kon­flikpun ter­ja­di dan masyarakat­pun berbon­dong bon­dong melakukan peno­lakan terkait berdirinya Pabrik Kela­pa Saw­it diarea pemuki­man terse­but.

Amos juga menam­bahkan bah­wa berdirinya Pabrik terse­but sudah melang­gar dan men­gangkan­gi beber­a­pa atu­ran yang ada seper­ti UUD 1945 pada Pasal 28 H ayat (1), Undang – undang No 39 Tahun 1999 Ten­tang Hak Aza­si Manu­sia, UU No 32 Tahun 2009 Ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup, Per­at­u­ran Men­tri Perindus­tri­an Repub­lik Indone­sia Nomor 40/M‑IND/PER/7/2016 Ten­tang Pedo­man Tek­nis Pem­ban­gu­nan Kawasan Indus­tri, UU No 22 Tahun 2009 Ten­tang Lalu Lin­tas dan Angku­tan Jalan, Per­at­u­ran Daer­ah Nomor 3 Tahun 2016 Ten­tang Tata Ruang Wilayah Kabu­pat­en Labuhan­batu 2015–2035, Surat Kepu­tu­san Guber­nur Nomor 188.44/594/kpts/2015 Ten­tang Eval­u­asi Ran­can­gan Per­at­u­ran Daer­ah Ten­tang Ren­cana Tata Ruang Wilayah Kabu­pat­en Labuhan­batu 2015–2035. Dan beber­a­pa per­atu­tan per­at­u­ran lain­nya.

Sena­da den­gan itu Wiwi Malpino Hasi­buan, salah satu Koor­di­na­tor aksi juga men­je­laskan bah­wa berdasarkan Per­at­u­ran Daer­ah yang ada bah­wa di Keca­matan Rantau Utara bukan ter­ma­suk kawasan Indus­tri melainkan kawasan pemuki­man masyarakat.
Menin­dak­lan­ju­ti Surat dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan (AMMPPM) Nomor : 003/MPL&MPPM/V/2024 ter­tang­gal 31 Mei 2024 Per­i­hal Pem­ber­i­tahuan Aksi Unjuk Rasa di depan Kan­tor DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu. Oleh kare­na itu Ket­ua DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu men­gun­dang Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mengiku­ti Rap­at Den­gar Pen­da­p­at (RDP) den­gan Pimp­inan DPRD dan Lin­tas Komisi I, II, III, IV pada hari Senin 10 Juni 2024 Pukul 14.00 Wib bertem­pat diru­ang Rap­at Komisi 1 DPRD Labuhan­batu.
Kegiatan RDP terse­but dip­impin Lang­sung oleh Ket­ua DPRD Labuhan­batu, Mei­ka Rianti Sire­gar dan didampin­gi oleh Wak­il Ket­ua I, Abdul Karim Hasi­buan, Wak­il Ket­ua II, Burhanud­din Hara­hap, dan beber­a­pa anggota DPRD dari seti­ap Komisi seper­ti Sudin Satia Raja Hara­hap, Fauzi, Saptono, Rudi Sarag­ih, Mat Noor Riton­ga, dan beber­a­pa anggota Dewan lain­nya.

  Air Mata Perantau Saat Aceh Tamiang Tenggelam

Pimp­inan Rap­at lang­sung mem­per­si­lahkan per­wak­i­lan dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mema­parkan Aspi­rasinya di depan selu­ruh pesert­ber­bon­dong bon­dong melakukan peno­lakan terkait berdirinya Pabrik Kela­pa Saw­it diarea pemuki­man terse­but

Sena­da den­gan itu Wiwi Malpino Hasi­buan, salah satu Koor­di­na­tor aksi juga men­je­laskan bah­wa berdasarkan Per­at­u­ran Daer­ah yang ada bah­wa di Keca­matan Rantau Utara bukan ter­ma­suk kawasan Indus­tri melainkan kawasan pemuki­man masyarakat.

“Dela­pan tahun lamanya Masyarakat bersama Maha­siswa melakukan per­lawanan ter­hadap berdirinya PKS PT. PPSP, hal itu bukan tidak men­dasar akan tetapi memang jelas berdirinya Pabrik terse­but sudah men­gangkan­gi per­at­u­ran Perun­dang undan­gan yang ada.

Pun­caknya pada tang­gal 20 Mei 2024 kemarin Maha­siswa dan Masyarakat melakukan aksi unjuk rasa didekat Pabrik PT. PPSP, mere­ka meno­lak berdirinya pabrik yang san­gat merugikan war­ga sek­i­tar, akan tetapi dis­aat mere­ka melakukan aksi unjuk rasa, Kepolisian Resort Labuhan­batu melakukan penangka­pan ter­hadap enam orang yang ter­diri dari tiga Maha­siswa dan tiga Masyarakat Pulo Padang”. Paparnya.

Kami san­gat menyayangkan atas tin­dakan penangka­pan oleh Pol­res Labuhan­batu ter­hadap Gusti­na Sal­im Rambe. Kami san­gat bin­gung terkait SOP penangka­pan maha­siswa dan masyarakat terse­but.

Pros­es penangka­pan­pun dilakukan den­gan cara dipak­sa, dis­eret dan ditarik. Kami san­gat bin­gung kena­pa pros­es penangka­pan dilakukan secara bru­tal, dan tidak ada menun­jukkan surat penangka­pan kepa­da enam orang terse­but. Mere­ka ditangkap kare­na telah melakukan peng­hadan­gan jalan pada saat melakukan aksi unjuk rasa tetapi sete­lah ditangkap dan dibawak kepol­res Labuhan­batu Gusti­na malah disangkakan telah melakukan tin­dak pidana melawan petu­gas”. Paparnya

Sia­papun orang pasti akan melakukan per­lawanan jikalau cara penangka­pan dilakukan seper­ti menangkap seekor hewan. Tapi menu­rut hemat saya hal itu bukan­lah suatu per­lawanan tetapi suatu ben­tuk ger­akan refleks dan mem­bela diri kare­na ditangkap secara bru­tal ser­ta tidak ada menun­jukkan sedik­it­pun surat penangka­pan dan tidak ada keje­lasan atas dasar apa dirinya ditangkap oleh Pol­res Labuhan­batu.

Mere­ka adalah seo­rang pejuang Lingkun­gan, berdasarkan Undang – undang Nomor 32 Tahun 2009 Ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup, pada Pasal 66 yang berbun­yi Seti­ap orang yang mem­per­juangkan hak atas lingkun­gan hidup yang baik dan sehat tidak dap­at ditun­tut secara pidana maupun digu­gat secara per­da­ta.

Tetapi Gusti­na sal­im rambe sam­pai saat ini masih dita­han oleh Pol­res
Menin­dak­lan­ju­ti Surat dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang Melawan (AMMPPM) Nomor : 003/MPL&MPPM/V/2024 ter­tang­gal 31 Mei 2024 Per­i­hal Pem­ber­i­tahuan Aksi Unjuk Rasa di depan Kan­tor DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu.

  Jejak Tiket Kuning Menuju Gerbang Profesionalisme Jurnalistik

Oleh kare­na itu Ket­ua DPRD Kabu­pat­en Labuhan­batu men­gun­dang Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mengiku­ti Rap­at Den­gar Pen­da­p­at (RDP) den­gan Pimp­inan DPRD dan Lin­tas Komisi I, II, III, IV pada hari Senin 10 Juni 2024 Pukul 14.00 Wib bertem­pat diru­ang Rap­at Komisi 1 DPRD

Kegiatan RDP terse­but dip­impin Lang­sung oleh Ket­ua DPRD Labuhan­batu, Mei­ka Rianti Sire­gar dan didampin­gi oleh Wak­il Ket­ua I, Abdul Karim Hasi­buan, Wak­il Ket­ua II, Burhanud­din Hara­hap, dan beber­a­pa anggota DPRD dari seti­ap Komisi seper­ti Sudin Satia Raja Hara­hap, Fauzi, Saptono, Rudi Sarag­ih, Mat Noor Riton­ga, dan beber­a­pa anggota Dewan lain­nya

Pimp­inan Rap­at lang­sung mem­per­si­lahkan per­wak­i­lan dari Alian­si Maha­siswa dan Masyarakat Pulo Padang untuk mema­parkan Aspi­rasinya di depan selu­ruh peser­ta RDP.

Amos Sihomb­ing, salah satu Kor­di­na­tor Aksi mema­parkan bah­wa kon­flik yang ter­ja­di di Pulo Padang sudah berlang­sung kurang lebih dela­pan Tahun lamanya, awal mula ter­jadinya kon­flik terse­but keti­ka masyarakat menge­tahui bah­wa diKelu­ra­han Pulo Padang, Keca­matan Rantau Utara, Kabu­pat­en Labuhan­batu, akan didirikan Pabrik Kela­pa Saw­it (PKS) PT. Pulo Padang Saw­it Per­mai.

Yang sem­u­lanya dari keteran­gan yang diberikan kepa­da masyarakat bah­wa ditem­pat terse­but bukan mau mendirikan PKS melainkan pem­ban­gu­nan pemuki­man Peruma­han Raky­at, akan tetapi hal itu hanyalah siasat jahat agar pros­es pem­ban­gu­nan PKS ber­jalan den­gan lan­car. Dis­i­t­u­lah awal mulanya kon­flikpun ter­ja­di dan masyarakat­pun berbon­dong bon­dong melakukan peno­lakan terkait berdirinya Pabrik Kela­pa Saw­it diarea pemuki­man terse­but.

Amos juga menam­bahkan bah­wa berdirinya Pabrik terse­but sudah melang­gar dan men­gangkan­gi beber­a­pa atu­ran yang ada seper­ti UUD 1945 pada Pasal 28 H ayat (1), Undang – undang No 39 Tahun 1999 Ten­tang Hak Aza­si Manu­sia, UU No 32 Tahun 2009 Ten­tang Per­lin­dun­gan dan Pen­gelo­laan Lingkun­gan Hidup, Per­at­u­ran Men­tri Perindus­tri­an Repub­lik Indone­sia Nomor 40/M‑IND/PER/7/2016 Ten­tang Pedo­man Tek­nis Pem­ban­gu­nan Kawasan Indus­tri, UU No 22 Tahun 2009 Ten­tang Lalu Lin­tas dan Angku­tan Jalan, Per­at­u­ran Daer­ah Nomor 3 Tahun 2016.

Ten­tang Tata Ruang Wilayah Kabu­pat­en Labuhan­batu 2015–2035, saya ikut ser­ta dis­i­tu dan saya tau betul terkait beber­a­pa pasal yang berubah pas­ca kelu­arnya Surat Kepu­tu­san Guber­nur Nomor 188.44/594/kpts/2015 Ten­tang Eval­u­asi Ran­can­gan Per­at­u­ran Daer­ah Ten­tang Ren­cana Tata Ruang Wilayah Kabu­pat­en Labuhan­batu 2015–2035.

Yang mana inti dari per­at­u­ran terse­but yaitu di Keca­matan Rantau Utara tidak diper­bolehkan berdiri Pabrik Kela­pa Saw­it kare­na di Keca­matan Rantau Utara bukan meru­pakan kawasan Indus­tri, melainkan yang ter­ma­suk kawasan indus­tri yaitu di Keca­matan Rantau Sela­tan. Dan terkait izin-izin pabrik PT. PPSP pada saat itu tidak ada yang berani men­gelu­arkan izin . (fitri­a­di)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *