Berita Peristiwa

Ratusan Siswa SMPN 1 Kragan Diduga Keracunan Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis

412
×

Ratusan Siswa SMPN 1 Kragan Diduga Keracunan Massal Usai Santap Makan Bergizi Gratis

Sebarkan artikel ini

Rem­bang, SniperNew.id – Suasana men­dadak panik menye­limu­ti SMPN 1 Kra­gan, Kabu­pat­en Rem­bang, Jawa Ten­gah, sete­lah ratu­san siswanya men­gala­mi gejala diduga ker­a­cu­nan mas­sal pada Rabu siang (25/9/2025). Sebanyak 173 siswa men­gala­mi mual, pus­ing, dan muntah sete­lah menyan­tap makanan dalam pro­gram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang dise­di­akan seko­lah.

Menu­rut infor­masi awal yang dihim­pun dari ung­ga­han media sosial dan lapo­ran war­ga, menu yang dis­ajikan beru­pa mi ayam, tahu rebus, dan buah mel­on. Tak lama sete­lah menyan­tap hidan­gan itu, sejum­lah siswa mulai men­geluh sak­it perut hing­ga akhirnya jatuh sak­it secara bersamaan.

Peri­s­ti­wa bermu­la sete­lah jam isti­ra­hat siang keti­ka seko­lah mem­bagikan makanan bergizi gratis kepa­da selu­ruh siswa. Menu yang tam­pak sederhana—mi ayam, tahu rebus, dan melon—dikonsumsi lebih dari sep­a­ruh siswa SMPN 1 Kra­gan.

Awal­nya, beber­a­pa siswa men­geluh pus­ing dan mual. Namun, jum­lah siswa yang men­gala­mi gejala terus bertam­bah dalam hitun­gan menit. Guru ser­ta pihak seko­lah kemu­di­an segera mengam­bil langkah daru­rat den­gan melarikan para siswa ke puskesmas ter­dekat dan seba­gian lain­nya ke rumah sak­it rujukan di Kabu­pat­en Rem­bang.

Data semen­tara men­catat, dari 173 siswa yang ter­dampak, 160 siswa men­jalani per­awatan rawat jalan, semen­tara 13 siswa harus diop­name kare­na kon­disi mere­ka dini­lai lebih serius.

  Tanah Bergerak Putuskan Jalur Penghubung Bagbagan–Kiara Dua

Kor­ban dalam peri­s­ti­wa ini adalah para siswa SMPN 1 Kra­gan, Rem­bang. Rata-rata mere­ka beru­sia 12–15 tahun, duduk di bangku kelas VII hing­ga IX.

Petu­gas puskesmas, tim medis, ser­ta relawan turut ser­ta menan­gani para kor­ban. Orang tua siswa yang khawatir juga berbon­dong-bon­dong men­datan­gi seko­lah dan fasil­i­tas kese­hatan untuk memas­tikan kon­disi anak-anak mere­ka.

Selain itu, Wak­il Bupati Rem­bang turun tan­gan den­gan men­gin­struk­sikan agar kasus ini ditan­gani secara serius hing­ga tun­tas. Pemer­in­tah daer­ah ber­jan­ji akan men­gusut penye­bab pasti dari dugaan ker­a­cu­nan terse­but agar tidak teru­lang kem­bali.

Peri­s­ti­wa ini ter­ja­di di SMPN 1 Kra­gan, salah satu seko­lah menen­gah per­ta­ma negeri yang ter­letak di Keca­matan Kra­gan, Kabu­pat­en Rem­bang, Jawa Ten­gah.

Kra­gan sendiri meru­pakan wilayah pesisir yang berbatasan lang­sung den­gan Laut Jawa. Peri­s­ti­wa ker­a­cu­nan mas­sal ini pun men­ja­di sorotan pub­lik, mengin­gat jum­lah kor­ban yang cukup besar dan sta­tus­nya seba­gai siswa seko­lah negeri.

Penye­bab pasti dugaan ker­a­cu­nan ini masih dalam tahap penelit­ian. Pihak puskesmas bersama dinas kese­hatan setem­pat melakukan uji lab­o­ra­to­ri­um ter­hadap sisa makanan, ter­ma­suk mi ayam, tahu rebus, dan buah mel­on yang dikon­sum­si siswa.

Kemu­ngk­i­nan adanya kon­t­a­m­i­nasi bak­teri, keber­si­han pen­go­la­han makanan yang tidak memadai, atau kesala­han peny­im­panan bahan makanan masih men­ja­di dugaan semen­tara. Namun, hing­ga beri­ta ini dit­ulis, pihak berwe­nang belum mem­berikan kes­im­pu­lan res­mi.

Begi­tu lapo­ran ker­a­cu­nan mas­sal masuk, pihak seko­lah segera menghubun­gi puskesmas dan rumah sak­it. Mobil ambu­lans sil­ih bergan­ti men­jem­put siswa yang jatuh sak­it. Di ruang per­awatan, ter­li­hat para siswa yang masih men­ge­nakan ser­agam seko­lah ter­bar­ing lemah di ran­jang maupun di lan­tai, semen­tara tena­ga medis sibuk mem­berikan per­to­lon­gan.

  Hujan Angin Terjang Surabaya, Pohon Tumbang Ganggu Jalan

Video yang beredar di media sosial Tik­Tok mem­per­li­hatkan suasana penuh sesak di puskesmas dan rumah sak­it. Orang tua, guru, ser­ta masyarakat berde­sakan untuk memas­tikan kon­disi anak-anak yang sak­it.

Pihak puskesmas melakukan pemerik­saan awal beru­pa pem­ber­ian cairan infus, obat anti-mual, ser­ta obser­vasi ketat. Siswa yang gejalanya ringan diper­bolehkan pulang den­gan rawat jalan, semen­tara mere­ka yang kon­disinya berat lang­sung diop­name.

Wak­il Bupati Rem­bang kemu­di­an mene­gaskan bah­wa penan­ganan kasus ini harus dilakukan secara menyelu­ruh. Pemer­in­tah daer­ah juga memas­tikan selu­ruh biaya pen­go­b­atan ditang­gung, sehing­ga orang tua siswa tidak per­lu khawatir.

Dalam ung­ga­han akun media lokal @elshinta_smg, tam­pak sejum­lah siswa berbar­ing di ruang per­awatan den­gan kon­disi lemah. Seo­rang tena­ga medis ter­li­hat men­catat perkem­ban­gan pasien, semen­tara di sisi lain ada orang tua yang men­e­mani.

Video lain yang diung­gah war­ganet mem­per­li­hatkan kepanikan di lobi puskesmas. Ratu­san orang berde­sakan, beber­a­pa siswa tam­pak digen­dong oleh kelu­ar­ganya, sedan­gkan yang lain duduk lemas di kur­si tung­gu. Situ­asi itu menggam­barkan beta­pa cepat dan masifnya gejala ker­a­cu­nan menye­bar di antara para siswa.

Wak­il Bupati Rem­bang yang mener­i­ma lapo­ran lang­sung turun tan­gan. Ia mem­inta dinas kese­hatan mem­per­cepat inves­ti­gasi dan menyam­paikan hasil­nya kepa­da pub­lik secara transparan.

“Kami tidak ingin kasus ini teru­lang. Pemer­in­tah akan memas­tikan penye­bab pasti ker­a­cu­nan ini, dan sia­pa pun yang lalai dalam penya­jian makanan harus bertang­gung jawab,” ujarnya dalam keteran­gan res­mi.

  Empat Hari Menembus Bencana Demi Bertemu Keluarga

Keja­di­an ini tidak hanya menim­bulkan kepanikan, tetapi juga trau­ma bagi seba­gian siswa dan orang tua. Pro­gram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang seharus­nya men­dukung kese­hatan dan gizi siswa jus­tru berubah men­ja­di peri­s­ti­wa yang mence­maskan.

Beber­a­pa orang tua men­gaku khawatir jika anak-anak mere­ka harus kem­bali men­gon­sum­si makanan dari pro­gram terse­but sebelum ada jam­i­nan kea­manan.

“Tujuan awal­nya bagus, tapi sete­lah keja­di­an ini kami takut kalau anak-anak makan di seko­lah. Kami berharap ada eval­u­asi menyelu­ruh,” ungkap salah satu wali murid.

Kasus di SMPN 1 Kra­gan mem­bu­ka wacana ten­tang pent­ingnya pen­gawasan ketat dalam pelak­sanaan pro­gram pemer­in­tah, khusus­nya yang berkai­tan den­gan makanan. Seti­ap tahap—mulai dari pen­gadaan bahan, pen­go­la­han, penya­jian, hing­ga distribusi—harus dipastikan higie­n­is dan sesuai stan­dar kea­manan pan­gan.

Ahli kese­hatan masyarakat meni­lai, keja­di­an ker­a­cu­nan mas­sal biasanya dise­babkan oleh kelala­ian seder­hana, seper­ti makanan tidak dis­im­pan pada suhu yang tepat, kon­t­a­m­i­nasi dari alat masak, atau tidak higien­is­nya air yang digu­nakan.

Saat ini, seba­gian besar siswa sudah mulai mem­baik mes­ki masih ada yang harus men­jalani rawat inap. Pemer­in­tah daer­ah dan dinas kese­hatan ten­gah menung­gu hasil uji lab­o­ra­to­ri­um untuk memas­tikan sum­ber ker­a­cu­nan.

Kasus ini dihara­p­kan men­ja­di pela­jaran pent­ing bah­wa pro­gram yang menyen­tuh kebu­tuhan dasar anak-anak, teruta­ma makanan, harus dilak­sanakan den­gan stan­dar tert­ing­gi. Kese­la­matan siswa harus men­ja­di pri­or­i­tas uta­ma agar tujuan mulia pro­gram gizi gratis tidak tern­odai oleh insi­d­en seru­pa. (abd/Ahm).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *