Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Peristiwa

Tamparan Ilmu di Ruang Kelas 

253
×

Tamparan Ilmu di Ruang Kelas 

Sebarkan artikel ini

Suasana ruang kelas biasanya dipenuhi den­gan suara guru yang men­je­laskan pela­jaran, siswa yang men­catat, ser­ta inter­ak­si tanya jawab yang mem­ban­gun. Namun, sebuah video yang diung­gah akun Mhd Aidir Rahim di Face­book baru-baru ini mem­per­li­hatkan momen berbe­da yang cukup menyi­ta per­ha­t­ian war­ganet, Sab­tu (16/08/2025).

Dalam reka­man berdurasi 38 detik itu, ter­li­hat seo­rang guru perem­puan yang sedang mem­berikan tegu­ran keras kepa­da siswanya. Murid terse­but, yang sem­u­la menulis di papan tulis, tiba-tiba mener­i­ma tam­paran di pipi kanan dan kiri. Sete­lah itu, murid terse­but ber­jalan kem­bali ke bangkun­ya, namun sang guru ter­li­hat masih berusa­ha mengin­gatkan den­gan sikap tegas, bahkan sem­pat menarik ram­but siswanya.

Di dalam ung­ga­han video, ter­tulis kali­mat: “Gak ada guru yg marah tan­pa sebab.” Semen­tara di bagian keteran­gan, ter­tulis pula pesan: “Ibu guru TDK boleh dlawan dek..”

  TRC BPBD dan Satlantas Sigap Evakuasi Pohon Tumbang di Painan

Mes­ki singkat, reka­man terse­but meman­tik diskusi pan­jang di kolom komen­tar.

 

Suara War­ganet: Antara Pro dan Kon­tra

Tak butuh wak­tu lama, ung­ga­han ini men­da­p­at beragam komen­tar dari war­ganet. Ada yang meni­lai bah­wa guru ter­lalu keras, namun tidak sedik­it pula yang mema­ha­mi bah­wa ada kemu­ngk­i­nan murid memang sudah melam­paui batas.

Abbas Khan mis­al­nya, berko­men­tar, “Tapi gak boleh begi­tu kek­erasan.” Komen­tar ini mene­gaskan pan­dan­gan bah­wa pen­didikan seharus­nya dilakukan tan­pa kon­tak fisik.

Di sisi lain, Sutis­na Ir meni­lai situ­asi ini per­lu dipan­dang den­gan kaca­ma­ta berbe­da. Ia menulis, “Orang tua jaman sekarang mah lebay-lebay. Pas gw mah kalau guru marah ya ter­i­ma kesala­han. Ngga usah ngadu ke orang tua. Pas di STM cuma tam­paran mah, men­tal masih aman.”

Komen­tar seru­pa juga datang dari Agung Nugro­ho, “Kalau saya setu­ju aja sih. Lebih baik anak yang ban­del dik­erasin guru, dari­pa­da kawan­nya jadi kor­ban.”

Namun, tidak semua komen­tar men­dukung tin­dakan keras. Ani Wijayan­ti mengin­gatkan, “Tapi gak boleh main tan­gan dong.” Semen­tara Fitri­ani Tan­jung menam­bahkan, “Tapi gak gitu kali, Bu.”

  Kebakaran Subuh di Kota Lama, Warung Bancaan Hangus, Penyebab Masih Diselidiki

Ada pula komen­tar dari Reno Blee yang singkat namun tegas, “Ban­tu viralkan.”

Cer­min Pen­didikan: Antara Tegas dan Sabar.

Peri­s­ti­wa dalam video ini, mes­ki menim­bulkan pro dan kon­tra, dap­at dijadikan bahan renun­gan bagi semua pihak. Guru adalah fig­ur teladan, yang tidak hanya men­trans­fer ilmu penge­tahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karak­ter. Sikap tegas memang diper­lukan, ter­lebih keti­ka meng­hadapi murid yang sulit diatur. Namun, di era pen­didikan mod­ern, metode yang lebih huma­n­is, per­suasif, dan penuh dia­log semakin ditekankan.

Di sisi lain, murid juga per­lu mema­ha­mi per­an guru. Tegu­ran, baik dalam ben­tuk kata maupun tin­dakan, sejatinya muncul dari keing­i­nan agar murid men­ja­di prib­a­di yang lebih disi­plin dan bertang­gung jawab. Seper­ti ter­tulis dalam video, “Gak ada guru yg marah tan­pa sebab.”

Bagi guru, peri­s­ti­wa ini men­ja­di pengin­gat pent­ing bah­wa seti­ap tin­dakan di ruang kelas kini bisa men­ja­di sorotan pub­lik, ter­lebih di era media sosial. Oleh kare­na itu, kesabaran dan kreativ­i­tas dalam men­didik men­ja­di kun­ci uta­ma. Pen­dekatan yang mengede­pankan komu­nikasi, empati, dan moti­vasi akan lebih mudah diter­i­ma murid ser­ta orang tua.

  Joget Dolalak di Panggung Maulid, Tuai Sorotan Publik

Bagi murid, keja­di­an ini sekali­gus men­ga­jarkan ten­tang pent­ingnya meng­hor­mati guru. Murid yang sopan, disi­plin, dan mau menden­gar nasi­hat akan lebih mudah diter­i­ma ser­ta men­da­p­atkan kasih sayang dari gurun­ya. Guru bukan hanya pen­ga­jar, tetapi juga orang tua ked­ua di seko­lah.

Pen­didikan tidak hanya soal ilmu di buku pela­jaran, tetapi juga pem­ben­tukan karak­ter dan moral. Guru dan murid adalah dua pihak yang tidak bisa dip­isahkan. Keti­ka ked­u­anya bisa sal­ing meng­hor­mati dan mema­ha­mi, suasana kelas akan men­ja­di tem­pat yang nya­man untuk bela­jar dan menim­ba ilmu.

Peri­s­ti­wa ini bukan­lah ajakan untuk sal­ing menyalahkan, melainkan pengin­gat agar pen­didikan di seko­lah semakin bijak. Guru tetap men­ja­di fig­ur panu­tan, semen­tara murid bela­jar untuk lebih meng­har­gai dan menu­ru­ti ara­han.

Pada akhirnya, seper­ti yang ser­ing dikatakan, “Tam­paran seo­rang guru bukan untuk menyak­i­ti, tapi untuk mengin­gatkan. Namun yang lebih indah adalah tam­paran den­gan kata-kata bijak yang bisa mem­bu­ka hati.”

Den­gan demikian, seti­ap pen­gala­man, baik man­is maupun pahit di seko­lah, akan men­ja­di bekal berhar­ga bagi per­jalanan hidup siswa di masa depan. (Red).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *