Suasana ruang kelas biasanya dipenuhi dengan suara guru yang menjelaskan pelajaran, siswa yang mencatat, serta interaksi tanya jawab yang membangun. Namun, sebuah video yang diunggah akun Mhd Aidir Rahim di Facebook baru-baru ini memperlihatkan momen berbeda yang cukup menyita perhatian warganet, Sabtu (16/08/2025).
Dalam rekaman berdurasi 38 detik itu, terlihat seorang guru perempuan yang sedang memberikan teguran keras kepada siswanya. Murid tersebut, yang semula menulis di papan tulis, tiba-tiba menerima tamparan di pipi kanan dan kiri. Setelah itu, murid tersebut berjalan kembali ke bangkunya, namun sang guru terlihat masih berusaha mengingatkan dengan sikap tegas, bahkan sempat menarik rambut siswanya.
Di dalam unggahan video, tertulis kalimat: “Gak ada guru yg marah tanpa sebab.” Sementara di bagian keterangan, tertulis pula pesan: “Ibu guru TDK boleh dlawan dek..”
Meski singkat, rekaman tersebut memantik diskusi panjang di kolom komentar.
Suara Warganet: Antara Pro dan Kontra
Tak butuh waktu lama, unggahan ini mendapat beragam komentar dari warganet. Ada yang menilai bahwa guru terlalu keras, namun tidak sedikit pula yang memahami bahwa ada kemungkinan murid memang sudah melampaui batas.
Abbas Khan misalnya, berkomentar, “Tapi gak boleh begitu kekerasan.” Komentar ini menegaskan pandangan bahwa pendidikan seharusnya dilakukan tanpa kontak fisik.
Di sisi lain, Sutisna Ir menilai situasi ini perlu dipandang dengan kacamata berbeda. Ia menulis, “Orang tua jaman sekarang mah lebay-lebay. Pas gw mah kalau guru marah ya terima kesalahan. Ngga usah ngadu ke orang tua. Pas di STM cuma tamparan mah, mental masih aman.”
Komentar serupa juga datang dari Agung Nugroho, “Kalau saya setuju aja sih. Lebih baik anak yang bandel dikerasin guru, daripada kawannya jadi korban.”
Namun, tidak semua komentar mendukung tindakan keras. Ani Wijayanti mengingatkan, “Tapi gak boleh main tangan dong.” Sementara Fitriani Tanjung menambahkan, “Tapi gak gitu kali, Bu.”
Ada pula komentar dari Reno Blee yang singkat namun tegas, “Bantu viralkan.”
Cermin Pendidikan: Antara Tegas dan Sabar.
Peristiwa dalam video ini, meski menimbulkan pro dan kontra, dapat dijadikan bahan renungan bagi semua pihak. Guru adalah figur teladan, yang tidak hanya mentransfer ilmu pengetahuan, tetapi juga menanamkan nilai-nilai karakter. Sikap tegas memang diperlukan, terlebih ketika menghadapi murid yang sulit diatur. Namun, di era pendidikan modern, metode yang lebih humanis, persuasif, dan penuh dialog semakin ditekankan.
Di sisi lain, murid juga perlu memahami peran guru. Teguran, baik dalam bentuk kata maupun tindakan, sejatinya muncul dari keinginan agar murid menjadi pribadi yang lebih disiplin dan bertanggung jawab. Seperti tertulis dalam video, “Gak ada guru yg marah tanpa sebab.”
Bagi guru, peristiwa ini menjadi pengingat penting bahwa setiap tindakan di ruang kelas kini bisa menjadi sorotan publik, terlebih di era media sosial. Oleh karena itu, kesabaran dan kreativitas dalam mendidik menjadi kunci utama. Pendekatan yang mengedepankan komunikasi, empati, dan motivasi akan lebih mudah diterima murid serta orang tua.
Bagi murid, kejadian ini sekaligus mengajarkan tentang pentingnya menghormati guru. Murid yang sopan, disiplin, dan mau mendengar nasihat akan lebih mudah diterima serta mendapatkan kasih sayang dari gurunya. Guru bukan hanya pengajar, tetapi juga orang tua kedua di sekolah.
Pendidikan tidak hanya soal ilmu di buku pelajaran, tetapi juga pembentukan karakter dan moral. Guru dan murid adalah dua pihak yang tidak bisa dipisahkan. Ketika keduanya bisa saling menghormati dan memahami, suasana kelas akan menjadi tempat yang nyaman untuk belajar dan menimba ilmu.
Peristiwa ini bukanlah ajakan untuk saling menyalahkan, melainkan pengingat agar pendidikan di sekolah semakin bijak. Guru tetap menjadi figur panutan, sementara murid belajar untuk lebih menghargai dan menuruti arahan.
Pada akhirnya, seperti yang sering dikatakan, “Tamparan seorang guru bukan untuk menyakiti, tapi untuk mengingatkan. Namun yang lebih indah adalah tamparan dengan kata-kata bijak yang bisa membuka hati.”
Dengan demikian, setiap pengalaman, baik manis maupun pahit di sekolah, akan menjadi bekal berharga bagi perjalanan hidup siswa di masa depan. (Red).













