Berita Peristiwa

Harunya Perpisahan, Murid SMP Menangis Saat Kepsek Dicopot Usai Diduga Tegur Anak Pejabat

418
×

Harunya Perpisahan, Murid SMP Menangis Saat Kepsek Dicopot Usai Diduga Tegur Anak Pejabat

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Dunia pen­didikan kem­bali digun­cang kabar yang memicu haru sekali­gus kepri­hati­nan. Sebuah video yang diung­gah di media sosial menun­jukkan momen penuh air mata saat seo­rang kepala Seko­lah Menen­gah Per­ta­ma (SMP) harus mening­galkan jabatan­nya. Dalam reka­man terse­but, ter­li­hat ratu­san murid memeluk dan menangis melepas sang kepala seko­lah yang dise­but-sebut dicopot dari jabatan­nya usai mene­gur seo­rang murid yang diduga anak peja­bat, Selasa (16/09/25).

Peri­s­ti­wa ini kemu­di­an viral dan men­ja­di bahan perbin­can­gan hangat di jagat maya. Video yang dibagikan akun makas­sar­feeds di plat­form Threads mem­per­li­hatkan suasana di hala­man seko­lah, tepat di depan ruang guru. Puluhan siswa ter­li­hat berde­sakan untuk memeluk kepala seko­lah mere­ka. Tangis pec­ah, bahkan banyak siswa yang tam­pak eng­gan melepaskan pelukan, seakan tidak rela sang pemimpin seko­lah per­gi begi­tu saja.

Kabar yang beredar menye­butkan bah­wa kepala seko­lah terse­but diduga diber­hen­tikan dari jabatan­nya sete­lah mene­gur seo­rang murid yang dikatakan seba­gai anak peja­bat. Mes­ki detail kasus ini belum men­da­p­atkan klar­i­fikasi res­mi dari pihak berwe­nang, ung­ga­han terse­but sudah memicu gelom­bang sim­pati luar biasa dari masyarakat.

Ung­ga­han video berdurasi singkat itu dis­er­tai keteran­gan. “Diduga tegur anak peja­bat pak kepsek dicopot! Murid² SMP ini tak kuasa mena­han tangis.”

Keteran­gan singkat terse­but menam­bah keharu­an pub­lik yang menyak­sikan. Ribuan komen­tar pun men­galir, seba­gian besar menyuarakan dukun­gan kepa­da sang kepala seko­lah.

  Kucing Oren Bertahan Tiga Minggu di Pohon Sawit, Berhasil Dievakuasi Relawan di Aceh Tamiang

Aktor uta­ma dalam keja­di­an ini adalah sang kepala seko­lah yang dicopot dari jabatan­nya, murid-murid SMP yang melepas­nya den­gan penuh tangis, ser­ta sosok murid yang dise­but-sebut anak peja­bat.

Di balik layar, pub­lik juga meny­oroti dugaan adanya inter­ven­si pihak ter­ten­tu yang mem­bu­at kebi­jakan pen­copotan terse­but. Namun, hing­ga saat ini, belum ada keteran­gan res­mi dari dinas pen­didikan setem­pat maupun instan­si terkait.

Komen­tar war­ganet pun meny­oroti hal ini. Akun dnrzt_hudi menuliskan, “Kalau memang benar beri­ta ini, harus­nya peja­bat itu yang dicopot jabatan­nya. Yang namanya di seko­lah seharus­nya tidak ada priv­i­lege. Kepala seko­lah hanya men­jalankan tugas agar si murid men­ja­di disi­plin, pun­ya atti­tude yang baik kare­na pada dasarnya kepala seko­lah paham murid adalah gen­erasi penerus bangsa. Kalau dari masih seko­lah saja seenaknya begi­tu, bagaimana nan­ti kalau sudah di dunia ker­ja atau amit-amit jan­gan sam­pai jadi peja­bat. Ini ter­ma­suk penyalah­gu­naan wewe­nang.”

Komen­tar lain dari akun dj_markeje45 juga mengkri­tisi, “Bukan anak peja­bat itu tapi anak pen­ja­hat.”

Semen­tara akun yoyowahid123 lebih memil­ih mem­berikan dukun­gan moral untuk sang kepala seko­lah, “Sabar yah pak kepsek, Insya Allah ini semua akan ada hikmah­nya dan Tuhan maha meli­hat dan menden­gar.”

Keti­ga komen­tar terse­but menggam­barkan beta­pa masyarakat luas ikut ter­bawa suasana, mulai dari marah, kece­wa, hing­ga mem­berikan doa pen­guat.

Berdasarkan ung­ga­han, peri­s­ti­wa ini baru-baru ini ter­ja­di dan mulai viral sejak Senin (16/9/2025) dini hari. Video berdurasi singkat itu sudah diton­ton ribuan kali dan men­u­ai puluhan komen­tar hanya dalam hitun­gan jam.

Momen haru di hala­man seko­lah itu ter­ja­di tepat sete­lah pengu­mu­man res­mi bah­wa sang kepala seko­lah akan dicopot dari jabatan­nya. Para siswa yang menden­gar kabar terse­but lang­sung berkumpul di hala­man seko­lah, menung­gu sang pemimpin yang mere­ka cin­tai kelu­ar dari ruang guru.

  Video Lansia Terjebak Banjir Medan Gegerkan Warga

Lokasi peri­s­ti­wa ini ter­ja­di di salah satu seko­lah menen­gah per­ta­ma (SMP) yang ban­gu­nan­nya ter­li­hat jelas dalam video ung­ga­han. Di dind­ing seko­lah tam­pak tulisan “Ruang Guru”, yang mem­per­li­hatkan suasana nya­ta saat per­pisa­han berlang­sung.

Mes­ki nama seko­lah belum dise­but secara eksplisit, ung­ga­han terse­but berasal dari akun media sosial berba­sis di Makas­sar, sehing­ga pub­lik men­duga keja­di­an ini bera­da di wilayah Sulawe­si Sela­tan.

Dugaan pen­copotan jabatan kepala seko­lah kare­na mene­gur anak peja­bat men­u­ai kri­tik keras. Pub­lik meni­lai seko­lah adalah tem­pat pen­didikan karak­ter, bukan are­na priv­ilese. Kepala seko­lah dipan­dang hanya men­jalankan tugas men­didik dan mene­gakkan disi­plin.

Dalam kon­teks pen­didikan, tegu­ran dari guru maupun kepala seko­lah meru­pakan bagian pent­ing dari pros­es pem­be­la­jaran sikap dan tang­gung jawab. Kare­na itu, masyarakat mem­per­tanyakan bila benar pen­copotan ter­ja­di hanya kare­na alasan terse­but.

Banyak pihak khawatir, bila dunia pen­didikan sudah tidak bisa lagi mem­berikan tegu­ran kepa­da siswa hanya kare­na sta­tus sosial atau latar belakang kelu­ar­ganya, maka masa depan gen­erasi bangsa akan ter­an­cam.

Reak­si pub­lik begi­tu cepat dan deras. Ribuan war­ganet menumpahkan rasa kece­wa sekali­gus dukun­gan lewat komen­tar. Banyak yang memu­ji keberan­ian kepala seko­lah dalam mene­gakkan disi­plin. Ada pula yang merasa pri­hatin meli­hat anak-anak menangis his­teris melepas keper­gian sosok pemimpin yang mere­ka kagu­mi.

Salah satu siswa dalam video ter­li­hat bert­e­ri­ak sam­bil menangis, “Jan­gan tinggalkan kami, Pak.” Tangisan itu menggam­barkan beta­pa dalam­nya ikatan emo­sion­al antara kepala seko­lah dan murid-murid­nya.

  Program Pemberdayaan Jadi Perhatian

Tak hanya murid, sejum­lah guru pun kabarnya ikut larut dalam kesedi­han. Mere­ka meni­lai, kepala seko­lah yang dicopot ini dike­nal disi­plin, adil, dan dekat den­gan para siswa.

Fenom­e­na ini memu­nculkan diskusi lebih luas ten­tang integri­tas dunia pen­didikan di Indone­sia. Pub­lik meni­lai, bila benar pen­copotan dilakukan kare­na tekanan pihak ter­ten­tu, maka itu dap­at menced­erai mar­wah pen­didikan.

Banyak aktivis pen­didikan menekankan bah­wa seko­lah harus bebas dari inter­ven­si dan kepentin­gan poli­tik. Guru dan kepala seko­lah harus diberikan ruang untuk men­didik den­gan cara yang benar, tan­pa takut pada sta­tus sosial siswa atau kelu­ar­ganya.

Keke­ce­waan pub­lik ter­cer­min dalam komen­tar-komen­tar yang ramai diung­gah. Bahkan ada yang menye­but pen­copotan ini seba­gai ben­tuk “penyalah­gu­naan wewe­nang.”

Di sisi lain, ada juga war­ganet yang men­co­ba mene­nangkan suasana den­gan keyak­i­nan bah­wa peri­s­ti­wa ini akan mem­bawa hikmah di kemu­di­an hari.

Kisah haru murid-murid SMP yang menangis melepas kepala seko­lah mere­ka bukan hanya menyen­tuh hati, tetapi juga men­ja­di reflek­si pent­ing bagi dunia pen­didikan.

Apapun penye­bab sebe­narnya di balik pen­copotan jabatan terse­but, peri­s­ti­wa ini sudah mem­bu­ka mata pub­lik ten­tang pent­ingnya men­ja­ga integri­tas seko­lah seba­gai ruang men­didik karak­ter bangsa.

Murid-murid yang menangis itu seo­lah men­ja­di sak­si nya­ta, bah­wa kepemimp­inan kepala seko­lah terse­but mening­galkan kesan men­dalam. Ia bukan hanya pemimpin admin­is­tratif, tetapi juga sosok yang dicin­tai dan dihor­mati oleh anak-anak didiknya.

Kini pub­lik menan­ti pen­je­lasan res­mi dari pihak terkait. Semen­tara itu, masyarakat terus berharap agar dunia pen­didikan tidak lagi terkon­t­a­m­i­nasi oleh kepentin­gan di luar tugas mulianya: menc­etak gen­erasi penerus bangsa yang berkarak­ter, berin­tegri­tas, dan berakhlak mulia. (Ahm/red).

-

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *