Berita Pendidikan

Polemik Ruang OSIS Jadi Kantin di SMAN 4 Dendang, Guru dan Kepala Sekolah Saling Tanggapi

634
×

Polemik Ruang OSIS Jadi Kantin di SMAN 4 Dendang, Guru dan Kepala Sekolah Saling Tanggapi

Sebarkan artikel ini

Tan­jung Jabung Timur, SniperNew.id — Sebuah video yang mem­per­li­hatkan perde­batan antara seo­rang guru dan kepala seko­lah di SMAN 4 Den­dang, Kabu­pat­en Tan­jung Jabung Timur, Provin­si Jam­bi, beredar luas di media sosial dan memicu beragam tang­ga­pan war­ganet. Dalam video yang diung­gah oleh akun kabar­ne­ti­zen­jam­bi di plat­form Threads, dise­butkan bah­wa seo­rang guru Pegawai Pemer­in­tah den­gan Per­jan­jian Ker­ja (P3K) menyam­paikan keluhan siswa terkait peruba­han fungsi Ruang OSIS yang dijadikan kan­tin seko­lah, Selasa (14/10).

Kepala seko­lah, dalam video terse­but, dik­abarkan menang­gapi den­gan menye­but sang guru “sok jago”. Ung­ga­han itu den­gan cepat menarik per­ha­t­ian pub­lik dan men­ja­di bahan perbin­can­gan hangat di kalan­gan war­ganet, khusus­nya masyarakat Jam­bi.

Dalam ung­ga­han kabar­ne­ti­zen­jam­bi, dije­laskan bah­wa peri­s­ti­wa terse­but bermu­la keti­ka seo­rang guru menyam­paikan aspi­rasi siswa yang merasa keber­atan kare­na ruang OSIS (Organ­isasi Siswa Intra Seko­lah) dial­i­h­fungsikan men­ja­di kan­tin. Guru terse­but meni­lai bah­wa ruang OSIS meru­pakan tem­pat pent­ing bagi siswa untuk beror­gan­isasi, berdiskusi, dan mengem­bangkan kegiatan ekstrakurikuler.

Namun, penyam­pa­ian aspi­rasi itu rupa­nya menim­bulkan kete­gan­gan di lingkun­gan seko­lah. Kepala seko­lah yang bersangku­tan dik­abarkan mem­berikan tang­ga­pan yang diang­gap kurang pan­tas oleh seba­gian pihak, sehing­ga situ­asi men­ja­di ramai dan sem­pat terekam kam­era.

Dalam ung­ga­han terse­but, dise­butkan bah­wa yang ter­li­bat dalam peri­s­ti­wa itu adalah seo­rang guru P3K di SMAN 4 Den­dang dan kepala seko­lah. Nama ked­u­anya tidak dise­but secara res­mi oleh akun yang men­gung­gah, namun pub­lik sudah menge­tahui bah­wa ked­u­anya adalah tena­ga pen­didik di seko­lah yang sama.

  Wina Astuti Resmi lulusan Doktor Pendidikan di Universitas Lampung

Semen­tara itu, para siswa yang men­ja­di latar belakang keluhan dise­but tidak ter­li­bat lang­sung dalam perde­batan, tetapi men­ja­di pihak yang ter­dampak atas peruba­han fungsi ruang OSIS.

Peri­s­ti­wa ini ter­ja­di di lingkun­gan SMAN 4 Den­dang, Keca­matan Den­dang, Kabu­pat­en Tan­jung Jabung Timur, Jam­bi. Ung­ga­han video terse­but muncul di media sosial sek­i­tar 6 jam sebelum tangka­pan layar diam­bil, sehing­ga diperki­rakan keja­di­an ter­ja­di pada perten­ga­han Okto­ber 2025.

Lokasi seko­lah yang bera­da di wilayah perde­saan men­jadikan peri­s­ti­wa ini cepat menarik per­ha­t­ian masyarakat sek­i­tar yang men­ge­nal baik para guru dan siswa di seko­lah terse­but.

Berdasarkan narasi dari ung­ga­han dan komen­tar war­ganet, akar per­soalan berasal dari peruba­han fungsi Ruang OSIS men­ja­di kan­tin seko­lah.
Guru P3K terse­but merasa per­lu menyam­paikan aspi­rasi siswa yang kehi­lan­gan ruang organ­isasi mere­ka. Namun, cara penyam­pa­ian­nya diang­gap kurang tepat oleh seba­gian pihak, kare­na dilakukan di depan umum dan menim­bulkan suasana tegang.

Di sisi lain, pihak kepala seko­lah diduga men­gang­gap tin­dakan sang guru seba­gai ben­tuk keti­dak­sopanan atau pelang­garan eti­ka organ­isasi seko­lah. Dari sini­lah muncul perde­batan ter­bu­ka yang akhirnya direkam dan viral di media sosial.

Komen­tar-komen­tar yang muncul di ung­ga­han kabar­ne­ti­zen­jam­bi menun­jukkan beragam pan­dan­gan masyarakat. Seba­gian besar war­ganet meny­oroti cara penyam­pa­ian kri­tik dari guru terse­but dan respons kepala seko­lah yang dini­lai tidak mencer­minkan kete­ladanan seo­rang pemimpin pen­didikan.

Beber­a­pa komen­tar meni­lai bah­wa per­masala­han inter­nal seko­lah seharus­nya diba­has melalui rap­at atau mekanisme musyawarah, bukan di depan siswa atau pub­lik.

Akun @patrice_course20 menulis. “Harus­nya bapak gurun­ya men­ga­jarkan cara berdiskusi den­gan baik. Cari per­masala­han dan temukan solusinya secara musyawarah, tidak den­gan cara seper­ti ini.”

  Berbenah dan Berdaya Saing, SMP Muhammadiyah 2 Pagelaran Tuai Apresiasi HAMMER

Semen­tara akun @trisna.aiu menam­bahkan. “Apakah di seko­lah terse­but tidak ada mekanisme diskusi atau tidak ada rap­at yang mem­ba­has per­masala­han seko­lah di tingkat inter­nal man­a­je­men dan guru?”

Banyak juga yang mengin­gatkan agar tena­ga pen­didik menun­jukkan sikap pro­fe­sion­al dalam meng­hadapi perbe­daan pen­da­p­at. Akun @normawati234 menulis. “Pak Joko penyam­pa­ian­nya jan­gan begi­tu. Bikin gaduh seko­lah. Apala­gi anak SMA yang berani dan kri­tis. Apala­gi Anda P3K, Pak.”

War­ganet lain, @deenacamalea, men­go­men­tari. “Bapak dan ibu ini guru kan ya? Bisa lo, pem­ba­hasan­nya sam­bil rap­at. Bisa kok didiskusikan baik-baik.”

Di sisi lain, ada juga komen­tar yang meny­oroti kebi­jakan kepala seko­lah:
@limjong58 menulis. “Logi­ka… ruang OSIS dijadikan kan­tin. Per­tanyaan­nya, terus ruang OSIS-nya digan­ti atau tidak?”

Semen­tara @zulialipu77 berpen­da­p­at. “Ruang OSIS dibu­at kan­tin? Hati-hati, Bu. Sta­tus PNS bisa dicabut lho.”

Para komen­ta­tor juga meny­oroti aspek eti­ka komu­nikasi di lingkun­gan pen­didikan. Mere­ka meni­lai baik guru maupun kepala seko­lah seharus­nya men­ja­di teladan dalam menye­le­saikan masalah.

Akun @gusti.m.randa_mr.g menulis. “Kebodohan sedang diper­ton­tonkan di depan gen­erasi penerus. Tolong, mas­ing-mas­ing ego ditu­runk­an, Pak, Bu. Malu.”

Semen­tara akun @bluegreen_net menam­bahkan. “Guru kok begi­tu… mana ilmu ped­a­gogiknya? Dipakai dong untuk berko­mu­nikasi dan mengko­mu­nikasikan sesu­atu. Ah, cuma modal ijazah aja ini.”

Komen­tar-komen­tar terse­but menun­jukkan adanya kepri­hati­nan pub­lik ter­hadap per­i­laku tena­ga pen­didik yang diang­gap tidak sejalan den­gan nilai-nilai pen­didikan karak­ter.

Seba­gian war­ganet juga meny­oroti sta­tus guru yang bersta­tus P3K. Komen­tar dari akun @dewiidaayu meny­ing­gung persep­si pub­lik ter­hadap seba­gian guru P3K yang dini­lai berubah sete­lah diangkat. “Mau komen banget ten­tang P3K tapi takut banyak yang kesing­gung. Mes­ki nggak semua, tapi ada loh. Sete­lah diangkat jadi P3K gayanya udah kayak eselon.”

Namun, beber­a­pa komen­tar lain men­co­ba menen­gahi dan mengin­gatkan agar pub­lik tidak menggen­er­al­isasi selu­ruh guru P3K.

  Diduga Jual Seragam Mahal di SMKN 9 Bandar Lampung, Wali Murid Protes: Harga Tembus Hampir Rp2 Juta

Mes­ki banyak kri­tik tajam, seba­gian war­ganet tetap menyerukan sikap damai dan dia­log yang kon­struk­tif. Mere­ka mengin­gatkan bah­wa perbe­daan pen­da­p­at seharus­nya tidak mem­bu­at suasana seko­lah men­ja­di tegang.

Akun @kiranalkautsar menulis. “Awal mulanya ini gimana… Kok seba­gai guru nggak bisa bicarakan dalam forum diskusi? Jan­gan sal­ing men­jatuhkan di depan murid.”

Sedan­gkan @budi_whyuti mem­beri pesan moral. “Astafir­ul­lah, Bu Guru yang baik kalau bicara nggak usah ngeren­dahin teman guru yang lain. Gimana jadinya anak-anak seko­lah kalau guru dan kepala seko­lah tidak mem­beri con­toh yang baik untuk diskusi.”

Pakar pen­didikan meni­lai kasus seper­ti ini mencer­minkan pent­ingnya pen­guatan budaya komu­nikasi yang sehat di seko­lah. Dalam lem­ba­ga pen­didikan, guru dan kepala seko­lah adalah panu­tan bagi siswa. Keti­ka kon­flik atau perbe­daan pan­dan­gan muncul, penye­le­sa­ian­nya sebaiknya dilakukan melalui forum res­mi seper­ti rap­at dewan guru, bukan di ruang pub­lik atau di depan peser­ta didik.

Selain itu, kebi­jakan pen­gelo­laan ruang di seko­lah per­lu mem­per­tim­bangkan aspi­rasi siswa dan fungsi organ­isasi kesiswaan. Ruang OSIS memi­li­ki mak­na sim­bo­lis bagi perkem­ban­gan kepemimp­inan dan karak­ter siswa. Jika harus dial­i­h­fungsikan, sebaiknya dise­di­akan alter­natif ruang yang setara agar kegiatan siswa tidak ter­gang­gu.

Peri­s­ti­wa di SMAN 4 Den­dang men­ja­di cer­mi­nan bah­wa komu­nikasi dan koor­di­nasi di lingkun­gan pen­didikan masih memer­lukan pen­guatan. Baik guru maupun kepala seko­lah dihara­p­kan bisa men­con­tohkan sikap dewasa, ter­bu­ka ter­hadap kri­tik, dan menye­le­saikan perbe­daan pen­da­p­at secara pro­fe­sion­al.

Viral­nya video ini men­ja­di pengin­gat bagi dunia pen­didikan bah­wa per­an pen­didik tidak hanya men­ga­jar di kelas, tetapi juga meneladankan nilai musyawarah, eti­ka, dan tang­gung jawab moral di hada­pan siswa.

Edi­tor: (Tim Redak­si Pen­didikan)
Sum­ber: (Akun Threads @kabarnetizenjambi dan komen­tar pub­lik).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *