Berita Pendidikan

Guru Honorer, Rumah Reyot, dan Permintaan Maaf yang Mengundang Tanda Tanya

508
×

Guru Honorer, Rumah Reyot, dan Permintaan Maaf yang Mengundang Tanda Tanya

Sebarkan artikel ini
Gambar seorang guru honorer, yang diunggah akun media sosial Treands "Johan Sulianto", dikutip Senin (08/9/2025).

Jakar­ta, SniperNew.id — Kisah pilu seo­rang guru hon­or­er kem­bali menye­dot per­ha­t­ian pub­lik di jagat maya. Sebuah ung­ga­han di plat­form Threads oleh akun berna­ma Johan Sulianto men­gungkap potret miris seo­rang ibu guru hon­or­er yang ting­gal di rumah tak layak huni. Ung­ga­han itu bukan hanya meman­tik rasa haru, tetapi juga tan­da tanya besar keti­ka sang guru jus­tru mem­inta maaf kepa­da aparat setem­pat sete­lah kon­disi rumah­nya viral, Senin (08/09).

Dalam ung­ga­han­nya, Johan menulis. “Tiba-tiba bin­gung, men­ga­pa ibu yang kon­disi rumah­nya yang benar-benar buat miris ini, malah minta maaf kepa­da Kepala Desa, Camat dan Bupati keti­ka kon­disi rumah­nya viral.

Ibu hebat. Dalam kon­disi rumah seper­ti ini pun, masih bisa mengab­di seba­gai guru hon­or di beber­a­pa seko­lah.

Mungkin den­gan 50 juta saja, kon­disi rumah­nya sudah bisa diper­bai­ki. Tidak per­lu sam­pai 50 juta per bulan.

Sedih saya menden­gar tangisan beli­au. Semoga guru-guru hon­or yang peng­hasi­lan min­im, men­da­p­at solusi.”

Ung­ga­han itu juga dis­er­tai poton­gan video dari akun @medanchat den­gan tulisan. “Guru hon­or­er yg viral di Tan­jung Morawa minta maaf soal viral nya video.”

Dalam video singkat itu, tam­pak sang guru menangis sem­bari men­ge­nakan jil­bab hijau, di depan ban­gu­nan berdind­ing bam­bu yang tam­pak rapuh. Ekspre­si wajah­nya penuh kesedi­han, menan­dakan beban yang ia rasakan.

  Sekolah Darurat di Desa Bukit Bakar: Harapan Baru untuk Pendidikan Layak di Pedalaman Jambi

Ung­ga­han Johan Sulianto men­da­p­at berba­gai tang­ga­pan dari war­ganet. Komen­tar-komen­tar itu mem­per­li­hatkan sim­pati, empati, sekali­gus kri­tik ter­hadap kon­disi pen­didikan dan kese­jahter­aan guru di Indone­sia.

Seo­rang peng­gu­na berna­ma putushin­o­da berko­men­tar. “Beli­au kena kasus apa? Kalo beli­au tidak salah, maka pihak-pihak lain terse­but memak­sa si ibu untuk men­gakui sesu­atu yang bukan kesala­han­nya. Hal ini bisa ditun­tut secara pidana/hukum, tidak peduli dia peja­bat sekalipun.”

Johan menang­gapi komen­tar terse­but den­gan menulis. “Mungkin ada yang ters­ing­gung kare­na terny­a­ta ada guru yang rumah­nya san­gat-san­gat miris.”

Peng­gu­na lain, oba31313, menam­bahkan nada satir.“Ibu minta maaf video kemarin viral jus­tru jadi tam­bah viral bu 😁😁 kare­na jus­tru saya gak tau video yang kemarin, taun­ya yang ini.”

Semen­tara itu, rezanad­haza menyam­paikan reflek­si lebih dalam. “Ini­lah alasan lain kena­pa guru di Indone­sia jarang yang menyuarakan kri­tik pada isu apapun secara ter­bu­ka.”

Gelom­bang komen­tar terus bermuncu­lan. Banyak yang mem­per­tanyakan men­ga­pa sang guru harus mem­inta maaf, pada­hal kon­disi rumah dan kehidu­pan­nya memang nya­ta dan mem­pri­hatinkan.

Peng­gu­na berna­ma ramay­col­lec­tion menulis. “Kena­pa minta maaf bu, yang mesti minta maaf itu negara dan peja­bat kare­na bertin­dak dzolim.”

Namun ada pula komen­tar berbe­da, seper­ti yang dit­ulis pak­pogam­ing. “Klo gak salah, itu ibun­ya ketahuan bohong, kare­na dia tidak ting­gal di situ.”

Komen­tar itu mengisyaratkan adanya ker­aguan men­ge­nai kebe­naran lokasi ting­gal sang guru.

Di sisi lain, ada pula yang tetap mene­gaskan empati. Akun ichaand­cats menulis singkat. “Orang-orang pada jahat ya 😢.”

Lalu akun agus­prapti­na mengin­gatkan. “Minta maaf buat sia­pa Bu, ibu tidak bersalah. Jasa ibu men­didik gen­erasi tidak terni­lai.”

  Ratu Dewa Tinjau Kondisi SDN 31 Palembang, Dorong Perbaikan Sarana Pendidikan

Komen­tar ter­akhir yang cukup meno­hok datang dari bam­bangm­ra. “Kare­na kemiski­nan (yang viral) men­gan­cam kelang­sun­gan jabatan.”

Kasus ini beraw­al dari viral­nya video seo­rang guru hon­or­er di Tan­jung Morawa, Kabu­pat­en Deli Ser­dang, Sumat­era Utara, yang rumah­nya tam­pak rey­ot dan mem­pri­hatinkan. Bukan­nya mener­i­ma ban­tu­an, sang guru jus­tru muncul di video lain sem­bari menangis dan mem­inta maaf kepa­da Kepala Desa, Camat, dan Bupati.

Ung­ga­han itu memu­nculkan kepri­hati­nan pub­lik. Banyak yang mem­per­tanyakan men­ga­pa seo­rang guru hon­or­er yang sudah ber­jasa men­didik gen­erasi bangsa harus bera­da dalam kon­disi ekono­mi sedemikian sulit, dan bahkan merasa per­lu mem­inta maaf kare­na kon­disi hidup­nya viral.

Sang guru hon­or­er, perem­puan yang tidak dise­butkan namanya secara eksplisit dalam ung­ga­han, men­ja­di pusat per­ha­t­ian. Johan Sulianto, peng­gu­na Threads yang men­gangkat kasus ini ke ruang pub­lik. Masyarakat war­ganet, yang menang­gapi ung­ga­han den­gan beragam per­spek­tif.

Peja­bat lokal seper­ti Kepala Desa, Camat, dan Bupati, yang dise­but dalam per­mintaan maaf sang guru.

Ung­ga­han Johan Sulianto dibu­at 12 jam sebelum tangka­pan layar pada Threads, sehing­ga keja­di­an ini masih san­gat aktu­al. Lokasinya dise­butkan di Tan­jung Morawa, Kabu­pat­en Deli Ser­dang, Sumat­era Utara.

Ada beber­a­pa kemu­ngk­i­nan yang dis­im­pulkan dari per­caka­pan war­ganet:

1. Rasa takut: Sang guru mungkin merasa viral­nya video rumah rey­ot­nya bisa diang­gap mem­permalukan pemer­in­tah daer­ah.

2. Tekanan sosial atau poli­tik: War­ganet men­duga ada pihak yang mem­bu­at sang guru merasa harus mem­inta maaf, mes­ki bukan kesala­han­nya.

3. Kon­disi struk­tur­al: Guru hon­or­er sela­ma ini dike­nal berpeng­hasi­lan san­gat min­im, mem­bu­at mere­ka rentan secara ekono­mi dan sosial.

  MPLS SDN 13 Tanah Abang: Sambut Ceria, Langkah Awal Penuh Makna!

Respons masyarakat terba­gi dalam beber­a­pa pola: Empati dan dukun­gan: Banyak yang men­guatkan sang guru, mene­gaskan bah­wa ia tidak salah dan jus­tru negara ser­ta peja­bat yang harus bertang­gung jawab.

Kri­tik sosial-poli­tik: Ada yang menye­but fenom­e­na ini seba­gai buk­ti bah­wa guru di Indone­sia sulit bersuara kare­na takut ters­ing­gungnya pihak berwe­nang.

Skep­ti­sisme: Seba­gian mer­agukan keaslian kon­disi, seper­ti komen­tar yang menye­but sang guru tidak benar-benar ting­gal di rumah yang viral itu.

Satir: Ada yang meny­oroti bah­wa per­mintaan maaf jus­tru mem­bu­at kasus ini semakin viral.

Kasus ini kem­bali meny­ingkap real­i­tas getir para guru hon­or­er di Indone­sia. Den­gan peng­hasi­lan yang min­im, mere­ka ker­ap harus men­jalani hidup dalam keter­batasan, mes­ki tetap mengab­di men­didik anak bangsa.

Ung­ga­han Johan Sulianto meny­ing­gung soal biaya ren­o­vasi rumah: den­gan Rp50 juta, kon­disi rumah sang guru bisa diper­bai­ki, tidak per­lu gaji fan­tastis Rp50 juta per bulan. Perny­ataan ini mene­gaskan beta­pa kecil­nya kebu­tuhan seo­rang guru hon­or­er untuk hidup layak diband­ing besarnya jasa yang mere­ka berikan.

Kisah guru hon­or­er di Tan­jung Morawa bukan sekadar ceri­ta per­son­al. Ia adalah cer­min dari masalah struk­tur­al pen­didikan Indone­sia: kese­jahter­aan guru hon­or­er yang masih jauh dari layak, ser­ta kul­tur birokrasi yang mem­bu­at raky­at kecil merasa harus mem­inta maaf mes­ki men­ja­di kor­ban.

Air mata sang guru, komen­tar sim­pati war­ganet, hing­ga kri­tik keras kepa­da peja­bat pub­lik, semuanya mem­ben­tuk mosaik yang meng­gu­gah per­tanyaan lebih besar: sam­pai kapan guru hon­or­er harus hidup dalam kesusa­han, dan men­ga­pa keberan­ian untuk sekadar men­gungkap­kan kon­disi hidup bisa beru­jung pada per­mintaan maaf. (Dar/Ahm)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *