Berita Peristiwa

Viral Dugaan Pungli di Wisata Air Terjun Dua Warna, Wisatawan Resah

333
×

Viral Dugaan Pungli di Wisata Air Terjun Dua Warna, Wisatawan Resah

Sebarkan artikel ini
Gambar screenshot video terlihat seorang laki-laki masih membentangkan tagan,seperti memberikan isyarat terserah, Sabtu (16/08/2025).

Sumat­era Utara, SniperNew.id – Sebuah ung­ga­han di media sosial ramai diperbin­cangkan sete­lah muncul dugaan prak­tik pung­utan liar (pungli) yang diala­mi rom­bon­gan wisa­tawan saat berkun­jung ke objek wisa­ta Air Ter­jun Dua War­na, kawasan Sibolan­git, Kabu­pat­en Deli Ser­dang, Sumat­era Utara.

Dalam ung­ga­han yang dipost­ing akun media sosial Threads “Andi Wibowo Jour­ney” dan diung­gah ulang oleh akun “Folk Kono­ha”, ter­li­hat sekelom­pok wisa­tawan berjum­lah tujuh orang dihen­tikan seo­rang pria di ten­gah per­jalanan menu­ju lokasi wisa­ta. Mere­ka dim­inta mem­ba­yar Rp30.000 per orang. Keja­di­an itu menim­bulkan kere­sa­han sekali­gus keca­man war­ganet, kare­na diang­gap merusak cit­ra pari­wisa­ta daer­ah.

Rom­bon­gan wisa­tawan awal­nya berni­at melakukan per­jalanan san­tai atau sekadar “heal­ing” ke kawasan Air Ter­jun Dua War­na yang dike­nal seba­gai salah satu des­ti­nasi alam ung­gu­lan di Deli Ser­dang. Namun, di ten­gah per­jalanan menu­ju lokasi, mere­ka diduga dipalak oleh seo­rang pria yang mem­inta uang den­gan alasan tidak jelas.

  Driver Ojol Demo, Jaket Dipakai Salah? Warganet Meradang

Dalam video! yang beredar, pria terse­but tam­pak berbicara den­gan rom­bon­gan wisa­tawan, semen­tara beber­a­pa anggota rom­bon­gan ter­li­hat kebin­gun­gan. Wisa­tawan kemu­di­an menyam­paikan pen­gala­man mere­ka ke media sosial, dan ung­ga­han itu den­gan cepat menye­bar luas.

Ung­ga­han terse­but men­u­ai beragam komen­tar war­ganet. Beber­a­pa meni­lai prak­tik seper­ti ini bukan hal baru di sejum­lah des­ti­nasi wisa­ta alam, teruta­ma di Sumat­era Utara.

Seo­rang peng­gu­na menuliskan komen­tar, “Itu kan mere­ka ber‑7, pre­man cuma satu, kena­pa takut? Tapi ya kalau ada yang hilang di hutan, sia­pa yang mau nyari? Jadi pela­jaran juga kalau ke hutan harus siap-siap.”

Ada pula komen­tar dari peng­gu­na lain yang meny­oroti dampak buruk prak­tik pungli ter­hadap pari­wisa­ta daer­ah. “Lama kela­maan Brasta­gi dan sek­i­tarnya hanya jadi per­lin­tasan wisa­tawan saja. Wisa­tawan akan lebih memil­ih ke Danau Toba, Samosir, atau Aceh. Kalau pungli seper­ti ini dib­iarkan, war­ga lokal hanya jadi penon­ton,” tulis akun berna­ma dr.m.giri.a.

Gam­bar screen­shot video sosok seo­rang laki-laki dari salah satu anggota rom­bon­gan wisa­tawan ter­li­hat bin­gung, Sab­tu (16/08/2025).

War­ganet lain­nya menye­butkan bah­wa prak­tik seru­pa sudah lama ter­ja­di. “Udah dari dulu ada pungli, bahkan sejak tahun 2012 wak­tu saya kuli­ah. Di salah satu tem­pat wisa­ta di Bin­jai juga begi­tu, sep­a­n­jang jalan bisa tiga orang lebih yang narik,” tulis seo­rang peng­gu­na.

  Insiden U-Bahn Hamburg Jadi Sorotan, Medsos Jerman Ramai Bahas Kasus Pengungsi

Komen­tar-komen­tar seru­pa juga banyak bermuncu­lan. Seba­gian besar men­geluhkan bah­wa ham­pir semua wisa­ta alam di Indone­sia tidak luput dari pung­utan liar, mulai dari wilayah Deli Ser­dang, Bin­jai, hing­ga Bogor.

Kasus dugaan pungli di Air Ter­jun Dua War­na ini memu­nculkan kem­bali diskusi serius men­ge­nai masalah kea­manan dan kenya­manan wisa­tawan. Banyak pihak meni­lai jika masalah ini tidak ditan­gani, cit­ra pari­wisa­ta Sumat­era Utara bisa merosot dan berdampak pada menu­run­nya minat wisa­tawan untuk berkun­jung.

Wisa­tawan ten­tu menginginkan pen­gala­man yang menye­nangkan, bukan seba­liknya merasa ter­in­tim­i­dasi oleh oknum yang tidak bertang­gung jawab. Apala­gi Air Ter­jun Dua War­na dike­nal seba­gai des­ti­nasi yang indah den­gan daya tarik war­na air yang unik—perpaduan biru dan putih yang jarang dite­mukan di lokasi lain.

Kon­disi ini dini­lai bisa meng­ham­bat poten­si wisa­ta yang sebe­narnya besar. Jika prak­tik pungli terus berlang­sung, wisa­tawan mungkin akan memil­ih tujuan lain yang lebih aman dan nya­man.

Mes­ki belum ada keteran­gan res­mi dari pihak terkait men­ge­nai insi­d­en ini, sejum­lah war­ganet mende­sak agar aparat kea­manan dan pemer­in­tah daer­ah turun tan­gan. Pen­ert­iban diang­gap per­lu dilakukan agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang.

  Bukan Horor, Ini Ciamis: Makam Keramat dengan Jejak Sejarah Panjang

Sejum­lah komen­tar juga men­yarankan agar wisa­tawan lebih berhati-hati dan tidak bersikap naif saat men­je­la­jahi alam. “Jadi explor­er jan­gan naif, tidak semua tem­pat wisa­ta itu friend­ly,” tulis seo­rang peng­gu­na den­gan nada mengin­gatkan.

Selain itu, beber­a­pa peng­gu­na men­gaitkan prak­tik pungli den­gan tingginya angka pen­gang­gu­ran. “Ini efek ter­lalu banyak pen­gang­gu­ran atau fak­tor lain ya? Ham­pir semua tem­pat wisa­ta ada punglinya. Bagaimana pari­wisa­ta bisa maju kalau banyak tukang palak,” tulis akun rezare­goz.

Untuk menye­le­saikan per­soalan ini, dibu­tuhkan kolab­o­rasi antara masyarakat, pelaku wisa­ta, pen­gelo­la objek wisa­ta, dan pemer­in­tah. Pemer­in­tah daer­ah bersama aparat kea­manan per­lu mem­per­ke­tat pen­gawasan di kawasan wisa­ta.

Di sisi lain, masyarakat lokal juga didorong untuk lebih aktif men­ja­ga kea­manan dan kenya­manan wisa­tawan. Sebab, jika pari­wisa­ta maju, masyarakat sek­i­tar juga akan men­da­p­atkan man­faat ekono­mi. Prak­tik pungli jus­tru merugikan semua pihak, ter­ma­suk war­ga lokal sendiri.

Kasus dugaan pungli di Air Ter­jun Dua War­na men­ja­di pengin­gat bah­wa pari­wisa­ta tidak hanya soal kein­da­han alam, tetapi juga soal kea­manan, kenya­manan, dan rasa aman wisa­tawan.

Jika per­soalan ini segera ditan­gani den­gan serius, bukan tidak mungkin keper­cayaan wisa­tawan akan kem­bali pulih. Namun, jika dib­iarkan berlarut-larut, poten­si besar pari­wisa­ta di Sumat­era Utara bisa tergerus oleh cit­ra buruk yang sebe­narnya bisa dice­gah.

Edi­tor: (redak­si).


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *