Jakarta, SniperNew.id — Di tengah hiruk-pikuk dunia bisnis dan persaingan ekonomi digital yang semakin ketat, seorang pedagang rujak tampil mencuri perhatian publik dengan gaya yang tak biasa. Mengenakan kemeja hitam rapi, lengkap dengan dasi merah formal, pria ini justru sibuk mengupas dan memarut buah di atas gerobak dagangannya. Bukan di pusat perkantoran atau di event korporat, tapi di sebuah lapak sederhana pinggir jalan dengan suasana alami dan pot-pot tanaman di belakangnya, Rabu 16 Juli 2025.
Penampilannya yang nyentrik seolah menyulap kesan jualan rujak menjadi layaknya layanan katering kelas eksekutif. Dalam video yang beredar luas dan diunggah akun SniperNew.id, pria berdasi ini tampak terampil menggunakan parutan besi besar, memarut buah segar—kemungkinan bengkuang atau mentimun—dengan gerakan cepat dan profesional. Ia juga mengenakan sarung tangan plastik, menunjukkan kesadaran tinggi terhadap higienitas dan standar pelayanan.
Netizen langsung membanjiri kolom komentar dengan pujian dan kekaguman. “Ini baru namanya rujak premium,” tulis akun @makanterus. Sementara itu, pengguna lain berkomentar, “Berdasi demi rejeki halal, salut bang!” Bahkan, tidak sedikit yang menyebutnya sebagai “CEO of Rujak” karena gayanya yang lebih mirip eksekutif muda ketimbang pedagang kaki lima.
Fenomena ini menjadi menarik dalam konteks ekonomi kreatif. Di era di mana branding menjadi segalanya, penampilan pedagang ini memberi pelajaran penting: diferensiasi adalah kunci. Meski menjual produk sederhana seperti rujak, ia berhasil menciptakan nilai tambah dengan gaya berjualan yang unik dan penuh karakter. Ini bukan hanya soal makanan, tapi pengalaman visual dan emosional bagi pembeli.
Menurut pengamat ekonomi UMKM, Dr. Rani Sutrisno, gaya berdagang seperti ini bisa meningkatkan daya tarik konsumen dan memperluas jangkauan pasar. “Konsumen sekarang tidak hanya membeli rasa, tapi juga cerita. Ketika gaya berdagang jadi bahan viral, itu adalah bentuk pemasaran gratis yang luar biasa,” jelasnya.
Pedagang rujak berdasi ini secara tidak langsung telah menerapkan strategi pemasaran modern: storytelling, visual branding, dan konsistensi dalam pelayanan. Ia bukan sekadar menjual rujak, tapi menjual semangat kerja keras dengan gaya yang tak biasa. Dari balik dasinya, terselip pesan bahwa pekerjaan apapun bisa terlihat terhormat dan elegan, asal dilakukan dengan sepenuh hati dan keunikan.
Fenomena ini juga menandakan bahwa pelaku usaha mikro tidak harus mengikuti pola lama. Dengan kreativitas, UMKM bisa bersaing bahkan di tengah dominasi restoran besar dan platform online. Inovasi kecil seperti berpakaian formal saat berjualan ternyata mampu menjadi viral magnet yang memikat simpati publik sekaligus meningkatkan penjualan.
Kini, banyak yang berharap sang pedagang bisa mengembangkan usahanya lebih luas, bahkan membuka franchise Rujak Berdasi yang membawa semangat baru dalam dunia kuliner jalanan.
Jika tren seperti ini terus berkembang, bukan tidak mungkin ke depan kita akan menyaksikan lebih banyak “wirausaha berdasi” di berbagai lini UMKM — mulai dari tukang bakso hingga pedagang es kelapa, yang tampil elegan namun tetap membumi.
Rujak boleh sederhana. Tapi caranya menjual? Kelas eksekutif.



















