Gelombang Kembali, Pedagang Kecil Berharap Demo Damai Besok!
Sebarkan artikel ini
Potret seorang laki-laki Budianto, penjual bakso keliling yang sehari-hari mangkal di sekitaran jalan protokol, Doc. SniperNew.id/Sufiyawan, Minggu (31/08/2025) pagi.
Lampung, SniperNew.id - Gelombang aksi massa kembali akan menghampiri Gedung DPRD Provinsi Lampung pada Senin, 1 September 2025. Berbagai elemen mahasiswa, buruh, dan organisasi masyarakat diperkirakan turun ke jalan menyuarakan keresahan mereka terkait kebijakan pemerintah daerah, termasuk sorotan terhadap kenaikan tunjangan dewan yang dianggap fantastis, Minggu (31/08/2025).
Namun, di balik hiruk-pikuk persiapan aksi dan sorotan media, ada suara lain yang tak kalah penting: suara pedagang kecil. Mereka yang sehari-hari menggantungkan hidup dari hasil jualan di pinggir jalan dan pasar tradisional, berharap agar demonstrasi ini tetap berlangsung damai. Sebab, sedikit saja kericuhan pecah, dampaknya langsung menghantam piring nasi mereka.
Pedagang kecil di Bandarlampung — mulai dari penjual bakso keliling hingga pemilik warung makan sederhana — menjadi pihak yang paling khawatir. Dua di antaranya adalah Budianto, penjual bakso keliling yang sehari-hari mangkal di sekitaran jalan protokol, dan Sugiyanti, pemilik Warung Soto Bu Yanti yang berada tepat di depan Kantor Kejaksaan Tinggi Lampung.
Keduanya sepakat bahwa aksi demonstrasi adalah hak rakyat untuk menyampaikan aspirasi. Namun, mereka mengingatkan agar jalannya aksi tidak menimbulkan kerusuhan yang justru merugikan rakyat kecil.
Besok, ribuan massa akan memenuhi ruas jalan menuju Gedung DPRD Provinsi Lampung. Isu yang diangkat bukan hanya soal tunjangan dewan, tetapi juga sejumlah kebijakan ekonomi daerah yang dinilai tidak berpihak pada rakyat.
Gambar/Potret seorang emak-emak pedagan Sugiyanti, pemilik Warung Soto Bu Yanti yang berada tidak jauh dari titik aksi, Doc. SniperNew.id/Sufiyawan, Minggu (31/08/2025).
Bagi pedagang, inti persoalannya sederhana: mereka membutuhkan kepastian suasana kondusif untuk tetap bisa berjualan. Kericuhan atau blokade jalan justru memutus akses pembeli, mengurangi omset, bahkan menghentikan perputaran ekonomi rakyat kecil untuk sementara waktu.
“Demo boleh saja, itu hak rakyat. Tapi harapan kami, jangan sampai rusuh. Kalau sampai anarkis, yang rugi tetap kami juga. Pembeli takut datang ke pasar, dagangan tidak laku,” kata Budianto, dengan wajah serius saat ditemui wartawan, Minggu (31/8/2025).
Pantauan lapangan pada Minggu pagi memperlihatkan aktivitas pasar di Bandarlampung masih normal. Suara pedagang bersahut-sahutan menawarkan barang dagangan, aroma bumbu dapur menyeruak di antara lalu lalang kendaraan, dan roda ekonomi tampak berputar seperti biasa.
Namun, lokasi sekitar Gedung DPRD Provinsi Lampung sudah menjadi pembicaraan hangat. Para pedagang yang berjualan di radius area aksi merasa was-was karena bisa saja akses jalan ditutup atau terjadi kericuhan.
Sugiyanti, pemilik Warung Soto Bu Yanti yang berada tidak jauh dari titik aksi, mengaku tetap akan membuka warungnya meski situasi bisa berubah tidak menentu.
“Besok meskipun ada demo, saya tetap berjualan. Rezeki harus dicari, tidak bisa menunggu. Semoga tidak ada keributan,” ujarnya.
Aksi besar-besaran dijadwalkan berlangsung pada Senin, 1 September 2025, dimulai sejak pagi hingga siang hari. Sehari sebelumnya, Minggu (31/8/2025), suasana kota masih terpantau normal, meski perbincangan soal demo sudah ramai di kalangan pedagang maupun masyarakat.
Bagi pedagang kecil, setiap hari adalah pertaruhan ekonomi. Tidak ada gaji bulanan yang menjamin dapur tetap mengepul. Sehari tidak berjualan berarti sehari tanpa penghasilan.
Mereka khawatir aksi yang berujung anarkis akan menciptakan ketakutan masyarakat untuk keluar rumah. Pembeli enggan datang, distribusi barang terganggu, hingga pasar menjadi sepi.
“Kalau ribut ya semua nanti kena dampak. Saya berdoa semoga demonya tetap damai. Karena bagi kami, satu hari tanpa jual beli berarti satu hari tanpa penghasilan,” tegas Sugiyanti.
Selain itu, pedagang kecil menilai pemerintah seharusnya lebih peka terhadap kondisi ekonomi rakyat. Kenaikan tunjangan dewan yang fantastis terasa jomplang dengan kenyataan sehari-hari pedagang yang harus berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebutuhan pokok.
Jika aksi berjalan damai, aspirasi rakyat tetap tersampaikan, sementara pedagang kecil masih bisa bernapas lega. Namun, jika terjadi kerusuhan, skenario terburuk bisa menimpa mereka.
Kerusuhan dapat menyebabkan:
1. Turunnya jumlah pembeli — Masyarakat memilih tinggal di rumah karena takut.
2. Gangguan distribusi barang – Jalan ditutup, truk logistik terhambat, harga barang bisa melonjak.
3. Kerusakan fasilitas – Jika kios atau warung menjadi sasaran kerusuhan, pedagang kehilangan modal.
4. Efek psikologis – Rasa takut berjualan di tengah suasana mencekam membuat pedagang trauma.
Pedagang kecil sebenarnya berada di simpang jalan: mereka mengerti keresahan yang mendorong aksi, tapi juga khawatir jadi korban situasi.
Kisah Budianto dan Sugiyanti hanyalah potret kecil dari ribuan pedagang di Bandarlampung. Bagi mereka, ekonomi bukanlah angka-angka besar dalam laporan APBD, melainkan nasi yang bisa mereka masak hari ini untuk keluarga.
Budianto yang biasa mendorong gerobak baksonya mengaku, dalam sehari ia bisa menjual hingga 70 mangkok bakso. Jika hari ini pasar sepi karena demo, maka ia kehilangan potensi penghasilan hingga Rp500 ribu.
“Buat kami, kehilangan satu hari saja terasa berat. Apalagi kalau sampai dua atau tiga hari. Modal jalan, tapi penghasilan tidak ada,” ungkapnya.
Sugiyanti pun menyampaikan hal serupa. Dengan warung soto sederhana yang setiap hari dikunjungi pelanggan setia, ia menggantungkan hidup untuk membiayai sekolah anak-anaknya. Jika kondisi kota tidak kondusif, pelanggan pasti mengurungkan niat makan di warungnya.
Pemerintah daerah kini menghadapi tantangan ganda. Di satu sisi, mereka harus mendengarkan aspirasi masyarakat dan mahasiswa. Di sisi lain, mereka juga harus memastikan agar iklim ekonomi tetap kondusif, terutama bagi pedagang kecil yang menjadi tulang punggung ekonomi rakyat.
Pengamat ekonomi lokal menilai, suara pedagang kecil seharusnya menjadi perhatian serius. “Kalau pedagang kecil terganggu, maka denyut ekonomi rakyat juga terganggu. Mereka inilah yang sebenarnya menjaga stabilitas konsumsi sehari-hari di masyarakat,” ujar seorang akademisi Universitas Lampung.
Menjelang aksi besar di Bandarlampung, doa dan harapan pedagang kecil seragam: agar demo tetap damai, pemerintah mau mendengar, dan roda ekonomi rakyat tidak terhenti.
“Semoga semua berjalan lancar. Tuntutan rakyat bisa disampaikan, pemerintah mendengar, tapi jangan sampai ada keributan. Karena yang paling merasakan dampaknya itu kami, pedagang kecil,” tutup Budianto.
Sugiyanti menambahkan dengan suara lirih, “Kami tidak menolak demo, tapi jangan sampai kami yang jadi korban. Karena bagi kami, setiap hari sangat berharga.”
Kisah pedagang kecil di tengah gelombang aksi ini adalah cermin dari realitas ekonomi rakyat. Di saat wacana politik dan kebijakan publik sering kali membahas angka besar, rakyat kecil justru bertarung untuk memastikan asap dapur tetap mengepul.
Demonstrasi adalah wujud demokrasi. Namun, menjaga agar aksi tetap damai adalah wujud kepedulian pada sesama, terutama pada mereka yang menggantungkan hidup dari hasil jualan harian.
Karena pada akhirnya, suara rakyat bukan hanya terdengar dari jalanan, tetapi juga dari lorong-lorong pasar dan pinggir jalan tempat pedagang kecil berdiri tegak menjaga ekonomi keluarga.
Contains information related to marketing campaigns of the user. These are shared with Google AdWords / Google Ads when the Google Ads and Google Analytics accounts are linked together.
90 days
__utma
ID used to identify users and sessions
2 years after last activity
__utmt
Used to monitor number of Google Analytics server requests
10 minutes
__utmb
Used to distinguish new sessions and visits. This cookie is set when the GA.js javascript library is loaded and there is no existing __utmb cookie. The cookie is updated every time data is sent to the Google Analytics server.
30 minutes after last activity
__utmc
Used only with old Urchin versions of Google Analytics and not with GA.js. Was used to distinguish between new sessions and visits at the end of a session.
End of session (browser)
__utmz
Contains information about the traffic source or campaign that directed user to the website. The cookie is set when the GA.js javascript is loaded and updated when data is sent to the Google Anaytics server
6 months after last activity
__utmv
Contains custom information set by the web developer via the _setCustomVar method in Google Analytics. This cookie is updated every time new data is sent to the Google Analytics server.
2 years after last activity
__utmx
Used to determine whether a user is included in an A / B or Multivariate test.
18 months
_ga
ID used to identify users
2 years
_gali
Used by Google Analytics to determine which links on a page are being clicked
30 seconds
_ga_
ID used to identify users
2 years
_gid
ID used to identify users for 24 hours after last activity
24 hours
_gat
Used to monitor number of Google Analytics server requests when using Google Tag Manager
1 minute
Marketing cookies are used to follow visitors to websites. The intention is to show ads that are relevant and engaging to the individual user.
Facebook Pixel is a web analytics service that tracks and reports website traffic.