Berita Daerah

Gelombang Kembali, Pedagang Kecil Berharap Demo Damai Besok!

386
×

Gelombang Kembali, Pedagang Kecil Berharap Demo Damai Besok!

Sebarkan artikel ini
Potret seorang laki-laki Budianto, penjual bakso keliling yang sehari-hari mangkal di sekitaran jalan protokol, Doc. SniperNew.id/Sufiyawan, Minggu (31/08/2025) pagi.

Lam­pung, SniperNew.id - Gelom­bang aksi mas­sa kem­bali akan meng­ham­piri Gedung DPRD Provin­si Lam­pung pada Senin, 1 Sep­tem­ber 2025. Berba­gai ele­men maha­siswa, buruh, dan organ­isasi masyarakat diperki­rakan turun ke jalan menyuarakan kere­sa­han mere­ka terkait kebi­jakan pemer­in­tah daer­ah, ter­ma­suk sorotan ter­hadap kenaikan tun­jan­gan dewan yang diang­gap fan­tastis, Ming­gu (31/08/2025).

Namun, di balik hiruk-pikuk per­si­a­pan aksi dan sorotan media, ada suara lain yang tak kalah pent­ing: suara peda­gang kecil. Mere­ka yang sehari-hari meng­gan­tungkan hidup dari hasil jualan di ping­gir jalan dan pasar tra­di­sion­al, berharap agar demon­strasi ini tetap berlang­sung damai. Sebab, sedik­it saja ker­icuhan pec­ah, dampaknya lang­sung meng­han­tam pir­ing nasi mere­ka.

Peda­gang kecil di Ban­dar­lam­pung — mulai dari pen­jual bak­so kelil­ing hing­ga pemi­lik warung makan seder­hana — men­ja­di pihak yang pal­ing khawatir. Dua di antaranya adalah Budianto, pen­jual bak­so kelil­ing yang sehari-hari mangkal di sek­i­taran jalan pro­tokol, dan Sugiyan­ti, pemi­lik Warung Soto Bu Yan­ti yang bera­da tepat di depan Kan­tor Kejak­saan Ting­gi Lam­pung.

Ked­u­anya sep­a­kat bah­wa aksi demon­strasi adalah hak raky­at untuk menyam­paikan aspi­rasi. Namun, mere­ka mengin­gatkan agar jalan­nya aksi tidak menim­bulkan kerusuhan yang jus­tru merugikan raky­at kecil.

Besok, ribuan mas­sa akan memenuhi ruas jalan menu­ju Gedung DPRD Provin­si Lam­pung. Isu yang diangkat bukan hanya soal tun­jan­gan dewan, tetapi juga sejum­lah kebi­jakan ekono­mi daer­ah yang dini­lai tidak berpi­hak pada raky­at.

Gambar/Potret seo­rang emak-emak peda­gan Sugiyan­ti, pemi­lik Warung Soto Bu Yan­ti yang bera­da tidak jauh dari titik aksi, Doc. SniperNew.id/Sufiyawan, Ming­gu (31/08/2025).

Bagi peda­gang, inti per­soalan­nya seder­hana: mere­ka mem­bu­tuhkan kepas­t­ian suasana kon­dusif untuk tetap bisa berjualan. Ker­icuhan atau blokade jalan jus­tru memu­tus akses pem­be­li, men­gu­ran­gi omset, bahkan menghen­tikan per­putaran ekono­mi raky­at kecil untuk semen­tara wak­tu.

“Demo boleh saja, itu hak raky­at. Tapi hara­pan kami, jan­gan sam­pai rusuh. Kalau sam­pai anarkis, yang rugi tetap kami juga. Pem­be­li takut datang ke pasar, dagan­gan tidak laku,” kata Budianto, den­gan wajah serius saat dite­mui wartawan, Ming­gu (31/8/2025).

  Ladang G*nja 20x20 Meter Ditemukan di Hutan Sibuatan, TNI-Polri Lakukan Penyisiran Lanjutan

Pan­tauan lapan­gan pada Ming­gu pagi mem­per­li­hatkan aktiv­i­tas pasar di Ban­dar­lam­pung masih nor­mal. Suara peda­gang bersahut-sahutan menawarkan barang dagan­gan, aro­ma bum­bu dapur menyeru­ak di antara lalu lalang kendaraan, dan roda ekono­mi tam­pak berputar seper­ti biasa.

Namun, lokasi sek­i­tar Gedung DPRD Provin­si Lam­pung sudah men­ja­di pem­bicaraan hangat. Para peda­gang yang berjualan di radius area aksi merasa was-was kare­na bisa saja akses jalan ditut­up atau ter­ja­di ker­icuhan.

Sugiyan­ti, pemi­lik Warung Soto Bu Yan­ti yang bera­da tidak jauh dari titik aksi, men­gaku tetap akan mem­bu­ka warungnya mes­ki situ­asi bisa berubah tidak menen­tu.

Besok meskipun ada demo, saya tetap berjualan. Reze­ki harus dicari, tidak bisa menung­gu. Semoga tidak ada keribu­tan,” ujarnya.

Aksi besar-besaran dijad­walkan berlang­sung pada Senin, 1 Sep­tem­ber 2025, dim­u­lai sejak pagi hing­ga siang hari. Sehari sebelum­nya, Ming­gu (31/8/2025), suasana kota masih ter­pan­tau nor­mal, mes­ki perbin­can­gan soal demo sudah ramai di kalan­gan peda­gang maupun masyarakat.

Bagi peda­gang kecil, seti­ap hari adalah per­taruhan ekono­mi. Tidak ada gaji bulanan yang men­jamin dapur tetap mengepul. Sehari tidak berjualan berar­ti sehari tan­pa peng­hasi­lan.

Mere­ka khawatir aksi yang beru­jung anarkis akan men­cip­takan ketaku­tan masyarakat untuk kelu­ar rumah. Pem­be­li eng­gan datang, dis­tribusi barang ter­gang­gu, hing­ga pasar men­ja­di sepi.

Kalau ribut ya semua nan­ti kena dampak. Saya berdoa semoga demonya tetap damai. Kare­na bagi kami, satu hari tan­pa jual beli berar­ti satu hari tan­pa peng­hasi­lan,” tegas Sugiyan­ti.

Selain itu, peda­gang kecil meni­lai pemer­in­tah seharus­nya lebih peka ter­hadap kon­disi ekono­mi raky­at. Kenaikan tun­jan­gan dewan yang fan­tastis terasa jom­plang den­gan keny­ataan sehari-hari peda­gang yang harus berjuang keras untuk sekadar memenuhi kebu­tuhan pokok.

  Ganjar Pranowo dan Slank Meriahkan Hari Pahlawan di Kota Surabaya

Jika aksi ber­jalan damai, aspi­rasi raky­at tetap ter­sam­paikan, semen­tara peda­gang kecil masih bisa berna­pas lega. Namun, jika ter­ja­di kerusuhan, ske­nario ter­bu­ruk bisa menim­pa mere­ka.

 

Kerusuhan dap­at menye­babkan:

1. Turun­nya jum­lah pem­be­li — Masyarakat memil­ih ting­gal di rumah kare­na takut.

2. Gang­guan dis­tribusi barang – Jalan ditut­up, truk logis­tik ter­ham­bat, har­ga barang bisa mel­on­jak.

3. Kerusakan fasil­i­tas – Jika kios atau warung men­ja­di sasaran kerusuhan, peda­gang kehi­lan­gan modal.

4. Efek psikol­o­gis – Rasa takut berjualan di ten­gah suasana mencekam mem­bu­at peda­gang trau­ma.

 

Peda­gang kecil sebe­narnya bera­da di sim­pang jalan: mere­ka menger­ti kere­sa­han yang men­dorong aksi, tapi juga khawatir jadi kor­ban situ­asi.

Kisah Budianto dan Sugiyan­ti hanyalah potret kecil dari ribuan peda­gang di Ban­dar­lam­pung. Bagi mere­ka, ekono­mi bukan­lah angka-angka besar dalam lapo­ran APBD, melainkan nasi yang bisa mere­ka masak hari ini untuk kelu­ar­ga.

Budianto yang biasa men­dorong ger­obak bak­sonya men­gaku, dalam sehari ia bisa men­jual hing­ga 70 mangkok bak­so. Jika hari ini pasar sepi kare­na demo, maka ia kehi­lan­gan poten­si peng­hasi­lan hing­ga Rp500 ribu.

“Buat kami, kehi­lan­gan satu hari saja terasa berat. Apala­gi kalau sam­pai dua atau tiga hari. Modal jalan, tapi peng­hasi­lan tidak ada,” ungkap­nya.

  Gubernur Kunjungi Anjungan Kabupaten Pringsewu 

Sugiyan­ti pun menyam­paikan hal seru­pa. Den­gan warung soto seder­hana yang seti­ap hari dikun­jun­gi pelang­gan setia, ia meng­gan­tungkan hidup untuk mem­bi­ayai seko­lah anak-anaknya. Jika kon­disi kota tidak kon­dusif, pelang­gan pasti men­gu­rungkan niat makan di warungnya.

Pemer­in­tah daer­ah kini meng­hadapi tan­ta­n­gan gan­da. Di satu sisi, mere­ka harus menden­garkan aspi­rasi masyarakat dan maha­siswa. Di sisi lain, mere­ka juga harus memas­tikan agar iklim ekono­mi tetap kon­dusif, teruta­ma bagi peda­gang kecil yang men­ja­di tulang pung­gung ekono­mi raky­at.

Penga­mat ekono­mi lokal meni­lai, suara peda­gang kecil seharus­nya men­ja­di per­ha­t­ian serius. “Kalau peda­gang kecil ter­gang­gu, maka denyut ekono­mi raky­at juga ter­gang­gu. Mere­ka ini­lah yang sebe­narnya men­ja­ga sta­bil­i­tas kon­sum­si sehari-hari di masyarakat,” ujar seo­rang akademisi Uni­ver­si­tas Lam­pung.

Men­je­lang aksi besar di Ban­dar­lam­pung, doa dan hara­pan peda­gang kecil ser­agam: agar demo tetap damai, pemer­in­tah mau menden­gar, dan roda ekono­mi raky­at tidak ter­hen­ti.

“Semoga semua ber­jalan lan­car. Tun­tu­tan raky­at bisa dis­am­paikan, pemer­in­tah menden­gar, tapi jan­gan sam­pai ada keribu­tan. Kare­na yang pal­ing merasakan dampaknya itu kami, peda­gang kecil,” tut­up Budianto.

Sugiyan­ti menam­bahkan den­gan suara lir­ih, “Kami tidak meno­lak demo, tapi jan­gan sam­pai kami yang jadi kor­ban. Kare­na bagi kami, seti­ap hari san­gat berhar­ga.”

Kisah peda­gang kecil di ten­gah gelom­bang aksi ini adalah cer­min dari real­i­tas ekono­mi raky­at. Di saat wacana poli­tik dan kebi­jakan pub­lik ser­ing kali mem­ba­has angka besar, raky­at kecil jus­tru bertarung untuk memas­tikan asap dapur tetap mengepul.

Demon­strasi adalah wujud demokrasi. Namun, men­ja­ga agar aksi tetap damai adalah wujud kepedu­lian pada sesama, teruta­ma pada mere­ka yang meng­gan­tungkan hidup dari hasil jualan har­i­an.

Kare­na pada akhirnya, suara raky­at bukan hanya ter­den­gar dari jalanan, tetapi juga dari lorong-lorong pasar dan ping­gir jalan tem­pat peda­gang kecil berdiri tegak men­ja­ga ekono­mi kelu­ar­ga.

Penulis: (Sufiyawan) / Edi­tor: (Abdul­lah).


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *