Berita Ekonomi

Kontroversi Pernyataan Menteri Keuangan Soal Pajak Disamakan dengan Zakat dan Wakaf

588
×

Kontroversi Pernyataan Menteri Keuangan Soal Pajak Disamakan dengan Zakat dan Wakaf

Sebarkan artikel ini

Dalam beber­a­pa hari ter­akhir, jagat media sosial dihe­bohkan oleh poton­gan video Menteri Keuan­gan Sri Mulyani Indrawati yang mem­ba­has ten­tang kewa­jiban mem­ba­yar pajak. Dalam poton­gan terse­but, Sri Mulyani menyam­paikan bah­wa mem­ba­yar pajak seharus­nya dipan­dang den­gan cara yang sama seper­ti menunaikan zakat dan wakaf. Perny­ataan ini menim­bulkan beragam reak­si pub­lik, teruta­ma di media sosial, den­gan seba­gian war­ganet mengkri­tik keras penya­maan kon­sep terse­but.

Dalam video yang bersum­ber dari kanal YouTube IDX Chan­nel, Sri Mulyani tam­pak berbicara di sebuah forum yang mem­ba­has per­lin­dun­gan daya beli masyarakat. Ia men­ge­nakan batik bernu­ansa gelap dan berbicara di podi­um den­gan latar bertuliskan “Melin­dun­gi Daya Beli Masyarakat” ser­ta lam­bang ekono­mi syari­ah. Poton­gan teks pada video itu menuliskan, “Sri Mulyani: Bayar Pajak Sama Seper­ti Zakat dan Wakaf”.

Seo­rang peng­gu­na Threads den­gan nama akun robi_onair men­gung­gah tangka­pan layar dari poton­gan video terse­but dis­er­tai keteran­gan yang berna­da sindi­ran. Ia menulis:

“SELAMAT MALAM NETIZEN! Ada kabar dari pemer­in­tah! Tagli­nenya ‘PAJAK SAMA DENGAN WAQAF DAN ZAKAT’ 🤣
Bu menteri, sedik­it saya ingin menge­dukasi masyarakat.

1. Pajak itu bersi­fat wajib, memak­sa, diatur undang-undang, ada sanksi pidana. Perun­tukan­nya macam-macam, salah sat­un­ya gaji peja­bat dan ASN.

  Viral! Kavling di Mataram Cuma 10 Jutaan, DP Cuma 3 Juta Bisa Dicicil 10 Bulan-Buruan Tinggal Tiga Lagi!

2. Waqaf dan zakat jelas perun­tukan yaitu bagi orang yang tidak mam­pu dan mem­bu­tuhkan, bukan untuk gaji peja­bat kaya.
Jelas ya. 😁👌”*

Ung­ga­han ini memicu diskusi pan­jang di kolom komen­tar. Salah satu peng­gu­na, tom­myal­fara­bi, berko­men­tar:

“Pajak & zakat itu beda serv­er, Bu. Zakat itu ikhlas buat ban­tu sesama, jelas tujuan­nya. Pajak itu wajib buat negara, tapi alokasinya ser­ing jadi trust issue kare­na banyak dra­ma korup­si. Nyu­ruh ikhlas bayar pajak boleh, tapi jan­gan bawa-bawa dalil zakat dong. Gak nyam­bung.”

Peng­gu­na lain, ariefn1304, meny­oroti kekayaan sum­ber daya alam Indone­sia yang seharus­nya bisa dikelo­la untuk kese­jahter­aan raky­at:

“…negara ini san­gat kaya sum­ber daya alam­nya… seharus­nya para pet­ing­ginya bisa men­gelo­la den­gan baik semua hasil kekayaan sum­ber daya alam negara ini untuk kese­jahter­aan & kemak­mu­ran raky­at­nya, ser­ta untuk kema­juan negara ini… tapi sela­ma ini hal itu hanya untuk prib­a­di-prib­a­di & kelom­poknya… malah semakin menekan raky­at untuk bayar pajak…”

Tom­myal­fara­bi kemu­di­an menam­bahkan. “Nah ini, SDA negara di-gasak sama cir­cle-nya mere­ka-mere­ka ini, hasil­nya ‘bocor alus’ ke kan­tong prib­a­di. Eh, buat nutupin bolongnya, raky­at kecil yang diu­ber-uber pajak. Kita yang bayar buat nutupin kega­galan & keme­wa­han mere­ka. Sis­tem­nya emang sen­ga­ja dibikin begi­ni kayanya.”

Ariefn1304 menimpali:”…rakyat dib­iarkan miskin… lalu nan­ti seti­ap pemil­i­han biar bisa dukung prib­a­di-prib­a­di & kelom­pok-kelom­poknya untuk bisa berkuasa den­gan ban­sos… banyak raky­at yang gak menyadari hal itu… bila hal itu dib­iarkan terus menerus… negara gak akan maju…”

  Kiosked Ungkap Perbedaan CPM dan RPM dalam Iklan Programatik Lewat Unggahan di Platform X

Kri­tik lain datang dari imran.rosadi1969 yang meny­oroti gaji peja­bat. “Lo pun­ya gaji besar, berar­ti mam­pu dalam banyak hal den­gan keuan­gan, potong gaji lo dan gak usah ada tun­jan­gan, kare­na semuanya uang raky­at.”

Ia men­da­p­at dukun­gan dari lnaro­man­ti­ka yang mem­balas den­gan emo­ji jem­pol.

Peng­gu­na mib­nu­alat­tar mengin­gatkan poten­si kesalah­pa­haman pub­lik atas perny­ataan Sri Mulyani:

“Bahaya lho state­ment Ibu Sri Mulyani ini. Beropi­ni bah­wa sedekah disamakan den­gan pajak. Bah­wa sedekah itu seikhlas­nya sedan­gkan zakat itu terukur yang sudah ditakar dan pasti bisa dire­al­isas­ikan. Namun jika pajak itu memak­sa. Bahkan aplikasinya dalam meny­er­ahkan sedekah maupun zakat itu sudah pasti dan jelas sam­pai pada kha­layak umum sedan­gkan pajak masih bias, gak jelas. Parah, Ibu ini parah.”

Akun petruk­dadi­gareng menulis. “🔥🔥🔥🔥 diPa­jakin melu­lu raky­at­nya… Lihat PPN pajak dinaikin ya protes­lah raky­at­nya… Apa tidak ada sum­ber keuan­gan lain selain pajak? Urus BUMN dong den­gan benar.”

Semen­tara husni_mubarak_arkado meni­lai perny­ataan itu seba­gai upaya meman­faatkan sen­ti­men aga­ma:

“Mulai nih mau man­faatin aga­ma seba­gai bungkus­nya, memang betul ada hak orang lain di har­ta kita tapi untuk fakir miskin.”

Reak­si pub­lik ini mem­per­li­hatkan adanya jarak antara pema­haman pemer­in­tah dan seba­gian masyarakat terkait fungsi dan tujuan pajak. Pajak secara hukum memang wajib diba­yarkan oleh war­ga negara dan badan usa­ha sesuai keten­tu­an perun­dang-undan­gan. Dana pajak digu­nakan untuk pem­bi­ayaan negara, mulai dari infra­struk­tur, gaji aparatur sip­il negara, layanan pub­lik, hing­ga sub­si­di.

Semen­tara itu, zakat dan wakaf meru­pakan instru­men keuan­gan berba­sis syari­ah yang perun­tukan­nya jelas diatur untuk mem­ban­tu fakir miskin dan kegiatan sosial-keaga­maan. Zakat memi­li­ki nisab dan haul ter­ten­tu, sedan­gkan wakaf bersi­fat sukarela namun den­gan tujuan sosial yang spe­si­fik.

  Cakar Ayam Naik Level: Dari Tanah Jadi Cuan, Berminat Kesini Jalannya!

Per­bandin­gan antara pajak den­gan zakat atau wakaf ser­ing men­ja­di top­ik sen­si­tif kare­na menyen­tuh aspek keyak­i­nan, eti­ka, dan keper­cayaan pub­lik ter­hadap pen­gelo­laan dana negara. Kri­tik yang muncul di media sosial umum­nya meny­oroti dua hal uta­ma: per­ta­ma, perbe­daan sifat dan tujuan antara pajak dan zakat/wakaf; ked­ua, masalah transparan­si dan akunt­abil­i­tas peng­gu­naan pajak di Indone­sia.

Banyak war­ganet menyam­paikan bah­wa mere­ka tidak meno­lak kewa­jiban mem­ba­yar pajak, namun menun­tut adanya keje­lasan, transparan­si, dan integri­tas dalam pen­gelo­laan­nya. Isu korup­si, kebo­co­ran anggaran, dan pen­gelu­aran negara yang diang­gap tidak tepat sasaran ker­ap men­ja­di alasan muncul­nya keti­dakper­cayaan.

Hing­ga saat ini, belum ada perny­ataan res­mi tam­ba­han dari Kementer­ian Keuan­gan untuk men­je­laskan secara rin­ci kon­teks dari perny­ataan Sri Mulyani dalam video yang viral terse­but. Namun, peri­s­ti­wa ini men­ja­di pengin­gat bagi peja­bat pub­lik akan pent­ingnya komu­nikasi yang sen­si­tif ter­hadap nilai-nilai yang diyaki­ni masyarakat, teruta­ma keti­ka mem­ba­has hal-hal yang berkai­tan den­gan aga­ma dan kewa­jiban negara.

Kon­tro­ver­si ini juga meng­garis­bawahi bah­wa diskur­sus men­ge­nai pajak bukan hanya soal angka dan kebi­jakan fiskal, tetapi juga menyangkut rasa kead­i­lan, keper­cayaan, dan hubun­gan tim­bal balik antara negara dan war­ganya. Dalam era keter­bukaan infor­masi dan media sosial, seti­ap perny­ataan peja­bat pub­lik berpoten­si men­da­p­at reak­si cepat, luas, dan tajam, seper­ti yang ter­ja­di kali ini.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *