Asahan, SniperNew.id - Peristiwa tragis kembali menyelimuti dunia pertambangan rakyat di Kabupaten Asahan, Sumatera Utara. Sebuah longsor besar terjadi di area tambang batu padas yang berada di Dusun I, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, pada Sabtu (6/9/2025).
Dalam kejadian tersebut, tiga orang penambang dilaporkan meninggal dunia, sementara satu orang lainnya mengalami luka kritis dan saat ini masih menjalani perawatan intensif di rumah sakit setempat.
Informasi mengenai tragedi ini pertama kali terungkap melalui unggahan media sosial Threads akun @andreli_48, yang mengabarkan secara langsung kondisi lapangan, termasuk video evakuasi warga. Dalam unggahannya, akun tersebut menuliskan.
“Tragedi Longsor terjadi di area tambang batu padas. Lokasi kejadian di Dusun I, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan, Kab. Asahan, Sumut. Berdasarkan keterangan, ada tiga orang penambang tewas tertimpa material longsor dan satu orang lainnya kritis. 3 korban meninggal dunia, 2 warga Kilometer, serta 1 warga desa Manis, Aek Loba. Sementara 1 orang kritis dirawat di RS.”
Unggahan itu juga disertai potongan video yang memperlihatkan warga bersama-sama melakukan evakuasi terhadap korban, dengan kondisi area tambang dipenuhi material longsor, batu besar, serta lumpur yang menyulitkan proses penyelamatan.
Kejadian ini merupakan bencana longsor di area tambang batu padas. Material tanah dan batu besar tiba-tiba longsor dari tebing galian tambang dan menimpa para penambang yang sedang beraktivitas. Akibatnya, empat orang menjadi korban, tiga di antaranya meninggal dunia di lokasi kejadian.
Longsor di lokasi tambang rakyat bukan hal yang baru. Aktivitas pertambangan manual tanpa pengawasan keselamatan yang memadai membuat para pekerja sangat rentan terhadap kecelakaan kerja, terutama ketika struktur tebing galian tidak stabil.
Berdasarkan informasi yang disampaikan akun Threads @andreli_48, korban meninggal dunia adalah tiga penambang lokal. Dua korban berasal dari wilayah Kilometer, sementara satu korban lainnya merupakan warga Desa Manis, Aek Loba.
Selain itu, terdapat satu korban lain yang mengalami kondisi kritis. Hingga berita ini diturunkan, identitas lengkap para korban masih menunggu konfirmasi resmi dari pihak berwenang, namun telah dipastikan mereka semua adalah pekerja tambang rakyat yang sedang mencari nafkah di lokasi tersebut.
Warga sekitar yang tergabung dalam tim evakuasi darurat langsung berinisiatif mengevakuasi jenazah korban dengan alat seadanya, sebelum akhirnya jenazah dibawa ke rumah duka masing-masing. Sementara korban kritis segera dilarikan ke rumah sakit terdekat untuk mendapatkan pertolongan medis.
Lokasi longsor berada di Dusun I, Desa Marjanji Aceh, Kecamatan Aek Songsongan, Kabupaten Asahan, Sumatera Utara.
Daerah ini dikenal memiliki banyak tambang batu padas yang digarap oleh masyarakat secara tradisional. Aktivitas tambang biasanya dilakukan secara manual, menggunakan alat berat sederhana seperti ekskavator dan truk untuk mengangkut hasil galian.
Namun, kondisi geografis berupa tebing curam dan tanah labil membuat area tambang sangat rawan terjadi longsor, terutama pada musim hujan. Foto dan video yang diunggah menunjukkan medan tambang penuh bebatuan dan lumpur, memperlihatkan betapa berbahayanya pekerjaan di lokasi tersebut.
Menurut informasi awal, longsor ini terjadi pada Sabtu, 6 September 2025. Unggahan akun Threads @andreli_48 muncul sekitar 11 menit setelah kejadian, menunjukkan bahwa peristiwa ini tergolong baru dan masih dalam tahap penanganan darurat ketika informasi dibagikan ke publik.
Hingga malam hari, proses evakuasi masih berlangsung. Warga, aparat desa, dan tim penolong berusaha membersihkan material longsor sambil mencari kemungkinan adanya korban lain yang tertimbun.
Penyebab longsor di lokasi tambang batu padas ini belum disampaikan secara resmi oleh pihak berwenang. Namun, dari keterangan warga yang dihimpun dari unggahan media sosial, longsor kemungkinan dipicu oleh struktur tanah yang labil akibat galian tambang.
Penambangan manual yang terus-menerus menggali tebing batu padas bisa melemahkan kekuatan tanah, sehingga rawan runtuh kapan saja. Faktor cuaca, terutama hujan deras dalam beberapa hari terakhir, diduga turut mempercepat terjadinya longsor.
Selain itu, absennya sistem pengawasan keselamatan kerja serta peralatan standar keamanan juga menjadi masalah klasik dalam tambang rakyat. Hal inilah yang membuat risiko kecelakaan semakin tinggi.
Video yang dibagikan akun Threads @andreli_48 memperlihatkan suasana dramatis di lokasi. Warga tampak bahu-membahu mengevakuasi korban dengan tandu darurat, melewati lumpur dan batuan besar.
Sebuah truk pengangkut material terlihat terjebak di lokasi kejadian, sebagian tertimbun material longsor. Kondisi ini membuat proses penyelamatan semakin sulit.
Meski peralatan terbatas, warga tetap berusaha keras mengevakuasi korban dengan cepat. Korban kritis segera dibawa ke rumah sakit terdekat menggunakan kendaraan warga.
Hingga malam hari, aparat kepolisian dan tim Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Asahan turun ke lokasi untuk melakukan pencarian tambahan dan memastikan tidak ada korban lain yang masih tertimbun.
Peristiwa ini menyisakan duka mendalam bagi keluarga korban. Tiga nyawa yang hilang semuanya adalah pencari nafkah keluarga yang bekerja di tambang demi memenuhi kebutuhan sehari-hari.
Warga setempat menyampaikan keprihatinan mendalam atas kejadian tersebut. Mereka berharap pemerintah daerah segera turun tangan melakukan investigasi sekaligus memberikan bantuan kepada keluarga korban.
Selain itu, sebagian warga juga mendesak agar tambang rakyat yang rawan longsor lebih diawasi secara ketat. Meski tambang menjadi sumber mata pencaharian utama, keselamatan pekerja seharusnya menjadi prioritas.
Tragedi longsor di Asahan menambah panjang daftar kecelakaan di tambang rakyat di Indonesia. Aktivitas tambang rakyat yang minim regulasi sering kali diwarnai kecelakaan fatal, mulai dari runtuhnya tebing galian, kecelakaan alat berat, hingga banjir lumpur.
Menurut data nasional, kecelakaan tambang rakyat kerap terjadi karena lemahnya pengawasan serta kurangnya pemahaman pekerja mengenai standar keselamatan. Padahal, tambang batu padas dan galian C lainnya banyak tersebar di berbagai daerah dan melibatkan ribuan penambang lokal.
Tragedi di Desa Marjanji Aceh ini diharapkan menjadi momentum bagi pemerintah Kabupaten Asahan, Pemerintah Provinsi Sumatera Utara, hingga Kementerian ESDM untuk lebih serius memperhatikan tambang rakyat.
Masyarakat menunggu langkah nyata berupa:
1. Investigasi resmi penyebab longsor dan memastikan tidak ada korban tambahan.
2. Bantuan darurat bagi keluarga korban, baik berupa santunan maupun dukungan logistik.
3. Peningkatan pengawasan tambang rakyat agar pekerja mendapatkan perlindungan lebih baik.
4. Penerapan standar keselamatan kerja untuk meminimalisir kecelakaan serupa di masa depan.
Peristiwa longsor di tambang batu padas Asahan ini menjadi peringatan keras akan bahaya aktivitas tambang rakyat tanpa pengawasan. Tiga nyawa melayang, satu kritis, dan puluhan keluarga kini dirundung duka mendalam.
Unggahan akun Threads @andreli_48 menjadi saksi awal yang membuka mata publik terhadap tragedi ini. Kini, perhatian tertuju pada bagaimana pemerintah daerah dan aparat terkait merespons, agar kejadian serupa tidak kembali terulang. (Red/Tim)



















