Berita Peristiwa

Jembatan Darurat di Embacang Kelekar Amblas, Akses Dua Kecamatan Lumpuh Total

689
×

Jembatan Darurat di Embacang Kelekar Amblas, Akses Dua Kecamatan Lumpuh Total

Sebarkan artikel ini

Muara Enim, SniperNew.id — Sebuah jem­bat­an daru­rat yang ter­letak di wilayah per­batasan Desa Emba­cang Kelekar, Keca­matan Kelekar, dan Desa Karang Endah Sela­tan, Keca­matan Gelum­bang, Kabu­pat­en Muara Enim, amblas sete­lah dilalui oleh truk pen­gangkut tan­dan buah segar (TBS) kela­pa saw­it pada Selasa (21/10/2025). Peri­s­ti­wa ini menye­babkan jalur uta­ma penghubung antar dua keca­matan terse­but ter­pu­tus total, sehing­ga tidak dap­at dilalui baik oleh kendaraan roda dua maupun roda empat. Rabu (22/10/2025)

Peri­s­ti­wa terse­but men­ja­di per­ha­t­ian serius masyarakat setem­pat, sebab jalur ini meru­pakan akses vital perekono­mi­an dan mobil­i­tas masyarakat di wilayah terse­but. Selain men­ja­di jalur trans­portasi uta­ma bagi war­ga dua keca­matan, ruas jalan itu juga digu­nakan untuk aktiv­i­tas pen­gangku­tan hasil perke­bunan dan kebu­tuhan logis­tik sehari-hari.

Berdasarkan infor­masi yang dihim­pun dari lapan­gan, peri­s­ti­wa amblas­nya jem­bat­an daru­rat itu ter­ja­di sek­i­tar pukul 09.30 WIB. Truk pen­gangkut saw­it den­gan kap­a­sitas muatan besar melin­tasi jem­bat­an daru­rat yang sebelum­nya diban­gun semen­tara untuk meng­gan­tikan jem­bat­an per­ma­nen yang masih dalam tahap pem­ban­gu­nan.

Menu­rut keteran­gan sejum­lah war­ga, sebelum keja­di­an, kon­disi jem­bat­an daru­rat terse­but sudah tam­pak men­gala­mi kere­takan pada bagian lan­tai dan penyang­ga, aki­bat ser­ing dilalui kendaraan berat. Meskipun masyarakat telah mengin­gatkan sopir dan pihak perusa­haan untuk tidak mele­wati jalur terse­but den­gan muatan berlebih, peringatan itu tidak diin­dahkan.

“Sudah ser­ing kami ingatkan agar jan­gan lewat sini dulu kare­na jem­bat­an­nya belum kuat. Tapi tetap saja dile­wati truk besar. Akhirnya, hari ini amblas total,” ujar Andi (42), salah satu war­ga Desa Emba­cang Kelekar yang ting­gal di dekat lokasi keja­di­an.

  Kecelakaan Lalu Lintas Libatkan Bus Trans Semanggi dan Kendaraan Pribadi di Jalan Mayjend Sungkono Surabaya

Jem­bat­an yang amblas bera­da di titik strate­gis yang menghubungkan Keca­matan Kelekar den­gan Keca­matan Gelum­bang. Akses terse­but men­ja­di satu-sat­un­ya jalur uta­ma yang menghubungkan aktiv­i­tas masyarakat dari Desa Emba­cang Kelekar menu­ju wilayah Karang Endah Sela­tan dan seba­liknya.

Amblas­nya jem­bat­an daru­rat ini menye­babkan aktiv­i­tas ekono­mi masyarakat lumpuh total. Sejum­lah pela­jar tidak dap­at berangkat ke seko­lah, peker­ja kebun kesuli­tan menu­ju tem­pat ker­ja, dan aktiv­i­tas perda­gan­gan di pasar sek­i­tar pun ikut ter­hen­ti.

Kini, kendaraan roda dua ter­pak­sa memu­tar jauh melalui jalur alter­natif Desa Bitis – Lem­bak, den­gan jarak tem­puh ham­pir dua kali lipat lebih jauh dari jalur nor­mal. Sedan­gkan kendaraan roda empat sama sekali tidak bisa mele­wati jalur terse­but kare­na kon­disi jem­bat­an benar-benar putus di bagian ten­gah, den­gan tanah penopang ambles sek­i­tar 2 meter.

“Kalau motor masih bisa lewat lewat kebun, tapi jauh sekali. Kami harus putar lebih dari satu jam,” kata Siti Mar­li­na (36), war­ga Karang Endah Sela­tan.

Dugaan semen­tara, amblas­nya jem­bat­an dise­babkan oleh beban muatan berlebih dari truk pen­gangkut saw­it yang melin­tas. Truk terse­but diperki­rakan mem­bawa muatan melebi­hi batas tonase yang diizinkan untuk mele­wati jem­bat­an daru­rat terse­but.

Selain itu, struk­tur jem­bat­an daru­rat yang sudah rapuh juga men­ja­di fak­tor uta­ma penye­bab kerusakan. Jem­bat­an yang ter­bu­at dari rang­ka baja ringan dan papan kayu terse­but sejatinya hanya dipe­run­tukkan bagi kendaraan ringan dan pejalan kaki, bukan untuk kendaraan bermu­atan berat.

“Kami sudah tahu kalau jem­bat­an itu hanya semen­tara. Tapi pen­gangku­tan saw­it terus jalan seti­ap hari. Ini aki­bat kelala­ian dan kurangnya pen­gawasan,” ungkap Sudar­li (48), war­ga Desa Emba­cang Kelekar yang juga meru­pakan penge­mu­di lokal.

Sudar­li menam­bahkan bah­wa dirinya telah menyam­paikan kon­disi jem­bat­an terse­but kepa­da pihak perusa­haan tem­pat ia bek­er­ja, namun belum ada tin­dak lan­jut berar­ti. “Sudah saya laporkan ke atasan, tapi katanya mere­ka masih rap­at di Palem­bang. Belum ada tin­dakan sejauh ini,” katanya.

  Diduga Mabuk, Pria Masuk Kos di Denpasar Gegerkan Warga

Menang­gapi keja­di­an terse­but, Camat Kelekar melalui staf pemer­in­ta­han setem­pat meny­atakan akan segera mela­porkan keja­di­an ini ke Dinas PUPR Kabu­pat­en Muara Enim agar dilakukan langkah daru­rat untuk menang­gu­lan­gi akses war­ga.

“Lapo­ran awal sudah kami ter­i­ma. Kami akan segera berko­or­di­nasi den­gan pihak terkait agar akses war­ga bisa segera dip­ulihkan, min­i­mal dibu­atkan jem­bat­an daru­rat baru agar mobil­i­tas masyarakat tidak ter­ham­bat,” ujar Suhar­to, peja­bat Keca­matan Kelekar yang dite­mui di lokasi.

Semen­tara itu, pihak Dinas PUPR Kabu­pat­en Muara Enim belum mem­berikan keteran­gan res­mi terkait wak­tu per­baikan dan tang­gung jawab pem­ban­gu­nan jem­bat­an terse­but. Namun berdasarkan infor­masi dari sum­ber inter­nal, jem­bat­an per­ma­nen di lokasi itu memang masih dalam tahap penger­jaan dan belum layak dile­wati kendaraan berat.

“Kon­trak­tor pelak­sana sebe­narnya sudah mem­beri tan­da larangan lewat, tapi ser­ing dia­baikan oleh sopir-sopir angku­tan saw­it,” ujar sum­ber terse­but yang eng­gan dise­butkan namanya.

War­ga berharap pemer­in­tah daer­ah dap­at menin­dak tegas pihak yang bertang­gung jawab, baik perusa­haan pen­gangkut maupun pihak pen­gawas proyek, agar keja­di­an seru­pa tidak teru­lang. Selain itu, masyarakat mem­inta agar pem­ban­gu­nan jem­bat­an per­ma­nen segera dis­e­le­saikan mengin­gat jalur ini san­gat vital.

“Kami minta Pemkab jan­gan diam saja. Ini bukan per­ta­ma kali jem­bat­an rusak kare­na truk saw­it. Harus ada atu­ran yang dite­gakkan,” ucap Tarmizi (55), tokoh masyarakat setem­pat.

Beber­a­pa war­ga juga men­gusulkan agar pen­gawasan di lapan­gan diper­ke­tat, ter­ma­suk pen­em­patan petu­gas pen­ja­ga di sek­i­tar jem­bat­an daru­rat untuk men­gatur lalu lin­tas kendaraan berat hing­ga jem­bat­an per­ma­nen sele­sai diban­gun.

Selain meng­ham­bat aktiv­i­tas har­i­an, ter­pu­tus­nya akses ini berdampak besar ter­hadap roda perekono­mi­an war­ga dua keca­matan. Hasil per­tan­ian dan perke­bunan war­ga tidak dap­at dikir­im ke pasar, semen­tara har­ga bahan pokok di beber­a­pa desa dila­porkan mulai naik aki­bat keter­lam­bat­an dis­tribusi barang.

  Wanita di Makassar Jadi Korban Busur Panah Misterius

“Biasanya seti­ap pagi kami antar sayur ke pasar di Gelum­bang, tapi sekarang tidak bisa. Kalau lewat jalur alter­natif, biaya bensin dan wak­tu jadi dua kali lipat,” ungkap Rani (33), seo­rang peda­gang sayur dari Desa Emba­cang Kelekar.

Kon­disi seru­pa juga diala­mi para petani saw­it dan karet. Banyak tan­dan buah segar (TBS) yang ter­ta­han di kebun kare­na tidak ada kendaraan yang bisa men­gangkut­nya kelu­ar desa. Jika dib­iarkan berla­ma-lama, kual­i­tas buah akan menu­run dan berdampak pada har­ga jual.

“Kalau buah saw­it dib­iarkan dua hari saja, kadar minyaknya turun. Kami rugi besar,” keluh Hen­dri (40), petani saw­it setem­pat.

Hing­ga Rabu (22/10/2025) pagi, war­ga bersama aparat desa melakukan gotong roy­ong mem­per­bai­ki seba­gian struk­tur jem­bat­an yang rusak meng­gu­nakan batang kela­pa dan papan kayu seadanya. Namun per­baikan ini hanya bersi­fat semen­tara untuk pejalan kaki, bukan kendaraan.

“Ini hanya supaya anak seko­lah bisa lewat semen­tara. Kalau kendaraan, masih belum bisa. Kami tung­gu alat berat dari pemer­in­tah,” jelas Kepala Desa Emba­cang Kelekar, Rah­man, S.Pd.

Pemer­in­tah desa juga telah men­ga­jukan ban­tu­an daru­rat kepa­da pihak keca­matan dan Dinas PUPR untuk segera men­gir­imkan mate­r­i­al ser­ta tena­ga tek­nis guna mem­ban­gun jem­bat­an semen­tara baru yang lebih kuat.

Peri­s­ti­wa amblas­nya jem­bat­an daru­rat di per­batasan Emba­cang Kelekar – Karang Endah Sela­tan men­ja­di peringatan pent­ing ten­tang pent­ingnya pen­gawasan ter­hadap peng­gu­naan infra­struk­tur pub­lik yang belum ram­pung. Beban muatan berlebih dan kurangnya kepatuhan ter­hadap atu­ran kese­la­matan men­ja­di fak­tor uta­ma penye­bab kerusakan.

Kini, war­ga berharap agar pemer­in­tah daer­ah dap­at segera mengam­bil langkah konkret mem­per­bai­ki kon­disi terse­but, sekali­gus mem­per­cepat penye­le­sa­ian pem­ban­gu­nan jem­bat­an per­ma­nen agar aktiv­i­tas ekono­mi dan sosial masyarakat dap­at kem­bali nor­mal.

Reporter: Zikra (Zkr)

Edi­tor: Redak­si Snipernew.id

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *