Neemuch, SniperNew.id – Postingan akun X (dulu Twitter) @aajtak pada Jumat (13/6/2025) menjadi viral setelah menyoroti kisah tak biasa dari seorang pria di India yang memperjuangkan keadilan dengan cara unik. Pria bernama Krishna Kumar Dhakad, warga desa Athana di distrik Neemuch, negara bagian Madhya Pradesh, memutuskan meninggalkan mimpinya menjadi pejabat sipil dan memilih berjualan teh dengan tangan terborgol.
Krishna Kumar mengaku menjadi korban ketidakadilan hukum setelah sang istri menggugatnya atas tuduhan kekerasan dalam rumah tangga dan permintaan uang tunjangan. Dalam tuntutannya, sang istri menggunakan Pasal 498A KUHP India yang mengatur kekerasan terhadap istri, serta Pasal 125 untuk permintaan nafkah.
Mengapa ia membuka warung teh?
Setelah hidupnya berubah drastis pasca gugatan, Krishna Kumar memutuskan membuka warung teh di wilayah tempat tinggal mertuanya. Ia menamai usahanya ‘498A Tea Café’, sebagai simbol perlawanan terhadap tuduhan yang menurutnya tidak berdasar. Di dalam warung, ia memajang karangan bunga pernikahan dan sehra (mahkota pengantin pria) sebagai pengingat peristiwa hidupnya yang kini berbalik arah.
Apa pesan di balik warung itu?
Di bagian depan warung, terpampang hoarding (spanduk besar) bertuliskan pesan sindiran penuh makna:
“Jab tak nahi milta nyaay, tab tak ubalti rahegi chai”
(Selama keadilan belum datang, teh akan terus mendidih)
Ada pula tulisan: “Aao chai par karein, 125 mein kitna dena padega kharcha?”
(Mari berdiskusi di atas teh, berapa besar biaya yang harus dibayar menurut Pasal 125?)
Bagaimana awal mula masalah ini?
Krishna menikah pada tahun 2018. Bersama istrinya, ia memulai usaha peternakan lebah madu. Bisnis mereka berkembang pesat dan mulai mendapatkan pesanan dari berbagai daerah. Namun pada tahun 2022, sang istri tiba-tiba meninggalkan rumah dan kembali ke rumah orang tuanya. Tak lama kemudian, gugatan terhadap Krishna Kumar dilayangkan, menyebabkan usaha madu mereka terhenti total.
Siapa Krishna Kumar Dhakad sebenarnya?
Krishna adalah mantan mahasiswa yang sedang mempersiapkan diri mengikuti ujian layanan sipil (UPSC), salah satu jalur bergengsi untuk menjadi pejabat pemerintah di India. Namun semua ambisi itu runtuh sejak kasus ini bergulir. Kini, dengan gaya teatrikal namun penuh pesan, ia menjadikan warung teh sebagai bentuk protes damai dan permintaan keadilan dari sistem hukum.
Dalam beberapa pernyataannya, Krishna Kumar menyebut bahwa dirinya tidak berniat menghina hukum atau wanita, namun ingin menyoroti bagaimana undang-undang bisa disalahgunakan. Ia berharap masyarakat dan pengadilan melihat kedua sisi cerita sebelum memberikan vonis.
Editor: (add)



















