Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Hukum

Demi Keadilan, Pria di India Buka Warung ‘498A Tea Café’ Usai Dituduh Istri: “Selama Belum Ada Keadilan, Teh Akan Terus Mendidih”

411
×

Demi Keadilan, Pria di India Buka Warung ‘498A Tea Café’ Usai Dituduh Istri: “Selama Belum Ada Keadilan, Teh Akan Terus Mendidih”

Sebarkan artikel ini

Neemuch, SniperNew.id  – Postin­gan akun X (dulu Twit­ter) @aajtak pada Jumat (13/6/2025) men­ja­di viral sete­lah meny­oroti kisah tak biasa dari seo­rang pria di India yang mem­per­juangkan kead­i­lan den­gan cara unik. Pria berna­ma Krish­na Kumar Dhakad, war­ga desa Athana di dis­trik Neemuch, negara bagian Mad­hya Pradesh, memu­tuskan mening­galkan mimpinya men­ja­di peja­bat sip­il dan memil­ih berjualan teh den­gan tan­gan ter­bor­gol.

  Wilson Lalengke Minta Polres Lamteng Tindaklanjuti Kasus Kekerasan kepada Wartawan

Krish­na Kumar men­gaku men­ja­di kor­ban keti­dakadi­lan hukum sete­lah sang istri meng­gu­gat­nya atas tuduhan kek­erasan dalam rumah tang­ga dan per­mintaan uang tun­jan­gan. Dalam tun­tu­tan­nya, sang istri meng­gu­nakan Pasal 498A KUHP India yang men­gatur kek­erasan ter­hadap istri, ser­ta Pasal 125 untuk per­mintaan nafkah.

Men­ga­pa ia mem­bu­ka warung teh?
Sete­lah hidup­nya berubah drastis pas­ca gugatan, Krish­na Kumar memu­tuskan mem­bu­ka warung teh di wilayah tem­pat ting­gal mer­tu­anya. Ia mena­mai usa­hanya ‘498A Tea Café’, seba­gai sim­bol per­lawanan ter­hadap tuduhan yang menu­rut­nya tidak berdasar. Di dalam warung, ia mema­jang karangan bun­ga pernika­han dan sehra (mahko­ta pen­gan­tin pria) seba­gai pengin­gat peri­s­ti­wa hidup­nya yang kini berba­lik arah.

Apa pesan di balik warung itu?
Di bagian depan warung, ter­pam­pang hoard­ing (span­duk besar) bertuliskan pesan sindi­ran penuh mak­na:

  Pemilik LB3 Tanpa Izin Dilaporkan LSM Tindak Indonesia Ke Mapolres Ketapang

“Jab tak nahi mil­ta nyaay, tab tak ubalti rahe­gi chai”
(Sela­ma kead­i­lan belum datang, teh akan terus men­didih)

 

Ada pula tulisan: “Aao chai par karein, 125 mein kit­na dena pade­ga khar­cha?”

(Mari berdiskusi di atas teh, bera­pa besar biaya yang harus diba­yar menu­rut Pasal 125?)

 

Bagaimana awal mula masalah ini?
Krish­na menikah pada tahun 2018. Bersama istrinya, ia mem­u­lai usa­ha peter­nakan lebah madu. Bis­nis mere­ka berkem­bang pesat dan mulai men­da­p­atkan pesanan dari berba­gai daer­ah. Namun pada tahun 2022, sang istri tiba-tiba mening­galkan rumah dan kem­bali ke rumah orang tuanya. Tak lama kemu­di­an, gugatan ter­hadap Krish­na Kumar dilayangkan, menye­babkan usa­ha madu mere­ka ter­hen­ti total.

  Kantor PAC Pemuda Batak Bersatu dirusak, LP belum ada tindak lanjut di polres Belawan*

Sia­pa Krish­na Kumar Dhakad sebe­narnya?
Krish­na adalah man­tan maha­siswa yang sedang mem­per­si­ap­kan diri mengiku­ti ujian layanan sip­il (UPSC), salah satu jalur bergengsi untuk men­ja­di peja­bat pemer­in­tah di India. Namun semua ambisi itu run­tuh sejak kasus ini bergulir. Kini, den­gan gaya teatrikal namun penuh pesan, ia men­jadikan warung teh seba­gai ben­tuk protes damai dan per­mintaan kead­i­lan dari sis­tem hukum.

Dalam beber­a­pa perny­ataan­nya, Krish­na Kumar menye­but bah­wa dirinya tidak berni­at menghi­na hukum atau wani­ta, namun ingin meny­oroti bagaimana undang-undang bisa dis­alah­gu­nakan. Ia berharap masyarakat dan pen­gadi­lan meli­hat ked­ua sisi ceri­ta sebelum mem­berikan vonis.

Edi­tor: (add)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *