Berita Peristiwa

Janji Palsu Calo Polisi, Warga Pemalang Curhat Kehilangan Sawah dan Uang

363
×

Janji Palsu Calo Polisi, Warga Pemalang Curhat Kehilangan Sawah dan Uang

Sebarkan artikel ini

Pemalang, SniperNew.id – Sebuah video yang viral di media sosial mem­per­li­hatkan seo­rang pria paruh baya men­cu­rahkan keke­ce­waan dan kesedi­han­nya di ten­gah aksi unjuk rasa di Pemalang, Jawa Ten­gah, Sab­tu (06/09).

Den­gan suara lan­tang dan ges­tur penuh emosi, pria itu mencer­i­takan bagaimana dirinya ditipu oleh oknum aparat yang men­jan­jikan anak-anaknya bisa masuk kepolisian.

Pria terse­but men­gaku rela men­jual sawah demi memenuhi per­mintaan uang dari oknum polisi. Namun jan­ji itu terny­a­ta pal­su. Lima tahun berse­lang, bukan hanya anak-anaknya gagal masuk kepolisian, uang yang ia ser­ahkan pun tidak per­nah kem­bali. Dalam pen­gakuan­nya, ia menye­but uang itu jus­tru digu­nakan untuk judi online oleh oknum yang menipun­ya.

Kisah ini kemu­di­an diung­gah ulang oleh akun media sosial Sindi­ran­je­nius dan memicu diskusi hangat di kalan­gan war­ganet. Berikut lapo­ran lengkap berdasarkan reka­man video, ung­ga­han, ser­ta komen­tar masyarakat yang muncul.

Dalam video berdurasi singkat yang beredar, tam­pak seo­rang pria memakai baju kotak-kotak den­gan tas selem­pang hitam berbicara lan­tang di hada­pan mas­sa aksi. Ia mencer­i­takan pen­gala­man­nya men­ja­di kor­ban penipuan oknum aparat yang men­jan­jikan jalur instan masuk kepolisian untuk anaknya.

Menu­rut ung­ga­han Sindi­ran­je­nius, pria itu rela men­jual sawah untuk mem­ba­yar sejum­lah uang, sesuai per­mintaan oknum terse­but. Namun sete­lah lima tahun berlalu, jan­ji itu tidak ditepati. Ked­ua anaknya tidak kun­jung diter­i­ma seba­gai anggota kepolisian, semen­tara uang hasil pen­jualan sawah hilang begi­tu saja.

“Seo­rang pria men­cu­rahkan keke­salan­nya saat demo di Pemalang, Jawa Ten­gah. Di hada­pan banyak orang, bapak ini berceri­ta ia ditipu oleh oknum polisi. Dirinya dijan­jikan ked­ua anaknya akan masuk kepolisian apa­bi­la ia mem­berikan sejum­lah uang. Ia pun men­jual sawah­nya demi bisa memenuhi per­mintaan itu. Jan­ji terse­but terny­a­ta pal­su. Lima tahun berlalu, bapak ini tidak men­da­p­atkan kem­bali uangnya. Ia menye­butkan oknum terse­but meng­gu­nakan uangnya untuk judi online,” tulis akun Sindi­ran­je­nius dalam ung­ga­han.

  Hujan Deras Guyur Jakarta, Kemang Terendam: Warga Diimbau Tetap Waspada

 

Ada beber­a­pa pihak yang ter­li­bat dalam peri­s­ti­wa ini:

1. Pria kor­ban penipuan
Ia meru­pakan war­ga Pemalang yang tampil dalam aksi unjuk rasa. Iden­ti­tas lengkap­nya tidak diungkap­kan untuk men­ja­ga pri­vasi, namun ia men­ja­di sorotan uta­ma dalam kisah ini.

2. Oknum aparat kepolisian
Pria terse­but menye­but ada oknum polisi yang men­jan­jikan jalur masuk bagi anak-anaknya. Namun, oknum ini­lah yang diduga melakukan penipuan dan menyalah­gu­nakan uang kor­ban untuk kepentin­gan prib­a­di, ter­ma­suk judi online.

3. Mas­sa aksi dan masyarakat
Video mem­per­li­hatkan banyak war­ga yang menyak­sikan pen­gakuan pria itu. Selain itu, masyarakat luas juga turut menang­gapi kisah ini di media sosial, seba­gian menyayangkan, seba­gian lain mengkri­tisi tin­dakan sang bapak.

4. Neti­zen
Ung­ga­han Sindi­ran­je­nius memanc­ing berba­gai komen­tar. Ada yang bersim­pati, ada pula yang meny­oroti niat awal bapak terse­but yang ingin mema­sukkan anaknya ke kepolisian melalui jalur suap.

Peri­s­ti­wa ini ter­ja­di di Pemalang, Jawa Ten­gah. Pria terse­but menyam­paikan cura­han hatinya di ten­gah aksi unjuk rasa di jalanan, den­gan back­drop mas­sa aksi, span­duk, dan aparat yang ber­ja­ga.

Video itu diung­gah sek­i­tar awal Sep­tem­ber 2025 oleh akun Sindi­ran­je­nius di plat­form Threads. Menu­rut keteran­gan­nya, keja­di­an berlang­sung saat aksi demon­strasi yang belum dise­butkan detail agen­danya.

Pria terse­but juga menye­but pen­gala­man pahit ini sudah berlang­sung lima tahun ter­akhir, sejak ia meny­er­ahkan uang hasil pen­jualan sawah­nya. Hing­ga kini, uang itu tidak per­nah kem­bali.

Motif uta­manya adalah jan­ji pal­su dari oknum aparat yang men­jan­jikan jalan pin­tas bagi anak kor­ban untuk masuk kepolisian. Kor­ban per­caya kare­na adanya hara­pan besar untuk masa depan anak-anaknya.

  Ini Diduga Curi Kotak Amal di Pekalongan, Warga "Senyum"

Namun di sisi lain, masyarakat mengkri­tisi bah­wa peri­s­ti­wa ini juga ter­ja­di kare­na kor­ban sendiri mau men­em­puh jalan suap. Beber­a­pa komen­tar neti­zen mene­gaskan bah­wa budaya “jalur belakang” dalam selek­si aparatur negara masih ada kare­na adanya per­mintaan dari masyarakat yang menginginkan hasil instan.

 

Berdasarkan kesak­sian kor­ban dan ung­ga­han yang beredar, kro­nologinya seba­gai berikut:

1. Beber­a­pa tahun lalu, pria itu berte­mu den­gan oknum polisi yang men­jan­jikan anak-anaknya bisa masuk kepolisian asalkan mem­berikan sejum­lah uang.

2. Demi memenuhi per­mintaan, ia men­jual sawah yang men­ja­di sum­ber penghidu­pan­nya.

3. Uang hasil pen­jualan sawah dis­er­ahkan kepa­da oknum terse­but den­gan hara­pan anak-anaknya diter­i­ma seba­gai polisi.

4. Lima tahun kemu­di­an, jan­ji itu tidak kun­jung ditepati. Anaknya tidak masuk kepolisian, semen­tara uangnya raib.

5. Belakan­gan, ia menge­tahui bah­wa uang terse­but jus­tru dipakai untuk bermain judi online oleh oknum terse­but.

6. Keke­ce­waan itu ia tumpahkan di ten­gah aksi demo di Pemalang, hing­ga akhirnya viral.

 

Ung­ga­han kisah ini memicu perde­batan pan­jang di kolom komen­tar.

Beber­a­pa war­ganet menyalahkan sang bapak. “Lhaba­paknya malah buka aib sendiri, mau masukin anak ke kepolisian tapi den­gan nyuap. Coba kalau anaknya diter­i­ma jadi polisi pasti diem-diem bae kan?” tulis akun epra­ban­ingsih.

“Bapak ini juga bermasalah logikanya. Nyo­gok itu haram menu­rut aga­ma, dan salah menu­rut hukum. Semestinya si bapak sadar,” komen­tar had­mosak­sono.

“Yae­lah pak, orang dari awal kalau ujung-ujungnya duit, ke depan­nya udah nggak bakal berkah. Coba anaknya kalau jadi polisi, pasti udah petan­ta­ng-peten­teng bapak ini,” tulis akun aziz_fatchulhd.

Namun ada pula yang bersim­pati dan mem­inta agar kasus ini ditin­dak­lan­ju­ti:

“Ya Allah kasi­han mem­bodohi orang susah, semoga pelaku segera ditin­dak­lan­ju­ti,” tulis akun anisaalayrus.

“Udah tahu begi­tu pak, masih aja per­caya. Kasi­han dia sam­pai kayak orang gang­guan,” komen­tar armen.erwin.37 yang men­gaku per­nah meli­hat kisah bapak ini beru­lang kali diung­gah.

  Tanggul Irigasi Jebol di Adisana, Jalan Raya dan Rumah Warga Terendam

Seba­gian lain menye­but bah­wa prak­tik suap dan calo bisa terus hidup kare­na adanya “sup­ply and demand”.

“Nga­pain dibelain bapaknya? Dua-duanya sama aja perusak bangsa ini. Calo ada kare­na ada kon­sumen­nya. Kalau masyarakat nggak nyo­gok-nyo­gok juga nggak akan ada calo,” tulis meda_yulianti.

Kisah ini mem­bu­ka kem­bali luka lama ten­tang prak­tik suap dalam rekrut­men aparatur negara. Di satu sisi, ada masyarakat yang ingin men­cari jalan pin­tas, di sisi lain ada oknum aparat yang meman­faatkan pelu­ang untuk mer­aup keun­tun­gan prib­a­di.

 

Kasus ini meny­oroti beber­a­pa hal pent­ing:

1. Budaya Korup­si dan Suap
Keja­di­an di Pemalang men­ja­di con­toh bagaimana budaya suap masih tum­buh sub­ur. Pros­es selek­si yang seharus­nya murni berdasarkan mer­it jus­tru dima­nip­u­lasi den­gan uang.

2. Kerentanan Masyarakat
Hara­pan orang tua akan masa depan anak ser­ingkali men­ja­di celah empuk bagi oknum tak bertang­gung jawab.

3. Judi Online seba­gai Masalah Serius
Dugaan peng­gu­naan uang hasil penipuan untuk judi online menun­jukkan beta­pa masifnya dampak per­ju­di­an dig­i­tal di Indone­sia.

4. Kri­tik Pub­lik
Komen­tar war­ganet yang beragam mem­per­li­hatkan adanya kesadaran bah­wa prak­tik “jalur belakang” tidak seharus­nya ter­ja­di. Ada tun­tu­tan agar masyarakat berhen­ti mem­beri pelu­ang bagi calo maupun oknum aparat.

Cura­han hati seo­rang pria di Pemalang ten­tang kehi­lan­gan sawah dan uang kare­na jan­ji pal­su oknum polisi viral di media sosial. Kisah ini bukan hanya menggam­barkan pen­der­i­taan seo­rang kor­ban, tetapi juga mencer­minkan per­soalan lebih luas ten­tang prak­tik suap, calo, ser­ta judi online.

Reak­si war­ganet mem­per­li­hatkan dua sisi: sim­pati atas pen­der­i­taan kor­ban, sekali­gus kri­tik ter­hadap men­tal­i­tas masyarakat yang masih per­caya pada jalan pin­tas.

Kini, pub­lik menan­tikan langkah tegas dari aparat terkait untuk men­gusut dugaan keter­li­batan oknum, sekali­gus mem­be­nahi sis­tem agar peri­s­ti­wa seru­pa tidak teru­lang. (Ahm/abd).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *