Makassar, SniperNew.id – Sebuah video yang menyoroti menu makan bergizi gratis (MBG) di salah satu sekolah mendadak menjadi bahan perbincangan hangat di media sosial. Dalam tayangan singkat tersebut, tampak seorang siswa menerima sajian berupa nasi putih dan tempe yang disajikan di dalam kotak makan berbahan stainless steel, Kamis (25/09).
Rekaman ini memicu perdebatan sengit di kalangan warganet terkait kualitas, kelayakan, serta cara pengolahan tempe yang diberikan kepada peserta didik.
Video tersebut pertama kali diunggah oleh akun media sosial dan kemudian disebarkan secara luas, termasuk oleh akun Threads fajar.co.id, pada Senin (tanggal unggahan tidak disebutkan). Dari rekaman yang beredar, terlihat seorang siswa berseragam sekolah dasar sedang mengambil potongan tempe berwarna putih kekuningan dari dalam wadah makan. Tempe itu terlihat masih sederhana tanpa baluran bumbu, gorengan, atau sambal pelengkap. Kondisi inilah yang memicu beragam persepsi.
Sebagian besar warganet menilai bahwa tempe yang disajikan dalam program makan bergizi gratis tersebut tampak belum diolah, bahkan ada yang menyebutnya masih mentah. Kekhawatiran pun muncul, terutama dari kalangan orang tua, mengenai keamanan makanan tersebut bila langsung dikonsumsi anak-anak.
Namun, tidak sedikit pula pihak yang berpendapat berbeda. Mereka meyakini bahwa tempe yang terlihat sederhana itu sebenarnya sudah diproses terlebih dahulu, misalnya dengan cara dikukus atau direbus, sehingga aman untuk dimakan. Pihak yang mendukung pandangan ini juga menilai bahwa penyajian tempe dengan cara minimalis justru lebih sehat karena tidak melalui proses penggorengan dengan minyak.
Pihak yang langsung terlibat dalam peristiwa ini adalah sekolah penyelenggara program makan bergizi gratis. Program MBG sendiri merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan untuk meningkatkan kualitas gizi anak usia sekolah. Meski nama sekolah yang menjadi lokasi viral tidak disebutkan secara jelas, perdebatan mengenai menu makan siang ini meluas hingga melibatkan masyarakat umum, orang tua siswa, ahli gizi, dan pengguna media sosial.
Selain itu, akun media seperti Fajar Online juga menjadi bagian penting dalam penyebaran informasi. Dengan menyajikan potongan video tersebut, isu ini semakin meluas dan menjadi diskusi publik.
Video yang ramai diperbincangkan ini diunggah pada Senin siang (waktu unggahan tertulis “8 menit lalu” saat tangkapan layar diambil). Meski demikian, belum ada konfirmasi resmi kapan tepatnya rekaman tersebut dibuat. Hal ini seringkali terjadi dalam perbincangan di media sosial, di mana waktu unggahan tidak selalu sama dengan waktu pengambilan gambar.
Namun, jelas bahwa isu ini muncul bersamaan dengan gencarnya implementasi program MBG di sejumlah sekolah di Indonesia, terutama di awal tahun ajaran baru.
Lokasi sekolah yang tampak dalam video tidak disebutkan secara spesifik. Dari konteks unggahan, diduga sekolah tersebut berada di salah satu daerah di Indonesia yang menerima program MBG. Latar belakang video memperlihatkan suasana ruang kelas atau ruang makan dengan meja kayu serta murid-murid berseragam merah putih, menunjukkan bahwa kegiatan ini berlangsung di sekolah dasar.
Perdebatan muncul karena adanya perbedaan persepsi mengenai tempe yang disajikan. Sebagian masyarakat menilai bahwa makanan yang diberikan kepada anak-anak dalam program MBG haruslah menarik, enak, sekaligus bergizi agar anak-anak mau mengonsumsinya. Tempe yang tampak sederhana, tanpa bumbu atau proses masak lebih lanjut, dianggap tidak memenuhi ekspektasi tersebut.
Di sisi lain, ada juga yang menilai bahwa standar gizi bukan semata soal tampilan atau rasa, melainkan kandungan nutrisi di dalamnya. Tempe, sebagai salah satu sumber protein nabati yang kaya manfaat, dinilai sudah sangat layak masuk dalam menu makan bergizi, apalagi jika diproses dengan cara yang sehat.
Pihak yang kontra menyebut bahwa penyajian tempe mentah atau setengah matang berisiko bagi kesehatan anak. Mereka khawatir adanya bakteri atau jamur yang bisa berbahaya bila tidak diolah dengan benar. Selain itu, beberapa orang menganggap bahwa sajian seperti itu kurang menarik bagi anak-anak, sehingga bisa membuat program MBG kurang efektif.
Pihak yang pro justru mengapresiasi pilihan menu tersebut. Menurut mereka, tempe yang dikukus atau direbus tetap aman dan sehat. Proses pengolahan tanpa minyak dianggap lebih sesuai dengan kampanye pola hidup sehat, mengingat gorengan kerap dikaitkan dengan masalah kesehatan jangka panjang.
Meski belum ada keterangan resmi dari pihak sekolah atau pemerintah daerah terkait video ini, sejumlah ahli gizi yang dimintai komentar di berbagai forum menyebutkan bahwa tempe mentah memang sebaiknya tidak dikonsumsi. Namun, bila sudah melalui proses perebusan atau pengukusan, tempe tetap aman dan bahkan lebih sehat karena tidak menyerap minyak.
Ahli gizi juga menekankan pentingnya variasi menu dalam program MBG. Menurut mereka, tempe memang bagus sebagai sumber protein, tetapi penyajiannya perlu dipadukan dengan sayuran, lauk lain, atau bumbu sederhana agar anak-anak lebih tertarik untuk makan.
Program makan bergizi gratis (MBG) merupakan salah satu langkah pemerintah untuk mengatasi masalah gizi di kalangan anak sekolah. Data dari Kementerian Kesehatan menunjukkan bahwa masih banyak anak usia sekolah yang mengalami kekurangan gizi mikro, seperti zat besi, kalsium, dan protein.
Dengan adanya MBG, pemerintah berharap anak-anak bisa mendapatkan asupan bergizi minimal sekali dalam sehari saat berada di sekolah. Menu biasanya disesuaikan dengan potensi lokal, ketersediaan bahan makanan, dan keterjangkauan anggaran.
Idealnya, program MBG tidak hanya sekadar menyajikan makanan bergizi, tetapi juga memperhatikan faktor:
1. Kualitas Gizi – Menu harus memenuhi standar protein, karbohidrat, vitamin, dan mineral.
2. Keamanan Pangan – Makanan harus diolah sesuai standar kebersihan agar aman dikonsumsi anak.
3. Keterjangkauan dan Ketersediaan – Bahan yang digunakan sebaiknya mudah diperoleh secara lokal.
4. Daya Tarik – Sajian harus menarik secara rasa dan tampilan agar anak mau mengonsumsi dengan lahap.
5. Edukasi – Program sebaiknya diiringi dengan edukasi gizi kepada anak, guru, dan orang tua.
Dengan begitu, tujuan program tidak hanya sekadar mengenyangkan, tetapi juga memberikan dampak jangka panjang dalam membangun kebiasaan makan sehat.
Kontroversi tempe dalam program MBG di salah satu sekolah ini menjadi cerminan bagaimana publik begitu peduli dengan penyelenggaraan program pemerintah, terutama yang menyangkut anak-anak. Perdebatan mengenai apakah tempe tersebut mentah atau sudah diolah memang penting, tetapi yang lebih utama adalah bagaimana pemerintah, sekolah, dan masyarakat bisa bersinergi memastikan kualitas, keamanan, serta keberlanjutan program makan bergizi gratis.
Program MBG bukan hanya soal menu, tetapi juga soal edukasi, standar gizi, dan tanggung jawab bersama. Tempe, sebagai salah satu pangan lokal Indonesia, sejatinya bisa menjadi pilihan tepat asalkan diolah dengan benar dan disajikan dengan menarik. Dengan demikian, anak-anak tidak hanya mendapatkan makanan gratis, tetapi juga pembelajaran penting tentang pola makan sehat sejak dini. (Ahm/abd).












