Berita Daerah

Kontroversi Program MBG di Sekolah Elit: Antara Kebutuhan dan Persepsi Masyarakat

814
×

Kontroversi Program MBG di Sekolah Elit: Antara Kebutuhan dan Persepsi Masyarakat

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id - Sebuah perde­batan hangat men­cu­at di media sosial sete­lah ung­ga­han akun rumpi_gosip di plat­form Threads men­ja­di viral. Dalam ung­ga­han terse­but, ter­li­hat sejum­lah orang tua murid Seko­lah Al Izzah menyuarakan peno­lakan keras ter­hadap pro­gram MBG (Makan Bersama Gratis). Video dan kuti­pan perny­ataan wali murid itu lang­sung men­u­ai berba­gai reak­si, baik yang men­dukung maupun mengkri­tik, Selasa (30/09).

Kon­tro­ver­si ini bukan hanya soal makanan, tetapi juga ten­tang persep­si kemam­puan ekono­mi, kead­i­lan dis­tribusi pro­gram pemer­in­tah, ser­ta kesen­jan­gan sosial yang tam­pak nya­ta di masyarakat.

Ung­ga­han viral terse­but mem­per­li­hatkan seo­rang wali murid yang meno­lak pro­gram MBG den­gan alasan bah­wa may­ori­tas siswa di seko­lah itu berasal dari kelu­ar­ga mam­pu. Dalam perny­ataan­nya, wali murid terse­but menye­but bah­wa rata-rata orang tua siswa memi­li­ki mobil mewah seper­ti Pajero dan For­tuner. Bahkan, ia meny­ing­gung bah­wa para orang tua merasa tidak per­lu sam­pai mener­i­ma ban­tu­an beru­pa pro­gram makan gratis.

Salah satu kuti­pan­nya yang pal­ing ramai diperde­batkan adalah. “Seba­gian besar anak seko­lah di sini supirnya satu-satu biayanya 3 juta, mobil orang tua rata-rata Pajero, For­tuner. Anak saya aja bilang, ‘Bun­da-bun­da merasa kita nggak mam­pu ya sam­pai harus makan MBG.’”

  Langkah Sunyi di Gang Sempit, Sentra Wyata Guna Bergerak Saat Warga Membutuhkan

Perny­ataan ini memicu reak­si keras. Ada yang meni­lai uca­pan terse­but aro­gan, namun ada pula yang men­gang­gap sang ibu hanya menyuarakan reali­ta bah­wa pro­gram MBG lebih tepat diberikan kepa­da seko­lah-seko­lah di pelosok den­gan siswa yang benar-benar mem­bu­tuhkan.

1. Wali murid Seko­lah Al Izzah. Mere­ka yang merasa pro­gram MBG kurang tepat sasaran, mengin­gat seko­lah terse­but dike­nal elit dan may­ori­tas siswanya berasal dari kelu­ar­ga berke­cuku­pan.

Akun ini yang per­ta­ma kali men­gung­gah video dan kuti­pan perny­ataan wali murid ke plat­form Threads. Hing­ga saat ini ung­ga­han terse­but sudah diton­ton lebih dari 622 ribu kali.

Ribuan komen­tar bermuncu­lan. Ada yang menge­cam sang ibu kare­na diang­gap pamer kekayaan, namun tidak sedik­it pula yang men­dukung den­gan alasan pro­gram MBG seharus­nya dialokasikan ke seko­lah di daer­ah yang lebih mem­bu­tuhkan.

Pro­gram makan gratis ini meru­pakan salah satu kebi­jakan pemer­in­tah yang tujuan­nya mem­ban­tu anak-anak seko­lah agar ter­cukupi gizinya, tan­pa meman­dang latar belakang ekono­mi.

Keja­di­an ini berlang­sung di Seko­lah Al Izzah, sebuah seko­lah swasta yang dike­nal elit. Lokasinya bera­da di perko­taan, di mana fasil­i­tas pen­didikan dan latar belakang ekono­mi siswa may­ori­tas jauh lebih baik diband­ing seko­lah-seko­lah negeri di daer­ah pelosok.

Namun, perde­batan ini kemu­di­an mele­bar di media sosial, sehing­ga tidak hanya ter­batas pada ruang rap­at orang tua murid, melainkan men­ja­di kon­sum­si pub­lik nasion­al.

Ung­ga­han terse­but diung­gah sek­i­tar 10 jam sebelum tangka­pan layar ini dibu­at dan lang­sung menye­bar luas di Threads. Dalam wak­tu kurang dari sehari, ung­ga­han itu sudah men­da­p­at lebih dari 5.700 tan­da suka (likes), 1.400 komen­tar, dan 291 ung­ga­han ulang (reposts).

  Guru, Kepsek, dan Zaman yang Berubah: Curhat Viral di Threads

Perde­batan pun terus berlan­jut hing­ga saat ini, den­gan opi­ni pub­lik yang semakin beragam.

Ada beber­a­pa alasan yang dis­am­paikan dalam ung­ga­han dan komen­tar war­ganet: Banyak orang tua merasa pro­gram MBG seharus­nya difokuskan untuk anak-anak yang benar-benar mem­bu­tuhkan, teruta­ma di seko­lah negeri atau swasta non-elit di daer­ah pelosok.

Beber­a­pa siswa bahkan men­gang­gap memakan MBG seo­lah-olah menun­jukkan keti­dak­mam­puan, sehing­ga muncul rasa eng­gan mener­i­ma.

Seo­rang war­ganet berna­ma bambangpradopo63 menulis bah­wa orang tua akan meno­lak jika anak dipak­sa makan MBG, kare­na khawatir masakan tidak higie­n­is bahkan berpoten­si bera­cun. Ia mene­gaskan biaya rumah sak­it aki­bat ker­a­cu­nan jauh lebih besar diband­ing man­faat MBG.

Seba­gian pihak meni­lai kebi­jakan MBG masih “jom­plang”. Ada seko­lah elit yang mener­i­ma, semen­tara banyak seko­lah di pelosok belum merasakan­nya.

Reak­si pub­lik ter­be­lah men­ja­di dua kutub besar: War­ganet cc_ldc93 meny­atakan men­dukung sang ibu, bukan kare­na som­bong, tetapi kare­na memang MBG seharus­nya diberikan kepa­da yang lebih mem­bu­tuhkan.

wardayuliah_ juga mene­gaskan hal seru­pa, bah­wa lebih baik MBG dialokasikan ke seko­lah di daer­ah pelosok, bukan di pusat kota.

ima­nia­maulid­i­na meni­lai mak­sud ibu terse­but bukan pamer, melainkan menun­jukkan adanya keti­dakadi­lan. Menu­rut­nya, pro­gram ini jus­tru jom­plang keti­ka seko­lah elit bisa dap­at, semen­tara seko­lah non-elit tidak.

Tidak sedik­it yang meni­lai uca­pan wali murid itu meren­dahkan pro­gram pemer­in­tah dan terke­san aro­gan den­gan menye­but mobil mewah seper­ti Pajero dan For­tuner.

Beber­a­pa war­ganet men­gang­gap seharus­nya orang tua tidak mem­per­masalahkan pro­gram, kare­na MBG berlaku untuk semua siswa tan­pa mem­be­dakan kaya atau miskin.

  Perjakon Tegal Gandeng Wartawan, Proyek Dikawal Biar Nggak Ribet

Ada juga yang lebih fokus pada aspek higie­n­is makanan, bukan soal sta­tus sosial.

Seba­gian lain meni­lai wajar jika orang tua khawatir, namun penyam­pa­ian den­gan meny­ing­gung mobil mewah mem­bu­at persep­si pub­lik men­ja­di negatif.

Kon­tro­ver­si ini mem­per­li­hatkan beber­a­pa hal pent­ing: Uca­pan ten­tang mobil mewah dan supir prib­a­di men­ja­di sorotan kare­na mencer­minkan adanya jurang sosial antara seko­lah elit dan seko­lah di pelosok.

Mak­sud sang ibu mungkin baik, yakni agar ban­tu­an dialokasikan ke pihak yang lebih mem­bu­tuhkan. Namun, cara penyam­pa­ian jus­tru menim­bulkan kesan pamer dan memicu kon­tro­ver­si.

Pro­gram MBG sejatinya bertu­juan baik. Namun, jika dis­tribusinya tidak mer­a­ta atau diang­gap kurang tepat sasaran, maka efek­tiv­i­tas­nya patut diper­tanyakan.

Viral di Threads menun­jukkan bagaimana isu lokal cepat berubah men­ja­di isu nasion­al berkat media sosial. Opi­ni pub­lik pun ter­ben­tuk bukan hanya dari fak­ta, tetapi juga persep­si neti­zen.

Kon­tro­ver­si pro­gram MBG di Seko­lah Al Izzah mem­per­li­hatkan bah­wa kebi­jakan pub­lik selalu rentan menim­bulkan pro dan kon­tra, teruta­ma keti­ka menyangkut isu sen­si­tif seper­ti ban­tu­an sosial.

Apa yang dimak­sud­kan seba­gai pro­gram pemer­ataan gizi bagi anak-anak seko­lah jus­tru men­u­ai kri­tik kare­na diang­gap tidak tepat sasaran. Mes­ki begi­tu, pemer­in­tah per­lu mengeval­u­asi imple­men­tasi pro­gram ini, agar benar-benar mem­beri man­faat pada anak-anak yang pal­ing mem­bu­tuhkan, tan­pa menim­bulkan kecem­bu­ru­an sosial.

Pada akhirnya, kon­tro­ver­si ini mem­bu­ka ruang diskusi yang lebih luas: apakah pro­gram uni­ver­sal seper­ti MBG harus berlaku untuk semua, ataukah per­lu difer­en­si­asi agar lebih tepat sasaran. (Ahm/Ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *