Berita Pendidikan

Program MBG Tuai Kritik: Dugaan Korupsi, Gizi Tidak Layak, hingga Usulan Alternatif Pengelolaan

559
×

Program MBG Tuai Kritik: Dugaan Korupsi, Gizi Tidak Layak, hingga Usulan Alternatif Pengelolaan

Sebarkan artikel ini

Jakar­ta, SniperNew.id – Pro­gram Makan Bergizi Gratis (MBG) yang sedang digulirkan pemer­in­tah men­u­ai sorotan tajam dari war­ganet. Sejum­lah kri­tik keras bermuncu­lan di media sosial, meny­oroti dugaan adanya penyalah­gu­naan anggaran, korup­si ber­ja­maah, hing­ga kual­i­tas makanan yang diang­gap tidak layak dikon­sum­si siswa. Polemik ini memu­nculkan perde­batan pub­lik terkait efek­tiv­i­tas pro­gram terse­but dan men­dorong lahirnya berba­gai usu­lan alter­natif pen­gelo­laan, Senin (29/09).

Pro­gram MBG sejatinya dimak­sud­kan untuk mem­berikan makanan bergizi bagi para pela­jar di seko­lah. Namun, sejum­lah ung­ga­han di media sosial Threads mem­per­li­hatkan kere­sa­han masyarakat ter­hadap pelak­sanaan­nya. Seo­rang peng­gu­na berna­ma ban­iear­go menulis, pro­gram MBG jus­tru diduga men­ja­di ladang bis­nis dan korup­si gaya baru yang tidak memenuhi stan­dar gizi.

“MBG diduga men­ja­di ladang bis­nis komer­sial dan korup­si gaya baru dalam pelak­sanaan­nya yang tidak memenuhi stan­dar gizi yang layak dikon­sum­si. Harus ada solusi untuk meng­gan­ti pro­gram MBG yang tidak layak ada di seko­lah. Tugas pemer­in­tah mem­berikan pen­didikan yang layak dan lapan­gan peker­jaan bagi raky­at­nya. Para orang­tua yang wajib ngasih makan anaknya. Intinya stop pro­gram MBG yang banyak mud­harat­nya, digan­ti den­gan ben­tuk lain asal bukan makanan. Itu lebih berman­faat dan ber­daya­gu­na bagi masyarakat,” tulis akun terse­but.

Ung­ga­han itu dis­er­tai video seo­rang siswa yang hanya memegang sepo­tong pisang dan susu dalam kemasan. Peman­dan­gan terse­but memicu sim­pati sekali­gus kemara­han neti­zen, kare­na diang­gap tidak mencer­minkan pro­gram yang menelan anggaran tril­i­u­nan rupi­ah.

  Roadshow Anti-Bullying Kesbangpol Hadir di SMAN 53 Jakarta

Tidak hanya satu akun, beber­a­pa war­ganet lain ikut menuliskan pan­dan­gan­nya. Akun mod­el­te­nun­jeparaid mem­bu­at ilus­trasi hitun­gan poten­si korup­si dalam pro­gram MBG.

“Mis­al 1 kabu­pat­en ada 300 seko­lah, 1 seko­lah ada 1.000 anak, korup­si mis­al 3.000. Jadi korupsinya 300 × 1.000 × 3.000 = 900.000.000.000 per hari. Diba­gi ke 100 oknum, jadi per oknum 9.000.000 per hari. Kita kuli rata-rata sehari 150.000. Mend­ing jadi korup­tor ya,” tulis akun terse­but den­gan nada sarkastik.

Selain itu, akun i.andre888 menyam­paikan solusi alter­natif sejak awal pro­gram MBG dilun­curkan. “Lebih baik berikan bud­get MBG ke pihak seko­lah atau perkumpu­lan wali murid. Biar mere­ka yang kelo­la, pemer­in­tah ting­gal mon­i­tor lewat aplikasi dig­i­tal. Sim­ple dan lebih berkual­i­tas, kare­na anggaran Rp15 ribu itu full untuk makanan siswa. Cukup dimon­i­tor agar transparan. Apa kelema­han­nya den­gan mod­el seper­ti itu? Kelema­han­nya tidak ada proyek, jadi tidak ada dana yang dimark-up, tidak ada yang diko­rup­si,” usul­nya.

Akun lain, rhpsdy_, men­gu­raikan pan­jang lebar bagaimana dana MBG bisa berku­rang drastis dari jum­lah awal hing­ga sam­pai ke siswa.

“Dari atas­nya sih nggak salah, yang salah itu bawah­nya. Bayan­gin dari atas per por­si Rp15 ribu turun ke bawah dipo­tong oknum satu, terus lan­jut ke pen­gelo­la daer­ah potong lagi si oknum sam­pai ke seko­lah jadi Rp8 ribu per por­si. Itu juga dilimpahkan ke orang suruh masak lagi. Yang masak nggak mau rugi, dipo­tong lagi, sam­pai-sam­pai yang dihi­dan­gkan apa adanya dan nggak layak dimakan,” tulis­nya.

Ada pula akun drft.cc yang menyuarakan kegera­man lebih kerasi. “Udah bubarkan saja MBG atau bagian itu. Bangsat tuh orang yang terkait MBG. Bagian yang banyak mer­aup untung tan­pa mikirin orang kecil.”

  Menu MBG Diprotes, Guru Akui Keluhan Soal Makanan Berulang

Semen­tara akun ariefn1304 mengin­gatkan bah­wa proyek besar MBG berni­lai tril­i­u­nan rupi­ah pasti men­gun­dang banyak ven­dor. Namun, kual­i­tas makanan dise­but jus­tru ser­ing dia­baikan. “proyek gede MBG tril­i­u­nan… pasti banyak ven­dor yang mau. Tapi nggak atau kurang per­hatikan kual­i­tas makanan­nya,” tulis­nya.

Polemik ini men­cu­at di media sosial dalam 24 jam ter­akhir melalui ung­ga­han di plat­form Threads, yang kemu­di­an viral dan menye­bar ke berba­gai kanal dig­i­tal. Sejum­lah tang­ga­pan muncul dari berba­gai daer­ah, kare­na pro­gram MBG memang ber­jalan di ham­pir selu­ruh seko­lah di Indone­sia.

Meskipun lokasi ung­ga­han tidak dise­butkan secara spe­si­fik, kon­teks pem­bicaraan neti­zen menun­jukkan bah­wa per­soalan ini ter­ja­di secara nasion­al. Berba­gai hitun­gan, sim­u­lasi, dan kri­tik diarahkan pada imple­men­tasi di tingkat kabu­pat­en hing­ga seko­lah.

Ada beber­a­pa alasan uta­ma men­ga­pa war­ganet ramai-ramai mengkri­tisi pro­gram MBG:

Banyak siswa dise­but hanya mener­i­ma por­si kecil, bahkan ada yang hanya beru­pa pisang dan susu. Hal ini diang­gap tidak sesuai stan­dar gizi yang dijan­jikan.

War­ganet menggam­barkan adanya poton­gan dana mulai dari pusat hing­ga ke tingkat seko­lah. Anggaran Rp15 ribu per siswa dise­but bisa menyusut hing­ga seten­gah­nya.

Sim­u­lasi yang dit­ulis neti­zen menggam­barkan kemu­ngk­i­nan keru­gian negara hing­ga ratu­san mil­iar rupi­ah per hari bila ter­ja­di korup­si masif.

Sejum­lah war­ganet meni­lai orang­tua seharus­nya bertang­gung jawab mem­beri makan anaknya, bukan pemer­in­tah yang jus­tru mem­bu­ka celah korup­si.

Pro­gram MBG diang­gap tidak transparan dalam pen­gelo­laan anggaran dan kual­i­tas makanan, sehing­ga pub­lik sulit melakukan pen­gawasan.

Mes­ki kri­tik deras, beber­a­pa war­ganet menyam­paikan solusi. Ada yang men­gusulkan agar dana MBG lang­sung dis­er­ahkan ke seko­lah atau komite orang­tua siswa, den­gan pen­gawasan dig­i­tal agar lebih transparan.

  HPSN 2026, SDN 1 Antar Berak Tanamkan Karakter Peduli Lingkungan Sejak Dini

Mod­el ini dini­lai mam­pu menekan poten­si penyalah­gu­naan anggaran, sekali­gus meningkatkan kual­i­tas makanan kare­na pen­gelo­laan dilakukan lebih dekat den­gan kebu­tuhan siswa.

Selain itu, seba­gian war­ganet men­dorong agar pemer­in­tah fokus pada pem­ber­ian pen­didikan layak dan lapan­gan ker­ja bagi raky­at. Den­gan begi­tu, orang­tua memi­li­ki kemam­puan ekono­mi yang cukup untuk menye­di­akan makanan bergizi bagi anak-anak mere­ka.

Kri­tik yang muncul mencer­minkan keke­ce­waan pub­lik ter­hadap pro­gram pemer­in­tah yang seharus­nya menye­hatkan gen­erasi muda, namun jus­tru menim­bulkan kon­tro­ver­si. Jika tuduhan poton­gan dana dan kual­i­tas makanan ren­dah benar adanya, maka dampaknya bukan hanya keru­gian keuan­gan negara, melainkan juga berisiko pada kese­hatan anak-anak seko­lah.

Muncul­nya suara-suara lan­tang dari masyarakat mene­gaskan pent­ingnya transparan­si dan pen­gawasan ketat dalam pro­gram ini. Pub­lik menun­tut adanya eval­u­asi serius, bahkan seba­gian menyerukan pem­bubaran pro­gram bila terus men­u­ai mudarat.

Pro­gram MBG yang digadang-gadang seba­gai upaya pen­ingkatan gizi anak bangsa kini bera­da di per­sim­pan­gan jalan. Di satu sisi, niat mulianya sulit dipungkiri. Namun di sisi lain, prak­tik di lapan­gan memu­nculkan banyak tuduhan mir­ing, mulai dari korup­si hing­ga sajian makanan tidak layak.

Per­tanyaan besar pun muncul: apakah pemer­in­tah akan mengeval­u­asi pro­gram ini secara menyelu­ruh, mem­per­baikinya den­gan sis­tem pen­gawasan yang ketat, atau jus­tru mem­biarkan­nya terus ber­jalan den­gan segala kon­tro­ver­si?

Satu hal yang pasti, pub­lik kini menaruh per­ha­t­ian serius pada MBG. Tun­tu­tan transparan­si, kead­i­lan, dan kual­i­tas gizi anak bangsa men­ja­di har­ga mati yang tidak bisa dia­baikan. (Ahm/ABB).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *