Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Investigasi

Duit Debu Diduga Tak Terealisasi, Warga Sikui Pertanyakan Transparansi Dana

611
×

Duit Debu Diduga Tak Terealisasi, Warga Sikui Pertanyakan Transparansi Dana

Sebarkan artikel ini

Bar­i­to Utara, SniperNew.id - Seo­rang pria yang mewak­ili pihak pemer­in­ta­han Desa Sikui, Keca­matan Teweh Baru, Kabu­pat­en Bar­i­to Utara, menyam­paikan pen­gakuan menge­jutkan terkait uang kom­pen­sasi debu dari tiga perusa­haan besar yang berop­erasi di wilayah terse­but. Keti­ga perusa­haan itu adalah PT Tata Usa­ha Baha­gia, PT Mega Mul­ti Ener­gi, dan PT Batara Perkasa.

Dalam video yang diter­i­ma redak­si SniperNew.id pada Selasa, 5 Agus­tus 2025, pria yang dike­tahui men­ja­bat seba­gai Ket­ua RT 02, namun tidak menye­butkan namanya, men­gungkap­kan bah­wa dirinya telah menan­datan­gani surat pengam­bi­lan dana kom­pen­sasi debu dan meny­er­ahkan­nya lang­sung kepa­da masyarakat.

“Saya seba­gai mewak­ili RT. Jika pak Lurah tidak ambil tin­dakan, saya sete­lah menan­datan­gani surat pengam­bi­lan uang kom­pen­sasi debu itu lang­sung saya berikan kepa­da masyarakat,” ujarnya saat dite­mui di kedia­man­nya.

Menu­rut keteran­gan­nya, pem­ba­gian uang dilakukan secara mer­a­ta kepa­da war­ga dan dilakukan dalam jang­ka wak­tu ter­ten­tu.
“Untuk pem­ba­gian­nya uang terse­but itu rata, dan lim­it­ed wak­tu untuk pengam­bi­lan­nya mungkin dua bulan sekali agar uangnya ngumpul,” tam­bah­nya.

  Fortuner B 2188 SJI Terpantau dalam Operasi Reskrim Pancur Batu

Namun, pen­gakuan ini jus­tru memu­nculkan sejum­lah per­tanyaan dari masyarakat. Sejum­lah war­ga men­gaku belum per­nah mener­i­ma dana terse­but, meskipun telah menden­gar adanya per­jan­jian kom­pen­sasi antara perusa­haan tam­bang dan pihak desa.

Kom­pen­sasi debu meru­pakan ben­tuk tang­gung jawab sosial perusa­haan (CSR) aki­bat dampak aktiv­i­tas per­tam­ban­gan, khusus­nya dalam ben­tuk polusi udara yang memen­garuhi kual­i­tas hidup war­ga sek­i­tar. Prak­tik ini laz­im dilakukan perusa­haan tam­bang, ter­ma­suk dalam ben­tuk uang tunai yang dis­alurkan melalui pemer­in­tah desa atau tokoh masyarakat setem­pat.

Namun, real­isas­inya di lapan­gan ser­ingkali tak semu­dah yang ter­tulis di atas ker­tas. Dalam kasus Desa Sikui, bukan­nya meredam kere­sa­han masyarakat, uang kom­pen­sasi jus­tru men­ja­di polemik. Tidak adanya keje­lasan terkait jum­lah, wak­tu pem­ba­gian, hing­ga sia­pa saja pene­r­i­manya, mem­bu­at pub­lik curi­ga akan adanya poten­si penyelewen­gan.

Hing­ga saat ini belum ada keteran­gan res­mi dari Lurah setem­pat maupun pihak per­wak­i­lan perusa­haan tam­bang yang dise­butkan.

Dalam pan­tauan wartawan SniperNew.id, tidak dite­mukan doku­men­tasi res­mi beru­pa daf­tar pener­i­ma, besaran dana, maupun mekanisme dis­tribusi uang kom­pen­sasi terse­but. Ket­ua RT 02 hanya menye­butkan bah­wa pem­ba­gian dilakukan rata, tan­pa men­je­laskan secara rin­ci pros­es admin­is­trat­ifnya.

Min­im­nya buk­ti doku­men­tatif dan pen­gawasan dari pihak ekster­nal mem­bu­at pros­es ini rawan dis­alah­gu­nakan. Kon­disi ini diper­parah den­gan lemah­nya per­an kon­trol sosial, seper­ti BPD (Badan Per­musyawaratan Desa), LSM lokal, atau lem­ba­ga pen­gawas lain yang seharus­nya men­ja­di penye­im­bang.

  Polemik Biaya Seragam SMKN 9 Bandar Lampung, Wali Murid Mengeluh, LSM Desak Disdik Audit Lapangan

Sejum­lah war­ga Desa Sikui yang eng­gan dise­butkan namanya menyam­paikan keke­ce­waan atas tidak adanya transparan­si dalam pen­gelo­laan dana terse­but. Mere­ka men­duga dana kom­pen­sasi yang seharus­nya dinikmati masyarakat luas jus­tru men­gen­dap atau ter­dis­tribusi tidak tepat sasaran.

“Kami tahu ada uang kom­pen­sasi, tapi tidak per­nah merasakan. Kalau memang sudah diba­gi, mana buk­tinya? Jan­gan hanya bicara sudah diberikan, tapi keny­ataan­nya banyak yang tidak tahu dan tidak mener­i­ma,” keluh salah satu war­ga yang dite­mui di lokasi berbe­da.

Muncul­nya kecuri­gaan ini men­dorong desakan dari war­ga kepa­da pihak berwe­nang, ter­ma­suk aparat pene­gak hukum dan dinas terkait, agar melakukan penelusuran men­dalam ter­hadap ali­ran dana kom­pen­sasi terse­but. Mere­ka berharap ada audit ter­bu­ka yang bisa mem­per­li­hatkan transparan­si dan akunt­abil­i­tas peng­gu­naan uang yang dik­laim seba­gai hak masyarakat ter­dampak tam­bang.

Apala­gi, jika benar dana terse­but dis­alurkan dua bulan sekali, artinya sudah ada beber­a­pa kali dis­tribusi sejak awal tahun 2025. Namun buk­ti pener­i­maan dana terse­but masih nihil di mata seba­gian war­ga.

Kon­disi ini menun­jukkan pent­ingnya inter­ven­si dari pemer­in­tah kabu­pat­en maupun provin­si untuk mene­tap­kan stan­dar baku dalam penyalu­ran dana CSR, ter­ma­suk kom­pen­sasi debu. Pemer­in­tah daer­ah seharus­nya hadir seba­gai pen­gawas, bukan sekadar penon­ton di ten­gah kon­flik masyarakat dan perusa­haan.

  Sikap Petugas Disdikbud Pringsewu Disorot, FPII Minta Evaluasi

Dalam kon­teks ini, keje­lasan per­an Lurah dan perangkat desa lain­nya men­ja­di san­gat pent­ing. Jika memang pihak Lurah tidak mengam­bil tin­dakan seba­gaimana perny­ataan Ket­ua RT, maka per­lu ada eval­u­asi menyelu­ruh atas per­an dan tang­gung jawab aparat desa dalam men­gelo­la dana pub­lik.

Kom­pen­sasi debu bukan sekadar uru­san uang. Ini menyangkut hak atas lingkun­gan yang sehat, hak atas infor­masi, dan hak atas kead­i­lan sosial. Jika benar ada masyarakat yang tidak men­da­p­atkan bagian dari dana kom­pen­sasi yang sudah dis­ep­a­kati, maka per­soalan ini tidak bisa dib­iarkan men­gen­dap tan­pa solusi.

Hara­pan masyarakat Desa Sikui seder­hana: mere­ka ingin kepas­t­ian, keter­bukaan, dan kead­i­lan atas dampak yang mere­ka rasakan seti­ap hari aki­bat operasi tam­bang di sek­i­tar wilayah mere­ka.

Per­wak­i­lan SniperNew.id akan terus menelusuri dan men­gaw­al kasus ini, demi memas­tikan suara masyarakat tidak tengge­lam oleh kepentin­gan segelin­tir pihak.

Reporter: Usup Riya­di dan Yohanes Kar­wilus – Bar­i­to Utara
Tang­gal Liputan: 5 Agus­tus 2025
Lokasi: Desa Sikui, Keca­matan Teweh Baru, Kabu­pat­en Bar­i­to Utara, Kali­man­tan Ten­gah


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *