Silalahi, SniperNew.id – Sebuah liputan eksklusif dilakukan di Silalahi Na Bolak, Kecamatan Silahisabungan, Kabupaten Dairi, Sumatera Utara, untuk menelusuri jejak silsilah dan struktur adat keturunan Raja Silahi Sabungan, Selasa (23/09/25).
Tradisi adat yang telah berakar ratusan tahun ini masih terjaga hingga kini, diwariskan turun-temurun, serta tetap dijalankan dengan penuh hormat oleh para tetua adat dan generasi penerus.
Raja Silahi Sabungan adalah leluhur yang sangat dihormati di wilayah Silalahi Na Bolak. Beliau diyakini sebagai figur sentral yang menurunkan delapan garis marga besar atau yang dikenal dengan sebutan Raja Turpuk. Dari garis keturunan inilah lahir sistem adat yang hingga kini mengatur kehidupan sosial masyarakat setempat.
Menurut sejarah lisan yang disampaikan para tetua adat, Raja Silahi Sabungan memiliki delapan orang anak laki-laki dan satu anak perempuan. Kedelapan putranya adalah:
1. Loho Raja (Sihaloho)
2. Tungkir Raja (Situngkir)
3. Sondi Raja
4. Butar Raja (Sidabutar)
5. Dabariba Raja (Sidabariba)
6. Debang Raja (Sidebang)
7. Batu Raja (Pintubatu)
8. Tambun Raja (Tambunan)
Sementara satu-satunya anak perempuan beliau bernama Deang Namora Boru.
Dari delapan garis keturunan laki-laki inilah lahir kelompok adat yang kini dikenal sebagai Raja Turpuk di Silalahi Na Bolak.
Raja Turpuk adalah pemimpin adat yang mewakili masing-masing garis keturunan anak laki-laki Raja Silahi Sabungan. Keberadaan mereka bukan hanya simbolik, melainkan juga memiliki fungsi penting dalam menjaga keseimbangan sosial, adat, dan sumber daya yang dimiliki bersama.
Di Silalahi Na Bolak, setiap marga keturunan memiliki wilayah adat serta sumber air yang terletak di tanah leluhur mereka. Maka, keberadaan Raja Turpuk menjadi garda terdepan dalam menjaga dan mengelola warisan tersebut.
Adapun delapan Raja Turpuk yang kini aktif adalah:
1. Raja Turpuk Sihaloho
2. Raja Turpuk Situngkir
3. Raja Turpuk Rumasondi
4. Raja Turpuk Sidabutar
5. Raja Turpuk Sidabariba
6. Raja Turpuk Sidebang
7. Raja Turpuk Pintubatu
8. Raja Turpuk Tambunan (dalam proses penetapan)
Dalam wawancara khusus, Efendi Sidabutar (65 tahun) yang saat ini menjabat sebagai Raja Turpuk Sidabutar menjelaskan bahwa jabatan ini selalu diberikan kepada anak laki-laki tertua dari masing-masing garis keturunan. Ia juga menyebutkan secara rinci siapa saja yang kini memegang amanah sebagai Raja Turpuk.
Raja Turpuk Sihaloho dijabat oleh Juven Sihaloho, keturunan dari Sinapuran, anak tertua Loho Raja.
Raja Turpuk Situngkir dijabat oleh Marhacil Situngkir.
Raja Turpuk Rumasondi dijabat oleh Oloan Rumasondi.
Raja Turpuk Sidabutar dijabat oleh Efendi Sidabutar.
Raja Turpuk Sidabariba dijabat oleh Jala Sidabariba.
Raja Turpuk Sidebang dijabat oleh Naik Sidebang.
Raja Turpuk Pintubatu dijabat oleh Rianto Pitubatu.
Raja Turpuk Tambunan saat ini masih dalam tahap penetapan, dengan nama calon yakni Payungan Tambunan.
Setiap Raja Turpuk memiliki struktur adat internal yang dijalankan berdasarkan tiga pilar generasi:
1. Raja Jolo – pemangku utama dan pemimpin adat tertinggi.
2. Parbaringin – penanggung jawab kedua, yang membantu menjalankan peran adat.
3. Parsanggar – penanggung jawab ketiga, sekaligus pendukung utama dalam pelaksanaan adat.
Rincian Struktur Adat per Marga
Sihaloho: Raja Jolo dijabat Juven Sihaloho, Parbaringin Darmanus Sihaloho, dan Parsanggar Marudut Sihaloho.
Situngkir: Raja Jolo Marhasil Situngkir, Parbaringin Antoni Situngkir, dan Parsanggar Parnighotan Situngkir Sipangkar.
Rumasondi: Raja Jolo Oloan Rumasondi, Parbaringin Antoni Rumasondi, dan Parsanggar Odjahan Rumasondi. Karena Odjahan berdomisili di luar Silalahi, tugas adat sementara dilimpahkan kepada ayah Lesmar Rumasondi. Setelah ayahnya wafat, Lesmar otomatis melanjutkan peran tersebut.
Sidabutar: Raja Jolo Efendi Sidabutar, Parbaringin Gustinus Sidabutar, dan Parsanggar Lomo Sidabutar.
Sidabariba: Raja Jolo Jala Sidabariba, Parbaringin Salim Sidabariba, dan Parsanggar Jefri Sidabariba.
Sidebang: Raja Jolo Naik Sidebang, Parbaringin Jovolus Sidebang, dan Parsanggar Sulimar Sidebang.
Pintubatu: Raja Jolo Rianto Pitubatu, Parbaringin Junianus Pitubatu, dan Parsanggar Akas Sigiro Pitubatu.
Tambunan: masih dalam proses penetapan struktur resmi.
Tradisi Raja Turpuk bukan sekadar sistem kepemimpinan adat, tetapi juga simbol identitas dan kebersamaan masyarakat Silalahi Na Bolak. Menurut Efendi Sidabutar, nilai adat ini dijaga karena menjadi pedoman dalam mengatur kehidupan bermasyarakat, mulai dari pengelolaan tanah, sumber daya air, hingga penyelesaian konflik.
Selain itu, peran Raja Turpuk juga berkaitan erat dengan ritual adat, perayaan budaya, hingga menjaga keseimbangan hubungan antar-marga. Dalam setiap acara adat, keputusan Raja Turpuk selalu menjadi rujukan utama.
Tanggung jawab seorang Raja Turpuk tidak ringan. Mereka harus memastikan bahwa nilai adat tetap dijalankan sesuai aturan leluhur. Selain itu, mereka juga wajib menjaga keharmonisan antar keturunan, serta melestarikan warisan budaya yang ada.
Masyarakat adat memandang bahwa jabatan ini bukan sekadar warisan darah, tetapi juga amanah yang penuh tanggung jawab. Hal ini terlihat dari cara mereka menyiapkan generasi penerus agar mampu menjalankan fungsi adat ketika tiba saatnya.
Bagi masyarakat Silalahi Na Bolak, keberadaan struktur adat ini adalah penopang utama hubungan sosial. Delapan garis keturunan Raja Silahi Sabungan dipandang sebagai delapan tiang penyangga yang tidak boleh goyah. Bila salah satunya tidak dijalankan, keseimbangan sosial diyakini akan terganggu.
Dengan demikian, keberlangsungan Raja Turpuk bukan hanya soal silsilah, melainkan juga menyangkut harmoni masyarakat.
Seiring perkembangan zaman, tantangan melestarikan adat semakin besar. Namun, wawancara dengan para tetua adat menunjukkan bahwa generasi muda Silalahi Na Bolak tetap memiliki semangat menjaga warisan leluhur.
Mereka tidak hanya memandangnya sebagai tradisi, tetapi juga sebagai identitas yang membedakan mereka dengan masyarakat lain. Dengan demikian, ada harapan besar bahwa sistem Raja Turpuk ini akan terus hidup di masa mendatang.
Liputan ini membuktikan bahwa nilai-nilai adat Raja Silahi Sabungan masih kokoh berdiri di Silalahi Na Bolak. Melalui struktur Raja Turpuk, delapan garis keturunan tetap menjalankan peran masing-masing dalam menjaga warisan leluhur.
Bukan hanya soal silsilah, melainkan juga tentang keseimbangan, kebersamaan, dan tanggung jawab sosial. Dengan adanya generasi penerus yang siap melanjutkan, warisan ini dipastikan akan tetap hidup, menjadi bagian tak terpisahkan dari identitas masyarakat Silalahi Na Bolak. (add/Ahm)












