Berita Daerah

Tradisi Mendio Saruran di Desa Pundilemo Tetap Lestari Turun-Temurun

380
×

Tradisi Mendio Saruran di Desa Pundilemo Tetap Lestari Turun-Temurun

Sebarkan artikel ini

Desa Pundile­mo, Keca­matan Cen­dana, kem­bali mengge­lar tra­disi adat tahu­nan yang dike­nal den­gan sebu­tan Men­dio Saru­ran. Acara ini meru­pakan salah satu upacara adat yang telah diwariskan secara turun-temu­run oleh masyarakat setem­pat, dan hing­ga kini masih tetap dija­ga kelestar­i­an­nya, Rabu (20/08/2025).

Berdasarkan infor­masi yang dibagikan oleh akun media sosial seo­rang peja­bat setem­pat, tra­disi Men­dio Saru­ran berlang­sung di Dusun Baka, Desa Pundile­mo. Acara terse­but dihadiri masyarakat dari berba­gai kalan­gan, ter­ma­suk para tokoh adat, pemu­ka aga­ma, pemer­in­tah desa, hing­ga war­ga yang datang dari luar daer­ah untuk menyak­sikan lang­sung jalan­nya pros­esi.

Dalam ung­ga­han terse­but, ter­li­hat suasana ramai war­ga yang mema­dati lokasi upacara. Mere­ka berkumpul di sek­i­tar sum­ber mata air, sebuah titik yang men­ja­di pusat pelak­sanaan rit­u­al. Tam­pak pula sejum­lah peja­bat meng­gu­nakan paka­ian dinas berwar­na coke­lat, berdiri di ten­gah kera­ma­ian, menan­dakan adanya dukun­gan res­mi ter­hadap pelestar­i­an budaya lokal ini.

Salah satu momen menarik yang terekam dalam gam­bar adalah pros­esi penyi­ra­man air dari sum­ber mata air ke tubuh peser­ta upacara. Air yang diper­cikkan diper­caya memi­li­ki mak­na sim­bo­lis, yaitu mem­ber­sihkan diri, menyu­cikan hati, ser­ta mem­o­hon keberka­han dari Sang Pen­cip­ta untuk kehidu­pan yang lebih baik di masa men­datang.

  Perbaikan Jembatan Barito Sebabkan Kemacetan Panjang di Simpang 4 Handil Bakti

Tra­disi Men­dio Saru­ran bukan sekadar acara ser­e­mo­ni­al, melainkan men­gan­dung nilai-nilai luhur yang telah diwariskan sejak zaman nenek moyang. Bagi masyarakat Dusun Baka, rit­u­al ini men­ja­di sim­bol rasa syukur atas anuger­ah air yang melimpah, sekali­gus doa agar alam tetap mem­berikan kesub­u­ran bagi per­tan­ian dan kehidu­pan sehari-hari.

Air yang digu­nakan dalam pros­esi terse­but biasanya diam­bil lang­sung dari sum­ber mata air ala­mi yang diper­caya suci. Penyi­ra­man air ke tubuh peser­ta dimak­nai seba­gai pem­ber­si­han diri dari segala sifat buruk, sehing­ga masyarakat bisa men­jalani kehidu­pan den­gan hati yang jernih, penuh seman­gat keber­samaan, dan sal­ing meng­har­gai antar sesama.

Selain itu, tra­disi ini juga diang­gap seba­gai ben­tuk peng­hor­matan kepa­da leluhur yang telah mewariskan tanah dan sum­ber daya alam. Den­gan tetap melak­sanakan Men­dio Saru­ran, masyarakat Pundile­mo menun­jukkan rasa hor­mat mere­ka kepa­da gen­erasi ter­dahu­lu, sekali­gus men­ja­ga ikatan per­saudaraan di antara war­ga.

Kehadi­ran aparat pemer­in­tah dalam acara ini menun­jukkan adanya sin­er­gi antara masyarakat adat dan pihak berwe­nang dalam men­ja­ga kelestar­i­an budaya. Para peja­bat yang hadir tam­pak turut ser­ta dalam pros­esi penyi­ra­man, bahkan seba­gian melepas alas kaki dan ikut masuk ke ali­ran air bersama masyarakat. Hal ini mencer­minkan adanya sikap egaliter, bah­wa dalam kon­teks budaya dan tra­disi, semua war­ga memi­li­ki kedudukan yang sama.

Antu­si­asme masyarakat juga ter­li­hat begi­tu besar. Ratu­san orang tumpah ruah di sek­i­tar lokasi acara, menyak­sikan pros­esi den­gan penuh seman­gat. Beber­a­pa di antaranya tam­pak mengabadikan momen den­gan kam­era pon­sel, menan­dakan bah­wa tra­disi ini tidak hanya sakral, tetapi juga men­ja­di kebang­gaan war­ga yang ingin mem­bagikan­nya kepa­da kha­layak luas melalui media sosial.

  Kali Gung Meluap, Warga Jetak Tegal Ronda Malam Antisipasi Banjir

Tra­disi Men­dio Saru­ran adalah bagian pent­ing dari iden­ti­tas masyarakat Desa Pundile­mo. Di ten­gah arus mod­ernisasi, keber­adaan rit­u­al adat ini men­ja­di pengin­gat bah­wa budaya lokal harus terus dija­ga. Masyarakat per­caya, sela­ma tra­disi ini tetap dilak­sanakan, kehidu­pan akan senan­ti­asa diliputi kedama­ian dan keber­samaan.

Sejum­lah tokoh adat menyam­paikan bah­wa pros­esi ini telah berlang­sung sejak ratu­san tahun lalu. Mes­ki detail tata cara pelak­sanaan­nya mungkin men­gala­mi penye­sua­ian seir­ing perkem­ban­gan zaman, esen­si dan mak­na filosofis­nya tetap tidak berubah. Hal ini menun­jukkan adanya kemam­puan masyarakat dalam men­ja­ga tra­disi agar tetap rel­e­van di era sekarang, tan­pa kehi­lan­gan nilai-nilai aslinya.

Budaya adalah iden­ti­tas bangsa. Di berba­gai daer­ah Indone­sia, tra­disi adat seper­ti Men­dio Saru­ran men­ja­di buk­ti beta­pa kaya dan beragam­nya warisan budaya yang kita mili­ki. Oleh kare­na itu, pelestar­i­an tra­disi tidak hanya men­ja­di tang­gung jawab masyarakat adat setem­pat, tetapi juga memer­lukan dukun­gan dari pemer­in­tah, akademisi, hing­ga gen­erasi muda.

Kehadi­ran gen­erasi muda dalam upacara ini pun ter­li­hat nya­ta. Banyak anak-anak dan rema­ja ikut menyak­sikan pros­esi den­gan penuh rasa ingin tahu. Hal ini dihara­p­kan men­ja­di awal bagi mere­ka untuk menc­in­tai dan meng­har­gai tra­disi nenek moyang, sekali­gus memas­tikan bah­wa rit­u­al ini tidak akan hilang dite­lan zaman.

Pemer­in­tah daer­ah, dalam hal ini, memi­li­ki per­an pent­ing untuk men­dukung kegiatan adat seper­ti Men­dio Saru­ran. Dukun­gan bisa beru­pa penye­di­aan fasil­i­tas, pro­mosi seba­gai des­ti­nasi wisa­ta budaya, hing­ga pem­ber­ian ruang edukasi bagi masyarakat luas ten­tang mak­na tra­disi ini. Den­gan demikian, nilai-nilai kear­i­fan lokal dap­at terus hidup, bahkan mem­beri man­faat sosial dan ekono­mi bagi masyarakat sek­i­tar.

  Terkait Pemberitaan Oknum Pensiunan Kecewa dan Merasa di Tipu Oknum ASN SB Itu Tidak Benar!

Bagi war­ga Desa Pundile­mo, Men­dio Saru­ran bukan hanya sekadar rit­u­al, tetapi juga momen­tum keber­samaan. Acara ini selalu men­ja­di ajang silat­u­rah­mi antar­war­ga, mem­per­erat hubun­gan kek­er­abatan, sekali­gus mem­perku­at rasa per­sat­u­an. Tidak her­an jika seti­ap tahun, acara ini selalu ditung­gu-tung­gu oleh masyarakat setem­pat.

Beber­a­pa war­ga yang hadir menyam­paikan rasa bang­ganya ter­hadap tra­disi ini. Menu­rut mere­ka, pelak­sanaan Men­dio Saru­ran tidak hanya melestarikan budaya, tetapi juga men­ja­di media untuk menanamkan nilai keber­samaan pada gen­erasi muda. Den­gan adanya acara ini, mere­ka berharap kehidu­pan sosial masyarakat semakin har­mo­nis, penuh tol­er­an­si, dan selalu men­jun­jung ting­gi nilai-nilai kebu­dayaan.

Tra­disi Men­dio Saru­ran di Desa Pundile­mo, Keca­matan Cen­dana, meru­pakan salah satu buk­ti nya­ta bah­wa budaya lokal masih tetap hidup di ten­gah masyarakat. Pros­esi penyi­ra­man air seba­gai sim­bol penyu­cian diri dan ungka­pan syukur men­ja­di inti dari rit­u­al ini. Kehadi­ran peja­bat pemer­in­tah, tokoh adat, dan antu­si­asme war­ga menun­jukkan bah­wa tra­disi ini masih memi­li­ki tem­pat istime­wa di hati masyarakat.

Den­gan tetap dilestarikan seti­ap tahun, Men­dio Saru­ran bukan hanya men­ja­ga iden­ti­tas budaya, tetapi juga mem­perku­at ikatan sosial dan spir­i­tu­al masyarakat. Tra­disi ini men­ja­di warisan berhar­ga yang layak dija­ga, dike­nalkan, dan diwariskan kepa­da gen­erasi berikut­nya, agar nilai-nilai luhur yang terkan­dung di dalam­nya tetap ter­peli­hara sep­a­n­jang masa.

Edi­tor: (Ahmad)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *