Indramayu, SniperNew.id — Suasana Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, pada Jumat (5/9/2025) terlihat begitu ramai dan penuh antusias. Ribuan warga tumpah ruah mendatangi Masjid Pusaka Baiturrahmah setelah salat Jumat. Mereka berbondong-bondong ingin ikut serta dalam tradisi mandi di sumur keramat yang berada di kompleks masjid tersebut.
Fenomena ini bukanlah hal baru bagi masyarakat setempat. Tradisi mandi di sumur keramat Masjid Baiturrahmah telah berlangsung secara turun-temurun. Namun, momen kali ini terasa lebih istimewa karena bertepatan dengan peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW. Banyak warga percaya bahwa mandi di sumur tersebut pada hari Maulid Nabi akan membawa keberkahan, keselamatan, dan kesehatan.
Dalam sebuah unggahan di media sosial, akun @indramayuupdate membagikan video suasana warga yang berebut air dari sumur keramat. Dalam video itu tampak kerumunan orang, baik laki-laki maupun perempuan, membawa ember, gayung, hingga wadah seadanya. Mereka bergantian menarik air sumur menggunakan timba, lalu menyiramkan air tersebut ke kepala atau langsung dibawa pulang.
“Sehabis salat Jumat, warga berebut mandi di sumur keramat di Masjid Pusaka Baiturrahmah Desa Dermayu, Kecamatan Sindang, Indramayu, Jumat (5/9/2025). Banyaknya warga yang datang untuk mandi ini karena bertepatan dengan Maulid Nabi yang jatuh pada hari ini. Warga percaya dengan mandi di sumur tersebut dapat membawa keberkahan,” tulis akun tersebut dalam keterangan unggahannya.
Sumur di Masjid Pusaka Baiturrahmah dikenal sebagai salah satu peninggalan bersejarah yang dianggap memiliki nilai spiritual tinggi. Menurut cerita yang berkembang di masyarakat, sumur tersebut telah ada sejak ratusan tahun lalu, seiring dengan berdirinya masjid.
Bagi warga, air sumur itu bukan sekadar air biasa. Banyak yang meyakini air tersebut memiliki keistimewaan karena tidak pernah kering meskipun musim kemarau panjang. Selain itu, airnya juga dikenal sejuk, jernih, dan menyegarkan.
Tradisi mandi di sumur keramat ini terutama ramai dilakukan saat momentum tertentu, salah satunya Maulid Nabi. Keyakinan masyarakat berakar pada kepercayaan bahwa mandi dengan air sumur tersebut dapat membawa berkah, menjauhkan dari penyakit, serta mendatangkan ketentraman hidup.
Seorang warga, Siti Aminah (45), mengaku rutin mengikuti tradisi ini setiap tahun. “Sejak kecil saya diajak orang tua untuk mandi di sumur ini kalau Maulid Nabi. Rasanya ada ketenangan batin setelah mandi. Kami percaya ini bagian dari tradisi yang harus dilestarikan,” ujarnya.
Pantauan di lokasi memperlihatkan suasana begitu padat. Setelah salat Jumat selesai, jamaah yang keluar masjid langsung bergegas menuju area sumur. Ada yang langsung menyiram tubuh dengan air dari timba, ada juga yang mengisi wadah untuk dibawa pulang.
Suara riuh tawa, sorakan, dan semangat warga semakin menambah suasana meriah. Beberapa orang bahkan rela antre berdesakan untuk mendapatkan giliran. Meski demikian, kegiatan ini berlangsung dengan tertib karena warga sudah terbiasa melakukannya setiap tahun.
Salah seorang pemuda, Jajang (27), mengaku datang dari desa tetangga hanya untuk ikut mandi. “Saya sengaja datang jauh-jauh, karena ini hanya setahun sekali. Katanya kalau mandi di sini pas Maulid Nabi, InsyaAllah diberi keberkahan hidup,” katanya sambil tersenyum.
Tradisi mandi di sumur keramat seperti ini sering menjadi bahan diskusi di kalangan ulama. Sebagian menilai bahwa kegiatan tersebut masuk dalam ranah budaya dan kearifan lokal yang sudah melekat dalam masyarakat. Selama tidak bertentangan dengan ajaran pokok agama, tradisi ini dianggap bagian dari cara masyarakat mengekspresikan rasa syukur.
Ustaz H. Rohmat, salah satu tokoh agama di Indramayu, menjelaskan bahwa yang terpenting adalah niat dari warga. “Kalau niatnya untuk mencari berkah dari Allah, bukan dari sumur itu sendiri, maka insyaAllah baik. Kita harus meluruskan pemahaman bahwa keberkahan datang dari Allah SWT, sedangkan sumur hanyalah wasilah (perantara),” ujarnya.
Di sisi lain, para pemerhati budaya menilai tradisi ini merupakan kekayaan lokal yang perlu dijaga. Selain sebagai bentuk penghormatan terhadap sejarah, kegiatan ini juga menjadi momen kebersamaan warga.
Tradisi mandi di sumur keramat tidak hanya berdampak pada sisi religius dan budaya, tetapi juga memberi pengaruh pada perekonomian sekitar. Saat kegiatan berlangsung, banyak pedagang kecil yang menjajakan makanan, minuman, hingga perlengkapan mandi di sekitar masjid.
“Setiap Maulid Nabi, saya selalu buka lapak di sini. Alhamdulillah ramai pembeli, lumayan untuk tambahan rezeki,” kata Yanto, seorang pedagang nasi lengko yang berjualan tak jauh dari lokasi masjid.
Selain itu, kegiatan ini juga mendatangkan pengunjung dari luar daerah, yang secara tidak langsung menjadi ajang promosi wisata religi bagi Indramayu.
Menariknya, tradisi mandi sumur keramat kini juga mendapat sorotan lebih luas berkat media sosial. Video yang diunggah akun @indramayuupdate langsung menuai banyak komentar dari netizen. Sebagian mendukung tradisi tersebut karena dianggap melestarikan budaya lokal, sementara sebagian lain mengingatkan agar warga tetap meluruskan niat ibadah sesuai ajaran Islam.
Namun satu hal yang pasti, unggahan tersebut membuat tradisi ini semakin dikenal masyarakat luas. Generasi muda pun jadi tertarik untuk ikut menyaksikan atau bahkan ikut serta.
Tradisi mandi sumur keramat di Masjid Pusaka Baiturrahmah adalah salah satu contoh bagaimana masyarakat Indonesia masih menjaga nilai-nilai budaya yang diwariskan leluhur. Tradisi ini bukan sekadar ritual, melainkan juga perekat kebersamaan warga.
Meski begitu, para tokoh agama tetap mengingatkan pentingnya menyaring keyakinan agar tidak terjebak pada praktik yang menyimpang. Esensi dari perayaan Maulid Nabi adalah meneladani akhlak Rasulullah, sementara tradisi mandi bisa dipahami sebagai ekspresi kebahagiaan masyarakat.
Dengan demikian, menjaga keseimbangan antara budaya dan syariat menjadi kunci agar tradisi ini tetap lestari tanpa kehilangan nilai spiritualnya.
Perayaan Maulid Nabi di Desa Dermayu tahun ini kembali diwarnai dengan semarak tradisi mandi di sumur keramat Masjid Pusaka Baiturrahmah. Ribuan warga berkumpul dengan penuh antusias, membawa ember dan wadah untuk memperoleh air yang diyakini membawa berkah.
Lebih dari sekadar ritual, kegiatan ini menjadi cermin kearifan lokal yang sudah mengakar. Meski ada pro dan kontra, antusiasme warga menunjukkan bahwa tradisi ini masih memiliki tempat istimewa di hati masyarakat.
Di tengah gempuran modernisasi, keberadaan tradisi seperti ini menjadi pengingat bahwa budaya lokal tetap bisa hidup berdampingan dengan nilai agama, selama dijalankan dengan niat yang benar.
Indramayu pun sekali lagi menunjukkan wajahnya sebagai daerah yang kaya akan budaya, tradisi, sekaligus keimanan. Dan sumur keramat Baiturrahmah tetap menjadi saksi bisu betapa masyarakat setempat menjaga warisan leluhur sambil merayakan hari besar Islam dengan penuh khidmat. (Ahmad)













