Berita Daerah

Tradisi Gubyah: Warisan Unik Warga Batang Membuka Bendungan Sungai untuk Menangkap Ikan

171
×

Tradisi Gubyah: Warisan Unik Warga Batang Membuka Bendungan Sungai untuk Menangkap Ikan

Sebarkan artikel ini

Batang, SniperNew.id – Tradisi merupakan bagian penting dalam kehidupan masyarakat, yang tidak hanya menjadi simbol budaya, tetapi juga perekat sosial yang diwariskan lintas generasi. Salah satu tradisi unik yang masih terjaga di Kabupaten Batang, Jawa Tengah, adalah Tradisi Gubyah, Jumat (22/08/25).

Tradisi ini dilakukan oleh masyarakat Desa Pretek, Kecamatan Pecalungan, dengan cara membuka bendungan Sungai Rengas untuk mencari ikan secara massal.

Postingan dari akun media lokal batang_info menjelaskan bahwa Gubyah merupakan kegiatan turun-temurun yang selalu dinanti masyarakat. Tradisi ini biasanya dilakukan sekali dalam setahun, bahkan bisa dua kali, tergantung kondisi sungai dan kesepakatan bersama warga.

Waktu pelaksanaannya umumnya bertepatan pada bulan Syawal dalam kalender Hijriah, serta bulan Agustus dalam kalender Masehi.

Ketika bendungan Sungai Rengas dibuka, aliran air sungai berkurang drastis. Ikan-ikan yang sebelumnya hidup bebas di aliran sungai akan terjebak di kubangan atau sisa aliran air yang menyusut. Inilah yang menjadi momen paling ditunggu masyarakat sekitar, karena mereka dapat turun langsung ke sungai untuk menangkap ikan secara beramai-ramai.

Dalam unggahan yang disertai video singkat, tampak sejumlah warga, baik anak-anak maupun orang dewasa, masuk ke sungai sambil membawa peralatan sederhana seperti ember, jaring, atau bahkan hanya dengan tangan kosong. Suasana penuh kegembiraan terlihat jelas. Beberapa orang dengan cekatan mengangkat ikan yang berhasil ditangkap, lalu memasukkannya ke wadah yang telah disiapkan.

  Gubernur Hidayat Arsani Sidak Dinas Kesehatan, Ingatkan Pegawai: “Tugas Kita Melayani, Bukan Dilayani”

Tradisi Gubyah bukan sekadar kegiatan mencari ikan. Lebih dari itu, Gubyah menjadi simbol kebersamaan masyarakat desa. Dengan melibatkan banyak orang, kegiatan ini menciptakan ruang interaksi sosial, memperkuat tali persaudaraan, sekaligus menghidupkan semangat gotong royong yang menjadi jati diri masyarakat pedesaan.

Menurut cerita warga setempat, kegiatan ini tidak hanya menghadirkan kegembiraan, tetapi juga menjadi ajang silaturahmi antarwarga. Mereka yang sehari-hari sibuk dengan pekerjaan masing-masing bisa berkumpul, bercengkerama, dan merasakan kebersamaan. Bahkan, banyak perantau asal Desa Pretek yang sengaja pulang kampung hanya untuk ikut serta dalam tradisi ini.

“Biasanya Gubyah ditunggu-tunggu masyarakat, apalagi anak-anak. Mereka senang sekali bisa turun ke sungai, merasakan keseruan menangkap ikan langsung dengan tangan. Bagi orang tua, momen ini mengingatkan masa kecil mereka dulu,” ujar salah seorang warga yang turut serta dalam kegiatan tersebut.

Dalam konteks budaya, Gubyah memiliki nilai penting sebagai warisan leluhur. Tradisi ini telah berlangsung selama puluhan tahun dan hingga kini tetap dipertahankan. Meski zaman semakin modern, masyarakat Desa Pretek tetap berusaha melestarikan kearifan lokal ini sebagai bagian dari identitas desa mereka.

Selain aspek budaya, tradisi ini juga memiliki sisi ekologis. Dengan membuka bendungan secara berkala, ekosistem sungai tetap terjaga. Ikan-ikan yang tertangkap biasanya hanya sebagian, sementara sebagian lain tetap dibiarkan berkembang biak di aliran sungai berikutnya. Hal ini menunjukkan adanya kearifan masyarakat dalam menjaga keseimbangan alam.

  Camat Soppeng Riaja Dampingi Tim Kabupaten Tinjau Lahan, Warga Antusias

Pemerintah daerah setempat bahkan menyambut baik tradisi Gubyah. Selain dianggap sebagai kekayaan budaya, tradisi ini juga berpotensi menjadi daya tarik wisata lokal. Jika dikelola dengan baik, Gubyah dapat menjadi agenda wisata tahunan yang mampu menarik wisatawan untuk menyaksikan keunikan masyarakat Batang dalam menjaga warisan budaya mereka.

Bagi masyarakat Desa Pretek, setiap kali bendungan Sungai Rengas dibuka, suasananya selalu semarak. Sejak pagi hari, warga berbondong-bondong menuju sungai, lengkap dengan peralatan seadanya. Tidak ada persiapan khusus yang mahal, karena inti dari kegiatan ini adalah kebersamaan dan kesederhanaan.

Anak-anak biasanya paling antusias. Mereka berlari-lari di pinggir sungai, tertawa riang ketika berhasil menangkap ikan kecil dengan tangan kosong. Sementara orang dewasa lebih serius mencari ikan berukuran besar untuk dibawa pulang. Namun, yang paling penting bukanlah seberapa banyak ikan yang didapat, melainkan rasa bahagia bisa bersama-sama merayakan tradisi turun-temurun ini.

Dalam unggahan akun batang_info, disebutkan pula bahwa saat bendungan dibuka, masyarakat sekitar benar-benar memanfaatkan kesempatan itu untuk mendapatkan ikan. Banyak di antara mereka yang membawa pulang hasil tangkapan untuk diolah menjadi lauk makan bersama keluarga.

Tradisi seperti Gubyah bisa menjadi daya tarik tersendiri bagi wisatawan yang ingin melihat langsung kehidupan masyarakat desa dengan nuansa tradisionalnya. Banyak daerah di Indonesia yang menjadikan tradisi serupa sebagai agenda tahunan wisata budaya. Dengan promosi yang baik, Gubyah berpeluang memperkenalkan Desa Pretek dan Kecamatan Pecalungan ke masyarakat luas.

  Kantor Lurah Binaraga Kosong Jabatan, ASN Enggan Mengisi Karena Sering Banjir

Selain memberi manfaat budaya, kegiatan ini juga bisa berdampak pada perekonomian warga. Pedagang makanan, minuman, hingga peralatan menangkap ikan bisa ikut meramaikan suasana, sehingga memberi tambahan penghasilan.

Di era modern, banyak tradisi yang mulai tergerus oleh perubahan zaman. Namun, Gubyah justru masih bertahan. Ini membuktikan betapa kuatnya ikatan masyarakat terhadap nilai budaya yang mereka miliki.

Tradisi seperti ini penting dijaga agar generasi muda tetap mengenal jati diri mereka. Dengan ikut terlibat langsung, anak-anak belajar mengenai kebersamaan, gotong royong, dan rasa syukur terhadap alam. Nilai-nilai ini tentu sangat berharga sebagai bekal kehidupan mereka kelak.

Tradisi Gubyah di Desa Pretek, Kecamatan Pecalungan, Kabupaten Batang, adalah bukti nyata bahwa budaya lokal masih hidup dan terus dijaga oleh masyarakatnya. Membuka bendungan Sungai Rengas bukan hanya untuk mencari ikan, tetapi juga menjadi simbol kebersamaan, kearifan lokal, serta warisan budaya yang patut dilestarikan.

Di balik kesederhanaannya, Gubyah menghadirkan kegembiraan, mempererat silaturahmi, sekaligus menjaga keseimbangan alam. Inilah kekayaan budaya yang menjadi identitas masyarakat Batang, dan sudah seharusnya mendapat perhatian serta dukungan untuk terus dilestarikan.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *