Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Seribu Jiwa Garda Adat Lampung: Laporan Kasus Dugaan Penghinaan SARA ke Polda

2510
×

Seribu Jiwa Garda Adat Lampung: Laporan Kasus Dugaan Penghinaan SARA ke Polda

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id - Pada Senin, 20 Okto­ber 2025, sek­i­tar pukul 10.00 WIB, ren­cananya akan dilak­sanakan aksi pen­gawalan Lapo­ran Polisi di SPKT Pol­da oleh masyarakat adat Lam­pung dan para tokoh suku Lam­pung. Titik kumpul dite­tap­kan di depan Masjid Raya Airan di Jl. Teru­san Ryacudu (sebelum Pol­da). Aksi ini mere­spon dugaan penghi­naan SARA yang dini­lai telah menyak­i­ti hati masyarakat dan memicu kegaduhan sosial. Ter­la­por dalam kasus ini adalah Kepala Dinas Kes­bang­pol Mesu­ji, Tau­fik Wido­do.

Akan dige­lar aksi pen­gawalan pela­po­ran ke polisi ter­hadap dugaan penghi­naan berba­sis SARA yang ditu­jukan kepa­da Suku Lam­pung.

Penghi­naan terse­but dik­laim telah “melukai dan menyak­i­ti hati Suku Lam­pung” ser­ta menye­babkan “kegaduhan dan gejo­lak sosial.”

  Hangatnya Spirit 80: Jokowi dan Ibu Iriana Hadiri Reuni Kehutanan UGM, Banjir Nostalgia dan Semangat Persahabatan

Pihak pela­por meni­lai bah­wa uca­pan atau tin­dakan ter­la­por telah meren­dahkan iden­ti­tas suku Lam­pung dan mele­cehkan keber­adaan tanah adat.

Pela­po­ran akan dilakukan di SPKT Pol­da den­gan pen­dampin­gan dari masyarakat adat dan tokoh Lam­pung.

Pela­por / pen­gaw­al aksi: Masyarakat adat Lam­pung dan kurang lebih 1.000 tokoh Lam­pung dijad­walkan bergabung dalam pen­gawalan.

Ter­la­por: Kepala Dinas Kes­bang­pol Kabu­pat­en Mesu­ji, Tau­fik Wido­do.

Instan­si yang dila­pori: SPKT (Sen­tra Pelayanan Kepolisian Ter­padu) di Pol­da.

Lokasi aksi: di depan Masjid Raya Airan, Jl. Teru­san Ryacudu. Wak­tu aksi: Senin, 20 Okto­ber 2025, mulai pukul 10.00 WIB. Tang­gal: Senin, 20 Okto­ber 2025. Jam berkumpul: Pukul 10.00 WIB

Wak­tu pela­po­ran: sete­lah berkumpul di titik terse­but, dilan­jutkan ke SPKT Pol­da.

Titik kumpul: Depan Masjid Raya Airan, Jl. Teru­san Ryacudu (sebelum Pol­da). Lokasi pela­po­ran: SPKT Pol­da (kan­tor polisi)

Wilayah caku­pan isu terkait Mesu­ji, Lam­pung, kare­na ter­la­por adalah peja­bat Kes­bang­pol Mesu­ji.

Kare­na unsur penghi­naan SARA diang­gap mele­cehkan marta­bat suku Lam­pung dan merusak ikatan sosial.

  Cafe Viral di Payakumbuh Disorot, Pemilik Diminta Patuhi Aturan Kesusilaan

Tin­dakan terse­but diang­gap memicu kon­flik iden­ti­tas, merun­tuhkan rasa keber­samaan, dan men­gan­cam sta­bil­i­tas masyarakat adat Lam­pung.

Masyarakat Lam­pung ingin mene­gaskan bah­wa suku Lam­pung itu ada, tanah adat itu ada, dan tidak boleh dihi­na sem­barangan.

Pen­gawalan aksi dilakukan agar lapo­ran polisi ber­jalan lan­car dan agar suara masyarakat adat diden­gar secara res­mi.

Den­gan begi­tu, dihara­p­kan ter­la­por bertang­gung jawab dan ada pros­es hukum yang adil.

1. Pengumpu­lan mas­sa – mas­sa adat dan tokoh berkumpul di titik yang telah diten­tukan (depan Masjid Raya Airan) pada pk. 10.00 WIB.

2. Koor­di­nasi bersama aparat kea­manan – agar aksi tert­ib dan tidak ter­ja­di gesekan.

3. Penyusunan doku­men lapo­ran – buk­ti, sak­si, dugaan penghi­naan SARA dike­mas dalam surat lapo­ran polisi.

4. Pela­po­ran ke SPKT Pol­da – secara res­mi dis­am­paikan dis­er­tai pen­dampin­gan tokoh adat atau kuasa hukum.

5. Pen­gawalan aksi – tokoh dan masyarakat men­ja­ga agar prose­dur ber­jalan lan­car.

6. Mon­i­tor­ing lan­ju­tan – sete­lah lapo­ran, masyarakat akan meman­tau perkem­ban­gan penye­lidikan dan pros­es hukum.

  Ribuan Buruh Jabodetabek Mulai Padati DPR untuk Aksi Damai

Peja­bat Tau­fik Wido­do sebelum­nya telah dike­nal seba­gai Kepala Badan Kes­bang­pol Mesu­ji sete­lah dilan­tik dari posisi camat Mesu­ji. Belakan­gan, namanya sem­pat men­ja­di sorotan terkait kon­flik agraria di Mesu­ji.

Dari lapo­ran media, Kadis Kes­bang­pol Mesu­ji per­nah menyam­paikan per­mintaan maaf atas perny­ataan soal lahan mar­ga yang diang­gap kon­tro­ver­sial.

Dalam kon­flik agraria, Kadis Kes­bang­pol menye­but bah­wa provin­si Lam­pung “tidak dike­nal adanya tanah adat” seba­gai bagian dari argu­men­tasi medi­asi, yang memicu reak­si dari masyarakat adat.

Pros­es medi­asi den­gan berba­gai unsur (Pemkab Mesu­ji, Forkopim­da, BPN) telah dilakukan dalam penye­le­sa­ian sen­gke­ta agraria.

Aksi pen­gawalan lapo­ran ini dihara­p­kan jadi momen­tum agar per­soalan penghi­naan ter­hadap iden­ti­tas suku Lam­pung dire­spons secara hukum dan moral. Masyarakat adat mene­gaskan bah­wa mere­ka tidak akan ting­gal diam keti­ka sim­bol, hak, dan marta­bat mere­ka diin­jak. Pub­lik menung­gu perkem­ban­gan lebih lan­jut, apakah pros­es hukum akan ber­jalan adil, transparan, dan berim­bang antara pen­gadu dan ter­la­por. (Suf).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *