Yogyakarta, SniperNew.id – Suasana pengelolaan masjid biasanya identik dengan kegiatan ibadah, pengajian, atau aktivitas keagamaan yang sifatnya formal. Namun, di Masjid Nurul Ashri, Deresan, Yogyakarta, wajah pengelolaan rumah ibadah itu terlihat berbeda. Hal ini berkat keberanian memberi ruang bagi anak-anak muda untuk berkreasi. Mereka diberi kebebasan penuh untuk mengelola masjid sesuai gagasan, kreativitas, serta semangat sosial yang mereka miliki, Rabu (27/08).
Hasilnya, lahirlah berbagai inovasi yang tidak hanya bermanfaat bagi jamaah, tetapi juga masyarakat sekitar. Salah satunya yang kini ramai diperbincangkan adalah program “Makan Serba Seribu”, sebuah kegiatan berbagi makanan dengan harga sangat terjangkau, namun tetap bernilai ibadah dan manfaat luas.
Banyak yang beranggapan masjid hanya bisa dikelola oleh orang-orang dewasa atau kalangan sepuh. Namun, pandangan itu perlahan berubah. Di Masjid Nurul Ashri, generasi muda mendapat kepercayaan untuk menjalankan roda kegiatan.
Mereka bebas merancang program, berinovasi, dan mengatur aktivitas masjid, asalkan tetap berada dalam koridor kemaslahatan umat. Dari tangan mereka lahirlah ide-ide unik, seperti program kajian dengan format lebih santai, media dakwah digital, hingga aksi sosial yang menyentuh masyarakat secara langsung.
Salah satu inisiatif yang mencuri perhatian adalah gerakan berbagi makanan murah, yang diberi nama “Makan Serba Seribu”. Program ini hadir dari kegelisahan anak muda akan kondisi sosial-ekonomi sebagian masyarakat, terutama kalangan pekerja informal, tukang becak, pedagang kecil, hingga warga kurang mampu yang kerap kesulitan memenuhi kebutuhan makan sehari-hari.
Dengan harga Rp1.000 saja, siapa pun bisa menikmati makanan hangat dan bergizi di sekitar masjid. Program ini tidak hanya meringankan beban warga, tetapi juga menumbuhkan rasa kebersamaan dan solidaritas sosial.
Program ini dijalankan secara sederhana namun penuh makna. Relawan muda masjid menyiapkan makanan dalam jumlah tertentu setiap harinya. Dana operasional dihimpun dari donatur melalui rekening resmi Yayasan Nurul Ashri Deresan Yogyakarta.
Beberapa bank yang digunakan untuk menyalurkan donasi antara lain:
BSI (Bank Syariah Indonesia): 71331–80723
BNI: 6660–000562
BRI: 21640–1000459560.
Para donatur diminta menambahkan kode unik 150 pada akhir nominal transfer, misalnya Rp100.150. Hal ini untuk memudahkan pencatatan administrasi dan pelaporan keuangan agar lebih transparan.
Setelah dana terkumpul, tim pengelola masjid menggunakannya untuk membeli bahan makanan, mengolah, dan kemudian membagikan kepada masyarakat sekitar. Para relawan muda terjun langsung, mulai dari menyiapkan menu, mengemas, hingga melayani warga yang datang.
Meski harga yang dibayarkan hanya Rp1.000, kualitas makanan tetap dijaga. Menu dibuat bergizi dengan memperhatikan kebutuhan nutrisi, sehingga benar-benar bisa menjadi santapan yang layak.
Program ini mendapat sambutan hangat dari berbagai kalangan. Banyak warga yang merasa terbantu, terutama pekerja harian dan warga kurang mampu. Kehadiran makanan murah di sekitar masjid bukan hanya soal kebutuhan perut, tetapi juga simbol kepedulian dan keberpihakan sosial.
Seorang tukang ojek yang turut menikmati program ini mengaku sangat terbantu. “Biasanya untuk makan siang saya harus keluar Rp10.000 sampai Rp15.000. Dengan adanya program ini, cukup Rp1.000 saya bisa makan enak. Uangnya bisa saya tabung untuk kebutuhan lain,” ujarnya dengan wajah sumringah.
Bagi relawan muda, keberhasilan program ini bukan hanya soal jumlah makanan yang bisa dibagikan, tetapi lebih pada nilai kebersamaan. Mereka melihat bagaimana masjid bisa menjadi pusat solusi sosial, bukan hanya tempat ibadah ritual.
Salah satu kunci keberhasilan program ini adalah keterbukaan pengelolaan dana. Setiap donasi yang masuk dilaporkan secara berkala, dan para donatur bisa melakukan konfirmasi melalui nomor kontak admin yang tersedia, yaitu +62 851‑7974-0455 (Admin Ica).
Langkah ini menunjukkan keseriusan pengurus masjid dalam menjaga amanah. Kepercayaan masyarakat semakin besar karena mereka tahu bahwa setiap rupiah yang disumbangkan benar-benar digunakan untuk kegiatan sosial, bukan kepentingan lain.
Transparansi inilah yang kemudian menarik semakin banyak donatur, baik dari dalam maupun luar Yogyakarta. Bahkan, tidak sedikit masyarakat yang mengenal program ini lewat media sosial dan akhirnya ikut berdonasi.
Program Makan Serba Seribu menjadi bukti nyata bahwa masjid bisa berperan lebih luas. Tidak sekadar sebagai tempat ibadah, masjid juga mampu menjadi pusat kegiatan sosial, ekonomi, dan pemberdayaan masyarakat.
Anak-anak muda yang terlibat menyadari bahwa keberadaan masjid harus memberi manfaat nyata bagi lingkungan sekitarnya. Dengan kreativitas mereka, masjid kini tidak lagi dipandang kaku, melainkan sebagai ruang inklusif yang ramah semua kalangan.
Langkah ini sekaligus menjawab tantangan zaman, di mana masjid perlu beradaptasi dengan perkembangan sosial dan kebutuhan masyarakat modern. Jika dahulu masjid lebih sering menjadi pusat pengajian, kini fungsinya meluas sebagai wadah aktivitas sosial yang solutif.
Apa yang dilakukan oleh Masjid Nurul Ashri bisa menjadi inspirasi bagi masjid lain di berbagai daerah. Memberikan ruang bagi anak muda untuk berkreasi terbukti membawa dampak positif. Kreativitas mereka menghasilkan ide-ide segar yang mungkin tidak terpikirkan oleh generasi sebelumnya.
Tentunya, kunci keberhasilan terletak pada keseimbangan. Anak muda diberi kebebasan, tetapi tetap dengan bimbingan dan arahan dari para tokoh agama serta pengurus senior. Dengan sinergi tersebut, inovasi berjalan tanpa meninggalkan nilai-nilai syariat.
Banyak pihak berharap program serupa bisa diadopsi di masjid-masjid lain, sehingga semakin banyak masyarakat yang merasakan manfaat.
Melihat antusiasme masyarakat dan keberhasilan program sejauh ini, pengelola Masjid Nurul Ashri berencana memperluas cakupan kegiatan. Jumlah porsi makanan akan ditambah, serta variasi menu diperbanyak.
Selain itu, ada rencana untuk menjadikan program ini berkelanjutan dengan melibatkan lebih banyak donatur tetap. Harapannya, kegiatan ini bisa berjalan jangka panjang, bukan sekadar musiman.
Bagi anak-anak muda yang terlibat, pengalaman ini menjadi bekal berharga. Mereka belajar bahwa mengelola masjid bukan hanya soal administrasi dan kegiatan keagamaan, tetapi juga tentang bagaimana menghadirkan manfaat nyata bagi umat.
Kisah Masjid Nurul Ashri Deresan Yogyakarta adalah contoh bahwa ketika anak muda diberi kesempatan mengelola masjid, hasilnya bisa luar biasa. Dengan kreativitas, kepedulian, dan semangat kebersamaan, mereka menghadirkan program unik namun sarat manfaat: Makan Serba Seribu.
Program ini bukan hanya memberi makan dengan harga murah, tetapi juga menghidupkan kembali peran masjid sebagai pusat kebersamaan dan solusi sosial.
Di tengah tantangan ekonomi masyarakat, langkah kecil ini menjadi cahaya yang menumbuhkan harapan. Bahwa masjid bukan hanya tempat sujud, tetapi juga rumah kebaikan yang selalu hadir untuk umat. (Tim)













