Berita Daerah

Masyarakat Adat Halangan Ratu Desak PTPN I Hentikan Klaim Tanah Adat, Minta Dialog Terbuka

705
×

Masyarakat Adat Halangan Ratu Desak PTPN I Hentikan Klaim Tanah Adat, Minta Dialog Terbuka

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id - Masyarakat adat Tiyuh Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, meny­atakan penye­salan dan keber­atan atas tin­dakan PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari Natar, Lam­pung Sela­tan, yang memasang plang bertuliskan klaim kepemi­likan negara di atas tanah adat mere­ka, Jumat (17/10).

Plang terse­but memu­at keteran­gan bah­wa kebun saw­it di wilayah terse­but meru­pakan aset negara yang berasal dari Hak Erf­pacht yang dina­sion­al­isasi.

Menu­rut masyarakat adat, tin­dakan itu dini­lai menye­satkan dan berpoten­si menim­bulkan kesalah­pa­haman pub­lik men­ge­nai sta­tus tanah adat Tiyuh Halan­gan Ratu. Mere­ka mene­gaskan bah­wa tanah terse­but adalah warisan turun-temu­run masyarakat mar­ga Way Semah, yang hing­ga kini belum per­nah digan­ti rugi atau digan­ti gul­ing oleh pemer­in­tah maupun pihak perusa­haan.

Kasus ini men­cu­at keti­ka sejum­lah war­ga adat men­e­mukan plang baru bertuliskan klaim milik negara yang dipasang oleh pihak PTPN I Region­al 7 di kawasan kebun saw­it yang bera­da dalam wilayah adat Halan­gan Ratu.
Menu­rut war­ga, tin­dakan itu diang­gap tidak memi­li­ki dasar hukum yang jelas, kare­na wilayah terse­but telah lama men­ja­di bagian dari tanah ulay­at masyarakat adat Way Semah.

Salah satu tokoh adat, Dah­san gelar Kha­ja Tuan, menyam­paikan kepri­hati­nan­nya. Ia meni­lai langkah PTPN I terse­but jus­tru dap­at mem­ban­gun opi­ni negatif ter­hadap pemer­in­tah dan memicu kete­gan­gan antara masyarakat dan perusa­haan.

“Kami san­gat menyayangkan tin­dakan ini kare­na bisa menim­bulkan kesan bah­wa pemer­in­tah mer­am­pas tanah adat dan tidak meng­hor­mati kon­sti­tusi,” ujar Kha­ja Tuan, Puy­im­bang Adat Tiyuh Halan­gan Ratu, Rabu (15/10/2025).

  Bus Terjebak Banjir 3 Hari, 20 Penumpang Selamat Tiba di Lhokseumawe

Per­soalan ini tidak berdiri sendiri. Sebelum­nya, masyarakat juga meny­oroti kebi­jakan PTPN I Region­al 7 Rejosari yang menye­wakan lahan sek­i­tar 31 hek­tare kepa­da masyarakat den­gan tarif Rp8 juta per hek­tare per tahun untuk ditana­mi jagung. Lahan terse­but bera­da di ten­gah-ten­gah kebun saw­it yang ditanam di atas tanah adat Tiyuh Halan­gan Ratu.

Kebi­jakan sewa lahan ini dini­lai seba­gai indikasi bah­wa perusa­haan men­gakui tanah terse­but bukan sepenuh­nya milik negara, sebab penye­waan dilakukan kepa­da masyarakat tan­pa keje­lasan dasar hak atas tanah.

Bagi war­ga adat, prak­tik terse­but semakin mem­perku­at dugaan adanya tumpang tindih klaim dan pelang­garan ter­hadap hak masyarakat adat.

“Kalau memang tanah itu milik negara atau perusa­haan, kena­pa jus­tru dis­e­wakan kepa­da kami den­gan biaya ting­gi? Ini mem­bin­gungkan dan tidak adil,” ujar salah satu war­ga.

Masyarakat adat Halan­gan Ratu mene­gaskan, tanah yang dipasan­gi plang terse­but meru­pakan tanah adat mar­ga Way Semah. Wilayah itu telah men­ja­di tem­pat hidup, berco­cok tanam, dan men­ja­ga warisan leluhur sela­ma ratu­san tahun.

Menu­rut mere­ka, tidak per­nah ada surat gan­ti rugi, kom­pen­sasi, maupun kepu­tu­san pemer­in­tah yang men­gal­ihkan hak kepemi­likan atas tanah terse­but.

Oleh kare­na itu, mere­ka meni­lai tin­dakan pemasan­gan plang oleh PTPN I Region­al 7 seba­gai upaya sepi­hak yang pro­vokatif dan merusak hubun­gan har­mo­nis antara masyarakat, perusa­haan, dan pemer­in­tah.

Kha­ja Tuan berharap agar PTPN I menghen­tikan segala aktiv­i­tas yang diang­gap pro­vokatif dan mem­bu­ka ruang dia­log ter­bu­ka bersama masyarakat adat, pemer­in­tah daer­ah, ser­ta instan­si terkait seper­ti ATR/BPN.

“Kami ingin per­soalan ini dis­e­le­saikan den­gan cara baik, bukan den­gan opi­ni yang jus­tru mem­perkeruh hubun­gan antara masyarakat, perusa­haan, dan pemer­in­tah,” tegas­nya.

  Menteri ATR/BPN Gandeng Pemuka Agama Sulut, Pastikan Tanah Rumah Ibadah Aman dan Bersertifikat

Dalam menyam­paikan protes­nya, masyarakat adat men­gacu pada Pasal 18B Ayat (2) Undang-Undang Dasar 1945, yang mene­gaskan bah­wa negara men­gakui dan meng­hor­mati kesat­u­an-kesat­u­an masyarakat hukum adat beser­ta hak-hak tra­di­sion­al­nya, sep­a­n­jang masih hidup dan sesuai den­gan perkem­ban­gan masyarakat ser­ta prin­sip Negara Kesat­u­an Repub­lik Indone­sia.

Selain itu, Undang-Undang Pokok Agraria (UUPA) Nomor 5 Tahun 1960 juga men­ja­di dasar hukum pent­ing, kare­na mene­gaskan pen­gakuan ter­hadap hak ulay­at masyarakat adat sela­ma masih ada dan diakui keber­adaan­nya.

Masyarakat juga meny­ing­gung perny­ataan Menteri Agraria dan Tata Ruang/Kepala BPN yang mene­gaskan bah­wa tanah adat bukan meru­pakan milik negara, melainkan milik masyarakat adat yang memi­li­ki dasar sejarah dan pen­gakuan hukum adat.

Den­gan men­gacu pada keten­tu­an hukum terse­but, masyarakat adat meni­lai bah­wa klaim PTPN I ter­hadap tanah adat Way Semah tidak memi­li­ki legit­i­masi hukum yang kuat.

Pemasan­gan plang klaim aset negara oleh PTPN I Region­al 7 dikhawatirkan dap­at memicu kon­flik sosial di lapan­gan, mengin­gat tanah terse­but memi­li­ki nilai his­toris dan emo­sion­al ting­gi bagi masyarakat adat.

War­ga men­gaku khawatir tin­dakan terse­but dap­at mem­bu­ka pelu­ang bagi muncul­nya pro­vokasi, gesekan antar­war­ga, bahkan poten­si krim­i­nal­isasi ter­hadap tokoh adat.

Tokoh-tokoh adat meni­lai, pemer­in­tah daer­ah dan aparat pene­gak hukum harus bersikap netral dan men­jem­bat­ani komu­nikasi antara masyarakat dan perusa­haan agar per­masala­han tidak berkem­bang men­ja­di kon­flik hor­i­zon­tal.

“Kami tidak meno­lak inves­tasi atau perusa­haan negara, tapi jan­gan sam­pai men­gor­bankan hak masyarakat adat. Kami ingin kead­i­lan dan pen­gakuan atas tanah warisan leluhur kami,” ungkap Kha­ja Tuan.

Masyarakat adat Tiyuh Halan­gan Ratu berharap Pemer­in­tah Kabu­pat­en Pesawaran dan Pemer­in­tah Provin­si Lam­pung dap­at segera turun tan­gan meme­di­asi per­masala­han ini.
Mere­ka juga mem­inta Kementer­ian ATR/BPN melakukan pen­in­jauan ulang ter­hadap sta­tus hukum lahan yang dik­laim oleh PTPN I, ser­ta memas­tikan tidak ada pelang­garan ter­hadap hak-hak masyarakat adat.

  Toilet Rusak di PELINDO Tanjung Priok - Belawan, Penumpang Keluhkan Ketidaknyamanan

Masyarakat mene­gaskan bah­wa tidak meno­lak keber­adaan PTPN I seba­gai bagian dari perusa­haan negara yang berkon­tribusi ter­hadap perekono­mi­an nasion­al, namun mere­ka menun­tut peng­hor­matan ter­hadap hak adat dan kon­sti­tusi.

“Kami tidak ingin masalah ini men­ja­di pan­jang. Kami hanya ingin keje­lasan sta­tus tanah kami dan per­lin­dun­gan dari pemer­in­tah,” ujar salah satu tokoh muda adat Way Semah.

Masyarakat adat Halan­gan Ratu men­gusulkan tiga langkah konkret untuk menye­le­saikan per­soalan ini secara damai dan bermarta­bat:

1. Dia­log Ter­bu­ka
Meng­hadirkan pihak PTPN I Region­al 7, pemer­in­tah daer­ah, ATR/BPN, dan per­wak­i­lan masyarakat adat untuk mem­ba­has sta­tus tanah secara ter­bu­ka dan transparan.

2. Audit Legal­i­tas Lahan
Mem­inta pemer­in­tah pusat dan daer­ah melakukan ver­i­fikasi ter­hadap doku­men dan sejarah kepemi­likan tanah, ter­ma­suk asal-usul Hak Erf­pacht yang dik­laim telah dina­sion­al­isasi.

3. Mora­to­ri­um Aktiv­i­tas Perusa­haan
Mem­inta PTPN I menghen­tikan semen­tara kegiatan pemasan­gan plang, penye­waan lahan, atau aktiv­i­tas baru di wilayah adat hing­ga per­soalan hukum sele­sai.

Per­soalan antara masyarakat adat Tiyuh Halan­gan Ratu dan PTPN I Region­al 7 Rejosari Natar meru­pakan potret klasik kon­flik agraria di Indone­sia, di mana klaim kepemi­likan antara negara, perusa­haan, dan masyarakat adat ker­ap tumpang tindih.

Kasus ini mene­gaskan pent­ingnya pen­gakuan nya­ta ter­hadap hak-hak masyarakat adat seba­gaimana dijamin kon­sti­tusi, agar tidak menim­bulkan keti­dakadi­lan dan kon­flik sosial di kemu­di­an hari.

Masyarakat berharap semua pihak dap­at mena­han diri, mengede­pankan dia­log, dan men­cari solusi yang meng­hor­mati hukum adat ser­ta keten­tu­an perun­dang-undan­gan nasion­al. Den­gan langkah yang bijak dan ter­bu­ka, per­soalan ini dihara­p­kan dap­at dis­e­le­saikan secara damai, adil, dan berkead­i­lan bagi selu­ruh pihak. (penulis: sufiyawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *