Berita Daerah

Jaga Marwah Adat Lampung, Sukardi Asyah Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Penghinaan di Media Sosial

388
×

Jaga Marwah Adat Lampung, Sukardi Asyah Tempuh Jalur Hukum atas Dugaan Penghinaan di Media Sosial

Sebarkan artikel ini

Ban­dar Lam­pung, SniperNew.id — Langkah tegas diam­bil oleh Sukar­di Asyah, Ket­ua Umum Angkatan Muda Badik Lam­pung (AMBL), sete­lah mar­wah dan kehor­matan suku adat Lam­pung dise­but-sebut ter­ce­mar aki­bat ung­ga­han dan per­caka­pan di media sosial. Ia res­mi mela­porkan dugaan tin­dak pidana penghi­naan dan pence­maran nama baik ke Sen­tra Pelayanan Kepolisian Ter­padu (SPKT) Pol­da Lam­pung) pada Senin (20 Okto­ber 2025).

Lapo­ran Sukar­di diter­i­ma secara res­mi oleh pihak kepolisian den­gan Surat Tan­da Ter­i­ma Lapo­ran (STTLP) Nomor: STTLP/B/2482/X/2025/SPKT/POLDA LAMPUNG. Petu­gas yang mener­i­ma lapo­ran terse­but adalah Aip­tu Des­fan Arif­zon, S.H., yang bertu­gas mewak­ili SPKT Pol­da Lam­pung.

Dalam lapo­ran terse­but, Sukar­di menyam­paikan dugaan bah­wa telah ter­ja­di penghi­naan dan pence­maran nama baik ter­hadap dirinya dan ter­hadap suku adat Lam­pung melalui aplikasi What­sApp.

Pesan yang terse­bar di salah satu grup per­caka­pan itu dini­lai men­gan­dung unsur SARA (Suku, Aga­ma, Ras, dan Antar­go­lon­gan) ser­ta meny­erang marta­bat masyarakat adat Lam­pung.

Isi pesan itu, menu­rut Sukar­di, tidak hanya merugikan secara prib­a­di, tetapi juga menced­erai nilai-nilai adat yang sela­ma ini dija­ga seba­gai iden­ti­tas dan kehor­matan masyarakat Lam­pung.
“Saya tidak bisa mem­biarkan ujaran seper­ti itu beredar bebas. Ini bukan hanya ten­tang nama saya, tapi ten­tang mar­wah suku adat Lam­pung yang diren­dahkan,” ujar Sukar­di saat dite­mui usai mem­bu­at lapo­ran di Pol­da Lam­pung.

Lapo­ran hukum ini dia­jukan oleh Sukar­di Asyah, tokoh muda adat sekali­gus Ket­ua Umum AMBL.
Ia dike­nal seba­gai fig­ur yang vokal dalam mem­per­juangkan eksis­ten­si dan kehor­matan masyarakat adat Lam­pung di ten­gah arus dig­i­tal­isasi infor­masi.

Pihak yang diduga melakukan penghi­naan belum dise­butkan secara detail oleh Sukar­di. Ia mene­gaskan, pros­es hukum akan ber­jalan sesuai mekanisme penye­lidikan kepolisian.
“Saya meny­er­ahkan sepenuh­nya kepa­da aparat pene­gak hukum. Sia­pa pun yang ter­buk­ti melang­gar, biar­lah hukum yang bicara,” katanya.

  Gerindra Cup 1 Meriahkan Belakang Padang Menjelang HUT RI ke-80

Pihak Pol­da Lam­pung sendiri melalui SPKT meny­atakan lapo­ran telah diter­i­ma dan akan segera dilakukan penelaa­han awal oleh tim penyidik. Apa­bi­la dite­mukan unsur pidana, perkara ini akan ditan­gani oleh Unit Siber Pol­da Lam­pung sesuai keten­tu­an hukum yang berlaku.

Peri­s­ti­wa dugaan penghi­naan ini dise­but ter­ja­di di wilayah Labuhan Ratu, Kota Ban­dar Lam­pung. Namun dampaknya melu­as hing­ga men­ja­di perbin­can­gan pub­lik di media sosial, sete­lah tangka­pan layar per­caka­pan What­sApp berisi ujaran yang diang­gap menghi­na itu terse­bar ke berba­gai grup masyarakat adat dan komu­ni­tas online.

Kawasan Labuhan Ratu yang dike­nal memi­li­ki masyarakat adat Lam­pung yang kuat nilai budayanya, kini men­ja­di sorotan. Banyak tokoh adat dan pemu­da setem­pat meny­atakan kepri­hati­nan atas peri­s­ti­wa terse­but, dan men­dukung langkah hukum yang ditem­puh Sukar­di.

Dugaan penghi­naan di grup What­sApp itu dike­tahui beredar beber­a­pa hari sebelum lapo­ran res­mi dibu­at.
Sete­lah dilakukan penelusuran inter­nal dan kon­sul­tasi den­gan tokoh adat, Sukar­di kemu­di­an men­em­puh jalur hukum pada Senin, 20 Okto­ber 2025, den­gan mem­bawa buk­ti dig­i­tal per­caka­pan yang dini­lai men­gan­dung unsur penghi­naan.

Motif lapo­ran ini, menu­rut Sukar­di, bukan sema­ta untuk mem­balas atau mem­perkeruh suasana, tetapi untuk mene­gakkan kead­i­lan dan men­ja­ga marta­bat adat Lam­pung agar tidak men­ja­di bahan olok-olokan di ruang pub­lik dig­i­tal.

Ia mene­gaskan, media sosial seharus­nya men­ja­di wadah edukasi dan komu­nikasi yang posi­tif, bukan sarana menye­barkan keben­cian atau fit­nah.

“Langkah hukum ini saya tem­puh bukan kare­na den­dam, melainkan kare­na saya ingin mene­gakkan kebe­naran. Bila dib­iarkan, hal seper­ti ini bisa merusak hubun­gan sosial dan memec­ah per­sat­u­an masyarakat adat,” tegas­nya.

Sukar­di juga menye­but, tin­dakan terse­but meru­pakan upaya pem­be­la­jaran pub­lik agar seti­ap indi­vidu mema­ha­mi batas kebe­basan berek­spre­si di ruang dig­i­tal.
“Semua orang boleh berpen­da­p­at, tapi ada batas­nya. Jan­gan sam­pai kebe­basan beru­jung pada pelang­garan hukum,” ujarnya menam­bahkan.

Lapo­ran Sukar­di kepa­da Pol­da Lam­pung ini men­gacu pada Pasal 156 KUHP ten­tang ujaran keben­cian yang menim­bulkan per­musuhan antar golon­gan, ser­ta Pasal 28 Ayat (2) Undang-Undang Nomor 11 Tahun 2008 ten­tang Infor­masi dan Transak­si Elek­tron­ik (ITE) yang melarang penye­baran infor­masi yang men­gan­dung unsur SARA.

  Gotong Royong Warga Kampung Bali Sadhar Utara Cor Jalan Antar Dusun

Berdasarkan atu­ran terse­but, pelaku yang ter­buk­ti bersalah dap­at dijer­at den­gan huku­man pen­jara hing­ga enam tahun dan/atau den­da mak­si­mal satu mil­iar rupi­ah. Mes­ki demikian, Sukar­di berharap pros­es hukum ber­jalan objek­tif dan mengede­pankan pen­dekatan edukatif, bukan sema­ta repre­sif.

“Saya per­caya kepolisian akan bertin­dak pro­fe­sion­al. Yang ter­pent­ing adalah kead­i­lan dite­gakkan, agar masyarakat bela­jar dari peri­s­ti­wa ini,” ujarnya.

Kasus ini lang­sung men­ja­di per­ha­t­ian pub­lik di Lam­pung. Sejum­lah tokoh adat dan organ­isasi masyarakat menyam­paikan dukun­gan ter­hadap langkah hukum yang diam­bil Sukar­di.
Mere­ka meni­lai tin­dakan terse­but meru­pakan ben­tuk pem­be­laan ter­hadap kehor­matan adat dan eti­ka komu­nikasi dig­i­tal yang mulai memu­dar di kalan­gan gen­erasi muda.

Tokoh adat Sai Batin dari Lam­pung Sela­tan, mis­al­nya, menye­but tin­dakan tegas ini pent­ing untuk mem­berikan efek jera.

“Kita hidup den­gan adat dan nor­ma. Kalau adat dihi­na, berar­ti mar­wah kita diin­jak. Maka langkah hukum itu sudah tepat, agar ada efek men­didik,” ujarnya.

Semen­tara penga­mat sosial dari Uni­ver­si­tas Lam­pung meni­lai bah­wa kasus ini men­ja­di momen­tum mem­perku­at lit­erasi dig­i­tal dan hukum di daer­ah.

Menu­rut­nya, masih banyak masyarakat yang belum mema­ha­mi kon­sekuen­si hukum dari ujaran di media sosial, pada­hal seti­ap kata yang dise­barkan bisa men­ja­di buk­ti dig­i­tal yang sah di mata hukum.

Fenom­e­na penghi­naan dan pence­maran nama baik melalui media sosial bukan hal baru. Data dari kepolisian menun­jukkan bah­wa sep­a­n­jang tahun 2024 hing­ga perten­ga­han 2025, ratu­san lapo­ran pelang­garan UU ITE diter­i­ma di berba­gai daer­ah di Indone­sia.
Kasus-kasus terse­but umum­nya beraw­al dari per­caka­pan di grup What­sApp, komen­tar di media sosial, atau ung­ga­han prib­a­di yang diang­gap melang­gar eti­ka dan hukum.

Pihak kepolisian pun terus mengim­bau masyarakat agar bijak dalam meng­gu­nakan media sosial, teruta­ma dalam kon­teks yang menyangkut iden­ti­tas, aga­ma, dan adat isti­a­dat.
“Seti­ap kata di dunia maya bisa berdampak dunia nya­ta. Jadi, pikirkan dulu sebelum mengetik,” ujar seo­rang penyidik Unit Siber yang eng­gan dise­but namanya.

  Masyarakat Adat Langan Ratu Siap Gelar Aksi Damai

Sete­lah lapo­ran Sukar­di diter­i­ma, Pol­da Lam­pung kini melakukan penelaa­han awal untuk memas­tikan kelengka­pan buk­ti dan unsur pidana.
Apa­bi­la hasil telaah menun­jukkan adanya pelang­garan hukum, kasus ini akan dilan­jutkan ke tahap penye­lidikan res­mi oleh Unit Siber Pol­da Lam­pung.

Pros­es terse­but meli­batkan pemerik­saan sak­si, anal­i­sis jejak dig­i­tal, ser­ta peny­i­taan data per­caka­pan dari aplikasi What­sApp yang diduga men­ja­di sum­ber penghi­naan.

Hing­ga beri­ta ini ditu­runk­an, pihak kepolisian belum mem­berikan perny­ataan res­mi men­ge­nai iden­ti­tas ter­la­por maupun perkem­ban­gan penyidikan lebih lan­jut.
Namun pub­lik menan­tikan langkah tegas aparat hukum dalam menan­gani kasus ini secara transparan dan pro­fe­sion­al.

Kasus yang meli­batkan Sukar­di Asyah ini mencer­minkan beta­pa pent­ingnya men­ja­ga kehor­matan adat di era dig­i­tal.
Di ten­gah deras­nya arus infor­masi dan kebe­basan berek­spre­si, eti­ka dan tang­gung jawab sosial tetap harus men­ja­di dasar seti­ap tin­dakan.

Sukar­di berharap, lapo­ran­nya ini tidak hanya men­ja­di perkara hukum, tetapi juga pem­be­la­jaran bagi gen­erasi muda agar meng­hor­mati nilai-nilai adat, budaya, dan iden­ti­tas daer­ah.

“Lam­pung pun­ya mar­wah, pun­ya adat, dan pun­ya har­ga diri. Jan­gan biarkan teknolo­gi mem­bu­at kita lupa sia­pa diri kita,” pungkas­nya.

Apapun hasil­nya, peri­s­ti­wa ini telah mem­bu­ka mata banyak pihak bah­wa ujaran di media sosial bukan sekadar tulisan di layar, melainkan bisa berim­p­likasi hukum dan sosial yang luas.

Langkah Sukar­di Asyah men­ja­di sim­bol bah­wa hukum dan adat dap­at ber­jalan beriringan, men­ja­ga kehor­matan dan marta­bat bersama di ten­gah era dig­i­tal yang ser­ba ter­bu­ka.
Hukum harus men­ja­di pelin­dung bagi yang benar, bukan alat untuk sal­ing men­jatuhkan — demi men­ja­ga mar­wah adat Lam­pung dan kehar­mon­isan sosial di Tanah Sai Bumi Ruwa Jurai.

Catatan Redak­si:
Tulisan ini dis­usun berdasarkan asas keber­im­ban­gan dan ver­i­fikasi, den­gan berpe­do­man pada Kode Etik Jur­nal­is­tik (KEJ) Pasal 1–3, yang menguta­makan ketepatan fak­ta, tidak beri­tikad buruk, ser­ta meng­hor­mati asas praduga tak bersalah.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *