Berita Daerah

Masyarakat Adat Halangan Ratu Bongkar Dugaan Manipulasi Data Lahan oleh PTPN I Regional 7

667
×

Masyarakat Adat Halangan Ratu Bongkar Dugaan Manipulasi Data Lahan oleh PTPN I Regional 7

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id — Kon­flik agraria antara masyarakat adat Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, den­gan pihak PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar kem­bali menge­mu­ka. War­ga menud­ing perusa­haan pelat mer­ah terse­but melakukan keti­dak­transparanan dalam pen­gelo­laan dan klaim kepemi­likan lahan selu­as 988,28 hek­tare, yang dise­but-sebut meru­pakan tanah adat milik masyarakat setem­pat.

Tokoh adat meni­lai perusa­haan telah menyam­paikan infor­masi tidak sesuai fak­ta kepa­da pub­lik terkait luas lahan dan pro­gram kemi­traan den­gan masyarakat. Dalam doku­men inter­nal PTPN yang dirilis melalui Tabel 17 ten­tang luas are­al (afdel­ing), dise­butkan bah­wa perusa­haan telah meny­er­ahkan 2.413 hek­tare lahan kebun plas­ma kepa­da masyarakat sek­i­tar. Namun, war­ga den­gan tegas mem­ban­tah klaim terse­but.

Pihak-pihak yang ter­li­bat dalam polemik ini adalah masyarakat adat Desa Halan­gan Ratu di bawah kepemimp­inan tokoh adat Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka, ser­ta PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar, yang berop­erasi di wilayah Kabu­pat­en Pesawaran dan sek­i­tarnya. Masyarakat meni­lai perusa­haan tidak men­jalankan kewa­jiban sosial dan ekono­mi seba­gaimana diatur dalam undang-undang.

Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka men­ja­di salah satu tokoh adat yang pal­ing vokal dalam mem­per­juangkan hak masyarakat. Ia mene­gaskan bah­wa klaim perusa­haan men­ge­nai adanya kebun plas­ma hanyalah “ilusi data” yang digu­nakan untuk men­cip­takan kesan posi­tif di mata pub­lik dan pemer­in­tah.

“Kalau kita lihat keny­ataan di lapan­gan, data yang dis­am­paikan PTPN I Region­al 7 tidak benar. Mere­ka mer­ilis tabel luas are­al yang tidak sesuai den­gan kon­disi sebe­narnya. Ini ben­tuk pem­bo­hon­gan pub­lik,” ujarnya tegas saat dite­mui sejum­lah awak media, Senin (13/10/2025).

  Pringsewu Torehkan Inovasi Nasional Lewat IGA 2025

Masyarakat adat menud­ing bah­wa tidak ada kebun plas­ma yang dibagikan kepa­da war­ga, seper­ti yang dik­laim oleh pihak PTPN. Seba­liknya, lahan jus­tru dis­e­wakan kepa­da masyarakat den­gan tarif men­ca­pai Rp8 juta per hek­tare per tahun. Kon­disi ini dini­lai berto­lak belakang den­gan seman­gat kemi­traan yang seharus­nya dijalankan oleh perusa­haan perke­bunan negara.

Menu­rut war­ga, prak­tik penye­waan lahan ini tidak hanya menyalahi prin­sip tang­gung jawab sosial perusa­haan, tetapi juga melang­gar keten­tu­an Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 ten­tang Perke­bunan, yang mewa­jibkan seti­ap perusa­haan perke­bunan untuk menye­di­akan min­i­mal 20 persen dari total luas lahan­nya bagi masyarakat di sek­i­tar wilayah opera­sion­al dalam ben­tuk kemi­traan atau kebun plas­ma.

“Kewa­jiban itu tidak per­nah dijalankan. Yang ada jus­tru lahan dis­e­wakan kepa­da masyarakat adat. Kalau pun ada data lama tahun 2013 yang menye­but adanya kebun plas­ma atau kemi­traan, itu hanya untuk men­ge­labui pemer­in­tah dan menu­tupi kon­disi sebe­narnya,” tam­bah Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka.

Per­soalan lahan ini bukan hal baru. Kon­flik antara masyarakat adat Halan­gan Ratu dan pihak PTPN sudah berlang­sung bertahun-tahun, bahkan sebelum restruk­tur­isasi BUMN perke­bunan yang kini bera­da di bawah hold­ing PTPN I Region­al 7. War­ga telah lama mem­per­juangkan pen­gakuan atas tanah adat selu­as 988,28 hek­tare yang mere­ka klaim seba­gai warisan turun-temu­run.

Isu kem­bali men­cu­at pada Okto­ber 2025, sete­lah war­ga men­e­mukan adanya keti­dak­sesua­ian antara kon­disi lapan­gan dan data res­mi yang dis­am­paikan perusa­haan. Pun­caknya ter­ja­di keti­ka masyarakat adat melakukan perte­muan bersama tokoh masyarakat dan jur­nalis di Halan­gan Ratu untuk menyuarakan kem­bali aspi­rasi mere­ka.

Mere­ka men­gang­gap bah­wa perusa­haan beru­paya menu­tupi fak­ta den­gan menya­jikan data yang tidak sesuai keny­ataan. Dalam prak­tiknya, lahan yang seharus­nya digu­nakan untuk plas­ma jus­tru dikelo­la sepenuh­nya oleh perusa­haan atau dis­e­wakan den­gan har­ga ting­gi.

Kon­flik lahan ter­ja­di di wilayah Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, Provin­si Lam­pung. Wilayah ini berbatasan lang­sung den­gan are­al perke­bunan PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar, yang secara admin­is­tratif masuk wilayah Kabu­pat­en Lam­pung Sela­tan.

  Cegah Kerusakan Hutan Lebih Parah, BKSDA Sumsel Bergerak Cepat

Letak geografis yang berdekatan mem­bu­at batas lahan antara tanah adat dan lahan perusa­haan ker­ap tumpang tindih. War­ga mengk­laim bah­wa seba­gian are­al yang dikelo­la perusa­haan meru­pakan tanah ulay­at masyarakat adat Halan­gan Ratu, yang telah digarap secara turun-temu­run sejak masa leluhur.

“Kami ini bukan menyer­o­bot. Tanah itu memang milik adat kami. Sudah dari dulu masyarakat Halan­gan Ratu hidup dari situ, sebelum ada perusa­haan. Sekarang malah dis­e­wakan kem­bali kepa­da kami sendiri,” keluh seo­rang war­ga setem­pat.

Ada dua alasan uta­ma men­ga­pa kon­flik ini kem­bali men­cu­at: — Keti­dak­sesua­ian Data PTPN den­gan Fak­ta di Lapan­gan
War­ga men­e­mukan bah­wa data yang dirilis dalam Tabel 17 PTPN I Region­al 7 yang menye­but adanya kebun plas­ma selu­as 2.413 hek­tare — tidak per­nah tere­al­isasi. Tidak ada buk­ti kebun plas­ma yang dikelo­la masyarakat di sek­i­tar are­al perke­bunan.

- Prak­tik Penye­waan Lahan kepa­da War­ga. Alih-alih mem­berikan kebun plas­ma, pihak perusa­haan jus­tru menye­wakan lahan kepa­da masyarakat adat den­gan biaya ting­gi, men­ca­pai Rp8 juta per hek­tare per tahun. Prak­tik ini diang­gap eksploitasi ekono­mi yang merugikan masyarakat adat dan melang­gar prin­sip kemi­traan yang diatur dalam undang-undang.

Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka juga men­duga bah­wa langkah terse­but meru­pakan strate­gi perusa­haan untuk memec­ah belah masyarakat adat, agar per­juan­gan mere­ka melemah dan tidak lagi kom­pak menun­tut hak atas tanah adat.

“Kami yakin, den­gan cara seper­ti itu, PTPN I Region­al 7 berusa­ha memec­ah masyarakat adat agar tidak kom­pak mem­per­juangkan haknya,” ujarnya.

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar belum mem­berikan tang­ga­pan res­mi terkait tudin­gan masyarakat adat. Upaya kon­fir­masi dari sejum­lah media lokal juga belum men­da­p­atkan respons.

  Warga Komodo Tolak Privatisasi: “Kami Kehilangan Cara untuk Hidup”

Mes­ki demikian, sejum­lah pihak meni­lai bah­wa PTPN per­lu segera mem­berikan klar­i­fikasi pub­lik agar tidak ter­ja­di kesalah­pa­haman yang berlarut-larut. Keter­bukaan data dan komu­nikasi den­gan masyarakat dini­lai men­ja­di kun­ci penye­le­sa­ian kon­flik yang sudah berlang­sung lama ini.

Pemer­in­tah daer­ah Kabu­pat­en Pesawaran dim­inta turun tan­gan untuk menen­gahi kon­flik antara masyarakat adat dan PTPN. Beber­a­pa tokoh masyarakat berharap agar pemer­in­tah provin­si maupun pusat ikut melakukan ver­i­fikasi ulang ter­hadap data lahan dan pro­gram plas­ma yang dik­laim oleh perusa­haan.

Selain itu, sejum­lah organ­isasi masyarakat sip­il di Lam­pung juga mulai mem­berikan per­ha­t­ian pada kasus ini, mengin­gat poten­si pelang­garan ter­hadap hak-hak masyarakat adat yang dijamin dalam berba­gai per­at­u­ran, ter­ma­suk Undang-Undang Nomor 6 Tahun 2014 ten­tang Desa dan Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 ten­tang Perke­bunan.

Masyarakat adat Halan­gan Ratu mene­gaskan bah­wa mere­ka tidak meno­lak keber­adaan perusa­haan, namun menun­tut kead­i­lan dan transparan­si. Mere­ka mem­inta agar lahan adat yang sela­ma ini dikua­sai perusa­haan dap­at dikem­ba­likan, atau seti­daknya diberikan akses kelo­la yang adil bagi masyarakat sek­i­tar.

“Kami ingin hidup berdampin­gan secara adil. Jan­gan sam­pai kami hanya jadi penon­ton di tanah kami sendiri,” ujar Asli Gelar Pengikhan Pedu­ka menut­up perny­ataan­nya.

Kon­flik antara masyarakat adat Halan­gan Ratu dan PTPN I Region­al 7 mencer­minkan per­soalan klasik dalam pen­gelo­laan tanah di sek­tor perke­bunan Indone­sia: tumpang tindih kepemi­likan, min­im­nya transparan­si, dan lemah­nya pelak­sanaan kemi­traan. Kasus ini men­ja­di pengin­gat pent­ingnya pen­gawasan ketat dan keter­bukaan data pub­lik agar perusa­haan tidak hanya menge­jar keun­tun­gan, tetapi juga memenuhi tang­gung jawab sosial ter­hadap masyarakat sek­i­tar.

Hing­ga kini, masyarakat adat Halan­gan Ratu masih menan­ti keje­lasan nasib tanah adat mere­ka — sem­bari berharap ada itikad baik dari pemer­in­tah dan perusa­haan untuk menye­le­saikan sen­gke­ta ini secara adil dan bermarta­bat. (sufiyawan).

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *