Berita Daerah

Warga Halangan Ratu Gugat PTPN I Regional 7: Diduga Kuasai Lahan Adat dan Bangun Parit Bahaya di Sekitar Permukiman

652
×

Warga Halangan Ratu Gugat PTPN I Regional 7: Diduga Kuasai Lahan Adat dan Bangun Parit Bahaya di Sekitar Permukiman

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id — Sejum­lah war­ga dan tokoh adat Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, menud­ing PT Perke­bunan Nusan­tara (PTPN) I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar telah men­gua­sai lahan adat selu­as sek­i­tar 988,28 hek­tare yang telah dikelo­la perusa­haan terse­but sela­ma puluhan tahun, Selasa (14/10).

War­ga juga men­gaku resah den­gan keber­adaan par­it besar yang diban­gun perusa­haan di per­batasan antara kebun saw­it dan area per­muki­man war­ga. Par­it itu dise­but memi­li­ki pan­jang sek­i­tar 1 kilo­me­ter, lebar 4 meter, dan kedala­man 4 meter.

Menu­rut keteran­gan war­ga, par­it terse­but berdekatan den­gan rumah-rumah pen­duduk dan menim­bulkan kekhawati­ran kare­na berpoten­si mem­ba­hayakan anak-anak ser­ta hewan peli­haraan yang ser­ing bermain atau melin­tas di sek­i­tar lokasi.

Tokoh adat sekali­gus Ket­ua Pun­y­im­bang Adat Tiyuh Halan­gan Ratu, Abu Bakar yang berge­lar Sun­tan Lama, men­ja­di salah satu pihak yang menyuarakan keluhan masyarakat ter­hadap aktiv­i­tas PTPN I Region­al 7.

Dalam keteran­gan­nya kepa­da sejum­lah media, Sun­tan Lama mene­gaskan bah­wa keber­adaan perusa­haan negara terse­but tidak mem­bawa dampak posi­tif bagi masyarakat sek­i­tar, melainkan jus­tru menim­bulkan ketaku­tan dan kere­sa­han sosial.

“Kalau menu­rut saya, keber­adaan perke­bunan kela­pa saw­it yang dikelo­la PTPN I Region­al 7 tidak mem­berikan man­faat bagi masyarakat sek­i­tar. Jus­tru menim­bulkan rasa takut, teruta­ma bagi orang tua yang memi­li­ki anak kecil, kare­na adanya par­it besar di sek­i­tar pemuki­man,” ujar Sun­tan Lama.

Masalah uta­ma yang diper­soalkan war­ga adalah pen­guasaan lahan adat dan pem­ban­gu­nan par­it besar di dekat pemuki­man. Selain itu, muncul pula dugaan bah­wa perusa­haan melakukan kebo­hon­gan pub­lik terkait infor­masi pem­ba­gian lahan plas­ma untuk masyarakat.

  Warga Helvetia Membludak, Antonius Tumanggor Laksanakan Sosperda no.10 Tahun 2021

Sun­tan Lama menye­but, klaim perusa­haan yang meny­atakan telah meny­er­ahkan 2.413 hek­tare lahan plas­ma kepa­da masyarakat tidak sesuai fak­ta di lapan­gan. Berdasarkan data yang dim­i­li­ki masyarakat, luas lahan yang dikelo­la war­ga hanyalah sek­i­tar 31 hek­tare, itupun bukan hasil hibah perusa­haan, melainkan hasil sewa den­gan tarif sek­i­tar Rp8 juta per hek­tare per tahun.

“Pihak perusa­haan mengk­laim telah mem­berikan lahan plas­ma selu­as 2.413 hek­tare kepa­da masyarakat. Pada­hal, menu­rut kami, itu tidak benar. Berdasarkan data yang kami ketahui, masyarakat jus­tru menye­wa lahan milik PTPN den­gan biaya sek­i­tar Rp8 juta per hek­tare per tahun, dan luas­nya pun hanya sek­i­tar 31 hek­tare,” terang Sun­tan Lama.

Per­masala­han ini men­cu­at kem­bali baru-baru ini, sete­lah sejum­lah media lokal dan nasion­al meny­oroti keluhan masyarakat Desa Halan­gan Ratu yang merasa hak atas tanah adat mere­ka telah dia­baikan. Menu­rut keteran­gan war­ga, kon­flik lahan den­gan PTPN I Region­al 7 bukan­lah hal baru, melainkan sudah berlang­sung lama tan­pa penye­le­sa­ian yang jelas.

Masyarakat setem­pat merasa semakin ter­po­jok sete­lah perusa­haan mem­ban­gun par­it besar di sek­i­tar per­batasan kebun saw­it yang berdekatan lang­sung den­gan pemuki­man pen­duduk.
Langkah terse­but dini­lai memisahkan akses war­ga, ser­ta menim­bulkan rasa tidak aman di lingkun­gan desa.

Kasus ini ter­ja­di di Desa Halan­gan Ratu, Keca­matan Negeri Katon, Kabu­pat­en Pesawaran, Provin­si Lam­pung.
Wilayah ini berbatasan den­gan area perke­bunan saw­it milik PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar, yang sudah berop­erasi sela­ma beber­a­pa dekade di wilayah terse­but.

Bagi masyarakat adat Halan­gan Ratu, tanah yang kini men­ja­di lahan perke­bunan meru­pakan bagian dari tanah ulay­at atau tanah warisan leluhur yang memi­li­ki nilai his­toris dan adat ting­gi. Oleh kare­na itu, pen­guasaan lahan oleh pihak perusa­haan diang­gap melang­gar hak adat dan men­gan­cam iden­ti­tas budaya lokal.

  Bukber Haru di BSD, Mensos Gus Ipul Soroti Perubahan Nyata Sekolah Rakyat

War­ga meni­lai aktiv­i­tas PTPN I Region­al 7 tidak mem­berikan man­faat ekono­mi maupun sosial kepa­da masyarakat sek­i­tar. Alih-alih mem­bu­ka lapan­gan ker­ja atau mem­berikan kon­tribusi nya­ta bagi desa, kehadi­ran perusa­haan jus­tru diang­gap menim­bulkan kere­sa­han dan ketim­pan­gan sosial.

Selain itu, keber­adaan par­it besar yang diban­gun tan­pa sosial­isasi diang­gap ben­tuk pengaba­ian ter­hadap kese­la­matan war­ga. Orang tua di desa kini merasa khawatir anak-anak mere­ka bermain ter­lalu dekat den­gan par­it, semen­tara hewan peli­haraan juga ker­ap ter­per­osok ke dalam lubang yang dalam dan curam itu.

Masyarakat dan tokoh adat berharap pemer­in­tah daer­ah maupun pusat segera turun tan­gan menye­le­saikan per­soalan ini agar tidak berkem­bang men­ja­di kon­flik hor­i­zon­tal.

“Kami berharap pemer­in­tah daer­ah, DPRD Kabu­pat­en Pesawaran, ser­ta pemer­in­tah provin­si dan pusat dap­at segera turun tan­gan menye­le­saikan per­soalan ini agar tidak ter­ja­di kon­flik antara masyarakat dan pihak perusa­haan,” tegas Sun­tan Lama.

War­ga juga mem­inta adanya transparan­si data men­ge­nai sta­tus kepemi­likan lahan dan keje­lasan pro­gram plas­ma yang sela­ma ini dik­laim telah diberikan kepa­da masyarakat.

Selain itu, war­ga berharap pemer­in­tah dap­at mem­fasil­i­tasi dia­log ter­bu­ka antara masyarakat adat den­gan pihak perusa­haan, den­gan meli­batkan unsur pemer­in­tah, aparat kea­manan, ser­ta lem­ba­ga adat untuk men­ca­pai penye­le­sa­ian damai dan adil.

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan oleh sejum­lah media dan men­ja­di viral di berba­gai plat­form, pihak PTPN I Region­al 7 Unit Usa­ha Rejosari Natar belum mem­berikan tang­ga­pan res­mi.
Upaya kon­fir­masi yang dilakukan oleh wartawan juga belum men­da­p­atkan jawa­ban, baik secara lang­sung maupun ter­tulis.

Keti­adaan klar­i­fikasi dari pihak perusa­haan menim­bulkan beragam speku­lasi pub­lik, teruta­ma di kalan­gan war­ga yang merasa dia­baikan.
Seba­gian tokoh masyarakat mende­sak agar pihak PTPN segera mem­berikan pen­je­lasan ter­bu­ka kepa­da media dan masyarakat guna meredakan kete­gan­gan sosial di wilayah terse­but.

  Semalam di Lumbirejo: Wayang Kulit dan Semangat 39 Tahun yang Membara

Kasus yang ter­ja­di di Desa Halan­gan Ratu men­ja­di potret kecil dari per­soalan kon­flik agraria antara masyarakat adat dan perusa­haan perke­bunan di berba­gai daer­ah di Indone­sia. Per­soalan ini menun­jukkan bah­wa masih ter­da­p­at ketim­pan­gan infor­masi, lemah­nya pen­gawasan pemer­in­tah, dan min­im­nya par­tisi­pasi masyarakat lokal dalam pros­es pen­gelo­laan sum­ber daya alam.

Jika tidak segera ditan­gani secara serius dan transparan, kon­flik seru­pa berpoten­si melu­as ser­ta meng­gang­gu sta­bil­i­tas sosial dan ekono­mi daer­ah.
Oleh kare­na itu, semua pihak dihara­p­kan menguta­makan dia­log, musyawarah, dan pen­dekatan hukum yang adil dalam menye­le­saikan per­soalan ini.

Pemer­in­tah daer­ah, DPRD, dan instan­si terkait per­lu melakukan ver­i­fikasi lapan­gan ter­hadap sta­tus lahan dan memas­tikan keber­adaan par­it besar terse­but tidak mem­ba­hayakan kese­la­matan war­ga.

Selain itu, pent­ing bagi perusa­haan untuk menun­jukkan tang­gung jawab sosial­nya (CSR) den­gan meli­batkan masyarakat dalam pen­gelo­laan lahan dan mem­berikan man­faat nya­ta bagi pem­ban­gu­nan desa.

Kasus tudin­gan pen­guasaan lahan adat oleh PTPN I Region­al 7 di Desa Halan­gan Ratu men­ja­di sorotan pub­lik kare­na meli­batkan kepentin­gan masyarakat adat dan perusa­haan milik negara.
Masyarakat berharap adanya kead­i­lan, transparan­si, ser­ta per­ha­t­ian pemer­in­tah agar kon­flik tidak semakin melu­as.

Sam­pai beri­ta ini dis­usun, belum ada tang­ga­pan res­mi dari pihak perusa­haan terkait tudin­gan yang dis­am­paikan oleh Abu Bakar (Sun­tan Lama) dan masyarakat Desa Halan­gan Ratu.

Masyarakat mene­gaskan akan terus mem­per­juangkan hak atas tanah adat mere­ka, sam­bil berharap semua pihak dap­at menye­le­saikan per­soalan ini den­gan damai dan bermarta­bat. (ahm/ahm).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *