Maros, SniperNew.id – Kepala Desa Labuaja, Kecamatan Cenrana, Kabupaten Maros, berinisial AS, Warga kembali menjadi geram setelah diduga ada penyimpangan dana perbaikan jalan untuk “kepentingannya” kini mencuat ke permukaan.
Dana yang seharusnya digunakan untuk memperbaiki jalan rusak akibat aktivitas kendaraan pengangkut material tambang dari penambangan ilegal batu gunung di wilayah tersebut, warga kini pertanyakan penggunaannya.
Menurut informasi yang diperoleh, AS diduga menerima sejumlah uang dari pelaksana kegiatan penambangan ilegal dengan dalih untuk perbaikan jalan yang mengalami kerusakan cukup parah.
Namun, setelah berbulan-bulan itu berlalu, jalan rusak tak kunjung diperbaiki.
Saat dikonfirmasi, AS hanya memberikan alasan bahwa material sudah tersedia, tetapi pekerjaan tertunda karena kondisi cuaca yang sempat dilanda hujan.
Hal itu, warga mulai meragukan kejujuran pernyataan Kepala Desa Labuaja. “Sudah lama dana itu katanya ada, material pun sudah disiapkan. Tapi kenapa sampai sekarang tidak ada perkembangan..?
“Ini sudah musim kemarau, hujan tidak lagi jadi alasan. Kami justru menduga dana tersebut sudah dialokasikan ke hal lain yang lebih menguntungkan secara pribadi,” ujar seorang warga yang enggan disebutkan namanya.
Keraguan ini bukan tanpa alasan. Menurut beberapa warga, belakangan terlihat adanya perubahan gaya hidup dari AS yang dinilai tidak sesuai dengan kondisi keuangan seorang kepala desa.
“Kami sering melihat beliau menggunakan kendaraan baru dan melakukan renovasi rumah yang terbilang besar. Ini sangat mengundang tanya, apakah dana perbaikan jalan itu diselewengkan untuk kepentingan pribadi,” tambah warga lainnya bertanya.
Jalan yang rusak tersebut memiliki peran penting sebagai akses penghubung antar dusun di Desa Labuaja. Kondisinya yang semakin parah telah mengganggu aktivitas warga yang sehari-hari bergantung pada jalan tersebut.
“Ini bukan sekadar jalan biasa, ini akses utama kami untuk bekerja, mengantar anak sekolah, dan berjualan. Jika terus dibiarkan rusak, beban kami makin berat,” ungkap warga dengan penuh kesal
Meskipun musim hujan sempat menjadi alasan penundaan, kenyataannya musim kemarau telah tiba, dan kondisi cuaca sekarang sudah mendukung perbaikan jalan.
Namun, hingga kini belum ada tanda-tanda akan dimulainya proyek perbaikan. Warga semakin mendesak Kepala Desa AS untuk segera merealisasikan janji perbaikan yang telah lama dinanti.
Kemarahan warga kian memuncak. “Kami sudah jengah dengan janji-janji palsu. Kalau memang dana itu disalahgunakan, Kepala Desa harus bertanggung jawab..!
Jika perlu, kami akan laporkan ke pihak yang berwenang agar dana yang telah diambil untuk perbaikan jalan itu bisa dikembalikan ke desa,” tegas seorang warga dengan nada kesal.
Selain itu, warga juga mengancam akan mengajukan petisi kepada pemerintah kabupaten agar dapat memberikan perhatian terhadap kondisi Desa Labuaja yang kini berada dalam pengawasan atas dugaan penyelewengan dana publik oleh kepala desa.
Mereka berharap adanya tindakan nyata dan segera dari pihak terkait untuk menyelidiki kasus ini.
Jika dugaan ini terbukti, warga tidak hanya menuntut perbaikan jalan, tetapi juga mendesak agar Kepala Desa AS mendapat sanksi tegas atas penyalahgunaan dana publik untuk kepentingan pribadinya.
Mereka berharap dengan adanya perhatian dari pihak berwenang, kasus ini bisa diselesaikan secepatnya agar fasilitas yang menjadi kebutuhan utama masyarakat dapat segera diperbaiki.
Polemik ini juga mengundang komentar dari beberapa tokoh masyarakat yang menyayangkan kejadian tersebut. Salah satu tokoh masyarakat menuturkan.
“Kepala desa seharusnya menjadi contoh, Dan pemimpin yang bertanggung jawab. Jika benar dugaan ini terjadi maka, ini merupakan bentuk pengkhianatan terhadap kepercayaan masyarakat yang telah memilihnya.”
Dengan semakin memanasnya reaksi warga, beeinisial As diharapkan segera memberikan klarifikasi yang lebih transparan terkait dana perbaikan jalan ini dan bertanggung jawab atas janjinya.
Hingga berita ini diturunkan, AS belum memberikan tanggapan lebih lanjut mengenai dugaan penggunaan dana yang diduga kepentingan pribadi, meski warga sudah mendesak adanya tindakan nyata.
Warga kini hanya bisa berharap, tekanan yang diberikan melalui pemberitaan ini bisa mendorong Kepala Desa Labuaja untuk memperbaiki jalan tersebut secepatnya.
Bagi mereka, jalan penghubung ini bukan sekadar fasilitas, tapi juga simbol janji yang kini diharapkan segera ditepati tanpa alasan. (Syamsir)



















