Yogyakarta, SniperNew.id – Sekelompok ibu rumah tangga di Yogyakarta menggelar aksi pukul panci sebagai bentuk protes terhadap program pemerintah yang dikenal dengan nama Makan Bergizi Gratis (MBG). Aksi ini dilakukan untuk mendesak pemerintah agar menghentikan sekaligus mengevaluasi program yang dinilai masih banyak persoalan dalam pelaksanaannya, Senin (29/00).
Aksi protes dilakukan oleh sekelompok ibu-ibu di Yogyakarta. Mereka merupakan warga yang merasa langsung terdampak dengan keberadaan program Makan Bergizi Gratis (MBG). Dalam aksinya, orator menyatakan bahwa para ibu akan terus berada di garis depan perjuangan jika pemerintah tidak segera menghentikan dan mengevaluasi program tersebut.
Aksi ini berupa pukul panci yang menjadi simbol penolakan. Aksi tersebut juga dilengkapi orasi dengan tuntutan agar pemerintah menghentikan pelaksanaan program MBG. Para peserta menilai, program makan bergizi gratis masih terkesan grusa-grusu, tidak terencana dengan baik, dan menimbulkan masalah baru.
Dalam salah satu pernyataan orator yang terekam, disampaikan. “Kalau pemerintah tidak menyetop dan mengevaluasi program yang grusa-grusu ini, maka ibu-ibu akan tetap berada di garda terdepan.”
Selain itu, muncul pula berbagai komentar warganet yang menyoroti masalah teknis maupun substansi dari program tersebut.
Aksi pukul panci ini berlangsung pada 26 September 2025. Informasi mengenai kegiatan ini kemudian menyebar luas di media sosial, khususnya melalui akun Threads yang menampilkan video dan pernyataan warga.
Aksi dilakukan di wilayah Yogyakarta, dengan sejumlah ibu-ibu yang berkumpul di ruang publik sambil membawa panci. Video memperlihatkan suasana ramai, di mana para peserta duduk di jalan sembari memukul peralatan dapur sebagai simbol protes.
Ada beberapa alasan yang melatarbelakangi aksi ini. Beberapa warganet menilai program MBG mengurangi subsidi pendidikan dan tidak sepenuhnya efektif membantu anak-anak.
Seorang pengguna dengan akun nugroho_wahyuniaji menuliskan perhitungan mengenai dana yang berpotensi besar, tetapi realisasi manfaat untuk anak-anak dianggap minim. Ia mencontohkan bahwa dengan biaya Rp15 ribu per paket, sering kali hanya Rp10 ribu yang benar-benar untuk makanan, sementara sisanya terserap biaya operasional.
Ia menulis. “MBG mengurangi subsidi pendidikan. Kalau pun ada makan gratis dievaluasi pelaksanaannya. Mungkin langsung dikasihkan orang tua dengan syarat anak wajib bawa bekal. Per piring makan Rp5.000 untuk operasional MBG (per pelaksana 3.000 paket = Rp15.000.000 per hari) hasil yang menggiurkan meski dana Rp15 ribu/paket telat-telat cairnya, Rp10 ribu untuk jatah makanannya. Di kota besar mungkin mepet untuk dapat makanan seharga Rp10 ribu.”
Beberapa komentar menyarankan agar pemerintah tidak hanya mengandalkan program seragam dari pusat. Menurut mereka, akan lebih baik jika dana diberikan langsung kepada orang tua, dengan syarat anak tetap membawa bekal dari rumah.
Komentar lain menegaskan bahwa korban dari pelaksanaan program MBG sudah hampir merata di seluruh Indonesia. Sehingga, protes dari Yogyakarta dipandang mewakili suara banyak daerah lain.
Seorang pengguna dengan akun ramarans.jr menulis. “Nungguin direspon, secara korban sudah hampir merata di seluruh Indonesia. Ajarkan anaknya stop makan MBG saja cukup, Bu. Bawa bekal dari rumah, berani tolak kalau dipaksa, sesimpel itu. Kalau bukan kita yang berani merubah, siapa lagi?”
Aksi dilakukan dengan cara yang cukup unik, yakni para ibu membawa panci dan memukulnya bersama-sama. Cara ini dipilih sebagai simbol penolakan terhadap program yang menyangkut urusan pangan.
Selain aksi di lapangan, wacana penolakan juga ramai di ruang digital. Beberapa komentar warganet menggambarkan beragam reaksi:
rasikuncs menulis. “Lagu lama muncul lagi. Sekelompok?”
rumondngsianipr menulis dengan nada satire. “Waduh panci nya si Roy lagi dipaner.”
Komentar-komentar ini menunjukkan bahwa isu MBG telah lama menjadi bahan perdebatan publik, dan aksi pukul panci dianggap sebagai kelanjutan dari kritik yang sudah muncul sejak lama.
Program Makan Bergizi Gratis merupakan salah satu kebijakan pemerintah yang bertujuan memberikan makanan gratis bagi anak-anak sekolah. Tujuan utamanya adalah meningkatkan gizi, mendukung kesehatan, dan mencegah stunting.
Namun, implementasi program ini memunculkan berbagai kritik. Sebagian masyarakat menganggap ide ini baik, tetapi realisasinya kurang matang. Persoalan biaya operasional, keterlambatan pencairan dana, serta ketidakjelasan kualitas makanan menjadi sorotan.
Beberapa pihak menilai, jika benar ingin meningkatkan kualitas gizi anak, seharusnya program diarahkan agar lebih tepat sasaran, transparan, dan melibatkan orang tua secara langsung.
Dari komentar-komentar yang berkembang, ada tiga poin penting yang menjadi perhatian masyarakat:
Anggaran besar yang dikeluarkan untuk MBG dianggap rawan pemborosan. Jika benar biaya Rp15 ribu per paket, namun hanya Rp10 ribu yang tersalurkan untuk makanan, maka ada potensi inefisiensi yang besar.
Usulan agar dana diserahkan langsung kepada orang tua dianggap lebih praktis. Dengan begitu, orang tua bisa menyiapkan bekal sesuai kebutuhan anak masing-masing.
Publik meminta adanya evaluasi menyeluruh, terutama terkait kualitas makanan dan distribusi anggaran.
Aksi ibu-ibu di Yogyakarta pada 26 September 2025 menjadi penanda bahwa kebijakan publik, meskipun memiliki niat baik, tetap membutuhkan pengawasan dan evaluasi dari masyarakat. Program Makan Bergizi Gratis memang bertujuan mulia, namun pelaksanaannya masih menimbulkan persoalan yang memicu protes.
Pemerintah diharapkan segera merespons tuntutan warga, melakukan evaluasi menyeluruh, serta mencari solusi terbaik agar tujuan peningkatan gizi anak tidak berubah menjadi polemik berkepanjangan. (ham/abd).













