Pringsewu, SniperNew.id - Di tengah hiruk pikuk lalu lintas Jalan Lintas Fajarisuk, Kabupaten Pringsewu, Lampung, terdapat sebuah gerobak sederhana yang menjadi primadona warga sekitar dan para pengendara yang melintas. Gerobak tersebut milik Yatno (41), seorang penjual gorengan yang tak pernah sepi pembeli. Bahkan, menurut pengakuannya, sebelum malam tiba, seluruh stok gorengan yang ia siapkan sudah ludes terjual.
Kamis (07/08/2025), tim media mendatangi lokasi berjualan Yatno yang terletak tepat di depan sebuah percetakan bernama Prameswari. Terlihat gerobak dorong dengan kaca transparan yang memajang aneka gorengan mulai dari tahu isi, tempe mendoan, molen goreng, bakwan, risol, hingga mantang goreng, dan pisang goreng yang semuanya tersaji dalam kondisi bersih dan menarik. Sementara itu, di sebelah gerobaknya, sebuah wajan besar tampak sibuk menampung gorengan yang baru saja diangkat dari minyak panas.
Yatno mengenakan kaos ungu dan celemek merah, dengan penuh kesabaran dan ketelitian ia menggoreng dagangannya. Tak hanya soal rasa, kebersihan dan kualitas minyak juga jadi perhatiannya.
“Saya ganti minyak setiap dua hari sekali atau kalau sudah terlalu hitam. Soalnya pembeli sekarang pintar, mereka tahu mana gorengan sehat, mana yang tidak,” ujar Yatno sambil tersenyum.
Modal Kecil, Hasil Maksimal
Berjualan gorengan mungkin terlihat sederhana, namun Yatno membuktikan bahwa usaha ini bisa menjadi sumber penghasilan yang menggiurkan jika ditekuni dengan serius. “Modal awal sekitar Rp300 ribu untuk beli bahan dan gas. Tapi Alhamdulillah, sehari bisa dapat Rp500 ribu sampai Rp700 ribu omzet kotor. Bersihnya bisa setengahnya,” katanya.
Rata-rata, Yatno menjual 400–500 potong gorengan per hari. Harga per biji berkisar Rp1.000 – Rp2.000, tergantung jenisnya. Gorengan favorit pembeli adalah bakwan renyah dan tahu isi pedas. Strategi penjualannya sederhana namun jitu: lokasi strategis di pinggir jalan besar, harga terjangkau, rasa enak, dan pelayanan cepat.
“Saya mulai jam 10 pagi, kadang sebelum jam 5 sore sudah habis semua. Kadang orang nanya kenapa cepat habis, ya karena saya memang buatnya fresh dan terbatas. Kalau sudah malam, gorengan nggak enak lagi,” ujar pria asal Gading Rejo itu.
Dalam dunia kuliner, kepercayaan konsumen adalah hal utama. Yatno sangat menjaga kualitas dagangannya, mulai dari pemilihan bahan, cara penyimpanan, hingga proses memasak. “Tepung saya pilih yang bagus, minyak selalu dijaga kebersihannya, dan saya tidak pakai bahan pengawet. Semua serba alami, itu yang bikin pelanggan balik lagi,” katanya.
Selain itu, ia juga menghindari praktik nakal seperti mencampur minyak dengan plastik atau pewarna makanan yang tidak layak konsumsi. “Saya ingin usaha ini berkah, jangan cari untung dengan cara yang nggak halal. Lebih baik untung sedikit tapi pelanggan puas dan sehat,” jelasnya.
Lahan Usaha Pinggir Jalan: Potensi yang Sering Terlupakan
Berjualan di pinggir jalan seringkali dipandang sebelah mata. Namun, kenyataannya lokasi seperti ini justru sangat strategis dan berpotensi besar. Dengan lalu lintas kendaraan yang padat, usaha kuliner seperti milik Yatno memiliki visibilitas tinggi dan mudah diakses.
Banyak pelanggan Yatno adalah pengemudi ojek online, karyawan kantor, sopir truk, dan warga sekitar. Mereka biasanya mampir sebentar untuk membeli gorengan sebagai camilan atau bekal perjalanan.
“Yang penting gerobaknya bersih, masnya ramah, dan makanannya enak. Saya hampir tiap hari beli di sini,” kata Dedi (29), seorang pengemudi ojek online yang setia menjadi pelanggan Yatno.
Meski usahanya terbilang sukses, Yatno mengaku tetap menghadapi tantangan. Cuaca buruk seperti hujan lebat bisa menurunkan jumlah pembeli secara drastis. Selain itu, harga bahan pokok yang fluktuatif seperti minyak goreng dan tepung juga memengaruhi margin keuntungan.
Namun, ia tak menyerah. “Namanya usaha pasti ada naik turun. Saya tetap semangat, yang penting jujur dan konsisten,” ungkapnya.
Rencana ke depan, Yatno ingin memperluas usahanya dengan membuka cabang kecil atau menitipkan dagangan ke warung-warung sekitar. Ia juga mulai memikirkan sistem pre-order untuk pelanggan tetap yang ingin memesan dalam jumlah banyak.
Kisah Yatno adalah potret nyata bagaimana usaha kecil di sektor kuliner bisa berkembang pesat dengan manajemen sederhana namun efektif. Di tengah derasnya arus digitalisasi dan modernisasi bisnis, Yatno tetap memilih jalur tradisional namun tak kalah menjanjikan.
Dengan keuletan, kebersihan, pelayanan prima, dan integritas, Yatno mampu membangun usaha yang tidak hanya menguntungkan secara ekonomi tetapi juga menginspirasi masyarakat sekitarnya.
“Saya hanya ingin anak istri saya bisa makan dari hasil halal. Nggak perlu mewah, yang penting berkah,” tutup Yatno dengan senyum penuh syukur.
Usaha kecil seperti gorengan pinggir jalan memiliki potensi besar bila dikelola dengan baik. Yatno membuktikan bahwa kejujuran, kebersihan, dan kerja keras adalah resep utama kesuksesan. Di tengah persaingan bisnis yang makin ketat, pelaku usaha mikro seperti Yatno justru menjadi tulang punggung ekonomi rakyat yang layak mendapatkan perhatian dan dukungan lebih luas. (Penulis: Abdul).



















