Berita Ekonomi

Warung Setia Kawan Pringsewu, UMKM Malam Hari yang Setia Temani Perut Lapar

226
×

Warung Setia Kawan Pringsewu, UMKM Malam Hari yang Setia Temani Perut Lapar

Sebarkan artikel ini

Pringsewu, SniperNew.id — Di ten­gah gemer­lap malam Kabu­pat­en Pringsewu, Lam­pung sebuah warung makan seder­hana namun penuh seman­gat berdiri kokoh di sisi Jalan Jen­dral Sudirman. Nama warung itu adalah “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu”, milik seo­rang pria seder­hana namun ulet berna­ma Pak Sungkono den­gan nama pngi­lan akrab­nya Sung-sung (42). Warung ini bukan hanya tem­pat makan, tetapi sim­bol keta­hanan UMKM di ten­gah tan­ta­n­gan ekono­mi, Rabu (06/08/25).

Bera­da di bawah naun­gan ban­gu­nan bekas show­room mobil bertuliskan “Tm. Motor — Jual Beli Mobil Sec­ond Berkual­i­tas”, warung ini jus­tru menun­jukkan seman­gat berba­gi ruang usa­ha dan kreativ­i­tas pelaku UMKM dalam meman­faatkan lahan strate­gis. Sebuah peman­dan­gan kon­tras antara bis­nis oto­mo­tif dan kulin­er raky­at kecil yang jus­tru berpadu har­mo­nis.

Bermodalkan span­duk kun­ing terang bertuliskan “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu”, warung ini mulai buka seti­ap hari dari pukul 17.00 WIB hing­ga sek­i­tar pukul 01.00 dini hari, atau sam­pai habis­nya stok makanan. Suasana seder­hana, penc­a­hayaan terang, dan bangku plas­tik khas warung malam men­ja­di ciri khas tem­pat ini.

  SPPG Rp500 Juta per Hari, 93% Anggaran BGN Mengalir ke Daerah

“Buka jam lima sore, biasanya habis sek­i­tar jam satu malam. Kalau ramai bisa lebih cepat habis,” ujar Pak Sungkono saat dite­mui di lokasi.

Gam­bar potret SniperNew.id, Rabu 06 Agus­tus 2025, potret tampk depat warung makan Setia Kawan.

Menu yang dis­ajikan di Warung Setia Kawan seder­hana namun meng­go­da: ane­ka lauk pauk ruma­han, sayu­ran, sam­bal, ser­ta pil­i­han minu­man hangat dan din­gin. Sajian khas ruma­han ini men­ja­di mag­net bagi war­ga lokal, sopir angku­tan malam, hing­ga peker­ja yang baru pulang dari aktiv­i­tas har­i­an.

Pak Sungkono, atau akrab dis­apa Sung-sung, adalah potret pelaku UMKM yang mem­u­lai usa­ha dari nol. Den­gan men­gan­dalkan keteku­nan, ia kini bisa menopang ekono­mi kelu­ar­ga dan men­cip­takan lapan­gan peker­jaan, mes­ki dalam skala kecil.

“Kalau jualan kayak gini, yang pent­ing jujur, kon­sis­ten, dan sabar. Pelang­gan pasti datang sendiri,” ujarnya sam­bil tersenyum.

Warungnya juga mem­peker­jakan dua orang pem­ban­tu tetap dan beber­a­pa kelu­ar­ga yang ikut mem­ban­tu secara bergant­ian. Hal ini menun­jukkan bah­wa warung kecil seper­ti milik Sung-sung turut berper­an dalam mem­bu­ka pelu­ang ker­ja lokal.

  Dirjen Pajak Tinjau Layanan SPT Tahunan di Sleman

Seper­ti pelaku UMKM lain­nya, Pak Sungkono meng­hadapi berba­gai tan­ta­n­gan: dari fluk­tu­asi har­ga bahan pokok, per­sain­gan usa­ha kulin­er, hing­ga peruba­han kebi­asaan kon­sum­si masyarakat. Namun ia tetap berta­han den­gan prin­sip “setia melayani kawan makan malam”.

“Kita sesuaikan har­ga den­gan kan­tong masyarakat. Nggak usah mahal-mahal yang pent­ing orang kenyang dan puas,” jelas­nya.

Har­ga makanan di warung ini memang ter­jangkau. Den­gan uang Rp10.000 hing­ga Rp15.000, pelang­gan sudah bisa menikmati nasi den­gan lauk lengkap dan minu­man. Ini jadi alasan men­ga­pa warung ini tetap ramai, mes­ki dike­lilin­gi oleh tem­pat makan mod­ern dan kedai kekin­ian.

Sim­bol Keta­hanan dan Kemandiri­an Ekono­mi Lokal; Keber­adaan Warung Setia Kawan men­ja­di con­toh nya­ta keta­hanan ekono­mi lokal yang bersum­ber dari sek­tor UMKM kulin­er malam hari. Dalam kon­teks pem­ban­gu­nan ekono­mi daer­ah, usa­ha kecil seper­ti ini memainkan per­an vital seba­gai peng­ger­ak ekono­mi mikro.

Menu­rut data dari Kementer­ian Kop­erasi dan UKM, sek­tor UMKM menyum­bang lebih dari 60% ter­hadap PDB nasion­al. Dalam skala lokal, UMKM juga men­cip­takan jaringan dis­tribusi barang dan jasa yang flek­si­bel ser­ta cepat beradap­tasi, seper­ti yang dilakukan Pak Sungkono.

Ter­letak di Jl. Jen­dral Sudirman, Pringsewu, lokasi warung ini memang strate­gis. Lalu lin­tas yang padat saat sore hing­ga malam mem­bu­at banyak orang mam­pir, baik sekadar makan, ngopi, maupun melepas penat. Warung ini juga ker­ap men­ja­di tem­pat pers­ing­ga­han bagi para penge­mu­di antar kota maupun ojek dar­ing.

  Warung Padang Seruni, Murah Meriah Rasa Juara Ambarawa

Dari luar, ban­gu­nan warung memang seder­hana, bahkan ter­li­hat seper­ti ban­gu­nan daru­rat. Namun seman­gat yang mem­bara di balik meja-meja plas­tik itu men­jel­ma jadi keku­atan ekono­mi yang tidak bisa dipan­dang remeh.

Lebih dari sekadar tem­pat makan, Warung Makan Setia Kawan men­ja­di titik temu berba­gai kalan­gan. Dari anak muda, buruh pabrik, sopir, maha­siswa, hing­ga war­ga biasa—semuanya meny­atu dalam meja-meja pan­jang di bawah lam­pu terang.

Span­duk besar berwar­na kun­ing den­gan tulisan mer­ah dan hitam bertuliskan “Warung Makan Setia Kawan Pringsewu” men­ja­di penan­da yang men­colok. Brand­ing seder­hana tapi kuat ini mem­bu­at warung ini mudah dike­nali dan lekat di ingatan pelang­gan.

Seba­gai pelaku UMKM, Pak Sungkono berharap ada lebih banyak dukun­gan dari pemer­in­tah daer­ah maupun lem­ba­ga terkait. “Kalau bisa, ban­tu­an untuk UMKM seper­ti modal, alat, atau pelati­han. Biar bisa lebih berkem­bang,” ujarnya.

Hara­pan ini ten­tu men­ja­di catatan pent­ing bagi semua pemangku kebi­jakan. Kare­na UMKM seper­ti Warung Setia Kawan bukan hanya tem­pat cari makan, tapi juga jan­tung kehidu­pan ekono­mi mikro yang harus dija­ga.

Penut­up: UMKM Bukan Usa­ha Kecil, Tapi Usa­ha Kuat. (Abdul)


 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *