Lampung, SniperNew.id – Sebuah unggahan video dari akun media sosial Bell Fiano Bell Fiano pada 19 September 2025 mendadak ramai diperbincangkan. Video yang menampilkan seorang ibu rumah tangga sedang mengolah pisang menjadi keripik itu langsung menyita perhatian publik. Hingga kini, unggahan tersebut telah meraih lebih dari 9.100 tanda suka, 605 komentar, serta dibagikan lebih dari 625 kali oleh pengguna media sosial, Selasa (30/09).
Dalam unggahannya, Bell Fiano Bell Fiano menulis, “Cari kerja susah? Jualan kripik pisang aja, untungnya banyak. Ini cara nggorengnya. #vodresepbellfiano”
Video memperlihatkan seorang perempuan berhijab yang sedang duduk di lantai rumahnya. Dengan cekatan, ia mengupas pisang mentah yang kemudian diolah menjadi keripik. Di sampingnya, terdapat ember besar berisi pisang yang sudah dikupas, wajan besar di atas kompor, serta alat tradisional untuk membantu proses penggorengan.
Konten ini bukan sekadar tutorial sederhana, tetapi juga membuka wawasan banyak orang tentang potensi usaha rumahan dari produk keripik pisang.
Unggahan berasal dari akun Bell Fiano Bell Fiano, yang aktif membagikan konten seputar resep, masakan, serta inspirasi usaha rumahan. Tokoh utama dalam video adalah seorang ibu rumah tangga yang tampak terbiasa dengan aktivitas produksi keripik pisang.
Unggahan ini langsung ditanggapi oleh ratusan warganet, di antaranya: Nayla Suroto Suroto yang menulis. “Semangat bunda, laris manis jualannya.”
Apriliasuci Pratama turut berbagi pengalaman. “Saya juga UMKM keripik pisang Bun, kurleb sudah 5 tahun lebih. Tapi masih belum berani nyerut pisangnya langsung di atas kompor, takut tumpah wajannya.”
Hus Naeniy menambahkan. “Saya juga jualan keripik pisang loh bunda, tapi kalau saya pakai serutan yang plastik bun.”
Zha bahkan meminta tutorial pembuatan alat parutan. “Bunda tolong spill cara bikin parutannya bun.. pengen banget parutan kaya gitu, soalnya aku juga suka bikin perkripikan.. Kata bunda itu bikin sendirikan?? Pengen juga minta tetangga yang tukang kayu bikin parutan kaya gitu juga.”
Selain itu, komentar lain seperti “Laris manis berkah,” “Cari cuan dari rumah lebih menyenangkan,” hingga pertanyaan harga jual keripik per kilogram menunjukkan besarnya antusiasme warganet terhadap usaha ini.
Video tersebut diunggah pada 19 September 2025. Dalam waktu singkat, video langsung menuai ribuan interaksi. Hanya dalam kurun waktu seminggu, unggahan itu sudah dibagikan lebih dari 600 kali, menandakan daya tariknya yang luar biasa.
Lokasi pasti proses produksi keripik tidak disebutkan secara eksplisit dalam unggahan. Namun, dari komentar-komentar warganet, tampak bahwa konten ini erat kaitannya dengan aktivitas UMKM di berbagai daerah Indonesia, khususnya Lampung yang memang terkenal sebagai salah satu sentra penghasil pisang terbesar di tanah air.
Ada beberapa faktor mengapa unggahan ini viral dan menuai banyak komentar positif:
1. Relevansi dengan kondisi ekonomi
Di tengah sulitnya mencari pekerjaan, usaha rumahan berbasis pangan seperti keripik pisang menjadi solusi alternatif untuk menambah penghasilan keluarga.
2. Inspirasi bagi pelaku UMKM
Banyak warganet yang sudah menjalani usaha serupa merasa termotivasi. Unggahan ini menjadi ruang berbagi pengalaman, tips, dan trik antar sesama pelaku usaha kecil.
3. Kedekatan emosional
Sosok ibu rumah tangga dalam video terlihat sederhana dan tulus bekerja, sehingga menghadirkan kedekatan emosional bagi penonton.
4. Potensi ekonomi
Permintaan keripik pisang cukup tinggi. Produk ini bisa dipasarkan secara offline maupun online, dengan modal relatif kecil tetapi margin keuntungan cukup besar.
Proses pembuatan keripik pisang dalam video ditampilkan sederhana namun penuh ketelatenan.
1. Pengupasan Pisang
Pisang mentah dikupas kulitnya, kemudian dimasukkan ke wadah besar.
2. Penyerutan Pisang
Dalam komentar, beberapa warganet menyoroti teknik penyerutan pisang langsung di atas wajan penggorengan. Metode ini membutuhkan keterampilan tinggi karena berisiko terkena minyak panas.
3. Penggorengan
Pisang yang sudah diserut tipis dimasukkan ke dalam wajan besar berisi minyak panas hingga kering dan renyah.
4. Pengemasan
Setelah digoreng, keripik pisang biasanya didinginkan lalu dikemas dalam plastik untuk dipasarkan.
Warganet juga menyinggung peralatan yang digunakan, termasuk parutan khusus buatan sendiri dari kayu dan logam. Banyak yang penasaran bagaimana cara membuatnya karena alat ini dianggap lebih praktis dibanding serutan plastik biasa.
Unggahan ini tidak hanya menuai pujian, tetapi juga menciptakan ruang diskusi produktif di kolom komentar. Sesama pelaku UMKM saling memberikan motivasi dan berbagi pengalaman.
Komentar seperti “Cari cuan dari rumah lebih menyenangkan” menunjukkan bahwa masyarakat mulai menyadari potensi besar dari usaha kecil berbasis rumah tangga. Bahkan, ada yang langsung menanyakan harga keripik pisang per kilogram, menandakan adanya ketertarikan pasar nyata.
Selain itu, unggahan ini juga memperkuat narasi bahwa media sosial dapat menjadi wadah promosi efektif bagi UMKM.
Fenomena viralnya video ibu pembuat keripik pisang yang diunggah oleh akun Bell Fiano Bell Fiano membuktikan bahwa usaha rumahan bisa menjadi solusi kreatif di tengah tantangan ekonomi. Dengan modal keterampilan, ketekunan, dan sedikit inovasi, keripik pisang mampu menjadi sumber penghasilan yang menjanjikan.
Interaksi hangat antar warganet memperlihatkan semangat gotong royong digital: saling memberi semangat, berbagi pengalaman, hingga berbagi ide alat penunjang produksi.
Dengan pasar yang luas dan dukungan komunitas daring, keripik pisang bukan sekadar camilan, tetapi juga simbol ketahanan ekonomi keluarga. (abh/Ahm).













