Way Kanan, SniperNew.id - Ditengah gemuruh modernisasi dan hiruk pikuk digitalisasi, masyarakat Way Kanan menyimpan sebuah kenangan kolektif yang kental akan nilai gotong royong: Tradisi Bualih. Lebih dari sekadar menangkap ikan secara tradisional, Bualih adalah simbol perayaan hidup ala Way Kanan diwarnai tawa, guyuran lumpur, dan semangat kebersamaan.
Tradisi ini dahulu rutin digelar setiap tahun dalam Festival Radin Djambat, memperingati Hari Ulang Tahun Kabupaten Way Kanan. Sayangnya, dalam beberapa tahun terakhir, kegiatan ini tak lagi tampak. Padahal, Bualih bukan hanya urusan budaya – ia memiliki potensi ekonomi yang tak main-main.
Kata “Bualih” sendiri berasal dari bahasa Lampung, yang berarti “mengejar” atau “menyusul”. Dalam konteks tradisi ini, warga turun bersama-sama ke sungai atau kolam-kolam alami (purus atau lebung) saat musim kemarau tiba. Tanpa alat modern, tangan-tangan warga mencari ikan yang terjebak di dasar, mulai dari lele, gabus, hingga ikan semah yang langka.
Bayangkan ratusan orang berkumpul, bukan hanya untuk menangkap ikan, tapi juga menciptakan pasar musiman dadakan. Ikan hasil tangkapan bisa dijual langsung, ditukar, atau dibawa pulang untuk konsumsi keluarga. Perputaran ekonomi kecil namun hidup, dengan potensi lebih besar jika dikelola secara sistematis.
Menurut pengamat budaya lokal, jika dikembangkan kembali, Bualih berpotensi menjadi ekowisata musiman yang bisa menyedot wisatawan lokal maupun mancanegara. Tidak hanya memberi pemasukan bagi pelaku UMKM lokal (penjual makanan, peralatan, kerajinan, hingga jasa homestay), tapi juga menjadi daya tarik tersendiri bagi sektor pariwisata Kabupaten Way Kanan.
Akun resmi Facebook Kabupaten Way Kanan sempat mengunggah foto kenangan tradisi Bualih, lengkap dengan caption penuh kerinduan dari netizen. Banyak yang menyayangkan mengapa kegiatan ini hilang, padahal menjadi identitas lokal yang unik.
“Dulu, sebelum ada medsos, kita sudah viral tiap Agustus karena Bualih,” tulis salah satu netizen bernama @Rasminah_WK.
Kini masyarakat berharap, pemerintah daerah bisa menghidupkan kembali kegiatan ini, bukan sekadar sebagai festival, tetapi juga strategi pemulihan ekonomi berbasis budaya lokal. Di tengah tantangan ekonomi pascapandemi, tradisi seperti Bualih bisa jadi solusi unik dan khas Way Kanan.
Way Kanan tak harus meniru kota lain. Dengan lumpur, ikan, dan tawa lepas, daerah ini bisa merayakan hidup sambil menggerakkan ekonomi rakyat. Tradisi Bualih, meski sederhana, menyimpan potensi luar biasa tinggal bagaimana kita mengejarnya kembali.
Penulis: Tim Redaksi Ekonomi SniperNew.id
















