Berita Ekonomi

Tradisi Bualih: Tambang Ekonomi dan Budaya Way Kanan yang Terlupakan tapi Dirindukan

401
×

Tradisi Bualih: Tambang Ekonomi dan Budaya Way Kanan yang Terlupakan tapi Dirindukan

Sebarkan artikel ini

Way Kanan, SniperNew.id - Diten­gah gemu­ruh mod­ernisasi dan hiruk pikuk dig­i­tal­isasi, masyarakat Way Kanan meny­im­pan sebuah kenan­gan kolek­tif yang ken­tal akan nilai gotong roy­ong: Tra­disi Bual­ih. Lebih dari sekadar menangkap ikan secara tra­di­sion­al, Bual­ih adalah sim­bol per­ayaan hidup ala Way Kanan diwar­nai tawa, guyu­ran lumpur, dan seman­gat keber­samaan.

Tra­disi ini dahu­lu rutin dige­lar seti­ap tahun dalam Fes­ti­val Radin Djam­bat, mem­peringati Hari Ulang Tahun Kabu­pat­en Way Kanan. Sayangnya, dalam beber­a­pa tahun ter­akhir, kegiatan ini tak lagi tam­pak. Pada­hal, Bual­ih bukan hanya uru­san budaya – ia memi­li­ki poten­si ekono­mi yang tak main-main.

  Warung Padang Seruni, Murah Meriah Rasa Juara Ambarawa

Kata “Bual­ih” sendiri berasal dari bahasa Lam­pung, yang berar­ti “menge­jar” atau “menyusul”. Dalam kon­teks tra­disi ini, war­ga turun bersama-sama ke sun­gai atau kolam-kolam ala­mi (purus atau lebung) saat musim kema­rau tiba. Tan­pa alat mod­ern, tan­gan-tan­gan war­ga men­cari ikan yang ter­je­bak di dasar, mulai dari lele, gabus, hing­ga ikan semah yang lang­ka.

Bayangkan ratu­san orang berkumpul, bukan hanya untuk menangkap ikan, tapi juga men­cip­takan pasar musi­man dadakan. Ikan hasil tangka­pan bisa dijual lang­sung, ditukar, atau dibawa pulang untuk kon­sum­si kelu­ar­ga. Per­putaran ekono­mi kecil namun hidup, den­gan poten­si lebih besar jika dikelo­la secara sis­tem­a­tis.

  Pengelolaan Parkir Grojogan Sewu Diduga Abaikan Aturan Resmi

Menu­rut penga­mat budaya lokal, jika dikem­bangkan kem­bali, Bual­ih berpoten­si men­ja­di ekow­isa­ta musi­man yang bisa menye­dot wisa­tawan lokal maupun man­cane­gara. Tidak hanya mem­beri pema­sukan bagi pelaku UMKM lokal (pen­jual makanan, per­ala­tan, ker­a­ji­nan, hing­ga jasa home­s­tay), tapi juga men­ja­di daya tarik tersendiri bagi sek­tor pari­wisa­ta Kabu­pat­en Way Kanan.

Akun res­mi Face­book Kabu­pat­en Way Kanan sem­pat men­gung­gah foto kenan­gan tra­disi Bual­ih, lengkap den­gan cap­tion penuh kerind­u­an dari neti­zen. Banyak yang menyayangkan men­ga­pa kegiatan ini hilang, pada­hal men­ja­di iden­ti­tas lokal yang unik.

  Bulog Siaga, Beras Melaut Demi Sumut Hebatt

“Dulu, sebelum ada med­sos, kita sudah viral tiap Agus­tus kare­na Bual­ih,” tulis salah satu neti­zen berna­ma @Rasminah_WK.

Kini masyarakat berharap, pemer­in­tah daer­ah bisa menghidup­kan kem­bali kegiatan ini, bukan sekadar seba­gai fes­ti­val, tetapi juga strate­gi pemuli­han ekono­mi berba­sis budaya lokal. Di ten­gah tan­ta­n­gan ekono­mi pas­capan­de­mi, tra­disi seper­ti Bual­ih bisa jadi solusi unik dan khas Way Kanan.

Way Kanan tak harus meniru kota lain. Den­gan lumpur, ikan, dan tawa lep­as, daer­ah ini bisa mer­ayakan hidup sam­bil meng­ger­akkan ekono­mi raky­at. Tra­disi Bual­ih, mes­ki seder­hana, meny­im­pan poten­si luar biasa ting­gal bagaimana kita menge­jarnya kem­bali.

Penulis: Tim Redak­si Ekono­mi SniperNew.id

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *