Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Tanah Adat Halangan Ratu Diduga Dicaplok, Warga Tagih Janji Plasma PTPN I Regional 7

635
×

Tanah Adat Halangan Ratu Diduga Dicaplok, Warga Tagih Janji Plasma PTPN I Regional 7

Sebarkan artikel ini

Pesawaran, SniperNew.id — Sejum­lah war­ga dan tokoh adat meny­oroti kewa­jiban kemi­traan plas­ma yang seharus­nya dijalankan oleh PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari Natar, Kabu­pat­en Pesawaran, Lam­pung. Mere­ka meni­lai hing­ga saat ini perusa­haan belum mem­berikan keje­lasan terkait real­isasi kebun plas­ma seba­gaimana diatur dalam per­at­u­ran perun­dang-undan­gan.

Keber­adaan perusa­haan perke­bunan negara dihara­p­kan mem­bawa man­faat bagi masyarakat sek­i­tar, teruta­ma melalui pro­gram kemi­traan plas­ma yang mem­berikan kesem­patan bagi war­ga untuk men­gelo­la lahan dan menikmati hasil ekono­mi dari sek­tor perke­bunan. Namun, war­ga jus­tru merasa hak mere­ka dia­baikan.

Tokoh adat Desa Halan­gan Ratu, Mak­mun Lias Gelar Pengikhan Yakin, mene­gaskan bah­wa masyarakat sudah lama menung­gu keje­lasan pro­gram plas­ma dari pihak perusa­haan. Ia menye­but bah­wa pihak PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari sem­pat mengk­laim telah mem­berikan lahan plas­ma selu­as kurang lebih 2.000 hek­tare kepa­da masyarakat sek­i­tar, namun hing­ga kini belum ada buk­ti nya­ta di lapan­gan.

“Kami hanya ingin hak kami seba­gai war­ga sek­i­tar perusa­haan diper­hatikan. Dalam undang-undang, perusa­haan wajib mem­fasil­i­tasi kebun plas­ma min­i­mal 20 persen dari luas lahan yang mere­ka kelo­la. Tapi sam­pai sekarang belum ada pen­je­lasan ter­bu­ka dari pihak PTPN,” ujarnya, Rabu (15/10/2025).

  Kabel Listrik Turun hingga 2,5 Meter di Pekon Margakaya, Warga Resah-Ketua Umum LSM HAMMER Desak PLN Pringsewu Bertindak

Mak­mun menam­bahkan, alih-alih mem­berikan man­faat, keber­adaan PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari jus­tru menim­bulkan kere­sa­han di kalan­gan masyarakat. Ia menye­but, aktiv­i­tas galian besar di sek­i­tar wilayah perke­bunan diang­gap men­gan­cam kese­la­matan masyarakat, teruta­ma anak-anak dan hewan ter­nak. Selain itu, ia juga menud­ing pihak perusa­haan telah men­gua­sai seba­gian tanah adat milik masyarakat Desa Halan­gan Ratu.

“Boro-boro mem­beri kebun plas­ma kepa­da masyarakat, tanah adat kami pun yang luas­nya kurang lebih 988 hek­tare ikut dikua­sai oleh pihak PTPN. Ini jelas tidak sejalan den­gan seman­gat kemi­traan yang diatur undang-undang,” tegas­nya.

Mak­mun mengin­gatkan bah­wa kewa­jiban perusa­haan untuk mem­fasil­i­tasi kebun plas­ma sudah diatur secara jelas dalam Pasal 58 Ayat (1) Undang-Undang Nomor 39 Tahun 2014 ten­tang Perke­bunan, yang menye­butkan.

“Seti­ap perusa­haan yang memi­li­ki izin usa­ha perke­bunan wajib mem­fasil­i­tasi pem­ban­gu­nan kebun masyarakat (plas­ma) pal­ing sedik­it 20 persen dari total luas are­al yang diusa­hakan.”

Namun, menu­rut war­ga, atu­ran terse­but seo­lah dia­baikan oleh pihak perusa­haan. Mere­ka meni­lai PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari seharus­nya men­ja­di con­toh dalam pen­er­a­pan prin­sip kemi­traan yang berkead­i­lan, bukan jus­tru menam­bah beban ekono­mi war­ga sek­i­tar.

Sejum­lah petani setem­pat juga men­geluhkan kon­disi seru­pa. Mere­ka berharap pihak PTPN I Region­al 7 lebih transparan dan mau bersin­er­gi den­gan masyarakat. War­ga meni­lai pola kemi­traan inti–plasma bisa men­ja­di solusi untuk meningkatkan kese­jahter­aan dan menekan kesen­jan­gan sosial antara perusa­haan dan masyarakat lokal.

  Eks Napiter, Ajak Masyarakat Menolak Paham radikal dan tindakan Terorisme

Namun, hara­pan itu tam­pak masih jauh dari keny­ataan. “Yang ter­ja­di saat ini malah seba­liknya. Kami jus­tru harus menye­wa lahan kepa­da pihak PTPN I Rejosari den­gan har­ga sek­i­tar dela­pan juta rupi­ah per hek­tare per tahun. Ini jelas tidak benar,” ujar seo­rang petani seten­gah baya kepa­da sejum­lah awak media.

Menu­rut­nya, sis­tem sewa lahan yang dit­er­ap­kan perusa­haan jus­tru mem­per­bu­ruk kon­disi ekono­mi masyarakat sek­i­tar yang seba­gian besar meng­gan­tungkan hidup dari sek­tor per­tan­ian dan perke­bunan.

Masalah tanah adat men­ja­di titik panas dalam kon­flik ini. Tokoh adat Desa Halan­gan Ratu mene­gaskan bah­wa tanah adat yang sela­ma ini mere­ka kelo­la secara turun-temu­run tidak per­nah dilepaskan secara sah kepa­da pihak man­a­pun, ter­ma­suk perusa­haan perke­bunan negara.

Mak­mun Lias menye­but, pihaknya telah beber­a­pa kali men­co­ba berko­mu­nikasi den­gan perusa­haan maupun pemer­in­tah daer­ah, namun belum ada langkah konkret untuk menye­le­saikan per­masala­han terse­but. Ia berharap pihak terkait tidak menut­up mata ter­hadap pen­guasaan lahan adat yang mere­ka anggap sepi­hak.

“Kami tidak meno­lak pem­ban­gu­nan, tapi kami ingin hak kami dihor­mati. Kami pun­ya buk­ti sejarah dan batas-batas wilayah adat kami. Kalau perusa­haan merasa pun­ya hak, mari duduk bersama dan tun­jukkan buk­ti sah­nya,” ujarnya.

War­ga Desa Halan­gan Ratu bersama sejum­lah tokoh adat mem­inta agar pemer­in­tah daer­ah, DPRD, dan instan­si terkait segera turun tan­gan mem­fasil­i­tasi dia­log antara masyarakat dan pihak perusa­haan. Mere­ka berharap penye­le­sa­ian dilakukan secara adil, transparan, dan men­gacu pada atu­ran hukum yang berlaku.

  Helfi Triyansi Nahkodai Dinas KBPPPA Aceh Tengah

Selain itu, masyarakat mende­sak agar pro­gram plas­ma segera dire­al­isas­ikan dan sta­tus tanah adat dikem­ba­likan sesuai hak masyarakat.

“Kami ingin ada keje­lasan, bukan jan­ji. Plas­ma adalah hak kami seba­gai masyarakat sek­i­tar. Pemer­in­tah jan­gan diam saja,” kata seo­rang war­ga lain­nya.

Tokoh-tokoh adat juga mene­gaskan bah­wa mere­ka tetap mem­bu­ka ruang musyawarah. Namun jika aspi­rasi masyarakat terus dia­baikan, mere­ka siap men­em­puh jalur hukum dan mengge­lar aksi damai untuk menyuarakan tun­tu­tan mere­ka.

Hing­ga beri­ta ini diter­bitkan, pihak PTPN I Region­al 7 Unit Rejosari Natar belum mem­berikan tang­ga­pan res­mi terkait aspi­rasi masyarakat terse­but. Upaya kon­fir­masi yang dilakukan awak media melalui sam­bun­gan tele­pon dan pesan singkat belum men­da­p­atkan jawa­ban dari pihak perusa­haan.

Masyarakat berharap agar pimp­inan PTPN I Region­al 7 segera mem­berikan klar­i­fikasi ter­bu­ka dan mem­be­berkan data terkait real­isasi kebun plas­ma maupun pen­gelo­laan lahan di wilayah Rejosari Natar. Transparan­si dini­lai men­ja­di kun­ci untuk mengem­ba­likan keper­cayaan masyarakat ter­hadap perusa­haan.

Di akhir perny­ataan­nya, Mak­mun Lias Gelar Pengikhan Yakin kem­bali mene­gaskan bah­wa masyarakat tidak meno­lak keber­adaan perusa­haan, namun mere­ka menun­tut kead­i­lan dan keter­bukaan. Ia mengin­gatkan bah­wa hubun­gan har­mo­nis antara perusa­haan dan masyarakat hanya bisa ter­cip­ta jika hak-hak masyarakat diakui dan dihor­mati.

“Kami tidak menun­tut lebih. Kami hanya ingin hidup layak di tanah kami sendiri. Jan­gan sam­pai tanah adat kami hilang kare­na kelala­ian pihak perusa­haan dan pem­biaran dari pemer­in­tah,” pungkas­nya. (Sufiyawan).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *