Berita Daerah

Ritual Adat Dayak Hompong Pali Sambut Bupati Baru Barito Utara: Simbol Harmoni Budaya dan Kepemimpinan Baru

534
×

Ritual Adat Dayak Hompong Pali Sambut Bupati Baru Barito Utara: Simbol Harmoni Budaya dan Kepemimpinan Baru

Sebarkan artikel ini

Muara Teweh, 15 Okto­ber 2025 – Sebuah momen­tum berse­jarah kem­bali mewar­nai Kabu­pat­en Bar­i­to Utara, Kali­man­tan Ten­gah. Bupati Bar­i­to Utara ter­pil­ih peri­ode 2025–2030, H. Sha­lahud­din, bersama wakil­nya Felix Sonadie Y. Tin­gan, res­mi men­em­pati Rumah Jabatan Bupati yang megah dan men­ja­di ikon kebang­gaan masyarakat Bar­i­to Utara.

Momen berse­jarah ini ditandai den­gan rit­u­al pem­bukaan Hom­pong Pali, pros­esi sakral yang dip­impin lang­sung oleh Dewan Adat Dayak (DAD) Bar­i­to Utara, seba­gai ben­tuk peng­hor­matan sekali­gus restu adat kepa­da pemimpin baru yang akan menahko­dai daer­ah lima tahun ke depan.

Sejak mema­su­ki pin­tu ger­bang Rumah Jabatan (Rujab), suasana penuh khid­mat bercam­pur den­gan semarak budaya Dayak sudah terasa. Puluhan tokoh adat, pemu­ka masyarakat, ser­ta anggota Dewan Adat Dayak Bar­i­to Utara berdiri berbaris menyam­but kehadi­ran dua pemimpin baru terse­but.

Ket­ua Satu Dewan Adat Dayak Bar­i­to Utara, H. Amir Mah­mud, bersama Ket­ua Dua DAD Hison, yang juga men­ja­bat seba­gai Ket­ua Umum Ormas GPD Alur Bar­i­to Kali­man­tan Ten­gah, memimpin lang­sung rit­u­al pem­bukaan Hom­pong Pali.

Pros­esi adat ini meru­pakan sim­bol pem­bu­ka jalan, pem­ber­sih diri, dan peno­lak bala, yang wajib dilakukan keti­ka seo­rang pemimpin atau tokoh baru akan men­em­pati tem­pat ting­gal atau rumah jabatan baru.

Rit­u­al adat dim­u­lai den­gan potong pan­tan, sebuah tra­disi khas Dayak yang melam­bangkan keberan­ian dan kesi­a­pan pemimpin dalam mengem­ban amanah raky­at. Pros­esi ini diirin­gi tar­i­an adat Dayak yang penuh war­na, menggam­barkan sukaci­ta dan peng­hor­matan kepa­da tamu agung.

  Isu Etika Viral, Oknum Perangkat Desa Wangandalem Pilih Mundur

Para penari den­gan busana tra­di­sion­al menari diirin­gi tabuhan gong dan gen­dang khas Dayak, menam­bah suasana men­ja­di semakin sakral dan berwibawa. Bupati H. Sha­lahud­din dan Wak­il Bupati Felix ter­li­hat ber­jalan per­la­han mele­wati pohon pan­tan yang telah dipo­tong, menan­dakan ter­bukanya jalan menu­ju masa kepemimp­inan baru di Bar­i­to Utara.

Suasana kian hidup keti­ka para tokoh masyarakat, pemu­ka adat, ser­ta per­wak­i­lan dari Humas DAD Bar­i­to Utara, Ibu Mula Dewi Pur­wan­ti, turut men­dampin­gi jalan­nya acara agar berlang­sung den­gan tert­ib dan penuh mak­na.

Usai mele­wati pros­esi adat per­ta­ma, pasan­gan pemimpin ini melan­jutkan langkah mere­ka di atas kar­pet mer­ah menu­ju pin­tu uta­ma Rujab. Sek­i­tar 20 meter dari pin­tu ger­bang, mere­ka kem­bali dis­am­but den­gan suasana yang berbe­da: tabuhan rebana dan lan­tu­nan sholawat mengge­ma mer­du, mem­bawa nuansa isla­mi yang hangat dan damai.

Per­pad­u­an budaya Dayak dan Islam ini mencer­minkan har­moni yang telah lama ter­jalin di Bar­i­to Utara.
“Assalamu’alaikum, Guru,” ucap H. Sha­lahud­din penuh hor­mat kepa­da para ula­ma dan tokoh aga­ma Islam yang berdiri berbaris menung­gun­ya di tang­ga Rumah Jabatan.

Uca­pan salam terse­but dis­am­but hangat oleh Guru Noval, salah satu ula­ma terke­mu­ka di Bar­i­to Utara, yang kemu­di­an memimpin doa dalam pros­esi sela­matan men­em­pati rumah jabatan baru.

Setibanya di tang­ga uta­ma Rujab, Bupati dan Wak­il Bupati kem­bali men­jalani rit­u­al adat Dayak yang san­gat sakral: Tapung Tawar dan meng­han­curkan telur ayam kam­pung di anak tang­ga.

Ket­ua DAD H. Amir Mah­mud men­je­laskan, tra­disi terse­but memi­li­ki mak­na men­dalam. “Menu­rut keper­cayaan para leluhur, seti­ap pemimpin yang mema­su­ki rumah baru harus melalui Tapung Tawar dan meng­in­jak telur ayam kam­pung hing­ga pec­ah. Itu sim­bol mem­ber­sihkan diri dari segala hal buruk dan mem­o­hon per­lin­dun­gan kepa­da Sang Pen­cip­ta,” ujarnya.

  Akses Jalan Rusak, Warga Maninjau Terpaksa Gunakan Jalur Danau untuk Kebutuhan Harian

Beras kun­ing pun ditaburkan sep­a­n­jang langkah mere­ka, menan­dakan doa kese­la­matan, kese­jahter­aan, dan kemak­mu­ran dalam men­jalankan amanah raky­at.

Sete­lah selu­ruh pros­esi adat sele­sai, acara dilan­jutkan den­gan sela­matan seder­hana di ruang uta­ma Rumah Jabatan. Doa bersama dip­impin oleh Guru Noval, dihadiri oleh tokoh masyarakat, pemu­ka adat, ula­ma, ser­ta per­wak­i­lan dari pemer­in­tah daer­ah.

Dalam doanya, Guru Noval mem­o­hon agar Bupati H. Sha­lahud­din dan Wak­il Bupati Felix Sonadie Y. Tin­gan selalu diberi keku­atan, kebi­jak­sanaan, ser­ta keberka­han dalam memimpin Kabu­pat­en Bar­i­to Utara.

“Semoga kepemimp­inan beli­au berd­ua mem­bawa kemak­mu­ran, kedama­ian, dan kese­jahter­aan bagi selu­ruh masyarakat,” ucap­nya.

Acara berlang­sung penuh kehangatan dan keber­samaan. Tidak ada keme­wa­han berlebi­han, jus­tru keseder­hanaan dan kekhid­matan yang men­ja­di ciri uta­ma acara ini.

Rumah Jabatan Bupati Bar­i­to Utara yang men­ja­di pusat acara kali ini memang dike­nal seba­gai salah satu rumah jabatan kepala daer­ah pal­ing megah di Kali­man­tan Ten­gah.
Ban­gu­nan­nya berdiri kokoh den­gan desain arsitek­tur mod­ern yang berpadu den­gan sen­tuhan khas budaya Dayak. Orna­men uki­ran khas suku Dayak menghi­asi seti­ap sisi ban­gu­nan, melam­bangkan iden­ti­tas lokal yang kuat.

Kein­da­han dan kemega­han Rujab ini kini tidak hanya men­ja­di sim­bol kekuasaan, tetapi juga sim­bol kebang­gaan selu­ruh masyarakat Bar­i­to Utara.

“Rumah jabatan ini adalah milik raky­at, tem­pat di mana kebi­jakan dan kepu­tu­san besar untuk kema­juan Bar­i­to Utara akan lahir,” ujar salah satu tokoh masyarakat yang hadir.

  Warga Ceritakan Evakuasi Banjir dari Kesaksian

Acara penyambu­tan ini tidak hanya men­ja­di sim­bol adat, tetapi juga momen­tum untuk mem­perku­at komit­men bersama mem­ban­gun daer­ah.
Para tokoh adat dan aga­ma mene­gaskan pent­ingnya sin­er­gi antara pemer­in­tah dan masyarakat adat dalam men­ja­ga nilai-nilai luhur ser­ta mem­per­cepat pem­ban­gu­nan yang berkead­i­lan.

“Bupati dan Wak­il Bupati kita hari ini adalah pemimpin yang lahir dari seman­gat keber­samaan. Semoga beli­au berd­ua dap­at men­jalankan amanah den­gan bijak­sana dan selalu menden­garkan suara raky­at,” kata Hison, Ket­ua Dua DAD Bar­i­to Utara.

Semen­tara itu, Bupati H. Sha­lahud­din dalam kesem­patan terse­but men­gu­cap­kan rasa syukur dan ter­i­ma kasih atas sambu­tan yang luar biasa dari masyarakat adat ser­ta selu­ruh ele­men masyarakat Bar­i­to Utara.
“Ini bukan hanya ten­tang saya dan wak­il saya, tetapi ten­tang selu­ruh masyarakat Bar­i­to Utara. Den­gan restu adat dan doa para ula­ma, insya Allah kami siap mengab­di den­gan tulus untuk kema­juan daer­ah ini,” ujar Sha­lahud­din.

Rit­u­al pem­bukaan Hom­pong Pali ini men­ja­di tan­da dim­u­lainya era baru kepemimp­inan di Kabu­pat­en Bar­i­to Utara. Pros­esi adat, doa bersama, ser­ta har­moni antara budaya dan aga­ma men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa masyarakat Bar­i­to Utara men­jun­jung ting­gi nilai-nilai kear­i­fan lokal sekali­gus tetap ter­bu­ka ter­hadap kema­juan.

Den­gan penuh hara­pan, masyarakat Bar­i­to Utara menyam­but kepemimp­inan H. Sha­lahud­din dan Felix Sonadie Y. Tin­gan seba­gai sim­bol peruba­han menu­ju masa depan yang lebih baik, penuh keberka­han, dan kese­jahter­aan.

Rumah jabatan yang megah kini telah res­mi dihu­ni oleh pemimpin baru—dan dari tem­pat ini­lah, seman­gat baru untuk mem­ban­gun Bar­i­to Utara akan dim­u­lai.

(Hry)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *