Di hari yang suci ini, Pimpinan dan seluruh jajaran PT SNIPERNEW MEDIA PERS serta PT Karya Gemilang Pemburu Fakta bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H. Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin.
Banner SNIPERNEW
Keluarga Besar PT SNIPERNEW MEDIA PERS dan PT Karya Gemilang Pemburu Fakta
bersama Media Online FaktaNow.pro dan SNIPERNEW.id mengucapkan
Selamat Hari Raya Idul Fitri 1447 H
Minal Izin Wal Faizin, Mohon Maaf Lahir dan Batin
Berita Daerah

Ramai-Ramai Warga Pati Tolak Kenaikan PBB 250%, Bupati Kena Semprot Netizen!

342
×

Ramai-Ramai Warga Pati Tolak Kenaikan PBB 250%, Bupati Kena Semprot Netizen!

Sebarkan artikel ini

Pati, Jawa Ten­gah – Kepu­tu­san menge­jutkan Bupati Pati, Sude­wo, untuk menaikkan Pajak Bumi dan Ban­gu­nan (PBB) hing­ga 250 persen memicu gelom­bang kri­tik tajam dari masyarakat. Isu ini men­cu­at usai kehadi­ran Bupati dalam sebuah acara yang dise­but tidak men­da­p­at sambu­tan hangat dari war­ga, dan lang­sung viral di media sosial, khusus­nya di plat­form Threads.

Akun folkono­ha men­ja­di salah satu akun yang per­ta­ma kali mem­bagikan kabar terse­but. Dalam ung­ga­han­nya, ter­tulis:

“Sete­lah meng­hadiri acara dan tak men­da­p­at sambu­tan hangat dari war­ga, Bupati Pati, Sude­wo, meny­atakan kenaikan Pajak Bumi dan Ban­gu­nan (PBB) hing­ga 250 persen akan dika­ji ulang demi men­gu­ran­gi beban masyarakat.”

  Kepemimpinan Tegas Kacabdin Wilayah II Lampung, Rodi Hayani Samsun dalam Meningkatkan Mutu Pendidikan

Ung­ga­han terse­but dis­er­tai den­gan sebuah video yang menun­jukkan Bupati Sude­wo ten­gah bera­da di dalam sebuah gedung den­gan deko­rasi res­mi dan penuh kur­si kosong, men­ge­nakan paka­ian adat lengkap berwar­na hitam den­gan motif emas dan topi khas daer­ah.

Cap­tion ung­ga­han ditut­up den­gan per­tanyaan yang memanc­ing reak­si pub­lik:

“Gmn kata kalian pren? 🎥: turangga.1”

Tak butuh wak­tu lama, kolom komen­tar pun dipenuhi respons pub­lik yang san­gat kri­tis dan tajam. Seba­gian besar komen­tar menyindir sikap Bupati yang diang­gap berubah-ubah dan tidak kon­sis­ten.

Komen­tar @arfah.arf menulis. “Lhaa katanya biar 50 ribu orang dia tidak gen­tar… ini baru sekali acara saja gak dis­am­but lang­sung berubah perny­ataan­nya….”

Komen­tar lain dari @sitorus.sitorus.12720100 menye­but. “Kemarin nan­tang, tidak per­lu kaji lagi, turunk­an bupati. Jan­gan mau pun­ya pemimpin nan­tang masyarakat yg pun­ya kuasa atas pemimpin yg ditun­juk.”

Semen­tara itu, @t_sight menyindir pros­es pengam­bi­lan kebi­jakan. ““Sebelum­nya­belum ada kajian? Pake di kaji ulang.. KPK mana KPK.. udah ada indikasi nih 😂🤣”

  Ihya Ramadan Perdana MB Kelantan Himpun Perantau di Shah Alam

Neti­zen lain­nya bahkan menye­but Bupati seba­gai beban masyarakat. Komen­tar dari @ilhamoryza cukup frontal. “Maaf Pak Bupati, ANDA BEBAN MASYARAKAT SESUNGGUHNYA.”

Semen­tara @anggiperd_ mem­per­tanyakan pros­es demokrasi. ““Hayosi­a­pa yang mil­ih dia hayo 🤭”

Neti­zen @d_f_mahendra pun menim­pali den­gan nada satire: “Bupati dan PBB harus bareng-bareng turun biar kom­pak.”

Komen­tar @andrilee_ppl meng­gu­nakan bahasa daer­ah yang cukup keras: “Men­tal tempe ra wani ngade­pin raky­at e lang­sung.. win­gi nan­tang-nan­tang di jabani mlem­pem.”

Ada pula komen­tar sarkas dari @kho_an1987 yang menulis. ”“Jan­gan­pak tetap 250%, nan­ti ndak bisa nyaw­er lho 🤣”

Dan yang pal­ing sarkastik namun jena­ka datang dari @baaambaaaang. “Gpp pak. Kemarin khi­laf. Tapi memang gitu sih.”

Gelom­bang komen­tar berna­da satire, marah, hing­ga kece­wa ini menun­jukkan bah­wa isu kenaikan PBB bukan­lah hal sepele. Kenaikan hing­ga 250% diang­gap san­gat mem­be­bani masyarakat, apala­gi di ten­gah kon­disi ekono­mi yang belum sepenuh­nya pulih pas­capan­de­mi.

Beber­a­pa war­ga juga meny­ing­gung soal sikap Bupati yang sebelum­nya diang­gap menan­tang masyarakat untuk menu­runk­an­nya jika tidak setu­ju. Namun sete­lah men­da­p­at respons din­gin dalam acara res­mi, narasi yang dis­am­paikan lang­sung berubah men­ja­di ren­cana “pengka­jian ulang”.

  Langkah Sunyi di Gang Sempit, Sentra Wyata Guna Bergerak Saat Warga Membutuhkan

Isu ini berpoten­si meng­gun­cang legit­i­masi kepemimp­inan Sude­wo di mata masyarakat. Banyak yang mulai mem­per­tanyakan kred­i­bil­i­tas ser­ta keber­pi­hakan­nya ter­hadap raky­at. Jika tidak ditan­gani secara bijak, bukan tidak mungkin akan muncul aksi protes secara nya­ta di lapan­gan, tidak hanya di media sosial.

Desakan dari pub­lik agar Bupati mem­bat­alk­an sepenuh­nya kebi­jakan terse­but semakin kuat. Bahkan beber­a­pa komen­tar menun­jukkan kemara­han yang tidak hanya pada kebi­jakan, tetapi juga pada fig­ur kepemimp­inan secara keselu­ruhan.

Fenom­e­na ini men­ja­di buk­ti nya­ta bah­wa masyarakat kini semakin aktif dan vokal dalam mengkri­tisi kebi­jakan pemer­in­tah daer­ah. Media sosial men­ja­di alat ekspre­si dan kon­trol pub­lik yang kuat, dan para pemimpin tak bisa lagi mengabaikan suara raky­at begi­tu saja.

Apakah Bupati Sude­wo benar-benar akan mengka­ji ulang kenaikan PBB 250%? Atau jus­tru ini hanya manu­ver semen­tara untuk meredam gejo­lak? Pub­lik kini menan­ti langkah konkret, bukan sekadar jan­ji ulang.

(Redaks)

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *